Pengalaman seorang pria yang selama 10 tahun mencatat setiap kegiatannya

Morris Villarroel Hak atas foto Eduardo Cano

Seorang ilmuwan Spanyol mencatat dan mengabadikan setiap kegiatannya sehingga dia dapat belajar menjalani hidup secara lebih efektif. Tetapi apa yang dapat Anda peroleh dari pelacakan secara forensik setiap bagian dari hari-hari Anda?

Pada bulan Februari 2010, Morris Villarroel memulai suatu percobaan untuk dilakukan selama 10 tahun.

Ilmuwan dari Polytechnic University of Madrid, Spanyol, ini baru saja memasuki usia 40 tahun dan mulai memperhatikan hidupnya.

Dia berpikir, bukankah akan sangat berguna jika memiliki catatan hidup yang lebih lengkap dan nyata?

Hal itu tidak hanya akan membantunya mengingat lebih banyak masa lalunya; akan tetapi mungkin juga dapat membantunya mencari cara untuk menjalani sisa hidupnya dengan lebih efektif, untuk memanfaatkan waktunya sebaik mungkin.

Maka dia mulai mencatat setiap detail kegiatan secara terperinci dalam buku hariannya. Catatan sehari-harinya dimulai setiap malam sebelumnya, ketika dia akan membuat rencana kegiatan untuk sepanjang hari itu.

Setiap hari, dia menghabiskan 15 menit hingga setengah jam untuk menulis seputar keberadaan dan kegiatannya - sekalipun itu cuma perjalanan dengan metro, kelas di kampusnya atau wawancara dengan wartawan.

"Saya akan menuliskannya sekarang, bahwa saya berbicara dengan Anda. Lalu kemudian, kurang lebih berapa lama ini berlangsung dan beberapa pertanyaan yang Anda tanyakan," katanya di awal pembicaraan kami.

Kemudian dia akan memeriksa catatan-catatan itu. "Jika saya punya waktu ketika sedang mengantre di supermarket atau jika saya harus menunggu panggilan dokter, sedang rapat atau menerima panggilan telepon," katanya.

Begitu buku catatannya terisi, dia akan menyusun kontennya di Microsoft Excel dan lanjut ke langkah berikutnya.

Socrates berpendapat bahwa "kehidupan yang tidak teruji tidak layak untuk dijalani" - dan hanya sedikit yang melakukan pengecekan itu sebanyak yang dilakukan Villarroel.

Dia adalah bagian dari komunitas baru "lacaklah dirimu" yang mencatat segala sesuatu tentang kehidupan mereka dengan teliti, dengan tujuan untuk mengenal diri mereka lebih baik lagi.

Sekarang dia sudah memasuki tahun ke sembilan dan sembilan bulan - dan 307 buku catatan - dari percobaan 10 tahunnya.

Apa yang sudah dipelajarinya? Dan akankah bijak bagi kita semua untuk mengambil selembar saja dari seluruh buku hariannya?

Hak atas foto Eduardo Cano
Image caption Villarroel mengatakan bahwa catatan yang dengan teliti disimpan, membuatnya merasa seolah-olah dia telah hidup lama.

Memahami masa lalu, meningkatkan masa depan

Ketika pertama kali dia memulai proyek ini, salah satu tujuan utama Villarroel adalah manajemen waktu: untuk lebih memahami bagaimana dia menghabiskan waktu dan dampak dari kegiatan ini terhadap kesehatan dan kebahagiaan.

Dulu dia membawa mobil ke kantor, misalnya, tetapi begitu memulai menyimpan buku-buku hariannya, dia menyadari bahwa dia menjadi lebih cepat marah karena insiden kecil saja - seperti seseorang memotong jalur di depannya - menyebabkan stres yang akan bertahan sepanjang hari.

"Sekarang saya menggunakan metro dan berjalan ke kantor - dan hal itu juga menyehatkan punggung saya."

Suatu perbaikan kecil yang tidak tampak revolusioner, tetapi pada saat yang bersamaan meningkatkan kepuasan hidupnya secara keseluruhan.

"Secara perlahan, hal-hal baik mengambil alih hal-hal yang lebih negatif," katanya.

Buku-buku catatan itu juga membantunya belajar lebih baik dari pengalaman di tempat kerja - seperti memberi kuliah atau diskusi.

"Anda dapat melihat semua detail kecil dan cara memperbaikinya," katanya. Tanpa catatannya, gagasan-gagasan itu akan dilupakan.

"Ini seperti membuang informasi." Dan dengan data-data yang dimasukkan ke dalam spreadsheet, dia dapat melacak berapa lama dia menghabiskan waktu untuk berbagai proyek dan menyesuaikan prioritasnya.

Sementara itu, dalam tutorial untuk para siswanya, catatan tersebut membantunya mengingat percakapan mereka sebelumnya dan menyesuaikan diskusi dengan kebutuhan pribadi mereka.

Secara lebih umum, Villarroel mengatakan bahwa buku-buku catatan harian telah membantu meningkatkan pengaturan emosinya, sehingga dia menjadi tidak terlalu reaktif dalam situasi yang penuh tekanan.

"Saya berpikir: 'Nah, ini dulu pernah terjadi, dan saya telah melihatnya di waktu yang berbeda, jadi sekarang saya bisa mengendalikan diri dengan lebih baik," ujarnya.

Di satu sisi, proses refleksi diri membantu Anda melihat dari perspektif orang ketiga pada peristiwa itu, katanya, - seolah-olah Anda adalah pengamat - sehingga Anda dapat melihat situasi tanpa terlalu melibatkan perasaan.

Seperti yang pernah diharapkannya, dia juga memahami bahwa dirinya memiliki catatan hidup yang lebih lengkap, dibandingkan dengan kenangan masa lalunya yang samar-samar.

"Saya dapat melihat dan benar-benar memperhatikan detail-detail setiap hari dan hampir setiap jam setiap hari selama 10 tahun ini," katanya.

"Sementara jika saya melihat dari 30 ke 40, saya tahu banyak hal yang terjadi, tetapi saya tidak dapat masuk ke detail terperinci tentang apa yang terjadi."

Padatnya catatan itu mengesankan pelebaran waktu, katanya - seolah-olah dia telah hidup lebih lama. "Saya mendapat kesan bahwa 10 tahun dari 40 ke 50 berjalan lebih lambat," jelasnya.

Hak atas foto Morris Villarroel
Image caption Villarroel menghabiskan sekitar satu jam setiap hari untuk merekam pengalaman-pengalamannya - suatu kegiatan yang telah memenuhi 307 buku catatan selama 10 tahun.

'Menikmati hal-hal baik'

Hasil pengamatan Villarroel dibagikan oleh banyak 'pelacak diri' lainnya, yang menggunakan berbagai strategi untuk mencatat dan menganalisis pengalaman hidup mereka.

Banyak dari mereka menggambarkan hal ini sebagai 'Kuantifikasi Diri' - dengan tujuan menggunakan data untuk mengenal diri sendiri dengan lebih baik.

Lihatlah James Norris yang berusia 36 tahun, misalnya, pendiri bisnis konsultan Upgradeable yang kini berbasis di Bali, Indonesia.

Dia mulai mencatat kegiatan hidupnya sejak berusia 16 tahun, dimulai dengan ciuman pertamanya: dia ingin memastikan dapat mengingat peristiwa itu untuk anak cucunya.

Sejak saat itu, dia telah berniat untuk mencatat semua hal "pertama" dalam hidupnya - setiap kali dia pergi ke tempat baru, atau makan makanan baru (yang terbaru adalah burger arang), atau mencoba pengalaman baru (seperti terjun payung).

Setelah dihitung sekarang berjumlah 1.850. Secara teratur dia juga melacak hal-hal seperti aktivitasnya, ramalannya untuk masa depan dan kesalahan-kesalahannya.

Catatannya disimpan dalam basis data komputer yang mudah dicari.

"Setiap kali saya ingin kembali dan mengingat sesuatu, saya bisa pergi dan mencari tahun atau kata kunci tertentu, dan kemudian saya bisa mengingat dan merasakannya."

Seperti halnya Villarroel, dia yakin hal ini membantu membimbingnya menemukan cara terbaik untuk menghabiskan waktunya.

Mampu mengingat berbagai pengalaman pertama kali juga baik untuk meningkatkan rasa percaya diri, ungkapnya - dan membuatnya lebih berani ketika dia harus menjelajah di luar zona nyamannya.

Hal ini juga dapat memberikan semangat ketika dia merasa sedih.

"Jika Anda mengingat hal-hal yang baik, Anda bisa lebih menikmatinya, dan itu baik untuk kesejahteraan Anda," lanjutnya.

Hal ini juga menciptakan kesan hidup yang lebih lama dan lebih intens. "Ini merupakan cara yang mudah dan murah untuk mendapatkan nilai lebih dari kehidupan."

Meski beberapa ilmuwan telah mempelajari jenis pelacakan diri yang sangat serius ini, ada bukti kuat bahwa jurnal harian dapat memberikan manfaat.

Sebuah penelitian oleh Francesca Gino dari Harvard Business School, misalnya, mengamati sekelompok karyawan call center yang sedang menjalani pelatihan teknis.

Dia menemukan bahwa menghabiskan waktu 10 menit sehari untuk menulis jurnal tentang kegiatan hari itu telah meningkatkan kinerja mereka lebih dari 20%.

Di luar pekerjaan, ada banyak bukti bahwa menulis dan melakukan refleksi dalam jurnal dapat meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan hidup Anda.

Pengalaman Villarroel dan Norris sangat cocok dengan pola-pola itu.

Jadi, sementara banyak dari kita mengalami kesulitan untuk menyimpan catatan rinci tentang kehidupan kita, kebanyakan psikolog akan setuju bahwa bahkan sedikit waktu yang dihabiskan untuk melakukan refleksi dapat memberikan keuntungan besar - bahkan jika itu hanya berarti mengenali kesenangan sehari-hari yang lebih duniawi, yang membuat hidup menjadi sedikit lebih menyenangkan.

'Mesin pencari untuk diri sendiri'

Jika menyimpan jurnal tertulis tidak menarik, ada cara alternatif untuk melacak diri sendiri.

Anda sekarang dapat membeli kamera "lifelogging" portable yang dapat mengambil foto setiap 30 detik atau lebih sepanjang hari, misalnya.

Perangkat ini terkadang diberikan kepada mereka yang mengidap demensia, tetapi orang-orang juga menggunakannya untuk melacak kehidupan mereka sendiri.

Banyak pengguna kamera ini mengklaim bahwa foto-foto itu berperan sebagai alat bantu memori, dengan gambar-gambar tertentu yang memicu "Proustian moments" yang jelas - dinamai menurut kenangan terperinci novelis Prancis, Marcel Proust, yang dimunculkan oleh citarasa madeline.

"Banyak detail yang mulai membanjiri," kata Ali Mair, seorang psikolog dari University of Hertfordshire, "bahwa semua datang secara bersama-sama dan memberikan ingatan yang sangat kaya dan entah datang dari mana."

Tampaknya, entah bagaimana, gambar-gambar yang diambil secara cepat, berperan sebagai pemicu psikologis khusus yang akan membawa detail peristiwa secara penuh.

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Mampu mengingat berbagai pengalaman pertama kali juga baik untuk meningkatkan rasa percaya diri, ungkapnya - dan membuatnya lebih berani ketika dia harus menjelajah di luar zona nyamannya.

Mair menekankan bahwa hal ini sebagian besar merupakan bukti anekdotal, dan sementara beberapa penelitian tampaknya mendukung cerita-cerita ini, kita membutuhkan lebih banyak bukti ilmiah, sebelum mereka dapat direkomendasikan sebagai penambah daya ingat.

Harapannya adalah bahwa suatu hari perangkat lunak untuk mengolah gambar akan cukup maju, agar secara otomatis membuat katalog gambar-gambar ini dan mengeluarkan fitur-fitur yang paling menonjol - yang dapat memungkinkan Anda tetap melacak hal-hal, seperti apa yang Anda makan, siapa yang Anda temui atau apa yang Anda kerjakan.

Ini dapat digabungkan dengan data-data lain - FitBit Anda, misalnya - untuk membangun gambaran yang lengkap tentang hidup Anda dan apa yang sedang Anda kerjakan saat ini juga.

Cathal Gurrin, seorang pakar komputer dari Dublin City University, spesialis dalam lifelogging, menjelaskan hal ini sebagai semacam "mesin pencari untuk diri sendiri".

"Ini merupakan penyelaman mendalam ke dalam pengalaman hidup seseorang," katanya.

Dengan mencari secara otomatis melalui foto-foto itu, Anda akan dapat mengingat kembali kejadian-kejadian tertentu yang mungkin tidak Anda pikirkan, seperti ketika terakhir kali Anda melihat seseorang atau bagaimana sampai Anda akhirnya memiliki barang tertentu - tanpa Anda secara manual harus mencatat semuanya.

Dia pikir bahwa teknologi jenis ini akan lebih penting jika kacamata "pintar", yang semuanya dilengkapi kamera portabel, akhirnya berhasil menembus pasar konsumen.

(Sementara upaya Google berakhir dengan mengecewakan, Apple dilaporkan memiliki beberapa rencana yang sedang dikerjakan.)

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sepotong kue madeleine yang dicelupkan ke dalam teh secara tidak sengaja mengingatkan kenangan dalam novel karya Proust, In Search of Lost Time.

Menjalani hidup dengan lebih intens

Untuk sementara ini, Villarroel merasa cukup puas dengan buku-buku catatannya.

Dia bercerita pernah memiliki kamera untuk melengkapi kegiatannya, dan menggunakannya selama beberapa tahun, tetapi dia merasa terlalu sulit untuk melacak semua foto.

"Kadang-kadang hal itu menyenangkan tetapi lebih banyak membosankan," katanya.

Pena dan kertas yang dikombinasikan dengan lembaran Excel-nya masih merupakan cara yang dipilihnya untuk merekam pengalamannya.

Dia memperkirakan bahwa dia sekarang telah menghabiskan setidaknya satu jam sehari untuk kegiatan mencatatnya.

Dia mengakui bahwa ada beberapa kerugian dalam hal ini: dia bisa merasa frustrasi ketika melihat kembali ke masa-masa ketika dia tidak produktif, misalnya.

"Tetapi saya tidak bermaksud menghakimi pengalaman yang lalu," tambahnya.

Dia juga tidak merasa mencatat jurnal harian membuat dia mengenang peristiwa-peristiwa yang menyakitkan.

"Saya menyadari bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi, yang membuat saya menyalahkan diri saya, melihat buku catatan itu membantu saya memahaminya sesuai konteks," tambahnya.

"Jadi secara keseluruhan hal itu membuat saya merasa telah melakukan hal terbaik yang saya bisa."

Keluarganya juga tidak banyak mengeluh, meskipun secara bercanda dia mengatakan bahwa kebiasaan itu telah membantunya mendapat ide-ide bagus untuk hadiah ulang tahun.

Penulis Zadie Smith sebelumnya pernah berkata bahwa dia menulis untuk menghindari "tidur sambil berjalan dalam menjalani hidup".

Ini mengejutkan saya bahwa catatan-catatan Villarroel dapat menjawab tujuan ini dengan membuatnya menjadi lebih sabar dengan pengalamannya.

Percobaan 10 tahunnya yang asli akan berakhir pada bulan Februari, tetapi dia memutuskan untuk melanjutkan setelahnya.

"Ini sudah menjadi kebiasaan hidup saya," katanya.

"Saya tahu hal ini terdengar dangkal, tetapi ini satu jalan untuk menjalani hidup sedikit lebih intens."

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Worklife dengan judul One man's 10-year experiment to record every moment.

Topik terkait

Berita terkait