Virus corona: Perselisihan di balik proses penamaan virus baru

corona Hak atas foto Getty Images
Image caption Para pejabat kesehatan khawatir pengaitan virus corona dengan wabah Sars akan menambah kepanikan.

Virus corona baru punya nama anyar, namun sudah membuat masalah. Ternyata menamai virus adalah proses yang sangat pelik karena jika salah bisa menyebabkan krisis diplomatik.

27 April 2009. Deputi Menteri Kesehatan Israel, Yaakov Litzman, menggelar konferensi pers darurat. Virus flu baru nan misterius sedang merebak dan negara tersebut diperkirakan akan segera mengumumkan kasus pertamanya.

Saat dia menyampaikan keterangan kepada media dari sebuah rumah sakit, Litzman mencetuskan nama virus itu.

"Kami akan menyebutnya flu Meksiko. kami tidak akan menyebutnya flu babi," ujarnya dengan tegas.

Meski kini virus itu resmi disebut H1N1, flu babi menyandang nama populernya begitu mengemuka ke publik. Lagipula, virus itu sangat menyerupai flu yang biasanya menyerang babi dan pasien pertama hidup di desa yang bersebelahan dengan peternakan yang menampung 50.000 babi.

Namun, di Israel nama "flu babi" sangat menyinggung penduduk Yahudi dan Muslim yang mengharamkan babi atas alasan agama.

Penamaan "flu Meksiko" mengikuti tradisi lama penamaan virus yang diambil dari tempat pertama kali ditemukan atau muncul perdana.

Tradisi itu pula yang membuat demam di sebuah kota di Jerman dinamai virus Marburg; demam di pinggiran Brisbane dinamai virus Hendra; penyebab penyakit di sebuah hutan di Uganda dinamai virus Zika; flu di sebuah provinsi di China dinamai flu Fujian; penyebab penyakit di kawasan sungai di Republik Demokratik Kongo dinamai Ebola; serta flu Spanyol pada 1918.

Akan tetapi ucapan Deputi Menteri Kesehatan Israel tidak diterima pemerintah Meksiko. Duta Besar Meksiko untuk Israel mengajukan protes resmi, dengan alasan penamaan virus Meksiko sangat menyinggung.

Wajar, tiada seorang pun yang ingin negaranya dikaitkan dengan penyakit mematikan. Pada akhirnya Israel sepakat bahwa nama flu babi tidak perlu diubah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kasus virus corona baru bermunculan namun di balik layar ada perdebatan sengit soal penamaan virus tersebut.

Para pejabat kesehatan menghadapi kepelikan politik baru-baru ini ketika virus corona baru, yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China, semakin mengkhawatirkan khalayak.

Hanya beberapa pekan setelah pertama kali ditemukan dan mulai menyebar, ada sejumlah nama yang mengemuka, seperti "flu Wuhan", "virus corona Wuhan", "virus corona", "2019-nCoV", dan "virus pneumonia pasar seafood Wuhan".

Pada 11 Februari, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggelar konferensi pers untuk mengumumkan nama resmi penyakit yang disebabkan virus corona baru adalah Covid-19 (kependekan dari penyakit virus corona 2019).

Selanjutnya, Komite Internasional untuk Taksonomi Virus merilis makalah yang mengusulkan nama bagi virus itu: Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus Two atau disingkat Sars-CoV-2.

Nama itu mengindikasikan bahwa virus itu merupakan kerabat dekat virus Sars.

Anehnya, juru bicara WHO mengatakan kepada majalah Science bahwa mereka tidak akan menggunakan nama Sars-CoV-2 karena kata "Sars" menambah kepanikan.

Namun, terlepas dari keengganan WHO, sebagian media masih menyebutnya "virus corona" dan sebagian lainnya memakai nama penyakit maupun nama virus tersebut.

Apakah Anda bingung?

Proses resmi penamaan sebuah spesies virus sebagai berikut: begitu dikonfirmasi bahwa sebuah spesies baru virus telah ditemukan, para ilmuwan yang diserahi tanggung jawab akan memikirkan sejumlah usulan nama. Usulan-usulan itu lantas dikirim ke Komite Internasional untuk Taksonomi Virus. Lembaga itu lalu memilih salah satu.

Masalahnya, sebuah virus bisa punya dua nama, sebagaimana halnya kita menyebut diri kita manusia, meskipun nama resmi spesies kita adalah Homo sapiens.

Tidak seperti menamai spesies virus, tidak ada proses resmi untuk memunculkan nama umum sebuah virus. Idealnya keduanya akan saling mengisi guna menghindari situasi seperti yang kita kini alami dengan virus corona. Namun, hal ini tidak selalu terjadi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kota Wuhan dan virus corona baru sudah telanjur melekat dan keduanya akan terus dikaitkan di masa depan.

Salah satu alasan mengapa begitu sulit kita bersepakat adalah saat ini terdapat sekitar 7.111 bahasa di dunia yang mencakup jutaan kata. Sulit mencari opsi yang tidak membuat kesal pihak lain.

Jika salah memilih nama, sebuah kawasan bisa distigmatisasi, menghancurkan sebuah industri, atau bahkan menimbulkan krisis diplomatik.

"Ini adalah masalah kompleks yang jarang orang pikirkan," kata Jens Kuhn, seorang spesialis di bidang virus yang bertugas di National Institutes of Health (NIH).

"Hal ini mengganggu orang dengan cara berbeda. Ada begitu banyak hal dalam hidup yang kontroversial, namun ketika menyangkut penamaan, orang-orang bisa sangat bersemangat."

Semakin lama proses penamaan virus, semakin mungkin suatu hal menjadi nama umum—seperti H1N1 lazim dirujuk sebagai flu babi.

Dorongan insting manusia untuk menamai sesuatu begitu kuat—bahkan khalayak mulai menamai alat-alat berat yang digunakan untuk membangun rumah sakit darurat berkapasitas 1.000 tempat tidur demi menampung para korban virus corona di Wuhan, China, setelah tayangan langsung proses konstruksi menjadi viral.

Menurut Kuhn, cara terbaik untuk memastikan khalayak menggunakan kata yang sama saat merujuk pada virus tersebut adalah memilih nama dengan baik.

Jadi bagaimana cara menamai yang ideal?

Pertama, nama tersebut harus unik. Menyebut virus baru sebagai virus corona Wuhan bakal menjadi masalah, jelas Kuhn, anggota Komite Internasional Taksonomi Virus.

Sudah ada sedikitnya 17 virus Wuhan yang mencakup virus jangkrik hingga virus nyamuk yang sebagian besar tidak berbahaya bagi manusia. Nama yang mengaitkan virus-virus ini ke wabah yang menjangkiti manusia boleh jadi memperumit masalah dan membuatnya semakin sulit untuk diteliti.

Nama yang dipilih harus singkat dan mudah diingat.

"Menurut saya Sindrom Pernapasan Timur Tengah (Mers) sangat aneh," kata Kuhn, yang mengakui bahwa dirinya kadang kesulitan mengingat urutan nama-nama.

Jika nama yang dipilih terlalu sulit, masyarakat tidak akan memakainya. "Yang diinginkan adalah nama yang singkat dan jelas, seperti 'campak'. Campak adalah istilah yang bagus."

Terakhir, dan mungkin paling penting, nama yang dipilih sebisa mungkin tidak menyinggung orang.

"Masalah terbesar yang saya amati adalah mayoritas orang tidak paham bahwa nama-nama ini hanyalah label," kata Kuhn.

Ketika tidak paham, masyarakat justru ingin mencari makna yang sebenarnya tidak ada dan ini bisa berbahaya.

Saat wabah flu babi pada 2009, para peternak babi memprotes istilah yang membuat industri peternakan babi rugi besar karena masyarakat mengira semua babi telah terinfeksi.

Padahal, walau namanya virus babi, itu adalah jenis virus yang ditularkan ke manusia melalui hewan lain—kemungkinan burung-burung yang bermigrasi. Babi-babi itu sendiri bukanlah sumber masalah.

Akibat kesalahpahaman ini, pemerintah Mesir memerintahkan pembantaian semua kawanan babi di negara tersebut, bahkan sejumlah babi dikubur hidup-hidup.

Kejadian itu dipicu oleh penamaan yang salah; kata "flu babi" telah memicu pembunuhan massal.

Menamai virus dengan lokasi geografis juga problematis.

Pada 1918, jelang akhir Perang Dunia I, sebuah virus flu baru merebak. "Flu Spanyol" melanda sebagian wilayah dunia, mulai dari Kutub Utara sampai kepulauan di Pasifik Selatan. Hanya segelintir kawasan permukiman dan tempat suaka lolos dari imbas flu tersebut.

Banyak negara mengubur berita tentang penyebaran flu tersebut karena khawatir bisa mempengaruhi semangat masyarakat pada masa perang, kecuali Spanyol.

Tatkala kasus-kasus pertama muncul, sejumlah surat kabar di negara itu melaporkannya ke masyarakat. Ada bukti-bukti kuat bahwa flu tersebut tidak bermula di Spanyol. Namun, karena sebagai negara pertama yang mengakui mempunyai pasien flu mematikan itu, Spanyol menyandang nama virus.

Dalam beberapa kasus, penamaan virus menjadi bencana. Pada 1980-an, virus yang pada masa kini dikenal dengan HIV, awalnya disebut penyakit penurunan kekebalan tubuh terkait gay (Grid).

Tak hanya nama ini menyinggung, tapi juga menghambat upaya untuk mengendalikannya. Ditengarai bahwa mengaitkan virus tersebut dengan pria gay berkulit putih mempersulit Kongres AS untuk meloloskan undang-undang pencegahan penyakit—lantaran didegradasi menjadi "topik khusus liberal".

Hak atas foto Getty Images
Image caption WHO menerbitkan panduan yang menghindari nama manusia, hewan, atau tempat.

Meski virus corona baru kini telah dinamai, nasi sudah menjadi bubur.

Setelah secara eksplisit dikaitkan dengan Wuhan dalam ribuan tajuk berita di seantero dunia selama beberapa pekan, nama 'virus Wuhan' sudah terlanjur melekat pada masyarakat dan mungkin digunakan di masa depan—hanya waktu yang bisa menjawab.

Sebagai upaya agar insiden serupa tidak terulang, sejumlah alternatif sistem penamaan telah diusulkan.

Salah satu gagasan adalah menamai virus seperti nama manusia, sebagaimana yang dilakukan saat menamai badai.

Namun, mungkin ada yang berpendapat bahwa memberi nama manusia pada bencana alam tidak sama dengan mengaitkan nama pada sebuah virus yang berpotensi mematikan.

Ambil contoh norovirus, yang membuat penderitanya muntah dan diare.

Pada 2011, seorang pria Jepang dilaporkan mengajukan keberatan kepada Komite Internasional Taksonomi Virus karena Noro adalah nama keluarga yang populer di Jepang. Ada sekitar 19.369 nama Noro di Jepang.

Organisasi tersebut berupaya turun tangan dan mengusulkan agar namanya diubah menjadi "virus Norwalk". Namun, upaya itu tidak berhasil. Masyarakat luas telanjur mengenal norovirus.

Kemungkinan lain adalah memberi nomor. Namun, ini problematis.

"Terdapat sejumlah kajian yang sangat konsisten bahwa pikiran manusia tidak terlalu bagus berurusan dengan angka," kata Kuhn.

Lagipula, tambahnya, sedikit kesalahan penomoran punya imbas lebih besar ketimbang kesalahan kata. Kata "campak" masih dikenali meski salah ketik menjadi "camprak", sedangkan kesalahan digit bisa mengubah makna.

Guna menghindari potensi kesalahan, WHO menerbitkan panduan yang menghindari nama manusia, hewan, atau tempat. Sebuah virus dinamai hanya dengan menjelaskan gejala yang disebabkannya.

Luar biasanya, sistem ini bahkan punya potensi menyinggung manusia.

Severe Acute Respiratory Syndrome dinamai sesuai panduan. Akan tetapi, menurut "The Social Construction of Sars: Studies of a health communication crisis", para pejabat Hong Kong masih memakai istilah "pneumonia tidak tipikal" guna meruju wabah pada 2002 setelah menyadari kemiripan kata Sars dengan "SAR Hong Kong" alias Wilayah Administratif Khusus Hong Kong (Hong Kong Special Administrative Region).

Jika nama "Sars-CoV-2" populer, para pejabat Hong Kong mungkin tidak senang.

Di sisi lain, ada juga orang-orang yang tidak keberatan namanya dipakai untuk menamai virus. Sebut saja "Tumor Buschke-Lowenstein" hingga "borok Cushing".

Terlepas nama apapun yang kita sematkan pada sebuah virus, menamainya tidak akan mencegahnya menyebar. Mungkin lebih baik kesampingkan perselisihan sepele dan fokus pada cara mencegahnya.

Artikel ini dapat Anda baca dalam versi bahasa Inggris dengan judul The tricky politics of naming the new coronavirus pada laman BBC Future.

Berita terkait