Tujuh grafik yang membuktikan bahwa dunia semakin membaik

Anak, tertawa Hak atas foto Tim Graham/Getty Images

Mendiang intelektual Swedia, Hans Rosling, menemukan tren yang mengkhawatirkan: banyak orang di negara maju tidak tahu bahwa dunia menjadi semakin baik, tapi juga berpikir sebaliknya.

Ini tidak mengherankan, ketika berita begitu sering melaporkan bencana, serangan teroris, perang, dan kelaparan.

Siapa yang mau dengar tentang fakta bahwa setiap hari sekitar 200.000 orang di seluruh dunia terangkat ke atas garis kemiskinan (pendapatan US$2 per hari)?

Atau bahwa setiap hari lebih dari 300.000 orang mendapatkan akses pada listrik dan air bersih untuk pertama kalinya? Cerita tentang orang-orang di negara berpendapatan rendah ini tidak cukup menarik untuk diliput.

Tapi seperti disoroti Rosling dalam bukunya, Factfulness, kita harus menempatkan berita buruk dalam perspektif.

Meskipun benar bahwa globalisasi telah memberikan tekanan pada upah warga kelas menengah di negara maju dalam beberapa dekade terakhir, ia juga telah membantu mengangkat ratusan juta orang ke atas garis kemiskinan global — perkembangan ini sebagian besar terjadi di Asia Tenggara.

Maka dari itu, kebangkitan populisme yang baru-baru ini terjadi di negara-negara Barat dengan Trump, Brexit, dan kemenangan kandidat populis di Hungaria dan Italia, di antara berbagai faktor lain, menjadi kekhawatiran besar jika kita peduli pada kesejahteraan global. Globalisasi adalah satu-satunya jalan untuk memastikan bahwa kemakmuran ekonomi terbagi-bagi di antara semua negara dan bukan hanya segelintir negara maju.

Walaupun beberapa orang mengagung-agungkan masa lalu, salah satu fakta tebesar dalam sejarah ekonomi adalah sampai baru-baru ini sebagian besar populasi dunia hidup dalam kondisi kekurangan — dan telah demikian adanya dalam sebagian besar sejarah manusia.

Tujuh grafik di bawah ini menunjukkan betapa dunia telah menjadi jauh lebih baik dibandingkan hanya beberapa dekade lalu.

1. Harapan hidup terus naik

Hak atas foto OurWorldInData/CC BY-SA
Image caption Harapan hidup global per wilayah dunia sejak 1770.

Bahkan selama Revolusi Industri, rata-rata harapan hidup di negara-negara Eropa tidak melampaui sekitar 35 tahun. Ini tidak berarti kebanyakan orang meninggal dunia di akhir usia 30-an atau bahkan 40-an, karena tingkat kematian anak yang tinggi menurunkan rata-ratanya.

Kematian perempuan saat melahirkan juga masalah besar. Begitu pula penyakit-penyakit umum seperti cacar (smallpox) dan Maut Hitam, misalnya, yang sekarang telah dimusnahkan sama sekali di negara-negara maju.

2. Tingkat kematian anak terus turun

Hak atas foto CC BY-SA
Image caption Grafik ini menunjukkan persentase anak-anak terlahir hidup, yang mati sebelum usia lima tahun.

Lebih dari seabad lalu, tingkat kematian anak masih di atas 10% — bahkan di negara-negara ekonomi maju seperti AS dan Inggris. Tapi berkat ilmu pengobatan modern, dan keamanan publik yang lebih baik secara umum, angka ini telah berkurang sampai nyaris nol di negara-negara kaya.

Plus, tingkat kematian anak di negara berkembang seperti India dan Brasil sekarang jauh lebih rendah daripada di negara-negara maju pada tingkat pendapatan yang sama sekitar satu abad lalu.

3. Tingkat fertilitas kian menurun

Hak atas foto OurWorldInData/CC BY-SA
Image caption Grafik ini menunjukkan "Tingkat fertilitas total" yang mengukur jumlah anak yang akan dilahirkan seorang perempuan jika si perempuan hidup sampai akhir masa produktif dan melahirkan anak sesuai dengan tingkat fertilitas sesuai umurnya.

