Cerita ketika sebuah gunung di Prancis mengubah dunia seni

Paul Cézanne Hak atas foto Josse Leemage/Getty Images
Image caption Semakin banyak Cézanne melukis gunung, gunung itu semakin datar, semakin terpisah-pisah dan kurang realistis.

Semua berkat Paul Cézanne, seorang jenius revolusioner yang berasal dari Aix-en-Provence.

Di pinggir kota klasik Aix-en-Provence, Mont Ste-Victoire menjulang setinggi lebih dari 1.000 meter di atas hamparan kebun anggur yang luas, desa-desa beratap merah, sungai yang berkelok-kelok dan pepohonan pinus.

Ketika berada di kota tersebut, saya tidak pernah merasa bosan memandangi puncak-puncak gunung yang bergerigi selagi saya menyeruput secangkir espreso di kafe-kafe desa atau menjelajahi jalan setapak yang beraroma herbal dan mengagumi perubahan warna dari sudut pandang yang menakjubkan.

Sekali waktu, saya hanya melihatnya berkilau, terbingkai di jendela kamar hotel saya di Le Pigonnet, sebuah rumah pedesaan dari abad ke-18.

Hak atas foto Léa Charbonnier
Image caption Mont Ste-Victoire berada di ketinggian lebih dari 1,000 meter di atas kota Provencal di Aix-en-Provense .

Beberapa orang mungkin mengira bahwa puncak gunung tersebut menjadi penting karena di sanalah terjadi peperangan di masa lalu.

Memang, orang-orang Romawi mendapatkan basis penting pertama di luar kerajaan mereka persis di tempat ini, mengalahkan kaum barbar Cimbrian dan Teutonik pada 102 SM.

Menurut dongeng, nama Mont Ste-Victoire mengabadikan kemenangan tersebut (kata 'saint' ditambahkan oleh orang-orang Kristen di Abad Pertengahan).

Namun, makna puncak gunung yang dipenuhi batuan kapur ini jauh lebih besar ketimbang kemenangan bangsa Romawi. Mont Ste-Victoire telah memberikan kontribusi pada dunia di tangan Paul Cézanne, seorang seniman jenius revolusioner yang merupakan penduduk asli Aix.

Cézanne, yang lahir pada 1839, selalu mencintai gunung.

"Saat masih kanak-kanak, dia dan teman-temannya, Émile Zola dan Jean-Baptistin Baille, selalu memandangi gunung itu dari kejauhan, selama petualangan mereka, berlari, mendaki dan berburu di tempat-tempat yang belum terjamah sekitar pedesaan," kata cicit dan pensiunan pakar seni modern, Philippe Cézanne.

Hak atas foto Ken Welsh/Getty Images
Image caption Cézanne menampilkan Mont Ste-Victoire dalam banyak lukisannya.

Seniman ini kemudian menghabiskan waktu di Paris, di mana dia bergaul dengan sesama pelukis, termasuk Camille Pissarro, Edouard Manet, Claude Monet dan Pierre-Auguste Renoir.

Pissaro mendorongnya untuk lebih menyemarakkan paletnya dan melukis dengan gaya kaum Impresionis. Lukisannya yang paling mendekati gaya tersebut adalah House of the Hanged Man, Auvers-sur-Oise (1873), yang memperlihatkan warna-warna pucat dan kuas-kuas yang patah.

Meski begitu, di dalam lukisan tersebut, Anda juga dapat melihat bagaimana dia dengan berani mengubah aturan-aturan artistik yang sudah ada, termasuk penggabungan latar depan dan ruang yang dalam, dan ketidakpeduliannya terhadap perspektif yang tidak akurat (jalan yang mengarah ke kiri; tepian sungai yang miring ke kanan dengan sudut yang tampak aneh).

Karya-karya Cézanne tidak serta merta diterima oleh kritikus dan, sebagai anak desa sejati, dia menyadari bahwa dia tidak diterima di Paris. Dia begitu lekat dengan kampung halamannya, di Provence.

Dan kendati kadang-kadang dia juga tinggal di L'Estaque dekat Marseille, Swiss dan Paris, Aix tetap menjadi hati dan jiwanya, di mana dia menjadi semakin terpesona oleh Ste-Victoire tercinta.

"Awalnya, Cézanne melukis Mont Ste-Victoire dari kejauhan, dari taman Jas de Bouffan, rumah keluarga (di Aix)," kata Philippe.

Tidak lama kemudian dalam kehidupannya, Cézanne mulai memfokuskan diri lebih dalam pada gunung, mendekatinya dari beberapa sudut yang berbeda, melukisnya dengan sapuan kuas dan warna-warna yang lebih serasi.

Hak atas foto Léa Charbonnier
Image caption Cézanne melukis gunung dari sudut-sudut yang berbeda dan dengan sapuan kuas yang lebih presisi.

Tetapi mengapa dia begitu terpaku?

"Pelukis itu sangat menyukai geologi dan arsitektur dari suara alami ini," Philippe menjelaskan. "Dia telah menyaksikan gunung berubah sepanjang waktu dan musim sehingga dia sungguh-sungguh mengenalnya."

Cézanne menjadi bertekad untuk menggambarkan keutuhannya dan keabadiannya, membaginya menjadi bentuk paling sederhana dengan cara yang nyaris arsitekturil.

Dia juga melukis obyek yang lain, termasuk makhluk-makhluk hidup dan seri Bathersnya yang monumental. Tetapi tidak ada yang lebih mempengaruhinya daripada gunung kesayangannya. Jika ditotal sejak 1879, Cézanne melukis Mont Ste-Victoire 87 kali. Semakin banyak lukisannya, gunung itu menjadi semakin datar, semakin terbagi-bagi dan menjadi kurang realistik, saat dia memilah-milah bentuknya menjadi bentuk warna yang geometris.

"Lebih baik saya menghancurkan kanvas saya ketimbang mencipta atau membayangkan secara detil," kata Cézanne suatu kali kepada seorang teman, penulis dan kritikus seni Joaquin Gasquet. "Saya ingin tahu."

Tempat melukis favoritnya berada di sepanjang lereng gunung sebelah selatan, berpusat di desa Le Tholonet dan Gardanne. Di sini, gunung yang berbatu menjulang di atas pedesaan yang penuh dengan pohon-pohon pinus berwarna hijau tua, coklat dan oranye, dan lembah-lembah.

Di bukit Frères di Gardanne yang menghadap ke gunung, tiruan lukisan-lukisan Cézanne yang dibuat persis pada tempat ini telah dipampang, dan di sinilah saya paling merasakan kejeniusan seniman ini.

Dia tidak hanya melukis gunung, tetapi juga desa - dan saya berdiri di sana, terkagum-kagum, membandingkan kota berbukit berbentuk piramid di depan saya dengan serangkaian kotak yang tersusun semacam aliran Kubisme.

Hak atas foto frenchmoments
Image caption Cézanne menyewa sebuah gubuk di tambang Bibemus dan melatih melukis batu-batu besar.

Di dekat tambang Bibémus, Cézanne menyewa sebuah gubuk dan memusatkan perhatian pada batu-batu yang dipahat tangan. Secara terus-terusan dia melukis bentuk batu dan warna-warna tanah, seringkali dengan latar belakang gunung yang menjulang.

Dan lukisan terakhirnya - tidak diragukan lagi sebagai lukisan yang paling terkenal - dibuat di tempatnya mangkal di sepanjang Chemin de la Marguerite di bukit Lauves, yang tidak jauh dari studionya di Aix.

Tatkala saya berkunjung, saya sempat menatapi vas-vas bunga, guci-guci, dan ornamen cupid miliknya seolah-olah baru ditinggal Cézanne sebentar. Saya kemudian mengikuti jejak kaki Cézanne ke atas bukit, ke tempat favoritnya untuk melukis.

Saya merasa kecewa ketika menemukan pembangunan baru di area tersebut. Tetapi napas seakan sempat terhenti ketika puncak menjulang di kejauhan di antara pepohonan. Saat itulah saya menyaksikan seluruh kejayaan Cézanne.

Sambil berdiri di sana, saya mengenang saat terakhir Cézanne datang ke sini, ketika di usia ke 67 dia terperangkap dalam badai tetapi tetap melanjutkan melukis.

"Saya bersumpah melukis sampai mati," kata Cézanne kepada temannya, Émile Bernard, hanya sebulan sebelum terperangkap badai. Sekitar seminggu kemudian dia meninggal karena pneumonia.

Tempat yang paling menawan di sekitar gunung tidak diragukan lagi adalah sisi belakangnya, di kota Vauvenargues. Di sana, tersembunyi di dalam lembah, terdapat sebuah benteng kokoh yang dibangun antara abad ke-13 dan ke-17. Yang lebih menarik lagi, Pablo Picasso, membeli benteng ini pada 1958 karena sedemikian kagumnya dia terhadap Cézanne. Picasso ingin memiliki 'la vraie' (gunung sesungguhnya).

Hak atas foto Josse Leemage/Getty Images
Image caption Semakin banyak Cézanne melukis gunung, gunung itu semakin datar, semakin terpisah-pisah dan kurang realistis.

"Di tahun 1900, Picasso merupakan orang gila," kata Denis Coutagne, seorang anggota Société Paul Cézanne dan mantan direktur Musée Granet d'Aix-en-Provence.

"Dia mengalahkan pelukis-pelukis yang mencapai pembaharuan artistik, termasuk Toulouse-Lautrec, Derain, Matisse dan Rouault. Dan kemudian jatuh cinta pada Cézanne, dan untuk yang pertama kalinya, Picasso dihadapkan pada Guru yang luar biasa hebat."

"[Picasso] mengatakan pada saya bahwa Cézanne adalah Tuhannya," tambah Philippe.

Dan begitulah Picasso - dan yang lainnya, termasuk Matisse, Braque and Metzinger - mencermati lukisan-lukisan Cézanne tentang Mont Ste-Victoire dan obyek-obyeknya yang lain. Selanjutnya mereka terjun ke aliran Kubisme dan seni modern di abad ke-20.

"Para pelukis di abad ke-20 diasah dengan pelanggaran yang dibuka oleh Cézanne," kata Coutagne. "Tetapi setiap aliran [Kubisme, Fauvisme] hanya memperhitungkan satu elemen, apakah itu komposisi, ruang, warna atau perspektif. Cézanne yang terbaik. Dia menangani semuanya bersama-sama. Dia tetap berada di garis terdepan."

Inilah kenapa kata-kata Picasso yang terkenal terus bergema sepanjang masa. 'Cézanne adalah ayah kita semua'. Dan gunung warisannya menjulang di atas semuanya.

Tulisan asli dalam bahasa Inggris How provence change of the world of art dan artikel-artikel lain bisa Anda baca di BBC Travel.

Topik terkait