Menguak misteri kehidupan manusia purba Neanderthal terakhir

neanderthal, manusia purba, spesies purba, homo sapiens, gibraltar Hak atas foto Getty Images
Image caption Empat gua di Gibraltar membuka kehidupan Neanderthal terakhir yang sebelumnya diselimuti misteri

Dalam banyak hal, kehidupan spesies Neanderthal adalah sebuah misteri. Namun empat gua di Gibraltar memberikan bayangan seperti apa kehidupan mereka dahulu.

Empat ribu tahun lalu di Eropa, kita bukanlah spesies manusia satu-satunya — setidaknya ada tiga spesies manusia lain yang hidup bersamaan. Banyak orang familiar dengan salah satu di antaranya, spesies manusia purba Neanderthal.

Perawakannya mirip dengan manusia modern, hanya kerangka mereka lebih kekar dan alisnya tebal. Mereka hidup di kantong-kantong Eropa selama lebih dari 300.000 tahun.

Neanderthal adalah kelompok yang ulet. Mereka ada sekitar 200.000 tahun lebih lama ketimbang kita, manusia modern (Homo sapiens). Bukti-bukti keberadaan mereka lenyap sekitar 28.000 tahun yang lalu, sehingga memberikan perkiraan kapan kemungkinan mereka punah.

Bukti fosil menunjukkan bahwa, di penghujung kehidupan spesies ini, beberapa yang terakhir bertahan di tempat-tempat seperti Gilbraltar.

Penemuan-penemuan dari wilayah luar negeri Inggris, yang terletak di ujung selatan Semenanjung Iberia ini, membantu kita memahami seperti apa Neanderthal terakhir. Kita pun kini mengetahui bahwa mereka punya banyak kemiripan dengan manusia modern, jauh lebih banyak dari yang sebelumnya kita perkirakan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Reproduksi sebuah keluarga Neanderthal dipamerkan di Field Museum of Natural History di Chicago, Illinois, AS

Gilbraltar menerima status Situs Warisan Dunia dari Unesco pada 2016. Empat gua besar di situs ini menjadi daya tarik, tiga di antaranya belum dieksplorasi. Namun satu gua, Gua Gorham, sudah menjadi situs ekskavasi selama bertahun-tahun.

"Mereka tidak hanya bertahan hidup," kata Direktur Arkeologi Museum Gibraltar Clive Finlayson kepada saya tentang penghuninya.

"Tempat ini serupa kota Neanderthal," terangnya. "Ini adalah wilayah dengan konsentrasi Neanderthal tertinggi di Eropa." Tidak diketahui apakah kelompok yang tinggal di sini berjumlah belasan orang, atau beberapa keluarga, karena bukti genetik juga menunjukkan bahwa Neanderthal hidup dalam "banyak sub-populasi kecil".

Adanya pendudukan Neanderthal di Gibraltar pertama kali ditetapkan pada 1848, setelah penemuan tengkorang Neanderthal dewasa yang pertama. Sejak itu, tulang belulang tujuh individu Neanderthal ditemukan, menyusul sejumlah besar artefak yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti peralatan, sisa-sisa binatang, dan cangkang.

Kita dapat menentukan dari masa mana benda-benda itu berdasarkan tempat ditemukannya. Di dalam Gua Gorham, terdapat bermeter-meter lapisan sedimen. Setiap lapis menunjukkan waktu geologis berbeda.

Fosil tulang belulang yang ditemukan dalam lapisan-lapisan ini menunjukkan bahwa Neanderthal di Gibraltar datang dan pergi di gua tersebut selama lebih dari 100.000 tahun.

Para Neanderthal kemungkinan tinggal di wilayah tersebut sekitar 24.000 hingga 33.000 tahun yang lalu, menurut salah satu lapisan sedimen di Gua Gorham. Bukti ini menjadikan area tersebut sebagai salah satu lokasi di mana Neanderthal terakhir hidup.

