Bangladesh, negara yang perlahan menghilang karena gelombang pasang

Bangladesh Hak atas foto Ignacio Marin/ Institute

Desa-desa di Bangladesh harus beradaptasi dengan naiknya permukaan laut demi bertahan hidup. Fenomena alam tersebut membuat cara hidup secara tradisional menjadi tidak mungkin.

Bangladesh telah menjadi negara yang rentan selama keberadaannya yang terbilang baru sebentar. Orang-orang di negara yang rawan banjir ini mengatasi kenaikan permukaan air dengan kombinasi inovasi, fleksibilitas dan ketahanan — tetapi bencana alam ekstrem yang dialami negara ini mungkin melebihi daya tahan siapa pun.

Seiring perubahan iklim semakin cepat, tekanan pada pedesaan Bangladesh meningkat. Kalau sebelumnya orang-orang bisa pindah sementara ketika banjir rob musiman melanda, genangan air laut ke darat yang terjadi terus-menerus membuat mereka tidak mungkin untuk bercocok tanam. Berbagai jenis tanaman tidak tahan dengan air asin, dan mata pencaharian alternatif begitu terbatas.

Jadi, apa yang bisa dilakukan untuk orang-orang yang paling rentan — para petani padi di pedesaan Bangladesh?

Secara historis, orang-orang di Bangladesh selalu punya cara untuk mengatasi banjir musiman; mereka bertani selama sebagian tahun dan mengambil cuti ketika permukaan air naik, atau mencari pekerjaan di kota karena lahan menjadi tidak dapat digunakan.

Namun, pada akhir abad ini, permukaan laut diperkirakan akan naik di sepanjang garis pantai Bangladesh hingga 1,5 meter. Dan itu akan disertai oleh fluktuasi permukaan laut yang lebih ekstrem. Badai dan air pasang yang luar biasa tinggi terjadi satu kali setiap satu dekade, tapi bisa terjadi tiga sampai 15 kali setiap tahun pada tahun 2100.

Maka dari itu, warga di pedesaan Bangladesh menghadapi pilihan yang jelas; mengubah cara hidup mereka atau mencari pekerjaan dan rumah di tempat lain.

Hak atas foto Ignacio Marin/ Institute
Image caption Satu keluarga naik perahu mengitari daerah kumuh tempat tinggal mereka yang kebanjiran di Korail, Dhaka, ibu kota Bangladesh.

"Iklim menjadi lebih tidak stabil sehingga kita melihat frekuensi migrasi yang lebih tinggi," kata Joyce Chen, seorang ekonom di The Ohio State University.

"Ketika di masa lalu kita melihat migrasi karena banjir tahunan, atau erosi tepi sungai, sekarang kita lebih sering melihat intrusi air asin yang memengaruhi lingkungan dalam jangka panjang. Ini membuat bercocok tanam menjadi lebih sulit karena air asin mengubah tanah secara permanen."

Di masa lalu, katanya, orang bisa pergi bekerja di kota selama beberapa bulan saat tanahnya kebanjiran dan kembali setelah banjir surut. Sekarang tidak mungkin lagi.

"Orang-orang sadar bahwa (tanah mereka) tidak layak untuk ditinggali."

Hak atas foto Ignacio Marin / Institute
Image caption Jaring ikan telah menggantikan pemetik beras di banyak daerah pedesaan Bangladesh

Bagi sebagian orang, air asin menawarkan kesempatan. Tempat padi mungkin pernah tumbuh, tambak udang mengambil alih — air asin menyediakan lingkungan yang tepat untuk beralih ke akuakultur.

"Ketika kita melihat orang-orang yang beralih dari bercocok tanam, rumah tangga tampaknya mempertahankan produksinya dengan cukup baik dengan beralih ke akuakultur," kata Chen.

"Mereka tampak cukup tangguh. Namun, cara mereka menjadi tangguh sekarang perlu berkelanjutan ke masa depan. Bagaimana kelestarian akuakultur nantinya?

"Jika cukup banyak orang beralih [ke akuakultur] dan ada terlalu banyak intrusi air asin, itu bisa menciptakan masalah baru dan mengganggu ekonomi dengan cara yang tidak dapat diprediksi orang-orang. "

Hak atas foto Ignacio Marin / Institute
Image caption Penduduk desa bekerja untuk memperbaiki tanggul buatan yang melindungi tanah mereka dari intrusi air asin

Seni tanggul menggunakan dinding tanah untuk membuat pulau buatan untuk pertanian mungkin paling dikenal sebagai inisiatif orang Belanda. Orang-orang di Bangladesh juga menggunakan polder untuk melindungi tanah pertanian mereka.

Namun ketegangan muncul ketika beberapa petani ingin melindungi lahan pertanian mereka, tempat mereka menanam padi, dari intrusi air asin; sementara tetangga mereka mungkin membanjiri tanah mereka dengan air asin untuk memulai budidaya udang.

"Bukti anekdot menunjukkan bahwa membangun dinding dan struktur laut untuk mencegah air laut mungkin lebih banyak menciptakan daripada membantu karena menciptakan konflik," kata Chen.

"Ada kelompok yang ingin lebih banyak air asin masuk dari pertanian ke akuakultur. Ini menguntungkan mereka yang ingin mengonversi tetapi tidak semua orang melakukannya. Air laut dan tanggul memungkinkan lebih banyak kontrol yang dalam beberapa kasus memperburuk masalah salinitas."

Hak atas foto Ignacio Marin / Institute
Image caption Tekanan untuk beralih ke akuakultur mengarah pada konflik antara petani dan nelayan

Chen mengatakan sekarang mungkin ada 100.000 orang yang bermigrasi setiap tahun karena banjir air asin, taou sulit untuk memperkirakan secara akurat karena perubahan ekonomi yang lebih luas juga mempengaruhi migrasi. Ekonomi yang kuat di India juga menarik pekerja, yang biasanya mencari pekerjaan konstruksi atau pertanian.

Ponsel adalah salah satu cara untuk melacak ke mana orang bergerak, demikian ditemukan Chen. Ada sekitar 145 juta koneksi kartu SIM di Bangladesh, terhitung 87% dari populasi, meskipun orang sering mengganti kartu SIM dan beberapa orang menyimpan beberapa telepon.

Tingginya penetrasi ponsel di Bangladesh adalah karena sebagian besar penduduk bergantung pada alat komunikasi itu untuk perbankan. Mobile banking memungkinkan seseorang untuk bekerja di kota sebagai migran yang mengirim uang ke rumah. Sebelumnya Anda mungkin harus menunggu beberapa bulan agar mereka kembali dengan uang tunai.

Hak atas foto Ignacio Marin / Institute
Image caption Orang Bangladesh menghadapi pilihan; apakah akan bermigrasi untuk mencari pekerjaan di kota atau mengubah cara hidup mereka

"Kami melihat kedua jenis migrasi terjadi di Bangladesh — peluang yang lebih baik di kota-kota menarik pekerja atau, dalam kasus perubahan iklim, mereka bergerak karena perubahan dalam lingkungan membuat sulit untuk memenuhi kebutuhan," kata Chen.

Sebagai negara dataran rendah, Bangladesh selalu menjadi daerah yang rentan terhadap perubahan permukaan laut, jadi beradaptasi dan bermigrasi adalah tuntutan yang biasa. Chen mengatakan orang-orang di Bangladesh berada pada jalur pertumbuhan ekonomi yang baik saat ini, tetapi iklim yang tidak stabil membuat sulit untuk memprediksi apakah pertumbuhan ini akan berlanjut.

Hak atas foto Ignacio Marin / Institut
Image caption Seorang warga desa berdiri di depan tongkat bambu yang akan digunakan dalam konstruksi

Beberapa orang Bangladesh telah mencoba menyesuaikan ladang mereka dengan kondisi baru, tapi tidak banyak yang sukses. "Kami telah mendengar tentang beralih menanam tumbuhan yang lebih toleran terhadap salinitas, tapi saya rasa tidak banyak varietas yang ada," kata Chen.

Para peneliti di Cina mengatakan bahwa mereka telah mengembangkan galur-galur beras tahan air asin, tetapi belum ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa galur-galur ini layak tanam, dan tanaman-tanaman tersebut diuji menggunakan air yang kandungan garamnya hanya 10% dari air laut.

Hak atas foto Ignacio Marin / Institute
Image caption Sebagian besar migran yang menuju ke Dhaka berakhir di daerah kumuh yang serupa dengan yang ini

Para migran di dalam Bangladesh tertarik ke kota-kota besar yang sebagian besar berada di pantai. Chen memperingatkan bahwa ini masih membuat banyak orang rentan terhadap efek kenaikan permukaan laut. Kota-kota itu mungkin tidak dapat dihuni dengan pasang naik dan dapat mengakibatkan ribuan orang perlu mencari rumah di tempat lain pada saat yang bersamaan.

Atau, beberapa warga pedesaan di Bangladesh mengadaptasi rumah mereka. "Saya telah mendengar banyak cerita tentang lebih banyak orang membangun rumah mereka di atas panggung, atau memiliki kolam retensi di sekitar pertanian," kata Chen.

"Saya telah mendengar beberapa cerita tentang sekolah yang pindah ke kapal sehingga mereka dapat terus beroperasi setelah banjir."

Hak atas foto Ignacio Marin / Institute
Image caption Migran dari pedesaan Bangladesh sering harus mengambil pekerjaan bergaji rendah, seperti memilah-milah sampah plastik, ketika mereka mencapai kota

Beberapa migran yang mencari pekerjaan di kota-kota Bangladesh mendapati diri mereka memilah-milah sampah orang lain. Anak-anak dan keluarga bisa mendapatkan uang dengan memilah barang-barang daur ulang.

Sampah plastik dalam jumlah besar, misalnya, mengalir ke kota-kota di air banjir. Pekerjaan itu sulit, dan hasilnya kecil, tetapi banyak pekerja mungkin dihadapkan dengan beberapa alternatif.

Hak atas foto Ignacio Marin / Institute
Image caption Pekerja memuat plastik daur ulang ke pabrik untuk diproses

Dengan sedikit peluang yang dihadapi pekerja tidak terampil, mencari pekerjaan saat mencapai kota baru bisa jadi hal yang sulit.

Chen mengatakan, orang-orang yang paling rentan juga merupakan yang paling tidak mampu untuk pindah. Hal ini menjadi salah satu masalah yang dihadapi pihak yang bertanggung jawab untuk melindungi para pekerja migran di Bangladesh.

"Orang yang paling rentan mungkin mandek di tempat," kata Chen. "Mereka yang lebih kaya bisa keluar dari daerah yang rentan, tetapi mereka yang terdampak paling parah mungkin akan terjebak di sana."

"Akan sulit untuk memenuhi kebutuhan orang-orang itu."

Hak atas foto Ignacio Marin / Institut
Image caption Seorang anak melihat sungai Buriganga yang tercemar yang mengalir melalui daerah kumuh di barat daya Dhaka

Bagi Chen, proyek selanjutnya melibatkan melihat bagaimana migrasi mempengaruhi kelompok masyarakat yang paling rentan: anak-anak.

"Ada bukti bahwa migrasi akibat genangan air garam memengaruhi hasil pendidikan; kerawanan pangan juga memengaruhi kesehatan," kata Chen.

Bagi banyak orang, kerawanan pangan mengancam kesehatan pribadi dan kesejahteraan ternak mereka — sebagian dari aset paling berharga yang dimiliki keluarga pedesaan.

"Orang-orang terus-menerus berbicara tentang betapa sulitnya mendapatkan air bersih di Bangladesh — mereka menyebutnya air manis," kata Chen. "Dan mereka harus menghemat air manis untuk ternak mereka."

Sementara para ilmuwan mungkin akan mengembangkan tanaman pangan yang tahan air asin suatu saat nanti, dan beberapa orang Bangladesh akan menemukan mata pencaharian baru di bidang akuakultur, persoalan yang lebih mendesak seperti kesehatan dan keselamatan – kelangsungan hidup – menjadi motivator besar bagi para migran di Bangladesh. Orang-orang akan pergi ke tempat yang airnya paling manis.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The country disappearing under rising tides, di laman BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait