Kisah di balik kedekatan Jepang dengan robot yang dianggap 'tidak etis'

Robot humanoid bernama Shiorin di Pameran Robot Internasional 2019, Tokyo

Sumber gambar, Tomohiro Ohsumi/Getty Images

Keterangan gambar,

Robot humanoid bernama Shiorin di Pameran Robot Internasional 2019, Tokyo

Di sebuah kuil Buddha berusia 400 tahunan, pengunjung bisa berjalan-jalan di taman batu yang adem, duduk-duduk sambil menikmati secangkir teh, dan mendengarkan ajaran Buddha dari seorang pendeta yang tidak biasa: android bernama Mindar.

Wajahnya teduh dan penampilannya netral, tidak tua dan tidak muda, bukan laki-laki dan bukan perempuan.

Di balik 'kulit' yang menutupi kepala dan torso bagian atasnya, ia terlihat belum tuntas, dengan mesin dan pipa-pipa yang mencuat dari kepalanya. Tapi Mindar cukup canggih, secara filosofis, memberi ceramah tentang sebuah teks Buddha yang muskil bernama Sutra Hati.

Jika Anda diminta menebak di mana Anda bisa menemukan pendeta robot ini, Anda barangkali bisa langsung menebak bahwa ia ada di Jepang, di Kuil Kodai-ji yang indah di Kyoto.

Sumber gambar, NurPhoto/Getty Images

Keterangan gambar,

Kannon Mindar di Kuil Kodai-ji, Kyoto.

Jepang telah sejak lama dikenal sebagai negara yang lebih antusias dalam membangun dan berteman dengan robot humanoid dibandingkan negara lain. Reputasi ini seringkali dilebih-lebihkan di luar negeri, tapi ada benarnya.

Benda sehari-hari

Beberapa pengamat masyarakat Jepang mengatakan bahwa agama adat negara tersebut, Shinto, menjelaskan kecintaannya pada robot. Shinto adalah bentuk animisme yang meyakini adanya ruh, atau kami, tidak hanya pada manusia tapi juga hewan, objek alam seperti gunung, dan bahkan benda sehari-hari seperti pensil.

"Semua benda punya jiwa," kata Bungen Oi, pendeta kepala di kuil Buddha yang mengadakan acara pemakaman untuk robot anjing.

Menurut pandangan ini, tidak ada perbedaan kategoris antara manusia, hewan, dan benda, jadi tidak begitu aneh bila robot menunjukkan perilaku yang mirip manusia - ia hanya menunjukkan ruh khasnya.

"Bagi orang Jepang, kami selalu bisa melihat dewa di dalam sebuah obyek," kata Kohei Ogawa, salah satu perancang Mindar.

Animisme Jepang berlawanan dengan tradisi filosofi Barat. Orang Yunani kuno juga percaya animisme dan meyakini adanya ruh dalam benda-benda alam seperti sungai, tapi mereka menganggap jiwa dan pikiran manusia berbeda dan derajatnya di atas obyek-obyek lain di alam.

Agama-agama Abrahamik menempatkan manusia pada derajat yang lebih tinggi lagi, sebagai makhluk paling baik, satu-satunya ciptaan Tuhan yang memiliki ruh abadi. Bangsa Israel kuno dengan tegas diperingatkan agar tidak berlebihan dalam memberikan keistimewaan pada benda-benda, jangan sampai terjerumus pada penyembahan berhala, suatu bentuk bidah yang secara tegas dilarang oleh Sepuluh Perintah.

Jangan main-main dengan alam

Menurut pandangan tradisional Barat, suatu mesin yang berlaku seperti manusia melanggar batasan alam, menggabungkan yang sakral dengan yang profan. Peringatan etis ini muncul terutama dalam mitos modern tentang teknologi, misalnya Frankenstein, yang mengambil kebanyakan pesan moralnya dari Alkitab, kata Christopher Simons, profesor perbandingan budaya di Universitas Kristen Internasional di Tokyo.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Robot Gundam raksasa berdiri menjulang di atas orang lalu-lalang di distrik Odaiba, Tokyo.

"Dr. Frankenstein menciptakan kehidupan baru dalam monsternya. Ini seperti ketika manusia memakan buah dari pohon pengetahuan di Surga. Itulah dosa awal; sebagai hasilnya, kita kena hukuman," kata Simons. "Waspadalah, wahai manusia. Jangan mengambil peran Tuhan."

Pada 1920, drama panggung berjudul RUR, yang memperkenalkan kata "robot", memuat tema relijius yang amat kuat: satu karakternya menciptakan android untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, karakter lain berpendapat bahwa robot harusnya memiliki jiwa, dan dua robot yang saling jatuh cinta dinamakan 'Adam' dan 'Hawa'. Pada akhir ceritanya, para robot membunuh semua manusia kecuali satu orang.

Pendorong industri

Beberapa peneliti mengatakan bahwa akar dari pandangan positif bangsa Jepang terhadap teknologi, dan khususnya robot, lebih bersifat sosioekonomi dan historis daripada relijius dan filosofis. Dalam tahun-tahun setelah Perang Dunia Dua, Jepang melirik teknologi baru untuk membangun kembali tidak hanya ekonomi, tapi juga citra diri nasionalnya.

"Robot industri memainkan peran besar dalam kebangkitan ekonomi Jepang pada tahun enam-puluhan," kata Martin Rathmann, sarjana kebudayaan Jepang di Universitas Siegen, Jerman. "Alih-alih melonggarkan kebijakan imigrasi yang ketat untuk membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja, mereka menerapkan otomatisasi secara luas melalui robotika."

Setelah mengotomatisasi jalur produksi, meningkatkan efisiensi dan produksi, Jepang menjadi eksportir utama robot industri ke negara lain.

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Keterangan gambar,

Pepper adalah robot semi-humanoid yang dirancang untuk 'membaca emosi'. Beberapa robot ini digunakan dalam industri jasa dan ritel.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Ketika beberapa insinyur beralih dari membuat robot industri yang fungsional menjadi robot humanoid yang berinteraksi dengan manusia, sejarah khas Jepang cenderung mewarnai persepsi masyarakatnya akan robot-robot itu.

Pada tahun 1649, para penguasa militer Jepang melarang penggunaan teknologi untuk mengembangkan senjata baru, demi mencegah munculnya saingan baru, menurut penelitian Cosima Wagner, seorang peneliti di Freie Universität di Berlin. Jadi para pengrajin berfokus pada kreasi yang relatif tidak berbahaya, seperti boneka mekanis yang tampil di teater boneka atau menyajikan teh asli dalam cangkir asli.

Ketika Jepang akhirnya membuka kontak dengan orang asing lebih dari dua abad kemudian, para pengembang mainan yang terampil itu memimpin dalam adaptasi teknologi Barat untuk penggunaan yang lebih praktis.

Pada tahun 1875, misalnya, pembuat boneka Tanaka Hisashige merintis Tanaka Seisakusho (Tanaka Engineering Works), perusahaan teknik mesin pertama di Jepang; 64 tahun kemudian, setelah merger besar-besaran, perusahaan itu dikenal dengan nama yang lebih akrab: Toshiba.

'Uncanny valley'

Meskipun proto-robot segera dilupakan dalam modernisasi Jepang pada abad ke-20, gagasan makhluk mekanik sebagai hiburan mungkin telah melekat dalam kesadaran nasional.

Ketika Masahiro Mori, seorang pemikir robotika terkemuka, mulai melakukan penelitian tentang robot pada tahun 1970-an, ia mendapati dirinya sulit dianggap serius. Mori adalah pencipta istilah uncanny valley atau lembah luar biasa, ungkapan yang menggambarkan ketidaknyamanan yang kita rasakan dengan entitas mirip-manusia. Namun gagasan tersebut tampaknya bertentangan dengan hubungan Jepang dengan robot.

"Pada masa itu, orang merasa universitas seharusnya tidak melakukan penelitian tentang robot," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan IEEE Spectrum. "Mereka berpikir bahwa bekerja dengan 'mainan' adalah hal yang tidak penting."

Jepang dipaksa melakukan demiliterisasi selama pendudukan Amerika, dan negara yang secara resmi pasifis itu tidak banyak berusaha untuk menggunakan robot sebagai senjata.

Sumber gambar, NurPhoto/Getty Images

Keterangan gambar,

Insinyur robot Hiroshi Ishiguro menciptakan robot android anak usia 10 tahun bernama Ibuki.

Faktor-faktor ini membantu menanamkan pandangan yang secara umum positif tentang robot di Jepang pasca-perang. Otomatisasi industri memberikan keuntungan ekonomi yang besar, dan robot humanoid adalah pemenuhan rasa ingin tahu yang tidak berbahaya. Sementara itu, Barat cenderung mengambil pandangan yang kurang optimis.

AS, disibukkan dengan Perang Dingin, mencurahkan dana ke robotika untuk keperluan militer, yang menimbulkan aura mengancam di seputar bidang tersebut. Dan para pekerja di Barat telah lama memandang otomatisasi sebagai pengganti pekerjaan manusia, sejak kaum Ludd menghancurkan mesin-mesin tekstil di Inggris pada awal abad ke-19.

Superstar manga

Pandangan teknologi yang bertolak belakang ini terungkap dalam budaya pop pada paruh kedua abad ke-20. Salah satu karakter Jepang yang paling berpengaruh di masa itu Astro Boy, yang diperkenalkan dalam komik Jepang atau manga pada tahun 1952 dan kemudian muncul di buku-buku, acara televisi, film, dan berbagai barang dagangan seperti action figure dan trading cards.

Astro Boy adalah android yang menggunakan kekuatan supernya untuk kebaikan dan menyatukan Jepang dengan pesan positif tentang teknologi — walaupun pada awalnya ia tidak dimaksudkan untuk itu.

"Menurut [kreator Astro Boy, Osamu] Tezuka, ia dipaksa membuat gambaran yang sangat optimis tentang teknologi ... oleh perusahaan penerbitan dan pembacanya untuk memberikan harapan kepada Jepang, yang pada tahun 1950-an masih menderita karena kehancuran perang serta menyadari bahwa mereka inferior dalam teknologi dibandingkan para pemenang perang di Barat," tulis Wagner.

"Pesan Tezuka tentang kritik terhadap perilaku manusia tidak dipahami, alih-alih hanya karakter ramah dari sang robot penyelamat yang diidealkan sebagai harapan bagi masyarakat Jepang di masa depan."

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Model karakter manga 'Astro Boy'.

Pesan tersebut meninggalkan kesan yang kuat pada satu generasi masyarakat Jepang, khususnya mereka yang kemudian membuat android mereka sendiri. "Robotika Jepang digerakkan oleh impian Astro Boy," menurut insinyur Yoji Umetani.

"'Jika tidak ada fiksi tentang robot, tidak ada robot," adalah kredo banyak peneliti dan pengembang robotika terkemuka di Jepang. Sejak sekolah menengah, mereka memimpikan Astro Boy dan menjadi pakar robotika karena karakter itu."

Barat juga telah menceritakan kisah-kisah positif tentang robot, tapi kisah yang paling berpengaruh adalah tentang ancaman mereka bagi kemanusiaan.

Dalam 2001: A Space Odyssey, sistem kecerdasan buatan bernama Hal menjadi liar dan membunuh awak pesawat ruang angkasa yang dikontrolnya. Dalam Do Androids Dream of Electric Sheep? dan adaptasi filmnya, Blade Runner, android mirip-manusia yang disebut replicant memberontak melawan perbudakan mereka sampai mereka diburu dan dibunuh.

Ketakutan Barat akan robot terkristalisasi paling kuat dalam seri Terminator, yang menceritakan sistem pertahanan SkyNet mendapatkan kesadaran diri, dan ketika manusia mencoba mematikannya, kecerdasan buatan itu menciptakan android yang disebut Terminator memerangi manusia.

Banyak karya fiksi ilmiah dari Barat menggaungkan kembali peringatan moral yang sama dari Frankenstein dan RUR: kesembronoan dalam menciptakan kehidupan buatan, paradoks apakah sesuatu yang dibuat manusia dapat memiliki jiwa, ketidakmungkinan manusia untuk hidup berdampingan dengan kreasinya yang paling canggih.

Sumber gambar, Warner/Intermedia Film

Keterangan gambar,

Adegan dari film Terminator 3.

Sementara itu Jepang, yang tidak terlalu khawatir dengan kekhawatiran tentang pemberontakan robot, sangat bersemangat menggunakan robot untuk menebus kekurangan tenaga kerja dan menangani tugas-tugas seperti merawat populasi lansia yang tumbuh cepat. Seperti dalam tahun-tahun pascaperang, pemerintah dan sektor usaha mendorong otomatisasi untuk membantu perekonomian, berkontribusi pada antusiasme nasional untuk robot.

Tapi meskipun Astro Boy membantu melahirkan antusiasme Jepang terhadap gagasan robot, ia mungkin juga berkontribusi terhadap ambivalensi masyarakat negara tersebut tentang robot, hingga saat ini, dalam praktiknya.

Rathmann mengatakan orang Jepang mengidap "sindrom Astro Boy": mereka cenderung membayangkan robot humanoid sebagai sesuatu yang cerdas, fleksibel, dan kuat; namun sejauh ini, robot di kehidupan nyata belum memenuhi harapan mereka.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan pada teknologi yang tersedia sekarang, para insinyur yang bekerja pada robot perawatan lansia harus berfokus pada pembuatan perangkat sederhana yang akan diintegrasikan dengan lancar ke dalam fasilitas perawatan daripada perangkat yang mencolok yang mengesankan tetapi mahal dan tidak praktis.

Pada akhirnya, bahkan Jepang mungkin lebih suka kebutuhan manusia mereka ditangani oleh manusia yang sebenarnya.

"Saat saya bepergian di Jepang, saya mendapati bahwa fasilitas perawatan Jepang sama sekali tidak dipenuhi oleh perangkat robot," kata peneliti Marketta Niemela. "Sentuhan manusia justru lebih dihargai."

Astro Boy memberi Jepang visi optimis tentang masa depan robot. Jepang mempertahankan optimisme itu, tapi robot-robot itu, sejauh ini, agaknya masih di masa depan.

--

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini,What we can learn about robots from Japan, di BBC Future.