Mereka mungkin juga menyebar ke daerah-daerah pantai di sekitar Gilbraltar, namun garis air telah naik cukup tinggi selama 30.000 tahun terakhir, yang artinya, bukti-bukti fosil bisa dipastikan telah lama terendam.

"Kami beruntung karena Gibraltar memiliki tebing-tebing curam, sehingga bukti-bukti fosil masih ada di dalam gua-gua," ujar Clive.

Clive, bersama istrinya Geraldine dan putra mereka Steward, telah melakukan penggalian di gua-gua ini selama bertahun-tahun. Ketiganya adalah ilmuwan.

Meski bagian depan gua sedikit terbuka, bermandikan sinar matahari dan menghadap laut, bagian belakangnya lebih gelap dan terbagi-bagi menjadi beberapa ruangan. Gua-gua ini sejuk di musim panas dan sedikit lebih hangat di bulan-bulan yang lebih dingin - sebuah tempat yang sempurna untuk mengistirahatkan mata dan melindungi diri dari predator berbahaya.

Hak atas foto BBC Earth
Image caption Clive Finlayson, Direktur Arkeologi Museum Gibraltar, berkata bahwa populasi Neanderthal mungkin berkembang pesat di Gua Gorham

Mencium sepupu

Seperti spesies-spesies manusia purba lain, Neanderthal yang hidup di sini jauh dari yang pernah kita gambarkan - sekelompok manusia primitif kasar yang hanya bisa mendengus untuk berkomunikasi dan mengayunkan tongkat kayu dengan kasar kepada siapapun yang mendekat.

Bahkan, seperti dalam jurnal yang ditulis oleh Paola Villa dari Universitas Coloradi Boulder, mereka mirip dengan kita. Kita perlu menghilangkan "sindrom superioritas manusia modern".

Pendapat ini diperkuat dengan bukti-bukti genetik. Nyatanya, kita berbagi 99,5% DNA yang sama dengan Neanderthal, beberapa DNA itu bahkan masih kita bawa hingga saat ini.

Pasalnya, ketika Homo sapiens tiba ke Eropa dari Afrika, kita bertemu Neanderthal beberapa kali dan kawin dengan mereka. Semua individu di luar Afrika masih membawa bukti percampuran prasejarah ini.

Beberapa tahun lalu, saya menemukan bahwa saya memiliki 2,5% DNA Neanderthal. Ada ribuan individu seperti saya di luar sana. Para peneliti mengidentifikasi, bila digabung, ada total 20% DNA Neanderthal pada manusia modern saat ini.

Penemuan di Gua Gorham membantu kita mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru semacam ini, terutama soal tahun-tahun terakhir Neanderthal di muka Bumi.

Peninggalan dari gua menunjukkan bahwa mereka memburu makanan dari laut, termasuk mamalia laut. Ini tidak mengejutkan, mengingat bukti baru yang diterbitkan pada Januari 2020 menunjukkan mereka bisa berenang.

Bahkan, kata Clive Finlayson, ada bukti bahwa mereka memburu lumba-lumba. Bagaimana caranya, masih belum jelas. Namun kita juga mengetahui bahwa mereka memburu - atau memulung - hewan-hewan besar seperti mammoth berbulu, badak berbulu, rusa dan kambing gunung.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Fosil tengkorak Neanderthal yang ditemukan di Gibraltar dipamerkan di Natural History Museum di London

Peninggalan sisa-sisa lebih dari 150 spesies burung yang berbeda juga ditemukan di Gua Gorham, banyak di antaranya dengan bekas gigi dan potongan, yang menunjukkan bahwa Neanderthal memakan mereka.

Bahkan ada pula bukti yang menunjukkan bahwa mereka menangkapi burung pemangsa, seperti elang emas dan burung nasar. Kita tidak tahu apakah mereka memasang umpan daging lalu menunggu kesempatan untuk memerangkap dan membunuh burung-burung ini, atau apakah mereka secara aktif berburu burung, yang merupakan pekerjaan yang lebih rumit.

Yang kita tahu, mereka tidak langsung memakan semua burung yang mereka buru, terlebih burung pemangsa seperti nasar - yang dagingnya penuh asam.

"Kebanyakan bekas luka terdapat pada tulang sayap yang dagingnya sedikit. Sepertinya mereka menangkap burung ini untuk dipakai bulunya," kata Clive Finlayson. Mereka tampaknya lebih menyukai burung dengan bulu berwarna hitam. Ini indikasi bahwa mereka memakai bulu untuk keperluan dekoratif, seperti perhiasan.

Untuk menunjukkan apa yang dimaksudkannya, Clive dan timnya merekonstruksi beberapa kebiasaan Neanderthal yang menarik.

Seekor burung nasar, yang dibekukan dengan hati-hati, dikeluarkan dan dibedah di depan saya, untuk menunjukkan bagaimana Neanderthal melakukannya ribuan tahun lalu.

Dengan sangat hati-hati, mereka mengeluarkan jaringan tubuh burung itu. Apa yang tersisa tampak seperti jubah bulu berwarna hitam yang menakjubkan dan rumit. Panjangnya, tentu saja, sepanjang sayap burung nasar. Mereka mungkin mengalungkan jubah ini di bahu mereka, ujar Clive.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Fosil tengkorak Neanderthal yang ditemukan di Gibraltar dipamerkan di Natural History Museum di London

Ini menunjukkan satu hal: bahwa Neanderthal memiliki pengertian dan apresiasi terhadap simbol-simbol kebudayaan. Fakta bahwa Neanderthal bisa, dan mau, melakukan langkah-langkah ini — termasuk kreativitas dan pemahaman abstrak yang dibutuhkan untuk mengubah binatang bersayap menjadi jubah dekoratif — menunjukkan bahwa kemampuan kognitif mereka setara dengan kita.

Dan terlepas dari seberapa pintar mereka, pembuatan artefak budaya semacam ini adalah salah satu ciri utama kemanusiaan.

Seniman purba

Neanderthal bahkan juga membuat karya seni. Dalam sebuah penemuan yang mengejutkan pada 2014, keluarga Finlayson menemukan coretan di dinding Gua Gorham, yang kemudian diberi nama "tanda pagar Neanderthal". Ini adalah bukti pertama karya seni Neanderthal, kata Geraldine.

Meski terlihat kasar, Geraldine meyakinkan saya bahwa proses pembuatannya membutuhkan banyak persiapan. "Ini bukan sesuatu yang terjadi karena tak sengaja atau corat-coret yang asal-asalan… ada proses pemikiran di baliknya," ujar dia.

Ketika para arkeolog mencoba mereka ulang gambar ini, mereka menemukan bahwa lekukan gambar yang paling dalam membutuhkan setidaknya 60 kali goresan alat tajam.

"Jelas ini sesuatu yang sengaja dibuat," imbuh Geraldine.

Penemuan lain berupa cangkang-cangkang dekoratif dan penggunaan pigmen warna oker merah di situs-situs Neanderthal juga menunjukkan mereka menggunakan objek-objek tertentu sebagai karya seni.

Lagi-lagi, jika memang begitu adanya, ini menunjukkan bahwa Neanderthal memiliki kemampuan simbolis yang sebelumnya dianggap hanya dimiliki oleh manusia modern.

Pada 2018 di Spanyol, lebih banyak lukisan gua berwujud tubuh binatang dan bentuk-bentuk geometris diperkirakan dibuat oleh Neanderthal. Gambar-gambar ini diperkirakan dibuat lebih awal, sekitar 64.000 tahun lalu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lukisan gua yang ditemukan di Spanyol dibuat 20.000 tahun sebelum manusia modern tiba di Eropa, kemungkinan oleh Neanderthal sekitar 65.000 tahun lalu

Jika mereka mampu membuat simbol-simbol seperti seni dan perhiasan, maka tidak mengejutkan bila penelitian terbaru menyatakan mereka juga memiliki kemampuan berbahasa yang maju.

Dalam penelitian pada 2013 yang fokus pada sebuah tulang yang dinyatakan penting untuk berbicara - yakni tulang hyoid - tim peneliti menemukan bahwa tulang milik Neanderthal bekerja seperti tulang kita.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Stephen Wroe dari Universitas New England, Armidale, NSW Australia, berkata kepada saya bahwa komputer model mengindikasikan Neanderthal bisa berbicara, sama seperti kita.

Pada waktu penemuan itu, dia berkata: "Banyak yang beranggapan bahwa kemampuan berbicara dan berbahasa adalah karakteristik paling mendasar yang membuat kita manusia. Jika Neanderthal juga memiliki bahasa, maka mereka juga manusia, sama seperti kita."

Jika mereka bisa berbicara, maka mereka dapat berbagi informasi dengan efisien satu sama lain, seperti bagaimana cara membuat alat-alat. Mereka bahkan mungkin mengajari kita, manusia modern, beberapa hal.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Finlayson berkata tebing-tebing curam di Gibraltar membantu melindungi sisa-sisa peninggalan Neanderthal

Kini ada bukti baru yang menunjukkan bahwa inilah yang pasti terjadi ketika Neanderthal bertemu dengan manusia modern. Sejenis alat dari tulang, yang ditemukan di situs tempat tinggal Neanderthal, belakangan juga ditemukan di tempat yang hanya ditinggali oleh manusia modern.

Tim yang dikepalai oleh Marie Soressi dari Universitas Leiden di Belanda, menganalisa situs-situs Neanderthal daru 40-60.000 tahun lalu. Perkakas yang mereka temukan sebenarnya adalah potongan dari tulang iga rusa yang kemungkinan besar dipakai untuk melembutkan kulit binatang, sepertinya untuk pakaian.

"Jesis alat dari tulang ini sangat umum… ditemukan di situs-situs yang ditinggali manusia modern setelah Neanderthal punah," ujar Soressi kepada saya dalam wawancara untuk BBC Earth.

Ini membuktikan satu hal, lanjutnya: manusia modern yang pernah bertemu dengan Neanderthal meniru penggunaan alat dari tulang mereka.

"Bagi saya, ini adalah bukti pertama sesuatu diteruskan dari Neanderthal kepada manusia modern.

Bila kita tinggal lebih dekat dengan garis khatulistiwa, kita tidak butuh pakaian penghangat. Neanderthal, di sisi lain, hidup di iklim Eropa yang lebih dingin selama bertahun-tahun sebelum manusia modern datang. Belajar cara Neanderthal bertahan dari udara dingin adalah hal yang menguntungkan bagi kita.

Banyak peneliti, termasuk Soressi, kini berpendapat bahwa pertemuan manusa prasejarah lain adalah hal yang penting dalam membentuk kita menjadi spesies yang sukses seperti sekarang ini.

Image caption Finlayson dan rekan-rekannya di Gua Gorham - inikah tempat tinggal Neanderthal yang terakhir?

Bahwa Neanderthal menggunakan berbagai alat berbeda kembali menunjukkan betapa miripnya mereka dengan kita. Seperti manusia modern, mereka berhasil beradaptasi dan mengeksploitasi lingkungan.

"Neanderthal telah berevolusi lebih maju dari yang sebelumnya kita pikirkan," kata Soressi. "Kita kini berada pada titik balik, di mana kita harus mempertimbangkan bahwa Neanderthal dan manusia modern kontemporer setara dalam banyak bidang."

Kenyataan ini semakin jelas ketika ada bukti tambahan yang memperlihatkan Neanderthal juga mengubur teman-temannya yang meninggal dunia juga. Ini adalah ritual budaya lain yang penting, dan lagi-lagi menunjukkan "perilaku simbolis yang kompleks".

Neanderthal terakhir

Meski begitu, ada perbedaan jelas antara Neanderthal dengan manusia modern. Ini yang membedakan mengapa saat ini kita masih bertahan dan mereka tidak.

Beberapa milenium terakhir dari keberadaan spesies mereka, Neanderthal menghadapi tantangan baru — tantangan yang tidak siap mereka hadapi, tak seperti manusia modern.

John Stewart dari Universitas Bournemouth Inggris menunjukkan hasil penelitiannya tentang strategi berburu manusia dan Neanderthal.

Neanderthal, sebutnya, tidak pernah memburu hewan-hewan kecil, seperti kelinci, sebanyak manusia modern. Meskipun ada beberapa peninggalan di Gua Gorham yang menunjukkan Neanderthal berburu kelinci, Steward berkata jumlahnya tak sebanyak yang diburu manusia.

Taktik berburu jarak dekat, yang berhasil untuk hewan-hewan besar, susah diterapkan untuk menangkap hewan-hewan yang lebih kecil dalam jumlah banyak ketika makanan lain berkurang.

"Saya rasa manusia modern memiliki lebih banyak teknologi untuk menangkap mangsa lebih kecil yang gerakannya lebih gesit, seperti jaring atau perangkap. Saat situasi sulit, manusia modern memiliki cadangan makanan lebih banyak," ujarnya.

Bukti iklim menunjukkan bahwa Neanderthal hidup di lingkungan yang lebih kejam. Periode musim dingin ekstrem di beberapa bagian Eropa memaksa mereka pindah ke wilayah selatan, sampai mereka tiba di area seperti Gibraltar.

"Setiap beberapa ribu tahun sekali di Eropa dan Asia, iklim berubah drastis dari agak hangat menjadi dingin menggigit," kata Chris Stringer, pemimpin penelitian asal-usul manusia di Natural History Museum di London.

"Karena ini terjadi berulang-ulang, mereka tidak mampu mengembangkan keragaman spesies."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rekonstruksi pemakaman Neanderthal di Chapelle-aux-Saints, Prancis

Artinya, ketika Neanderthal terakhir sampai di tempat tinggal penghabisan mereka di muka Bumi, banyak di antara mereka melakukan kawin sedarah — sebuah berita buruk bagi populasi yang sudah sangat menyusut.

Di saat yang sama, sebuah penelitian pada 2019 menunjukkan bahwa tingkat kesuburan mereka menurun, mungkin karena kurangnya makanan, karena infertilitas bisa disebabkan oleh berkurangnya lemak tubuh.

Jurnal penelitian, yang ditulis oleh Anna Degioanni dari Aix-Marseille Universitas di Prancis, mengatakan bahwa bahkan "sedikit saja perubahan pada tingkat kesuburan perempuan yang lebih muda bisa mengakibatkan dampak dramatis pada tingkat pertumbuhan [populasi] Neanderthal, demikian juga pada kelangsungan hidup mereka secara jangka panjang."

Di tahun-tahun terakhir keberadaan Neanderthal, mereka yang bertahan bisa dihitung dengan jari. "Kisah kepunahan sebuah spesies harus dilihat dalam jangka waktu yang lama," ujar Clive Finlayson.

Populasi Neanderthal kemungkinan menyusut kecil sekali, sampai pada akhirnya mereka mencapai "titik terendah".

Sayangnya, ini berarti meski Neanderthal terakhir hidup dengan cara yang sama dengan yang telah dilakukan nenek moyang mereka selama bertahun-tahun, perubahan iklim membuat mereka tidak cukup kuat untuk bertahan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebagian besar genom Neanderthal masih hidup di manusia modern

Keadaan ini berpengaruh langsung pada kemampuan mereka untuk berinovasi dan menyebarkan kebudayaan. Jika kehidupan hanya perjuangan untuk bertahan, hal-hal lain seperti kebudayaan tidak akan dihiraukan.

Di tahun-tahun terakhir Neanderthal di Bumi, tidak butuh banyak usaha dari manusia lain, hewan, atau wabah penyakit untuk memusnahkan mereka.

Namun meski spesies mereka dikatakan telah punah, mereka tidak sepenuhnya hilang. Sebagian besar genom mereka masih hidup di dalam diri kita hingga hari ini.

Neanderthal terakhir mungkin telah mati — namun jejak mereka dalam umat manusia dipastikan tetap ada sampai ribuan tahun yang akan datang.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul How did the last Neanderthals live? pada laman BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait