Pulau Inggris ini terletak di ujung dunia dan dihuni 30 orang saja

getty Hak atas foto Jeff J Mitchell

Untuk pergi berbelanja, ke dokter gigi atau pub, penduduk Foula harus menempuh 32 km laut terbuka. Fotografer Jeff J Mitchell mengunjungi Kepulauan Shetland untuk mengetahui seperti apa hidup di sana.

Bengis, tapi spektakuler

Kepulauan Shetland lebih dekat dengan Norwegia ketimbang ibukota Skotlandia, Edinburg dan ini sudah termasuk terpencil. Tapi pulau kecil Foula (populasi: 30 orang) membuat wilayah lain di kepulauan itu terasa masih terhubung dengan baik. Berada di 32 km sebelah barat, pulau itu adalah tempat paling terisolasi yang masih memiliki penduduk di antara pulau kecil lain di Inggris.

Ini tentu saja hal yang membuat fotografer Getty Jeff J Mitchell tertarik. "Sangat sulit untuk pergi ke sana saat cuaca tertentu," katanya pada BBC Travel. "Anda bisa terjebak di sana. Anda harus membawa makanan Anda sendiri karena tidak ada hostel untuk menginap."

Kemudian, ada cuaca, "lokasinya sangat terbuka, angin membangunkan saya di malam hari. Saya merasa angin itu akan meluluhlantahkan tempat saya."

Foto-foto Mitchell - yang diambil selama empat hari - menjadi petunjuk bagaimana rasanya hidup di tempat yang bengis, tapi sekaligus spektakuler.

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Akar budaya kuno

Luasnya hanya delapan kilometer persegi, tapi Foula telah dihuni sejak 5.000 tahun lalu. Pada abad ke sembilan, orang-orang Norwegia menguasai pulau - mewariskan bahasa kuno Norn, yang masih digunakan di sini hingga abad ke 19 - dan pada abad ke 15, orang-orang Skotlandia menguasainya. Hari ini, pulau itu dimiliki secara privat oleh keluarga Holbourn.

Jumlah populasinya berubah-ubah, tapi kini Foula dihuni sekitar 30 orang termasuk satu anak kecil yang belajar di sekolah sendiri.

"Banyak penghuni memiliki hubungan dengan pulau ini," kata Mitchell, apakah mereka tumbuh besar di Foula atau memiliki keluarga di sana. "Saya pikir untuk bertahan hidup di tempat seperti ini, Anda harus memiliki ikatan dengan pulau ini."

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Di ujung dunia

Pada 1937, sebuah film dirilis berjudul The Edge of the World. Ceritanya tentang St Kilda, pulau Skotlandia yang bahkan lebih terpencil dari Foula, di mana warga terakhirnya diminta dievakuasi ke daratan pada 1930. Tapi sutradaranya kecewa karena dia tidak diizinkan untuk syuting di pulau itu.

Akhirnya, dia mengambil gambar di Foula karena alam yang begitu liar, lokasi yang terisolasi, dan memiliki penduduk lokal.

"Kolega saya melihat film itu dan dia mengatakan apa yang mengejutkan baginya adalah potongan gambar ekstra," kata Mitchell.

"Mereka hanyalah orang Foula menggunakan pakaian mereka. Mereka tidak perlu dilengkapi dengan kostum tambahan untuk film. Mereka tampak cocok untuk filmnya."

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Kesendirian yang memanggil

Foula kini lebih terhubung dibandingkan 80 tahun lalu. Misalnya, sekarang ada penerbangan dari Foula ke pulau utama Shetland bernama Mainland empat hari seminggu. Ini berkat landasan pacu yang dibuat warga pada 1970-an. Tapi, tanpa sinyal ponsel dan penduduk yang sedikit, Foula bisa terasa lebih jauh dari sekedar hitungan jarak saja.

"Tidak ada kemacetan, tidak ada kebisingan, tidak ada polusi suara. Ponsel Anda tidak bekerja," kata Mitchell. "Saya menyukainya." Bahkan kotak telepon yang ada di sini tidak berfungsi - walau ada satu telepon umum di bandara dan warga memiliki jaringan telepon rumah sendiri-sendiri.

Tapi rasanya mungkin berbeda jika Anda adalah orang lokal, ketika pergi ke dokter gigi dan belanja grosir saja Anda harus terbang dengan pesawat atau berlayar melintas laut.

Ini bukan berarti warga pulau ini tak terhubung, menurut Stuart Taylor yang sudah tinggal lebih dari 30 tahun di Foula sejak dia pindah ke sini bersama keluarganya saat berusia 10 tahun.

"Hal tentang 'terputus dengan dunia' dan segala hal, Anda tidak merasakannya sama sekali. Saya pikir itu bahkan tidak nyata," katanya. "Kami masih punya telepon dan internet, dan listrik dan TV; Apa yang membuat Anda bilang ini terputus?"

Memang, aku Taylor, rasanya tidak sama jika Anda adalah pengunjung. Terutama, dia mengingat satu turis yang datang dari Edinburg mengatakan dia ingin mencari tempat damai dan tenang. Dia hanya bertahan satu hari sebelum akhirnya naik perahu pulang. "Dia tidak benar-benar bisa menghadapi kesunyian," kata Taylor tertawa.

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Menyanyi bersama

Salah satu alasan mengapa Taylor tidak merasa terisolasi adalah komunitas di pulau ini. "Hanya satu telepon yang memanggil orang-orang untuk datang, makan malam, dan bermain musik," katanya.

Satu malam, ketika Mitchell menginap, Taylor mengorganisir sebuah acara musik di rumah, bernyanyi lagu tradisional Skotlandia. "Semua lagu sangat musikal," kata Mitchell. "Mereka bermain alat musik petik: mandolin dan gitar."

Persahabatan pulau semacam ini tak tampak oleh turis - kecuali, seperti Michell, mereka bermalam lebih dari satu atau dua hari.

Sebagai orang asing, Mitchell mengatakan salah satu tantangan adalah membuat orang lokal nyaman dengannya sehingga dia bisa mengintip kehidupan mereka. "Semua orang tampak sedikit - saya tidak bisa mengatakan mereka tidak terbuka, tetapi mereka seperti menyimpan hal tentang mereka untuk mereka sendiri."

"Tetapi jika Anda ke sana selama empat hari, orang-orang akan melihat Anda dan pada akhirnya mulai berbicara pada Anda."

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Kehidupan ganda

Acara bernyanyi bersama hanya satu-satunya kehidupan malam di pulau. "Tidak ada pub dan tidak ada toko. Tapi ada kantor pos," kata Mitchell.

Menjaga infrastruktur pulau membutuhkan peran semua orang; kebanyakan warga di sini punya berbagai macam pekerjaan. Satu bekerja di sekolah, juga sebagai pemadam kebakaran di bandara; lainnya mengelola kantor pos dan membuat tur untuk para turis. Dan semua orang di sini memiliki setidaknya beberapa ternak, kebanyakan adalah domba.

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Pasar ke pasar

Selain wisata - banyaknya populasi burung laut Foula mendatangkan ratusan pengamat burung tiap musim panas - industri utama di sini adalah perternakan skala kecil, utamanya dengan domba.

Tapi tak seperti peternakan skala kecil lain, mengangkut domba-domba ini ke pasar membutuhkan perjalanan melintas Atlantik Utara.

Pesawat twin-prop yang terbang ke sini dari Mainland tidak cocok untuk memindahkan ternak hidup. Jadi, ternak ini harus dipindahkan dengan perahu, seperti domba ini yang akan dijual untuk wool dan dagingnya.

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Lahir menjadi liar

Karena pulau ini sangat kecil dan orang mengenal satu sama lain, banyak binatang berkeliaran bebas. Mitchell sedang memotret di sisi jalan ketika dia melihat kuda poni Shetland ini. "Saya bisa melihat kuda poni ini di kejauhan, berlarian di jalan - dan mereka mulai bergerombol," katanya. "Begitulah foto ini diambil. Semua tiba-tiba saja terjadi."

Seperti domba, kuda poni jarang menghabiskan hidupnya di Foula; sebagai binatang yang populer, kuda poni kerap dijual ke tempat lain.

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Kesempatan bertemu

Crofter Eric Ibister, 78, tumbuh besar di Foula. Dia meninggalkan pulau ini hanya dua kali - dan satu dari dua kali itu adalah saat dia dilahirkan. Awanya Mitchell akan dikenalkan kepada Eric oleh warga pulau lain. Tapi Mitchell melewati rumahnya dan melihatnya sedang memberi makan sapi, Daisy dan kambingnya Dixy. Dengan bersemangat, Mitchell mengatakan halo dan bertanya apakah dirinya boleh memotret.

Mengejutkan, Ibister langsung mengiyakan dan mengajaknya ke dalam rumah - walau orang-orang sebelumnya mengatakan pada Mitchell untuk tidak muncul tiba-tiba di depannya. Dalam retrospeksi, Mitchell mengatakan sambil tertawa, "kami pikir dia salah mengenali saya. Penglihatannya agak buruk."

Mitchell tinggal di tempat satu orang yang sangat dikenal Ibister. Dua orang ini memiliki tinggi yang sama, memakai topi yang mirip dan saat itu Michell meminjam mobilnya.

"Tetapi begitu saya masuk, kami mulai berbicara," kata Mitchell, menambahkan bahwa peternak itu kemudian menyadari bahwa Mitchell bukanlah orang yang dia kira. "Saya ada di sana 1,5 jam."

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Ke masa lalu

"Memasuki rumahnya seperti memasuki waktu yang lampau. Ini seperti rumah peternak jaman dulu," kata Mitchell tentang rumah Ibister. Di antara buku-buku tua dan rekaman piring hitam, peternak ini juga memiliki kompor berlapis besi, digunakan untuk memasak dan menghangatkan rumah saat musim dingin ketika suhu bisa turun di bawah nol derajat.

Hak atas foto Jeff J Mitchell

Paradoks kedamaian

Banyak pengunjung Foula yang khawatir bahwa mereka akan terjebak di sini karena cuaca. Dan karena seringnya badai, hal itu sering terjadi.

Tapi, mungkin mengejutkan, inilah alasan mengapa Taylor suka tinggal di sini. "Bagian terbaiknya adalah jika Anda terputus (dengan dunia luar) dan tidak ada transportasi, dan Anda kenal dengan setiap orang di pulau," katanya. "Sangat jarang Anda membutuhkan sesuatu yang mendesak, atau masalah. Sangat santai."

Inilah paradoks di tempat seperi Faula. Mungkin jauh dari institusi yang dibutuhkan komunitas seperti rumah sakit atau kantor polisi. Tetapi jarak yang jauh itu menciptakan komunitas yang bisa berdiri sendiri - satu tempat di mana warga memiliki ketenangan pikiran yang hanya bisa dimiliki jika Anda yakin bawa Anda bisa bertahan hidup sendiri.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca diThe British island at the edge of the worlddiBBC Travel

Berita terkait