Kendati banyak orang khawatir akan ledakan populasi dunia, faktanya tingkat fertilitas telah menurun cukup tajam di seluruh dunia. PBB memperkirakan bahwa populasi global akan stabil pada 11 miliar di akhir abad ini.

Lebih jauh, seperti bisa kita lihat di grafik ini, banyak negara berkembang seperti Brazil, Cina, dan sejumlah negara Afrika telah beralih pada rezim fertilitas-rendah. Walaupun transisi ini membutuhkan hampir 100 tahun di negara-negara maju, mulai dari Revolusi Industri, banyak negara lain bisa mencapainya hanya dalam dua atau tiga dekade.

4. Pertumbuhan PDB semakin cepat di negara-negara berkembang

Hak atas foto Maddison Project Database/CC BY-SA
Image caption PDB per kapita dihitung dalam dolar AS, disesuaikan dengan inflasi pada harga di tahun 2011.

Para pionir teknologi, AS dan Eropa Barat, telah tumbuh dengan laju sekitar 2% per tahun, rata-rata, selama 150 tahun terakhir. Ini berarti tingkat pendapatan nyata kira-kira meningkat dua kali lipat setiap 36 tahun.

Meskipun ada beberapa kondisi naik dan turun yang tidak sebentar, seperti Depresi Besar atau Krisis Ekonomi baru-baru ini, tingkat pertumbuhan yang konstan sebenarnya cukup ajaib.

Negara berpendapatan-rendah, termasuk Cina dan India, tumbuh dalam tempo semakin cepat dalam beberapa dekade terakhir dan segera mengejar Barat. Laju pertumbuhan 10% dalam suatu periode yang panjang berarti tingkat pendapatan meningkat dua kali lipat setiap tujuh tahun.

Jelas berita bagus jika kemakmuran ekonomi lebih terbagi secara merata di seluruh dunia.

5. Kesenjangan ekonomi global turun

Hak atas foto AFP
Image caption Distributi pendapatan global, yang telah disesuaikan dengan perubahan harga dan perbedaan harga di tiap negara.

Sementara kesenjangan ekonomi di dalam beberapa negara telah meningkat akibat globalisasi, kesenjangan ekonomi global telah berada dalam tren penurunan yang stabil selama beberapa dekade.

Ini sebagian besar dikarenakan negara-negara berkembang seperti Cina dan India, yang ratusan juta rakyatnya mengalami peningkatan standar kehidupan. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak Revolusi Industri, sekitar setengah dari populasi dunia bisa dikategorikan sebagai kelas menengah.

6. Lebih banyak orang hidup di negara demokrasi

Hak atas foto OurWorldInData/CC BY-SA
Image caption Jumlah warga dunia di bawah berbagai rezim politik. Grafik ini dibuat berdasarkan skor Politi IV yang menggambarkan jenis rezim politik di suatu negara dari -10 (otokrasi penuh) sampai +10 (demokrasi penuh).

Sepanjang sebagian besar sejarah manusia, orang-orang hidup di bawah rezim non-demokratis yang menindas. Namun hari ini, sekitar setengah dari populasi manusia hidup dalam demokrasi. Dari mereka yang masih hidup dalam otokrasi, 90%-nya berada di Cina.

Meskipun negara tersebut baru-baru ini bergerak ke arah sebaliknya, ada alasan untuk percaya bahwa pembangunan ekonomi yang berkelanjutan pada akhirnya akan mengarah pada demokratisasi (menurut teori modernisasi).

7. Jumlah konflik menurun

Hak atas foto Max Roser/CC BY-SA
Image caption Persentase tahun ketika 'Kekuatan Besar' berperang dengan satu sama lain.

Sepanjang sejarah, dunia terpecah-belah oleh konflik. Faktanya, sedikitnya dua kekuatan terbesar di dunia telah berperang dengan satu sama lain lebih dari 50% waktu sejak sekitar tahun 1500.

Sementara awal Abad 20 terutama brutal karena dua perang dunia yang terjadi secara beruntun, periode pascaperang sangatlah damai.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tidak ada perang atau konflik di Eropa Barat dalam sekitar tiga generasi. Dan organisasi internasional, antara lain Uni Eropa dan PBB, telah menuntun kita pada dunia yang lebih stabil.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Seven reasons why the world is improving, di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait