Kenapa anak-anak perempuan sering luput dari diagnosa ADHD?

Hak atas foto Getty Images

Lebih banyak bocah laki-laki yang didiagnosa mengidap ADHD daripada anak-anak perempuan. Tetapi banyak anak perempuan yang mungkin berada dalam keadaan tersebut daripada yang kita bayangkan - dan perjuangan mereka untuk menerima diagnosa dapat mempengaruhi seluruh hidup mereka.

Sepanjang yang dapat diingatnya, pikiran Emily Johnson-Ferguson telah lama berpacu. Gangguan makan yang mulai dideritanya saat remaja adalah upayanya dalam usaha memperlambat otaknya.

Para dokter berusaha mengaitkan masalah itu dengan masalah keluarga dan stres, tetapi dia tahu bukan itu masalahnya.

Baru tahun lalu, di usianya yang ke 42 tahun, akhirnya dia menemukan akar masalahnya: ADHD.

Johnson-Ferguson tidak sendiri. Kendati gambaran stereotipikal ADHD adalah anak laki-laki yang melompat-lompat di sekeliling kelas, akan tetapi hal tersebut bukanlah gambaran seluruhnya.

Anak-anak perempuan dapat juga mengidap ADHD, dan banyak dari mereka yang tidak terdiagnosa, serta tanpa penanganan yang dapat mengubah hidup mereka.

ADHD merupakan suatu kelainan perkembangan saraf yang datang dengan tiga tipe: inatentif, hiperaktif/impulsif atau kombinasi dari keduanya.

Orang-orang dengan inatentif akan sering lupa, berjuang untuk teratur, dan mendapati diri mereka sangat mudah terganggu. Mereka yang mengalami hiperaktivitas dan impulsivitas mungkin akan berjuang untuk tetap duduk, terus menerus gelisah dan memotong percakapan.

anak anak Hak atas foto Getty Images
Image caption Beberapa orang dewasa dengan ADHD tergantung pada beberapa pengingat dan kalender agar dapat teratur.

Kondisi ini biasanya pertama kali didiagnosa di masa kanak-kanak, tetapi banyak orang yang tidak tumbuh dengan keadaan tersebut. Bagi mereka yang gejalanya hilang di masa kanak-kanak, hidup dengan ADHD yang tidak terdiagnosa dapat menyebabkan masalah ketika mereka memasuki usia dewasa.

"Ketika saya dibiarkan dengan rencana-rencana saya sendiri di universitas, saya justru tidak dapat berkonsentrasi sama sekali," kata Johnson-Ferguson. Dia pindah jurusan, tetapi hal itu tidak membantu. Bulimianya tetap berlangsung selama masa kuliahnya, dan selama 20 tahun kemudian, dia mengonsumsi alkohol, kafein dan minuman bergula untuk pengobatan diri sendiri - itu hal yang biasa terjadi pada orang dewasa dengan ADHD.

Ketika pernikahannya hancur, dia mulai mendapati kehidupannya menjadi lebih sulit. Dalam usahanya untuk memulai hidup baru, Johnson-Ferguson meninggalkan kebiasaan buruknya, tetapi tidak menemukan cara mengurangi gejalanya; sebaliknya, gejala-gejala itu semakin memburuk.

Pada titik terendahnya, dia menghabiskan waktunya di tempat tidur selama berhari-hari. "Pada saat itu saya tidak bisa fokus pada apapun," katanya.

Defisit perhatian

Ada perbedaan yang nyata antara prevalensi ADHD pada anak laki-laki dengan anak perempuan.

Dalam satu penelitian terhadap 2.332 anak kembar dan saudara kandung, Anne Arnett, seorang psikolog klinis anak di Universitas Washington, menemukan bahwa perbedaan jenis kelamin dalam diagnosa dapat dijelaskan dengan perbedaan keparahan gejala: anak laki-laki cenderung memiliki gejala yang lebih ekstrem, dan distribusi gejala yang lebih luas daripada anak-anak perempuan.

"Ini merupakan perbedaan neurobiologis yang sebenarnya yang kita lihat," kata Arnett. Tidak jelas kenapa itu terjadi, tetapi bisa jadi anak perempuan memiliki efek perlindungan pada tingkat genetik, katanya.

anak anak Hak atas foto Getty Images
Image caption Anak laki-laki cenderung memperlihatkan gejala-gejala ADHD yang berat, dan lebih ADHD secara umum, daripada anak-anak perempuan.

Akan tetapi ukuran yang sebenarnya tentang perbedaan itu tidak jelas.

Ketika sampai ke diagnosa dunia nyata, gejala anak laki-laki jauh lebih besar daripada anak-anak perempuan.

Namun, dalam penelitian yang mengamati siapa yang memenuhi kriteria ADHD dalam keseluruhan populasi, rasio tersebut masih menguntungkan anak laki-laki, kurang lebih begitu.

Tergantung pada riset apa yang Anda pelajari, rasio dari anak laki-laki dan anak perempuan dengan ADHD dapat bekisar antara 2:1 dan 10:1.

"Tampaknya hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya lebih banyak perempuan yang mengalami ADHD," kata Florence Mowlem, seorang rekanan di konsultan perawatan kesehatan Aquarius Population Health.

"Namun, untuk beberapa alasan yang belum benar-benar kita pahami, mereka sepertinya tidak mendapatkan diagnosa klinis sesering laki-laki."

Penelitian memperlihatkan bahwa anak-anak perempuan membutuhkan lebih banyak gejala yang lebih keras dan lebih kelihatan, daripada anak laki-laki sebelum ADHD mereka dapat dikenali.

Dalam salah satu penelitian terhadap 283 anak-anak berusia antara 7 - 12 tahun, Mowlem dan para rekannya mengamati apa yang membedakan anak laki-laki dan perempuan yang memenuhi kriteria diagnostik untuk ADHD dari mereka yang memiliki banyak gejala ADHD, tetapi tidak cukup untuk didiagnosa.

Para orang tua tampaknya mengecilkan gejala hiperaktif dan impulsif pada anak perempuan, sambil membesarkan gejala pada anak laki-laki.

Mowlem, yang merupakan kandidat PhD di King's College London saat itu, menemukan bahwa para orang tua dalam peringkat mereka sendiri, tampaknya mengecilkan gejala hiperaktif dan impulsif pada anak perempuan, sambil membesarkan gejala pada anak laki-laki.

Mereka juga menemukan bahwa anak perempuan yang memenuhi kriteria berkecenderungan memiliki lebih banyak masalah emosional atau perilaku daripada anak-anak perempuan yang tidak. Hal ini tidak menjadi masalah pada anak laki-laki.

Dalam penelitian yang mirip terhadap 19.804 anak kembar di Swedia yang dipublikasikan tahun lalu, Mowlem dan para koleganya menemukan bahwa anak-anak perempuan, bukan laki-laki, yang cenderung didiagnosa mengalami penderitaan dari hiperaktivitas, impulsivitas dan masalah perilaku.

Anak-anak perempuan juga lebih baik dalam mengimbangi gejala ADHD mereka daripada laki-laki, mirip dengan bagaimana anak-anak perempuan dengan autisme menutupi gejala-gejala mereka.

anak anak Hak atas foto Getty Images
Image caption Karena norma-norma sosial, anak-anak perempuan dengan ADHD tidak 'melompat-lompat di sekeliling kelas' daripada anak laki-laki.

"Jauh lebih sedikit anak-anak perempuan yang akan berkeliling kelas, bertengkar dengan para guru dan teman-teman mereka," kata Helen Read, seorang konsultan psikiatri dan ADHD yang mengepalai London NHS Trust yang besar.

"Seorang anak perempuan yang melakukan itu akan dikritik keras oleh teman sebaya dan orang lain, sehingga jauh lebih sulit bagi anak perempuan untuk berperilaku seperti itu."

Bahkan jika mereka hiperaktif, anak-anak perempuan lebih banyak bicara, atau pemberontak - sedikit seperti anak liar, katanya.

Hal itu mungkin tidak dikenali oleh para orang tua atau guru sebagai penyebab ADHD, terutama karena kita mengharapkan anak-anak perempuan lebih ramah daripada anak laki-laki.

Tetapi dibutuhkan penelitian lebih lanjut agar kita mengetahui seberapa besar masalahnya.

Kesamaan gejala

Kalau anak-anak perempuan diabaikan karena mereka kurang mengalami gejala yang umum, mereka mungkin bukan satu-satunya: anak-anak laki-laki dengan ADHD inatentif murni mungkin juga diabaikan.

Hal ini sudah menjadi kepercayaan umum bahwa anak-anak perempuan lebih cenderung inatentif daripada anak laki-laki. Tetapi itu hanya mitos, kata Elizabeth Owens, asisten dosen klinis di jurusan psikologi University of California, Berkeley. Dia mengatakan bukti terbaik saat ini memperlihatkan bahwa tingkat inatentif antara anak laki-laki dan perempuan sama saja.

Dalam waktu yang lama, ADHD pada anak-anak perempuan diabaikan, atau dianggap tidak penting - Elizabeth Owens

"Presentasi inatentif sebenarnya lebih umum (baik di antara anak laki-laki maupun perempuan), tetapi cenderung tidak diakui, atau kurang terdeteksi, karena anak-anak biasanya tidak menyebabkan masalah di kelas," tambahnya.

Bahkan, anak perempuan dan laki-laki dengan ADHD lebih banyak kemiripannya daripada perbedaan, kata Owens. "Hal ini menggarisbawahi fakta bahwa ADHD dan anak-anak perempuan merupakan hal serius. Untuk waktu yang sangat lama, hal ini selalu diabaikan, atau dianggap tidak penting"

anak anak Hak atas foto Yegor Aleyev/Getty Images
Image caption Dibandingkan dengan anak laki-laki dengan ADHD, anak-anak perempuan dengan ADHD lebih sering mengalami depresi di kemudian hari kehidupannya

Namun, ada satu perbedaan, yaitu anak-anak perempuan dengan ADHD kombinasi yang memiliki gejala lalai dan hiperaktif - berrisiko tinggi terhadap tindakan yang merusak diri sendiri ketika mereka memasuki masa dewasa. Anak-anak perempuan dengan ADHD juga lebih mungkin mengalami kecemasan dan depresi di kemudian hari.

Sebagai bagian dari penelitian yang mulai pada tahun 90an, Owens dan para koleganya mengikuti 228 anak perempuan, 140 di antaranya menghidap ADHD, lebih dari dua dekade.

Pada tindak lanjut yang kedua dan ketiga, ketika rata-rata peserta berusia sekitar 19 - 25 tahun, mereka mendapati bahwa anak-anak perempuan yang didiagnosa mengalami ADHD kombinasi pada masa kanak-kanak berrisiko tinggi menyakiti diri sendiri dan rencana bunuh diri.

Secara teori, mengenali dan menangani ADHD sejak awal seharusnya dapat membantu mengurangi risiko ini - meski Owens mengatakan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan keberhasilan ini. "ADHD merupakan kondisi kronis," katanya. "Ini bukanlah sesuatu yang dapat Anda tangani, dan akan menghilang."

Meski begitu, pengobatan untuk ADHD membuat perbedaan yang sangat besar dari hari ke hari.

Segera setelah akhirnya Johnson-Ferguson didiagnosa, dia mulai minum obat, suatu stimulan yang biasa digunakan untuk mengobati ADHD yang disebut lisdexamfetamine. "Hari berikutnya saya hanya duduk dan menonton seluruh EastEnders," katanya. "Ini seperti berjalan dalam gerak lambat selama tiga hari."

Dia harus bekerja keras untuk menjamin dia mendapatkan manfaat dari obat-obatan itu - berolahraga, makan makanan sehat, sedikit mungkin, atau sama sekali tidak, kafein - tetapi perubahannya tidak sia-sia. "Perencanaan yang dapat saya lakukan di tempat kerja sekarang luar biasa, sepertinya saya adalah orang yang berbeda." katanya.

obat Hak atas foto Getty Images
Image caption Banyak orang dengan ADHD minum obat untuk membantu mereka mengatasi kondisi tersebut.

Di luar pengobatan, mengetahui bahwa masalah yang Anda hadapi sepanjang hidup bukanlah kesalahan Anda juga dapat mengangkat beban berat Anda. Johnson-Ferguson menggambarkan kehidupannya sebelum diagnosa merupakan "42 tahun merasa sangat berbeda dengan siapapun di planet ini".

Sekarang, dia mampu mengarahkan positif aspek dari ADHDnya - hiper fokus terhadap proyek jangka pendek - menjadi karir yang sukses dalam bidang teater marketing, dan pada saat yang sama dapat memahami kegagalannya.

Tetapi banyak yang tidak terlalu beruntung. Sampai kita melepaskan gambaran stereotip tentang bagaimana ADHD itu dan melihat lebih jauh kenapa anak-anak perempuan dengan kondisi itu sering tidak terdeteksi, banyak perempuan menghabiskan hidupnya dengan gejala-gejala yang menyebabkan efek drastis dalam kehidupan mereka, tanpa mengetahui sebenarnya mereka dapat ditolong.

Anda dapat membaca dalam bahasa Inggris artikel Why is ADHD missed in girls? di laman BBC Future.

Berita terkait