Apakah cuka dapat menyembuhkan penyakit? Berikut beberapa faktanya

Bumbu atau rempah-rempah telah lama dipuja setinggi langit lantaran dapat memberi manfaat kesehatan - tetapi apa buktinya? Seorang profesor bidang kesehatan keluarga mengungkap sejumlah penelitian ilmiah.

Hak atas foto Roberto Machado Noa/LightRocket via Getty Images

Ketika saya dan kakak saya masih kanak-kanak di era tahun 1980-an, kami suka pergi ke Long John Silver's.

Tetapi bukan untuk membeli ikan.

Kami ke sana karena cuka - cuka gandum. Kami akan membuka tutup botol di meja dan meneguk nektar para dewa yang tajam dan lezat itu.

Apakah kebanyakan dari Anda menyangkal? Barangkali. Apakah kami berada jauh di depan masa kita? Tampaknya begitu.

Beberapa pencarian di media sosial dan daring akan membuat kita percaya bahwa minum cuka adalah obat yang menyembuhkan berbagai penyakit.

Hak atas foto Ben McCanna/Portland Press Herald via Getty Images
Image caption Teman-teman dan kolega kami akan menghibur kami dengan kisah-kisah tentang kekuatan penyembuhan dari cuka sari apel untuk masalah apapun yang baru saja kami sebutkan.

Teman-teman dan kolega kami akan menghibur kami dengan kisah-kisah tentang kekuatan penyembuhan dari cuka sari apel untuk masalah apapun yang baru saja kami sebutkan.

"Oh, sakit punggung karena menebang pohon? Cuka."

"10 pon terakhir? Cuka akan segera melelehkannya."

"Sifilis, lagi? Ya cuka."

Sebagai seorang dokter dan dosen di fakultas kedokteran, orang-orang bertanya tentang manfaat meminum cuka sari apel setiap saat.

Saya menyukai saat-saat seperti ini, karena kami dapat berbicara tentang sejarah cuka secara luas, dan kemudian menyaring percakapan tentang bagaimana cuka dapat dan mungkin menguntungkan mereka.

Hak atas foto Rick Madonik/Toronto Star via Getty Images
Image caption Budaya kuno dan modern di seluruh dunia telah menemukan manfaat dari penggunaan 'anggur asam'.

Menurut sejarah, cuka telah digunakan untuk berbagai macam pengobatan. Misalnya yang digunakan oleh dokter terkenal dari Yunani, Hippocrates, yang merekomendasikan cuka untuk pengobatan batuk dan flu.

Lalu, dokter Itali Tommaso Del Garbo, yang selama terjadi wabah sampar pada 1348, mencuci tangan, wajah dan mulutnya dengan cuka, dengan harapan dapat mencegah infeksi.

Cuka dan air merupakan minuman penyegar dari sejak masa prajurit-prajurit Romawi sampai para atlet modern yang meminumnya untuk memuaskan dahaga mereka.

Budaya kuno dan modern di seluruh dunia telah menemukan manfaat dari penggunaan 'anggur asam'.

Kendati sudah banyak kesaksian historis dan anekdot tentang manfaat cuka, apa yang dikatakan penelitian medis tentang cuka dan kesehatan?

Hak atas foto BSIP/UIG via Getty Images
Image caption Cuka menambahkan rasa pada junk food, tetapi beberapa - sedikit yang diakui - penelitian ilmiah menunjukkan bahwa cuka juga memiliki manfaat kesehatan

Bukti yang paling meyakinkan dari manfaat kesehatan cuka datang dari sedikit penelitian manusia yang melibatkan cuka sari apel.

Salah satu penelitian menunjukkan bahwa cuka sari apel dapat meningkatkan kadar glukosa darah setelah makan pada subjek yang resistan terhadap insulin.

Terhadap 11 orang pengidap 'pra-diabetes', minum 20 mililiter, sedikit lebih dari satu sendok makan, cuka sari apel menurunkan kadar gula dalam darah 30 - 60 menit setelah makan lebih dari satu plasebo.

Itu bagus - tetapi kita harus ingat bahwa itu hanya ditujukan pada 11 orang pra-diabetes.

Penelitian lain terhadap orang dewasa yang menderita obesitas menunjukkan penurunan berat badan, massa lemak dan trigliserida yang signifikan.

Hak atas foto Christophel Fine Art/UIG via Getty Images
Image caption Menurut sejarah, cuka telah digunakan untuk berbagai macam pengobatan. Misalnya yang digunakan oleh dokter terkenal dari Yunani, Hippocrates, yang merekomendasikan cuka untuk pengobatan batuk dan flu. Foto: penjual cuka di Prancis.

Para peneliti memilih 155 orang dewasa Jepang yang obesitas untuk menenggak 15 milimeter, sekitar 1 sendok makan, atau 30 milimeter, sekitar dua sendok makan, cuka setiap hari, atau minum plasebo, dan mengamati berat badan, massa lemak dan trigliserida mereka.

Dalam kedua kelompok 15 dan 30 milimeter, para peneliti menemukan pengurangan ketiga penanda tersebut. Meskipun penelitian-penelitian ini masih membutuhkan konfirmasi dari penelitian yang lebih besar, mereka sudah merasa bersemangat.

Penelitian-penelitian terhadap hewan, terutama tikus, memperlihatkan bahwa cuka dapat secara potensial menurunkan tekanan darah dan sel-sel lemak perut.

Hasil-hasil ini membantu membangun kasus untuk penelitian lanjutan terhadap manusia, tetapi klaim-klaim manfaat apapun yang hanya berdasarkan pada penelitian terhadap hewan masih prematur.

Secara keseluruhan, dugaan manfaat cuka untuk kesehatan masih perlu dikonfirmasi oleh penelitian yang lebih besar lagi terhadap manusia, dan hal ini pasti akan terjadi ketika para peneliti membangun apa yang telah dipelajari pada manusia dan hewan sampai saat ini.

Hak atas foto Pier Marco Tacca/Getty Images
Image caption Apakah ada bukti bahwa cuka buruk untuk Anda? Tidak juga.

Apakah ada bukti bahwa cuka buruk untuk Anda? Tidak juga.

Kecuali Anda minum dalam jumlah yang sangat banyak (duh), atau minum cuka konsentrasi asam asetat tinggi seperti cuka putih suling yang digunakan untuk membersihkan (kandungan asam asetat cuka yang dapat dikonsumsi hanya 4 hingga 8%), atau menggosoknya di mata (aduh!), atau memanaskannya dalam panci timah seperti yang dilakukan orang-orang Roma untuk membuatnya manis.

Maka, ya, itu tidak sehat.

Malah, jangan memanaskan makanan apapun dalam panci timah. Itu selalu buruk.

Jadi nikmati hidangan fish and chips dan cuka. Tidak akan membuatmu sakit.

Mungkin tidak akan membuat Anda sehat seperti yang Anda harapkan; dan pastinya tidak akan menyembuhkan semuanya.

Tetapi cuka adalah sesuatu yang dinikmati orang-orang di seluruh dunia bersama-sama dengan Anda. Sekarang angkat tinggi-tinggi botol cuka gandum bersama saya, dan mari minum untuk kesehatan kita.

Anda juga bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul Can vinegar cure illness? Here are the factsatau artikel lain diBBC Future.

Berita terkait