Di balik seksualitas dan identitas rasnya yang misterius, siapakah Freddie Mercury sebenarnya?

Freddie Mercury Hak atas foto Steve Jennings/WireImage

Pada tahun 1984, dua tahun setelah organisasi Krisis Kesehatan Pria Gay dibentuk di New York untuk memerangi AIDS, Freddie Mercury mencetak hit solo pertamanya melalui lagu Love Kills.

Lirik lagu itu tidak menyinggung penyakit yang akan merenggut nyawa penyanyi itu tujuh tahun kemudian, tapi mungkin saja judulnya bisa menjadi referensi terselubung.

"Semuanya tentang subteks dengan Freddie Mercury," kata Martin Aston, penulis buku Breaking Down The Walls Of Heartache: How Music Came Out.

Love Kills dimasukkan dalam Never Boring, satu set koleksi yang mengumpulkan banyak materi yang direkam Mercury, termasuk satu-satunya album solonya, Mr Bad Guy (1985), serta Barcelona (1988), album kolaborasi ambisius dengan penyanyi opera Montserrat Caballé.

Rilis ini menawarkan kesempatan yang pas untuk mengeksplorasi identitas dan status Mercury yang kompleks sebagai ikon queer, terutama sejak film biografi yang sangat sukses tahun lalu, Bohemian Rhapsody, dituduh mengesampingkan, atau mengabaikan sama sekali, hubungan sang vokalis dengan banyak laki-laki.

Tidak mungkin mengetahui bagaimana Mercury dapat mendefinisikan seksualitasnya karena, setidaknya di depan umum, ia tidak pernah membahasnya secara langsung.

Dalam masa hidupnya, surat kabar Inggris The Sun mencap penyanyi itu "bintang rock biseksual", dan dalam beberapa tahun terakhir media sering menyebutnya sebagai gay.

Tetapi ketika majalah musik NME bertanya kepada Mercury pada tahun 1974, "Jadi bagaimana [rasanya] menjadi gay?" Mercury menjawab: "Kamu sapi yang licik. Jadi begini: ada saat-saat ketika saya muda dan hijau. Ini hal yang harus dilalui oleh anak sekolah. Saya menjadi bagian lelucon sekolah. Saya tidak akan menguraikan lebih jauh."

Pada kesempatan lain, ia menjawab pertanyaan serupa dengan berseloroh: "Saya sama gaynya dengan bunga bakung, sayangku!"

Hak atas foto Dave Hogan/Getty Images

Meskipun Mercury tinggal bersama Jim Hutton, pasangan prianya selama enam tahun, pada saat kematiannya, ia mewariskan bagian terbesar dari warisannya kepada Mary Austin, seorang perempuan yang ia kencani untuk jangka waktu yang sama pada tahun 70-an, dan tetap menjadi kawan baiknya sampai akhir hayatnya.

Austin masih tinggal di Garden Lodge, sebuah rumah besar bergaya Georgia di Kensington tempat Mercury menghabiskan tahun-tahun terakhirnya. Ia jarang melakukan wawancara, tetapi mengatakan kepada Daily Mail pada tahun 2013 bahwa Mercury mengatakan sebelum dia meninggal: "Jika ceritanya berbeda, kamu akan menjadi istri saya dan ini akan tetap menjadi milikmu."

Identitas baru

Seksualitas Mercury bukan satu-satunya aspek yang rumit dari identitasnya. Pada tahun 1946, ia dilahirkan dengan nama Farrokh Bulsara dari orang tua Parsi India di pulau Zanzibar, yang pada waktu itu adalah bagian dari Inggris dan sekarang bagian dari Tanzania.

Dia menghadiri sekolah asrama bergaya Inggris di India, tempat dia mulai menggunakan nama Freddie. Ia mengadopsi nama Mercury beberapa tahun kemudian, setelah keluarganya beremigrasi ke Inggris pada tahun 1964, dan ia mulai mengejar karir musik di London barat.

Hak atas foto Suzie Gibbons/Redferns

"Saya pikir mengubah namanya adalah salah satu caranya mengadopsi identitas yang berbeda," kata anggota band Queen, Brian May dalam sebuah film dokumenter tahun 2000 .

"Saya pikir itu membantunya menjadi sosok yang dia inginkan. Pria bernama Bulsara masih ada di sana, tetapi bagi publik dia akan menjadi karakter yang berbeda ini, seorang dewa. "

Karakter ini juga membantunya menghindari beberapa prasangka rasial pada zaman itu. "Tidak ada ruang bagi orang-orang berkulit coklat di industri musik Barat, dan Freddie tahu itu," kata Leo Kalyan, seorang penyanyi dan penulis lagu India-Pakistan yang menyebut Mercury sebagai "penampil terbaik sepanjang masa".

Kalyan mengatakan bahwa Mercury "cukup pintar untuk mengetahui bahwa ia harus menyamar sebagai orang kulit putih untuk berhasil", dan mengatakan warisan Asia Selatannya masih belum sepenuhnya dipahami hari ini "karena orang-orang Asia Selatan masih sengaja diabaikan dalam industri musik Barat".

Seksualitas Mercury sekarang tidak diabaikan dengan cara yang sama, tetapi masih belum ada cara pasti untuk menggambarkan karakternya.

"Saya pikir jika Freddie hidup sekarang dengan cara dia hidupnya sendiri di masa hidupnya, kita mungkin akan memanggilnya queerdaripada 'gay' atau 'biseksual'," kata Ryan Butcher, editor situs LGBT PinkNews.

Hak atas foto Steve Jennings/WireImage

"Itu bukan hanya tentang seksualitas; itu tentang seluruh identitasnya dan kepribadian flamboyan yang diproyeksikannya di atas panggung, yang merupakan salah satu hal utama yang dikenal dari Queen. "

Tetapi karena Mercury tidak pernah mengaku sebagai LGBT atau menyejajarkan dirinya secara publik dengan gerakan hak-hak LGBT, dapat dikatakan bahwa statusnya sebagai ikon queer dipertanyakan.

Rekan satu bandnya, Brian May mengatakan pada 2008: "Saya tahu sepanjang hidupnya Fred tidak berpikir apakah ia gay atau tidak itu penting."

Namun, Aston menunjukkan bahwa Mercury menjadi terkenal pada 1970-an, saat para seniman jarang berbicara secara terbuka tentang seksualitas mereka.

"David Bowie memang menyatakan dirinya sebagai biseksual [di depan umum]," kata Aston, "tetapi dia memiliki jaring pengaman berupa seorang istri dan anak."

Aston juga menunjukkan bahwa masyarakat menerima Judy Garland sebagai ikon queer "meskipun dia tidak membuat pernyataan tentang apa pun yang berkaitan dengan homofobia dan penerimaan kelompok LGBT".

Pada tahun 1986, ketika Mercury dan Queen memberikan penampilan ikonik mereka di konser musik Live Aid, ada beberapa musisi mainstream yang terang-terangan mengaku sebagai gay. Single terlaris di Inggris tahun itu adalah Don't Leave Me This Way oleh the Communards, yang vokalisnya Jimmy Somerville bangga mengaku gay dan sangat terlibat dengan gerakan hak-hak LGBT.

Hak atas foto Getty Images

Namun demikian, vokalis band Wham!, George Michael tetap enggan memproklamirkan diri, dan Boy George dari Culture Club menavigasi ketenaran pertamanya beberapa tahun sebelumnya dengan mengurangi homoseksualitasnya.

"Meskipun saya terkenal mengatakan pada saat itu bahwa saya lebih suka minum teh daripada seks, kehidupan seks saya sebenarnya sangat gila-gilaan," kata Boy George kepada The Guardian pada 2007 .

"Tapi aku dibesarkan untuk berpikir itu kotor dan salah, dan tidak untuk dibuka kepada publik."

Pendekatan Mercury untuk menyelaraskan kehidupan pribadinya dengan kepribadiannya di depan umum sebagai pentolan band rock dengan penggemar berat yang kebanyakan pria heteroseksual sangat menyenangkan dan kompleks.

Karena dia tidak pernah menanggapi desas-desus tentang seksualitasnya, mudah bagi para penggemar untuk menafsirkan gaya penampilannya yang super flamboyan dan teatrikal sebagai apa yang disebut Aston sebagai "tawa yang lucu" daripada sesuatu yang muncul dari orientasi seksualnya.

Hak atas foto Getty Images

Lagu solo Mercury Living on My Own, awalnya dirilis pada tahun 1985, tetapi baru mencapai nomor satu di Inggris dua tahun setelah kematiannya setelah versi remixnya beredar di klub-klub, adalah ekspresi kesepian yang menarik yang menggambarkan Mercury sebagai bujangan, tetapi belum tentu "bujangan betulan" dalam arti eufemistik yang sekarang agak ketinggalan zaman. "Dia seperti main-main saja," imbuh Aston.

Ryan Butcher melangkah lebih jauh, menggambarkan Mercury sebagai "hampir agen rahasia untuk komunitas LGBT, menjatuhkan benih-benih budaya queer ini ke dalam pola pikir heteroseksual".

Pada tahun 80-an, Mercury dikenal karena rompi putih ketat dan kumisnya — terinspirasi dari Castro Clone yang berasal dari di distrik Castro di San Fransisco yang terkenal di kalangan gay, tapi kurang akrab dengan penggemar musik arus utama. Bisa dikatakan bahwa Mercury bersembunyi di depan mata.

Yang jelas, dia tidak membiarkan ketenaran menghentikannya dari mengunjungi tempat-tempat gay yang populer di London seperti Heaven dan Royal Vauxhall Tavern.

Aktris Cleo Rocos menulis dalam memoarnya pada 2013 bahwa dia, Mercury, dan komedian Kenny Everett bahkan sukses menyelinapkan Putri Diana ke Royal Vauxhall Tavern dengan menyamarkannya sebagai drag (laki-laki yang berdandan seperti perempuan).

Hak atas foto Getty Images

Sejumlah petunjuk

Mungkin salah satu cara Mercury yang paling berani dalam mengekspresikan keunikan alaminya adalah video Queen untuk single I Want to Break Free pada 1984. Dalam video tersebut, Mercury dan rekan-rekan satu grupnya berpakaian sebagai karakter wanita dari opera sabun Inggris Coronation Street, keputusan yang mencederai karier mereka di AS.

Brian May mengenang peristiwa ini dalam sebuah wawancara pada tahun 2017: "Saya ingat ketika sedang tur promo di Midwest of America dan wajah orang-orang berubah pucat dan mereka berkata, 'Kami tidak bisa memainkan ini. Kami tidak mungkin memainkan ini. Anda tahu, itu terlihat homoseksual. '"

Dalam musik Queen, sementara itu, selalu ada petunjuk tentang kehidupan pribadi Mercury bagi penggemar yang berniat – dan cukup paham tentang komunitas gay – menemukannya. Pada lagu hit Queen yang dirilis pada tahun 1978, Don't Stop Me Now, Mercury bernyanyi bahwa ia ingin "to make a supersonic woman of you" dan "a supersonic man out of you".

Dalam video klip lagu tersebut, dia mengenakan kaus dari Mineshaft, bar gay BDSM di New York yang populer saat itu. Bahkan nama band-nya, Queen, bisa dilihat sebagai rujukan halus terhadap identitas sang vokalis.

Hak atas foto Getty Images

"Jelas sekali apa maksud nama 'Queen'," kata Kalyan, "tetapi ketika saya memberi tahu ibu saya beberapa tahun yang lalu, dia tidak bisa mempercayainya. Dia bilang dia selalu berpikir bahwa 'Queen' hanya berarti agung atau megah."

Dengan cara yang sama, Kalyan mengatakan musik Mercury berisi penanda warisan Asia Selatannya, mengutip penggunaan kata Arab 'Bismillah' dalam Bohemian Rhapsody.

"Hanya orang yang mengetahui budaya Islam yang akan tahu kata itu, yang merupakan kata pertama dalam Alquran [artinya Dengan Nama Tuhan], dan memasukkannya ke dalam lagu seperti Bohemian Rhapsody," katanya.

Kalyan menambahkan bahwa di antara komunitas Asia Selatan, "banyak yang mengetahui bahwa Freddie adalah orang India dan sangat terinspirasi oleh penyanyi Bollywood seperti Lata Mangeshkar, yang terkenal memiliki jangkauan vokal yang luar biasa seperti Freddie".

Tetapi ketika menyangkut seksualitas dan etnisitasnya, Mercury lebih suka privasi daripada proklamasi langsung sampai akhir hayatnya.

Seperti yang ditunjukkan Kalyan, "dia tidak berbicara tentang sekolah di India atau cintanya pada Lata Mangeshkar. Itu bukan bagian dari narasinya ".

Seksualitasnya juga tidak: pada 22 November 1991, mengikuti apa yang disebutnya "spekulasi besar-besaran" di media, Mercury akhirnya mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa ia HIV-positif, dan menderita Aids, tetapi tidak menyebutkan hubungannya dengan Jim Hutton.

Hak atas foto Getty Images

Sekitar 24 jam kemudian, dia meninggal. "Bayangkan betapa dekatnya dua kejadian itu — salah satu bintang terbesar di planet ini mengumumkan ia menderita AIDS, kemudian meninggal karena penyakit ini," kata Ryan Butcher.

Secara pribadi, Mercury telah didiagnosis sebagai positif HIV empat tahun sebelumnya, dan Butcher menduga bahwa persahabatan sang penyanyi dengan mendiang Putri Diana bisa menjadi faktor yang berkontribusi dalam keputusannya untuk mempromosikan kesadaran yang lebih baik tentang penyakit ini.

Tapi itu, seperti halnya dengan Mercury, adalah sesuatu yang kita mungkin tidak akan pernah tahu pasti.

Hampir 28 tahun setelah kematiannya, Freddie Mercury tetap dihargai. "Pada tahap ini, dia bukan hanya ikon, tetapi harta nasional Inggris," kata Aston.

Kalyan memanggilnya "ikon queer besar" dan "ikon musik barat dari Asia Selatan".

Apakah Mercury akan menyukai istilah-istilah ini atau tidak, sulit untuk tidak menghargai apa yang ia capai dalam masa hidupnya.

Dalam era ketika homofobia dan rasisme jauh lebih lazim daripada sekarang, Freddie Mercury adalah seorang queer sekaligus pria berdarah Asia Selatan yang menjadi vokalis band dengan salah satu single paling ikonik dalam musik rock, Bohemian Rhapsody, dan album terlaris dalam sejarah musik Inggris, Queen's Greatest Hits.

Tapi juga bisa dikatakan bahwa misteri yang ia kembangkan seputar identitasnya, apakah karena ia merasa terpaksa atau tidak, hanya menegaskan statusnya sebagai salah satu teka-teki paling menarik dalam budaya pop.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini, Who was the real Freddie Mercury di laman BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait