Bisnis budidaya lebah madu yang bisa mengangkat ekonomi masyarakat di Afrika

lebah Hak atas foto Getty Images
Image caption Tidak seperti lebah madu di Benua Amerika dan Australia, lebah madu di Afrika adalah spesies asli benua tersebut.

Di kawasan utara Kenya nan tandus, Trinnie Cartland siap mengembangkan bisnis madu akasia organiknya.

Dia mengaku warga setempat sangat ingin bekerja sama dengannya mengingat banyak anak muda kini mencari opsi lain untuk mencari uang tambahan di samping beternak sapi.

Madu adalah komoditas yang kini banyak dicari di Kenya. Harganya hampir setara dengan harga di Eropa sehingga pembudidaya lebah bisa menghasilkan uang yang jumlahnya lumayan.

Namun, ambisi Cartland tidak semata-mata profit. Dia ingin bisnisnya dapat turut menghijaukan lahan yang kini kian tandus akibat peternakan.

Semakin banyak pohon, kian banyak pula makanan untuk para lebah. Konsekuensinya lebih banyak madu yang bisa dipanen sehingga ada insentif keuangan untuk melestarikan ekosistem.

Ketika pembudidayaan lebah dilakukan secara benar, jelas Cartland, "ujungnya adalah pemulihan lingkungan".

Cartland bukan orang pertama yang meyakini pembudidayaan lebah dapat menghasilkan industri konservasi yang sukses di kawasan sub-Sahara Afrika. Bagaimanapun, dia adalah bagian dari segelintir orang yang menjajaki kekayaan potensi lebah.

Lebah adalah serangga yang diperlukan manusia karena mereka menyangga rantai makanan.

"Sekitar 80% tanaman bunga asli di Afrika diuntungkan dari penyerbukan lebah madu, dan sekitar sepertiga dari seluruh tanaman pangan adalah hasil dari penyerbukan lebah madu secara komersial," kata Mike Allsopp, pakar lebah madu dari Dewan Riset Pertanian Afrika Selatan.

Untuk melakukan tugasnya, lebah perlu mendapat akses ke hutan. Jika serangga ini mendapatkan akses tersebut, para petani diuntungkan.

Sebuah makalah karya peneliti Byela Tibesigwa dan rekan-rekannya mengungkap bahwa konservasi hutan menghasilkan manfaat yang sangat besar.

Ketika mengkaji sejumlah peternakan kecil di Tanzania, para peneliti menemukan fakta penurunan habitat alami hewan-hewan penyerbuk antara 2008 hingga 2013 "mengurangi hasil panen sebesar 29% (mean) dan 4% (median)".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lantaran bebas dari kejinya musim salju, negara-negara di Afrika ideal untuk pembudidayaan lebah secara komersial.

Lantaran bebas dari kejinya musim salju, negara-negara di Afrika ideal untuk pembudidayaan lebah secara komersial.

"Terdapat berbagai kawasan yang perawan, organic, dan rimbun," kata Keith Smith dari organisasi nirlaba Bee Parks Trust.

"Saya tidak berusaha melebih-lebihkan. Faktanya memang demikian," imbuhnya.

Tempat-tempat ini dapat menjadi lokasi industri madu yang menguntungkan melalui pelatihan yang layak dan akses ke pasar.

Ketika faktor profit dari madu itu ditambahkan ke penyerbukan yang dihasilkan, industri tersebut akan berkontribusi pada perlindungan habitat yang diperlukan lebah.

Sebagaimana dituliskan Charlotte Lietaer pada makalah risetnya, "manakala masyarakat sadar akan kontribusi lebah yang bernilai terhadap kehidupan manusia…mereka akan menghormati lebah dan berupaya melindunginya, habitatnya, dan area hutan sebisa mungkin".

Lebah bahkan bisa dimanfaatkan untuk memitigasi konflik antara manusia dana lam.

"Pagar yang terbuat dari sarang lebah" terbukti sukses di tempat-tempat manusia dan gajah hidup berdampingan.

Sebuah kajian di Kenya yang dikepalai Lucy King dari Save the Elephants, menyoroti sarang-sarang lebah yang ditempatkan di sekeliling lahan tanaman pangan. Saat kawanan gajah menganggu sarang lebah, lebah-lebah di dalamnya mengamuk dan para gajah pun kabur.

Bahkan, King menulis, "80% dari gajah-gajah yang mendekati lahan pertanian, mundur dari kawasan yang dilindungi oleh pagar yang terbuat dari sarang lebah."

Penduduk desa yang membudidayakan lebah madu tak hanya diuntungkan dari madu dan penyerbukan, tapi juga mendapat perlindungan pada lahan pertanian mereka. Alhasil, pembunuhan hewan liar sebagai balasan atas pengrusakan lahan pertanian pun berkurang.

Karena itu, pembudidayaan lebah madu bisa menyediakan penghasilan aman, stabil, dan sah secara hukum—alih-alih berburu hewan liar.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Industri madu di kawasan Sub-Sahara Afrika berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi yang besar.

Solusi sempurna?

Jika pembudidayaan lebah bisa melindungi populasi lebah madu, menyediakan jasa penyerbukan yang penting, membantu perlindungan dan pemulihan alam, sekaligus bisnis menguntungkan, tampaknya ini adalah industri eco-friendly yang ideal.

Namun banyak ilmuwan punya masalah jika lebah madu dijadikan simbol konservasi.

"Saya pikir tidak tepat bila mengklaim lebah madu punya potensi untuk konservasi (global)," kata Manu Saunders, peneliti dari University of New England, Australia.

"Penyerbuk liar (seperti spesies-spesies lebah, lalat, kupu-kupu, dan ngengat) bergantung pada pelestarian habitat yang lebih beragam ketimbang lebah madu yang dibudidayakan."

Saunders sepakat bahwa manfaat lingkungan yang dihasilkan lebah madu mungkin berguna untuk tahap awal dalam menarik khalayak untuk melestarikan.

Tapi tetap saja, kata Saunders, "dari perspektif konservasi jangka panjang, bisa berbahaya membuat keputusan berdasarkan keperluan satu spesies yang mungkin tidak sebermakna bagi spesies-spesies lainnya yang relevan."

Jonas Geldmann dari University of Cambridge, selaku salah satu peneliti makalah berjudul "Melestarikan lebah madu tidak membantu alam liar", mengatakan kerisauannya adalah pembudidayaan lebah madu yang bersaing dengan hewan penyerbuk lainnya justru memunculkan risiko terhadap spesies-spesies liar.

Namun, Geldmann berkata, "ini mungkin sahih di semua tempat, kecuali Afrika". Pasalnya, lebah-lebah madu Afrika dan lebah madu di Afrika Selatan adalah hewan asli benua tersebut—bukan seperti lebah madu di Benua Amerika atau Australia.

"Ada pertukaran antara populasi lebah liar dan lebah yang dibudidayakan," jelas Katherine Forsythe, pakar biologi konservasi di Cape Town.

"Anda tidak mengenalkan sebuah spesies yang akan bersaing dengan hewan penyerbuk lainnya."

Geldmann menambahkan, mengingat "kurangnya habitat alami adalah masalah terbesar keanekaragaman hayati" di kawasan sub-Sahara Afrika, "risiko penyerbuk liar dapat diminimalkan melalui keuntungan pada ekosistem".

Di samping manfaat bagi lingkungan, industri madu kawasan sub-Sahara Afrika berpotensi bagi ekonomi.

Biasanya konservasi dan bisnis tidak akur satu sama lain. Namun, Konferensi Bisnis Konservasi di Kigali, Rwanda, menyoroti pentingnya konservasi beralih dari proyek-proyek filantropi ke industri yang etis, kolaboratif, dan berdasarkan bisnis.

Pembudidayaan lebah disebut sebagai contoh industri konservasi yang menguntungkan. Namun, industri terseut harus mencapai potensi ekonomi yang penuh. Sebab, jika tidak, dorongan bagi khalayak untuk melindungi pohon, misalnya, tak cukup kuat sehingga mereka lebih suka melayani kepentingan industri batubara atau penebangan kayu.

Peluang ke arah itu cukup besar. "Ada kekurangan madu di dunia, terutama yang organik," sebut Smith.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Harga madu tinggi, begitupun permintaan khalayak dunia.

Harga madu tinggi, begitupun permintaan khalayak dunia. Masyarakat Eropa rata-rata mengonsumsi 0,7 kilogram madu per tahun. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Uni Eropa adalah importir madu terbesar dunia, dengan pembelian sekitar 200.000 ton, sekaligus produsen madu terbesar kedua setelah China.

Smith dan Allsopp memperkirakan negara-negara penghasil madu terbesar di Afrika bisa memperoleh kira-kira US$100 juta per tahun dengan investasi dan inovasi.

Ethiopia - produsen madu terbesar di Afrika - saat ini memproduksi 45.000 sampai 50.000 ton madu per tahun. Namun, dari jumlah itu, kurang dari 1.000 ton yang diekspor. Sebagian besar digunakan dalam pembuatan minuman anggur lokal.

Di Kenya, Badan Informasi Pertanian Nasional setempat mengklaim hanya 20% dari potensi produksi madu negara itu—sekitar 100.000 ton—yang dimanfaatkan.

Sebuah perusahaan yang mengambil keuntungan dari permintaan madu berkualitas tinggi adalah Hurters Honey—sebuah perusahaan keluarga yang merupakan salah satu produsen madu tersukses di Afrika Selatan.

Lokasi pembudidayaan lebah milik perusahaan yang didirikan pada 1978 itu terletak di Langebaan, kawasan yang dikelilingi tanaman fynbos di pesisir Samudera Atlantik, 90 menit berkendara dari Cape Town.

Lebah-lebah yang mereka budidayakan menghasilkan madu fynbos nan harum serta lezat—produk andalan Hurters selain madu eucalyptus dan orange blossom.

Kesuksesan Hurters terletak pada penguasaan rantai pasokan serta kerja sama erat dengan para pembudidaya lebah, yang juga mereka latih.

Hurters berbeda dengan pembudidayaan lebah di Afrika yang sebagian besar dikelola lembaga swadaya masyarakat. LSM-LSM ini membekali masyarakat pedesaan dengan alat sederhana kemudian pergi.

Masyarakat setempat tidak mendapat pelatihan cukup dan akses ke pasar. Alhasil dalam beberapa tahun, jamak melihat alat-alat pembudidayaan lebah dijual atau dijadikan kayu bakar.

Contoh nyata kendala pembudidaya madu lokal Afrika dialami Kerry Glen yang mendirikan Ewaso River Honey pada 1995 sebagai proyek komunitas ketimbang bisnis. Dia membeli madu dari masyarakat di Kenya bagian utara.

Glen mengatakan, para pembudidaya biasanya menghadapi dua kemungkinan. Mereka tidak mampu meningkatkan produksi atau tidak mau karena biaya membawa madu ke pasar cukup besar dan hasil penjualan sulit ditebak.

"Banyak hal yang bisa salah," ujarnya, seraya memberi contoh kekeringan yang melanda Kenya dua tahun lalu.

Penggunaan pestisida pada lahan pertanian komersial adalah masalah lain.

Hurters menawarkan jasa penyerbukan—yang menjadi penghasilan tambahan bagi para pembudidaya lebah—untuk lahan tanaman lychee dan jeruk di Provinsi Mpumalanga, Afsel.

"Kami mengerahkan 2.000 sarang lebah, tersisa sekitar 200 sarang," kata Jacques Hurter, putra pendiri perusahaan Hurters yang menjadi direktur utama. "Ini mematikan bisnis," tambahnya.

Ernest Simeoni, pemilik perusahaan African Beekeepers di Nairobi, juga mengaku kehilangan banyak lebah akibat penggunaan pestisida di Kenya. "Masalah ini serius," cetusnya.

Jacques Hurter menanggalkan jabatannya sebagai direktur utama Hurters tahun lalu guna menjajaki lahan baru di Zambia dan Malawi. Cita-citanya adalah membangun merek madu Afrika Selatan yang berkualitas tinggi.

Dia punya lokasi pembudidayaan di luar Livingstone, Zambia. Di sana dia mengumpulkan 1.000 sarang lebah Langstroth yang akan dikembangkan menjadi 200.000 sarang.

Di lokasi yang sama, akan ada pabrik pemrosesan tempat para pembudidaya dapat menyetor madu yang kemudian dibeli dan dipasarkan Hurters. Dia juga akan membekali para pembudidaya lebah di Kenya dengan pelatihan sekaligus modal. Dengan cara itu dia mengubah para pembudidaya tradisional yang mengumpulkan madu dari pohon-pohon menjadi pembudidaya yang lebih komersial.

"Jika Anda ingin ada peningkatan sosial, Anda perlu mitra dalam berbisnis," jelas Hurter.

Di ranah inilah, menurutnya, para LSM gagal.

"Di Zambia, ini menyangkut memberi bantuan kepada para pembudidaya agar mereka bisa memanen hasil berkualitas, tapi juga menjadi pembeli hasil panen mereka. Anda memberi mereka ruang untuk berkembang karena pada akhirnya Anda akan membayar mereka."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Teknologi baru untuk mengubah pembudidayaan lebah menjadi modern siap disongsong.

Teknologi baru untuk mengubah pembudidayaan lebah menjadi modern juga siap disongsong.

Terence Chambati, seorang warga Zimbabwe yang berada di Uganda, menemukan kekurangan data dalam industri madu. Hal ini membuatnya tidak bisa menemukan data sahih mengenai jumlah produksi madu di Uganda.

Chambati kemudian mendirikan HuchiHive untuk mengumpulkan informas dan menyediakan pendekatan berbasis teknologo guna meningkatkan pembudidayaan lebah.

Pelacak lebah, seperti ransel kecil untuk lebah, berfungsi mengetahui seberapa jauh lebah-lebah terbang dan apa yang mereka konsumsi. Dengan cara itu, para petani bisa menanam pohon-pohon yang cocok di sekitar sarang lebah.

Peranti sarang canggih bikinan Huchi juga bisa melacak kelembaban, suhu, suara, dan bobot sarang lebah dari jarak jauh. Tim suruhan Chambati kini tengah mengupayakan agar residu pestisida padasarang lebah bisa diukur.

HuchiHive telah beranjak dari tahap prototype dan kini meluncurkan produk awal di 200 lokasi.

Pendekatan data ini bakal krusial bagi industri madu untuk bisa maju, mempromosikan investasi, dan mengukur produksi madu para lebah yang dihadapkan pada berbagai masalah, termasuk risiko terhadap penyerbuk liar.

Ketika konservasi ditantang untuk menghasilkan lebih banyak profit, pembudidayaan lebah yang dikelola dengan baik di kawasan sub-Sahara Afrika dapat menjadi contoh industri yang etis—usaha yang melindungi penyerbuk, melestarikan hutan, sekaligus menyediakan penghasilan stabil dan peluang bisnis.

Benar-benar bisnis yang manis.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris pada laman BBC Future.

Berita terkait