'Dulu saya pikir perempuan itu lemah', cerita para remaja pria yang jadi ujung tombak memerangi kekerasan terhadap perempuan

perempuan, india, kesetaraan gender, remaja laki-laki Hak atas foto Getty Images
Image caption Protes soal pelecehan terhadap penumpang bus kota di Bangalore, di mana sebuah penelitian menemukan dua pertiga penumpang perempuan rutin menghadapi kekerasan.

Setiap hari di seluruh dunia, 137 perempuan dibunuh oleh pasangannya atau anggota keluarga. Program Aksi untuk Kesetaraan di India berupaya untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan, dengan berfokus pada remaja laki-laki.

Omkar, 18 tahun, biasa melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya, Rutu. Sekarang, kata ibunya, dia berbicara pada adik perempuannya dengan penuh hormat dan tenang.

Omkar juga banyak membantu pekerjaan rumah. "Dia membuat teh jika ada orang di rumah; melakukan pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah dan merapikan barang. Perilakunya berbeda dari anak laki-laki lain di komunitas, dia berperilaku sangat baik," kata Kanta, ibu Omkar.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Omkar, 18 tahun, satu dari ribuan remaja India yang belajar tentang kesetaraan

Omkar adalah satu dari sekitar 5.000 anak lelaki di Pune, India yang berpartisipasi dalam program yang disebut Aksi untuk Kesetaraan (AFE). Diluncurkan oleh Equal Community Foundation (ECF) pada tahun 2011, program AFE berusaha memerangi kekerasan terhadap perempuan, bersama dengan remaja laki-laki.

Berjuang untuk kesetaraan gender sama seperti melawan arus sungai yang deras, kata Christina Furtado, direktur eksekutif ECF. "Kami memberi tahu [perempuan], 'Sangat penting untuk memperjuangkan hak-hak Anda.' Kami berhasil menarik beberapa perempuan keluar dan menyelamatkan mereka," katanya.

Tetapi ketika solusi hanya berfokus pada perempuan, "apa yang tidak dilakukan, tidak mengubah aliran arus," kata Furtado. "Karena pada akhirnya, perempuan yang berpendidikan dan berdaya bisa pulang ke rumah dengan laki-laki yang kejam dan kasar."

Dalam Aksi untuk Kesetaraan, anak laki-laki berusia 13 hingga 17 menghabiskan 43 minggu mempelajari kurikulum pendidikan yang dirancang untuk mengajari mereka tentang kekerasan berbasis gender, menggugat norma gender, dan membuat komunitas mereka lebih adil dan lebih aman bagi perempuan dan anak perempuan.

Setiap hari ada 137 perempuan dibunuh orang dekat

Hak atas foto Getty Images
Image caption "Jangan minta perempuan pakai baju sopan, tapi minta anak-anak lelaki Anda untuk bersikap sopan.," sebuah tulisan dalam demo untuk korban perkosaan geng yang brutal di New Delhi pada 2012.

Seperti yang dilaporkan PBB, kekerasan terhadap perempuan adalah momok seluruh dunia.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 70% perempuan pernah mengalami kekerasan fisik dari pasangan intim, baik fisik maupun seksual, dalam kehidupan mereka.

Di seluruh dunia, 137 perempuan dibunuh oleh pasangan intim atau anggota keluarganya setiap hari.

Di India, kekerasan terhadap perempuan ini terjadi secara brutal ketika seorang siswi berusia 23 tahun diperkosa di bus kota di Delhi, India pada tahun 2012. Yang terjadi selanjutnya adalah banjir kisah-kisah kekerasan seksual, menciptakan semacam momen #MeToo untuk India.

Hak atas foto Getty Images
Image caption March Dignity di New Delhi pada Februari 2019; pawai sepanjang 10.000 km yang berusaha meningkatkan kesadaran akan kekerasan seksual terhadap perempuan.

