Memugar kapal tanker raksasa demi lingkungan - dipreteli, disulap jadi pembangkit listrik terapung, atau ditenggelamkan?

tanker, kapal tanker, kapal minyak, fossil fuel, bahan bakar minyak, energi terbarukan, energi ombak, energi gelombang Hak atas foto Getty Images
Image caption Dapatkah mengubah simbol kerakusan kita akan bahan bakar minyak menjadi ramah lingkungan?

Kapal-kapal tanker raksasa yang mengangkut minyak mentah ke seluruh dunia adalah lambang era bahan bakar fosil dan polusi yang diwariskannya. Dapatkah kapal tangki dipugar menjadi lebih berguna untuk lingkungan?

Saat Anda membaca artikel ini, sekitar 10.420 kapal tanker raksasa sedang berlayar di lautan di seluruh dunia. Di lambung kapal mereka, ada total sebanyak 3,8 juta barel minyak mentah, cukup untuk menerbangkan 418.000 pesawat lintas negara dan mengisi bahan bakar mobil untuk melaju sepanjang 4,8 juta kilometer.

Tidak hanya itu, kapal-kapal ini juga mengangkut kargo yang berisi bahan baku untuk membuat kantong plastik, sisir, sedotan, pakaian sintetis, mainan, botol minuman, dan ratusan benda-benda berbahan dasar plastik yang kita pakai sehari-hari.

Ini adalah simbol kehausan umat manusia pada bahan bakar minyak. Ukurannya sangat besar. Tanpa mereka, kehidupan modern kita bisa terhenti. Namun ketika kapal-kapal ini menyusuri lautan dan samudera, supertanker akan melepaskan polusi tebal ke atmosfer, dan terkadang, ke lautan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ketika dunia menyambut sumber-sumber energi terbarukan dan produk-produk berbasis non-bahan bakar fosil, apa yang akan kita perbuat pada kapal-kapal raksasa pengangkut minyak?

Saat ini, perubahan iklim adalah ancaman nyata — ancaman yang bisa memaksa kita melepaskan diri dari bahan bakar fosil. Jika suatu saat nanti kita tak lagi tergantung pada minyak bumi, apa yang akan kita perbuat pada kapal-kapal raksasa yang saat ini mengangkutnya ke seluruh dunia?

Seperti kebanyakan kapal yang tidak lagi dipakai, kapal tanker bisa saja dikirim ke tempat pembuangan, di mana bagian-bagian tubuhnya dikanibal dan dipreteli logam-logamnya untuk dilebur dan digunakan kembali. Namun membuang kapal minyak adalah bisnis yang kotor dan berbahaya.

Beberapa orang percaya bahwa peninggalan kotor era minyak ini bisa direhabilitasi, alih-alih dibuang. Mereka ingin mengubah kapal-kapal tanker menjadi sumber energi bersih dan terbarukan.

Para insinyur mengungkap kemungkinan lambung besar dari tanker minyak disulap menjadi pembangkit listrik apung yang dapat mengubah gelombang laut menjadi listrik. Ini adalah rencana ambisius untuk menciptakan "kapal ombak" pertama di dunia.

"Permasalahan utama dengan proyek energi gelombang saat ini adalah penempatannya di lokasi yang tetap, di dekat pantai sehingga tersambung dengan jaringan listrik," kata Andrew Deaner, Direktur Pelaksana ShipEco Marine, perusahaan di balik proyek waveship.

"Tepi pantai bukanlah tempat terbaik mendapatkan gelombang. Dengan kapal, Anda bisa bergerak dengan sistem pendeteksi cuaca, ke tempat-tempat dengan gelombang yang lebih besar dan lebih banyak energi."

Mengubah supertanker menjadi pembangkit listrik bergerak yang ramah lingkungan memberi inspirasi pada industri minyak. Deaner sendiri menghabiskan masa mudanya menyelami kapal-kapal pendukung yang dibangun oleh ayahnya, untuk memasang dan memperbaiki sumur minyak dan jaringan pipa di dasar laut.

Kapal-kapal ini memiliki ruang-ruang khusus yang dilubangi hingga ke lambung kapal, biasa disebut moon pool, dan dipakai oleh penyelam dan kapal selam masuk ke lautan dengan selamat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Supertanker minyak adalah kapal-kapal terbesar yang dibangun manusia, namun membuang mereka di akhir masa hidupnya adalah masalah problematik

Di laut yang berombak, level air di lambung kapal bergerak naik dan turun, seiring kapal melaju menerjang ombak. Peristiwa ini dapat mengubah tekanan udara di dalam ruangan di lambung kapal.

"Cara bekerjanya seperti piston raksasa," kata Florent Trarieux, insinyur energi terbarukan yang mempimpin tes pada konsep waveship dengan model skala di Universitas Cranfield. "Kami akan menempatkan turbin di bagian atas, yang akan digerakkan maju-mundur oleh air. Kita bisa meletakkannya sepanjang badan kapal besar, seperti kapal tanker minyak."

Percobaan yang dilakukan oleh Trarieux menunjukkan bahwa perpindahan besar yang dihasilkan oleh kapal minyak akan memastikan kapal tetap terapung. Bergantung pada ukuran lambungnya, tim percaya sebuah kapal tanker memiliki kapasitas untuk menghasilkan listrik antara 10 hingga 30 megawatt.

Hak atas foto ShipEco Marine
Image caption Percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa konsep waveship bisa dilakukan, menurut perusahaan yang membuatnya

Teknologi yang dibutuhkan untuk proyek ini jauh dari mudah. Pada 1970-an, Pusat Sains dan Teknologi Kelautan Jepang membangun pelampung berbentuk kapal yang menggunakan turbin udara di atas 22 ruangan tanpa dasar, langsung ke lambung kapal. Namun percobaan dengan kapal-kapal yang berlabuh di Laut Jepang ini menunjukkan kemampuan untuk menyerap energi dari gelombang laut "mengecewakan".

Baru-baru ini, raksasa teknologi Siemens mengembangkan turbin "hydroair" yang lebih efisien, yang dapat mengubah aliran udara yang berosilasi di dalam ruangan yang diisi penuh dengan air, dan mengubahnya menjadi listrik.

Perusahaan lain, bernama Ocean Energy, juga membangun pelampung yang menggunakan prinsip serupa dan sedang diuji di Samudra Atlantik.

Seperti perangkat energi gelombang kebanyakan, sistem ini dipasang pada platform yang ditambatkan, sehingga bergantung pada cuaca di satu titik di lautan untuk menghasilkan gelombang.

Generator energi gelombang juga harus bisa mengirimkan listrik yang mereka hasilkan itu kembali ke tepi pantai. Oleh karena itu mereka harus berada di dekat pantai sehingga bisa dihubungkan dengan kabel.

Deaner dan Trarieux berpendapat, ini membatasi potensi energi gelombang. Menurut mereka, menempatkan turbin angin di atas lambung kapal yang bergerak dapat mengijinkan mereka mengejar badai di lautan dan mendapatkan ombak terbaik.

"Bisa dikatakan kita 'pergi memancing energi'," kata Trarieux. Di lautan terbuka, di mana angin tanpa hambatan dapat menghasilkan gelombang yang lebih besar, jumlah energi yang dihasilkan bisa berkali-kali lipat dibandingkan wilayah tepi pantai. "Ini pendekatan yang sama sekali berbeda untuk energi gelombang."

Hak atas foto ShipEco Marine
Image caption Puluhan 'moon pool' bisa dibuat di lambung kapal tanker minyak dan dipakai sebagai pembangkit energi yang bisa berpindah-pindah

Proyek ini telah menerima dukungan dari Pemerintah Inggris, yang mengucurkan dana untuk studi kelayakan dan tes model skala. Dari sini, diketahui bahwa kapal tanker bisa dimodifikasi, ditambahi moon pool, tanpa memengaruhi kekuatan dan stabilitas mereka, menurut Trarieux.

Tantangan berikutnya adalah mendapatkan kapal yang cocok. Kapal minyak bekas tidaklah murah, bahkan yang usianya sudah tua pun bisa dihargai jutaan dolar di pasaran.

"Ada ribuan kapal tanker minyak yang masih beroperasi dan ratusan di antaranya dipensiunkan setiap tahun," ujar Trarieux. "Semua baja itu bisa dipotong-potong dan dipakai lagi, atau kita bisa menggunakannya untuk membuat energi gelombang."

Jumlah kapal minyak raksasa yang dibongkar meraih rekor terbanyak pada 2018, lebih dari 100 kapal dimusnahkan. Mayoritas bangkai kapal ini berakhir di Bangladesh, India, dan Pakistan, dan dibongkar oleh pekerja yang tidak terampil, kerap kali tanpa peralatan keamanan.

Tingkat harapan hidup orang-orang dengan pekerjaan berbahaya ini diperkirakan 20 tahun lebih rendah dibandingkan populasi negara tersebut. Sementara itu, industri bongkar kapal telah lama dituduh melanggar hak asasi manusia.

Para aktivis lingkungan juga telah memperingatkan tentang zat-zat berbahaya dan polutan yang bocor dari kapal ketika dibongkar, yang kemudian mengakibatkan regulasi lingkungan yang lebih ketat soal pembongkaran kapal.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kapal tanker minyak yang akan dibongkar dikirim ke Bangladesh, di mana mereka dipreteli oleh pekerja-pekerja tak terampil dengan upah rendah

Mengubah kapal-kapal ini menjadi waveship adalah alternatif lebih baik ketimbang membongkar mereka.

Namun visi Deaner lebih besar dari sekadar menyimpan energi yang dihasilkan di kapal ke baterai yang mahal. Dia melihat kapal-kapal raksasa ini sebagai pabrik-pabrik yang terapung dan mandiri, dan menggunakan listrik yang mereka produksi secara langsung.

"Kita sedang melihat kemungkinan membuat produk di atas kapal, sehingga tidak terikat koneksi listrik dengan kabel," ujarnya. "Kita melihat produksi air minum - kami berpikir bisa memproduksi antara 18.000 hingga 36.000 ton per hari. Kita juga bisa membuat hidrogen atau nitrogen cair, yang bisa dijual kepada industri.

"Namun bila seseorang mau membangun pabrik cokelat di atas dek kapal, kita bisa membuat produk sembari kapal berkeliling dunia untuk memasarkannya."

Hak atas foto Chris Collaris Design
Image caption Ukurannya yang besar bisa membuat supertanker diubah menjadi bangunan publik yang ikonik di tepi pantai

Tidak semua orang setuju dengan gagasan ini. Stephen Salter, ahli energi gelombang di Universitas Edinburgh yang menciptakan salah satu peralatan energi gelombang yang dikenal dengan nama Salter's Duck, berkata turbin udara mungkin kesulitan bekerja saat berhadapan dengan aliran udara alami yang kecepatannya bervariasi di laut. Dia juga khawatir dengan kekuatan kapal dengan lubang-lubang di lambungnya.

"Lubang berbentuk lingkaran meningkatkan tekanan tiga kali lipat," ujarnya.

Namun mungkin masih ada alternatif lain untuk penggunaan kapal minyak tua. Seorang seniman dari New York mengusulkan menambatkan kapal sepanjang 300 meter secara vertikal di pelabuhan sebagai pengingat pentingnya manusia mengakhiri era bahan bakar fosil.

Sekelompok arsitek Belanda juga mengusulkan kapal-kapal tanker tua diubah menjadi kampung terapung yang di dalamnya terdapat pusat perbelanjaan, tempat konser, museum, kolam renang, dan taman di dek atas. Namun firma yang memiliki ide ini, Chris Collaris Design, mengaku belum ada yang cukup berani mewujudkan konsep ini.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ribuan kapal tanker mengangkut minyak mentah ke seluruh dunia, untuk diubah menjadi bahan bakar dan ribuan produk lain

Namun menambatkan kapal sedemikian rupa sehingga bisa dipakai oleh ribuan orang adalah masalah yang cukup pelik. Banyak orang berpendapat, kapal-kapal raksasa ini lebih baik dialihfungsikan sebagai sesuatu yang lebih berguna ketimbang sebagai tempat berkumpul.

Sebuah perusahaan Norwegia bernama EnviroNor tengah mengembangkan teknologi yang diharapkan bisa memakai kapal tanker sebagai pabrik pengolahan air limbah yang bergerak.

Hasil dari pengilangan lepas pantai ini kemudian bisa dikirimkan ke kota-kota di seluruh dunia yang menghadapi kekurangan air. EnviroNor berkata, satu buah kapal tanker bisa menyuling air limbah dari kota berpenduduk 250.000 jiwa.

Namun penggunaan kapal tanker minyak yang paling umum setelah dipreteli mungkin juga yang paling mengejutkan — mengubah mereka menjadi surga bagi satwa liar laut.

Kapal tanker minyak dianggap membahayakan kehidupan laut, terlebih bila ada kecelakaan atau tumpahan terjadi, namun setidaknya 40 kapal minyak sengaja ditenggelamkan untuk menciptakan karang bawah laut buatan.

"Jika mereka dibersihkan dengan benar, kapal minyak memiliki banyak permukaan luas untuk ditinggali hewan-hewan di bawah laut, dan mereka akan berumur panjang," ujar Dalia Conde, Direktur Sains di Species360, organisasi riset dan konservasi internasional.

Organisasi ini mendata kapal-kapal di seluruh dunia yang sengaja ditenggelamkan untuk menciptakan karang artifisial. "Mereka berpotensi menarik banyak ikan, moluska, dan berbagai macam rumput laut."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kapal yang tenggelam akibat kecelakaan dapat menjadi tempat hidup binatang laut

Membersihkan tanker minyak sangat mahal — setidaknya beberapa juta dolar harus dibayarkan untuk mencuci bersih zat-zat beracun yang mungkin menempel di dalam kapal.

Namun sejak 1985, sebanyak 39 kapal tanker berbagai ukuran telah ditenggelamkan di laut AS dan satu di laut Malta. Sayangnya, tidak ada yang melakukan monitor terhadap dampak yang ditimbulkan kapal-kapal ini kepada lingkungan laut di mana mereka tenggelam.

Laporan-laporan acak dari para penyelam yang pernah mengunjungi reruntuhan kapal ini, meski begitu, mengatakan mereka melihat banyak kehidupan laut di sana, termasuk lobster, kerang, barakuda, dan hiu.

Reruntuhan kapal supertanker MT Haven, yang tenggelam di pantai Genoa, Italia, setelah meledak pada 1991 kini juga menjadi situs menyelam yang populer. Meski saat kecelakaan itu lebih dari 40.000 minyak tumpah ke laut, saat ini sisa-sisa kapal menjadi rumah bagi banyak hewan laut.

"Sangat mengejutkan bahwa banyak kapal minyak secara sengaja ditenggelamkan untuk memberikan habitat bagi ikan," kata Conde.

"Namun kita harus mulai memonitor situs-situs tersebut dengan lebih dekat. Dengan krisis yang kita hadapi di laut dan iklim saat ini, akan lebih baik bila ada cara menggunakan kapal-kapal besar seperti tanker minyak untuk kebaikan."

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul How to rehabilitate old oil supertankers pada laman BBC Future.

Berita terkait