Inilah sebabnya mengapa program seperti ini memiliki peran sangat penting.

Meski begitu, kota Pune, yang konservatif nampaknya jadi tempat yang muskil untuk untuk meluncurkan kampanye akar rumput untuk kesetaraan gender.

Pune nampaknya bukan tempat di mana remaja laki-laki akan memulai perubahan itu.

Dalam masyarakat berpenghasilan rendah dan tradisional seperti ini, anak laki-laki dan perempuan sering kali terikat oleh kebiasaan kuno yang menentukan bahwa pekerjaan rumah adalah pekerjaan perempuan.

Juga, bahwa laki-laki "boleh" melakukan pelecehan seksual, verbal, dan fisik terhadap perempuan tanpa konsekuensi.

Fasilitator program adalah orang-orang yang cenderung dijadikan contoh oleh remaja pria, yaitu para pemuda berusia 20-an.

ECF mengharuskan peserta menghadiri 60% sesi dan menyelesaikan "proyek aksi"— solusi komunitas yang kemudian mereka terapkan. Sekitar 80% dari peserta lulus.

Hak atas foto Chhavi Goyal
Image caption Akshay, yang bergabung dengan program ini pada tahun 2014, membuat teh chai di rumah.

Akshay yang berusia 18 tahun awalnya bergabung dengan program Aksi untuk Kesetaraan pada tahun 2014 sebagai sukarelawan untuk menjalankan sesi.

Dia kemudian mendaftarkan diri, bersama dengan dua saudara lelakinya.

Sejak dia lulus dari program ini, katanya, dia telah menjadi panutan bagi anak laki-laki lain di masyarakat.

Ibu Akshay, Sujuta, mengatakan memang melihat perubahan signifikan dalam perilaku anaknya. "Dia telah berbagi tanggung jawab di rumah, bukan hanya dia, tetapi semua saudaranya juga," kata Sujuta.

"Faktanya, selama sebulan, saya tidak melakukan pekerjaan apa pun di rumah karena bantuannya."

Alkohol dan kekerasan terhadap perempuan

Di lingkungan Akshay dan Omkar, banyak anak lelaki mulai minum alkohol pada usia 14 atau 15 tahun. Beberapa kecanduan saat mereka mencapai usia dewasa.

Alkoholisme tersebar luas di komunitas berpenghasilan rendah seperti ini di seluruh India, dan pria yang menyalahgunakan alkohol lebih besar kemungkinannya untuk berlaku kejam pada istri dan melecehkan anak perempuan.

Ini adalah masalah yang secara signifikan berdampak pada perempuan.

Anak perempuan takut bermain di luar karena komentar cabul dari remaja dan laki-laki mabuk.

Perempuan sering takut memanggil polisi atau menghadapi pelaku secara langsung karena mereka percaya pihak berwenang akan menyalahkan korban atau tidak akan mempercayai mereka.

Hak atas foto Chhavi Goyal
Image caption Omkar bersama orang tuanya Raju dan Kanta, yang mengatakan ada perubahan signifikan dalam perilaku anaknya sejak memulai program Aksi untuk Kesetaraan

Kini Omkar dan ayahnya Kanta, dengan pengetahuan untuk menemukan tanda-tanda pelecehan dan kekerasan seksual, merasa berdaya untuk melaporkan insiden kepada polisi dan tokoh masyarakat.

Omkar mencatat bahwa gadis-gadis remaja memercayainya karena mereka tahu pengalaman ECF-nya berarti dia punya pendidikan dan kasih sayang untuk membantu perempuan ketika mereka merasa tidak aman.

Akshay juga tidak takut campur tangan. Dia pernah mendengar seorang pria mabuk berkelahi dengan istrinya, dan kemudian memukuli perempuan itu.

Akshay dan teman-temannya pergi ke rumah pria itu dan mencoba menyeretnya keluar, dan minta perempuan itu untuk memanggil polisi.

Akibatnya, pria itu pergi ke konselor rehabilitasi alkohol, mengurangi konsumsi alkoholnya secara drastis, dan, kata Akshay, menghentikan kekerasannya.

"Dulu saya pikir [perempuan] itu lemah, bahwa mereka takut pergi ke luar. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa mereka takut karena patriarki, dan kemudian saya mulai menghormati mereka," kata Akshay.

Omkar menyampaikan ilmunya kepada generasi muda. Dengan seorang teman lelaki, ia melatih 10 anak lelaki yang terlalu muda untuk bergabung dengan program Aksi untuk Kesetaraan dalam konsep kesetaraan gender — mengajar mereka untuk tidak menyuiti perempuan, membantu di sekitar rumah, dan melaporkan jika mereka melihat laki-laki yang menyakiti perempuan.

"Kami ingin mendorong anak laki-laki untuk mengambil inisiatif, dan bahwa kami ada untuk mendukung mereka dan semua yang mereka lakukan," kata Suhasini Mukherjee, pelaksana program di ECF.

Hak atas foto Chhavi Goyal
Image caption Anak laki-laki mendengarkan selama sesi ECF di Pune.

Namun, ketika anak laki-laki belajar bagaimana membantu anak perempuan yang dilecehkan, mereka terkadang menganggap pelajaran ini terlalu serius, kata Pravin Katke, koordinator program di ECF.

Mereka akan memberi tahu saudara perempuan mereka apa yang tidak boleh dipakai, atau membuat para perempuan takut untuk pergi sendirian. Meskipun bermaksud baik, perlindungan berlebih ini dapat menyebabkan dominasi, yang justru adalah hal yang ingin diatasi ECF.

Pada tahap awal program, mentor menekankan bahwa anak laki-laki seharusnya hanya menawarkan bantuan ketika anak perempuan memintanya, atau ketika perempuan jelas-jelas dalam kesulitan.

Mentor juga mengatakan kepada anak laki-laki untuk memanggil pihak berwenang dalam situasi ekstrem, daripada berpotensi memperburuk situasi dengan melibatkan diri mereka sendiri.

Dalam satu situasi seperti itu, Akshay mendengar tetangganya sedang mengatur pernikahan untuk anak perempuan mereka yang masih di bawah umur (usia minimum menikah untuk anak perempuan di India adalah 18, tapi pernikahan anak masih dipraktikkan).

Akshay tahu orang tua gadis itu akan curiga dia adalah pacarnya jika langsung berhadapan dengan mereka. Maka, ia memberi tahu otoritas hukum dan organisasi hak perempuan untuk meyakinkan orang tua untuk membatalkan pernikahan.

Homens dan hombres

Program ECF menangani masalah gender di tingkat lokal, akar rumput. Promundo, organisasi yang didirikan di Brazil tahun 1997 dan sekarang berbasis di Washington, DC, memberikan model serupa pada skala global kepada pria dan anak lelaki di lebih dari 25 negara, termasuk Brazil, India, AS, dan negara-negara Balkan.

Program H Promundo (untuk "homens" atau "hombres", masing-masing kata Portugis dan Spanyol yang artinya "laki-laki") diciptakan untuk mengurangi kekerasan di kalangan pria muda perkotaan.

Peserta Program H berusia antara 10 dan 24, dan bertemu setiap minggu selama empat bulan di ruang komunitas seperti sekolah. Seperti di ECF, kelompoknya kecil, rata-rata 12 peserta, dan difasilitasi oleh laki-laki muda berusia 20-an. Seperti ECF, pelajaran Promundo fokus pada topik-topik seperti kekerasan terhadap perempuan, seksualitas, dan norma gender seperti pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga.

Menurut laporan State of the World's Fathers yang baru dirilis Promundo, secara global, "Anak perempuan menghabiskan 40% lebih banyak waktu untuk pekerjaan yang tidak dibayar daripada anak laki-laki pada usia yang sama."

Ini berarti anak perempuan tidak punya waktu yang cukup untuk bermain, bersantai, dan belajar.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Secara global, anak perempuan menghabiskan banyak waktu untuk pekerjaan yang tidak dibayar, seperti merawat saudara yang lebih muda, daripada anak laki-laki pada usia yang sama.

Untuk mengukur dampaknya, Promundo menciptakan skala Pria Berkeadilan Gender, yang menilai perubahan yang dilaporkan sendiri dalam perilaku peserta. Perilaku ini antara lain seks aman dan keluarga berencana, penurunan kekerasan terhadap perempuan, dan peningkatan sikap terhadap perempuan dan kesetaraan gender.

Antara tahun 2002 dan 2012, menurut sebuah studi oleh Promundo yang belum dipublikasikan, peserta Promundo di Ethiopia melaporkan penggunaan kekerasan menurun sebesar 20%. Peserta di India menyatakan bahwa mereka dua atau tiga kali lebih mungkin menggunakan kondom daripada sebelumnya.

Namun, meski Promundo mencoba untuk mencocokkan respons peserta dengan pandangan anggota keluarga dan teman-teman tentang perilaku peserta, data yang dilaporkan sendiri membuat hasilnya mungkin tidak sepenuhnya benar.

Promundo mendorong anak laki-laki untuk terlebih dahulu mengubah perilaku mereka di ruang kelas yang aman, kemudian menerapkan perubahan ini di depan umum.

Tetap saja, aktivisme gender akar rumput memiliki posisi yang berbahaya, terutama di komunitas-komunitas di mana norma-norma gender tradisional sangat mengakar.

Di Republik Demokratik Kongo, kelas-kelas Promundo membahas tabu sosial para pria yang melakukan tugas rumah tangga. Akibatnya, seorang pria mau menyapu lantai di rumahnya. Istrinya senang, meskipun suaminya hanya mau menyapu di dalam rumah. Dia tak mau menyapu halaman belakang karena masih takut pria lain akan melihat dan mengolok-oloknya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Protes soal pelecehan terhadap penumpang bus kota di Bangalore, di mana sebuah penelitian menemukan dua pertiga penumpang perempuan rutin menghadapi kekerasan.

Baik Promundo dan ECF menemukan bahwa, meskipun relatif mudah mengubah sikap anak laki-laki remaja tentang kesetaraan gender, mereka sulit terbuka menerapkan solusi dan mempertahankan perubahan perilaku ketika masyarakat menentang.

Untuk mengatasi hal ini, ECF sedang memperbaiki kurikulumnya untuk tahap selanjutnya, yang berorientasi pada tindakan programnya. Promundo dalam proses menerapkan perubahan di tingkat institusi, seperti di sekolah-sekolah dan fasilitas kesehatan dengan bermitra dengan lembaga-lembaga ini untuk memasukkan kurikulum Program H di sana.

Giovanna Lauro, wakil presiden program dan penelitian Promundo, mengatakan, "Bahkan jika kita mengubah sikap dan perilaku remaja putra secara individu, mereka masih hidup di dunia yang belum berubah."

Tetapi dengan program yang menargetkan perilaku remaja pria, anak-anak itu selangkah lebih dekat untuk mengubah dunianya sendiri.

Dengan mengidentifikasi akar penyebab perilaku tidak adil gender dan menerapkan solusi pada tingkat individu dan komunitas, anak laki-laki dapat belajar untuk mengadvokasi. Tidak hanya untuk anak perempuan dan perempuan, tetapi juga untuk diri mereka sendiri.

ECF dan Promundo menunjukkan bahwa, menyesuaikan program untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tertentu, kemudian mengadaptasi kurikulum untuk khalayak yang lebih luas, dapat berdampak besar.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini,Gender based violence prevention project in India, di laman BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait