Rumah besar di Portugal yang menarik perhatian para petualang

Portugal Hak atas foto KELUARGA VINCENT
Image caption Casa Grande telah sejak lama menjadi perhatian para pejalan yang datang ke Portugal.

Di tempat ini, sekelompok kecil orang asing yang tidak saling mengenal berkumpul dan saling berbagi kisah.

Saat saya mendengar ketukan pada pintu kamar, saya sedang berada di ruangan dengan berbagai warna ungu di Casa Grande, di Burgau, Portugal, sebuah penginapan unik yang dikelola oleh Sally Vincent, seorang ibu rumah tangga yang lebih unik lagi, yang telah meninggalkan Inggris sejak 40 tahun lalu.

Saya sedang bersedih, saya meletakkan dagu di siku tangan sambil menatap keluar jendela berangka kayu, memperhatikan tanaman merambat yang menggantung.

"Halo," Sally berseru dengan bersemangat. "Anda siap untuk berangkat?"

Burgau berada di ujung selatan Portugal, satu desa sebelum kota paling selatan di kawasan Algarve yang minim jumlah penduduknya.

Penduduk tetap Burgau berjumlah sekitar 450 orang. Jumlah itu akan bertambah tak sampai dua kali lipatnya saat para turis datang di musim panas.

Desa itu sebagian besar terdiri dari bangunan putih yang memudar karena udara laut dan letaknya terkumpul di jalanan berbatu yang sempit dan hanya memiliki sedikit bar dan restoran.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Casa Grande terletak di Burgau, sebuah kota kecil di pinggir pantai.

Jauh sebelum Sally menyadari dirinya adalah Ratu Casa Grande, dia adalah aktris muda yang tengah naik daun di London pada dekade 1950-an.

Sally bekerja sebagai asisten sutradara di rumah produksi terkenal di London, Pindewood Studios. Di sana dia bermain peran hingga membawakan skenario atau kopi untuk artis popular seperti Elizabeth Taylor dan Charlton Heston.

Ketika menginjak usia 21 tahun, Sally menikah, seperti yang dilakukan perempuan muda pada umumnya di era tersebut.

John Vincent merupakan petualang yang menyanjung kehidupan bebas. Usai pernikahannya dengan Sally, mereka meninggalkan London dalam romansa yang menggebu-gebu.

Pasangan itu sempat tinggal sebentar di Malta, sebelum kemudian membeli mobil Land Rover usang untuk berkelana menumpang kapal kargo penuh domba menuju Libya.

Dari negara itu, John dan Sally berkendara menembus gurun ke arah Maroko, lalu naik kapal feri menuju Spanyol dan meneruskan perjalanan ke Perancis dan akhirnya kembali ke Inggris ketika John memutuskan bekerja di penyedia jasa penyelenggaraan rapat atau konvensi.

Tak lama setelahnya, John menerima tawaran pekerjaan serupa di Chicago, dan pekerjaan ini membuat pasangan tersebut menetap di kawasan Midwest Amerika Serikat selama lima tahun.

Sally mengikuti suaminya sebagai ibu rumah tangga dan tak yakin karir panggungnya dapat berlanjut. Namun, rupanya, menjadi orang Inggris di AS memberinya keunggulan.

Dua anak pertama John dan Sally lahir di AS. Saat mereka mendapatkan dua anak berikutnya, keluarga Vincent memutuskan untuk kembali ke Eropa.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sally Vincenet pindah ke Portugal dari Inggris 40 tahun yang lalu.

"Portugal pernah menjadi salah satu negara yang paling tidak berkembang," kata Sally yang kini berusia 74 tahun.

Ia menjelaskan itu kepada saya sambil menyantap biskuit dan menyeruput teh di ruang duduknya yang terlihat formal dan didekorasi dengan lapisan dinding bergaya Victoria dan sejumlah furnitur.

"Kami merasa seperti orang Amerika Serikat yang kaya raya dan berkelana mencari kastil," ujarnya.

John dan Sally berkendara sekitar setahun dengan mobil van yang dimodifikasi. Mereka tiba di Burgau dan menghabiskan seluruh tabungan untuk membangun 'kastil' alias rumah besar yang tak terpelihara.

"Tidak ada aliran air dan listrik sehingga kami harus menghabiskan setahun memperbaiki seluruhnya," kata Sally.

Usai renovasi besar, rumah yang dibangun tahun 1912 itu seperti menemukan jati diri lamanya. Tanpa keinginan kembali ke Inggris, keluarga Vincent memutuskan menetap di Casa Grande dan menyewakan rumah itu sebagai hostel yang menyediakan penginapan serta makan pagi.

Sally saat itu juga mulai menjalankan bisnis restoran di bekas toko anggur lawas.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ilustrasi. Seperti kota-kota lain di pinggir laut, Burgau memiliki pantai yang indah.

Saya mengenal Sally dari putra tertuanya. Kami duduk bersebelahan di penerbangan singkat dari Las Vegas menuju Los Angeles. Dan seperti yang kerap saya lakukan, saya terlibat perbincangan dengan teman sebangku.

Setelah tanya-jawab yang kaku berlalu dan mulut saya mulai mengeluarkan sejumlah pertanyaan detail, dia mengaku tumbuh dewasa di Portugal bagian selatan.

Saya begitu tertarik dengan kisah sepanjang lima menit yang dipaparkannya dan saya lantas menanyakan kemungkinan saya bertemu dengan ibunya.

Saya sudah terlanjur berencana tinggal di Inggris selama tiga bulan sepanjang musim panas. Saya saat itu merasa membutuhkan liburan di daerah pantai dan keberuntungan itu masih menghinggapi saya.

Pada malam ketiga saya di Casa Grande, selagi saya duduk merenung di kursi jendela dan merasakan kesendirian yang kerap dirasakan para pejalan tunggal, Sally mengajak saya dan dua tamu lainnya, dari Berlin dan Belanda, untuk mendengar musik tradisional fado sembari menyantap makan malam.

Sally, yang kerap menjadi pemandu wisata bagi para tamunya tanpa meminta tambahan ongkos, terus mendorong kami untuk saling berbincang meski terdapat kendala bahasa di atas meja makan.

Gelak tawa Sally terdengar parau dan rambut bergelombangnya yang berwarna perak terlihat membentuk lingkaran cahaya di ruang restoran yang temaram.

Sulit untuk tidak mempercayai seluruh pernyataan Sally, meski kisah yang dituturkannya terdengar tak masuk akal.

Keahliannya bercerita secara mudah menyelinap di antara permainan musik fado serta daging stik Portugal yang berdesis dan piring-piring berisi hidangan laut.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Fado merupakan musik tradisional Portugal yang kerap dilantunkan saat santap malam.

Sally berkisah kepada kami, satu dekade silam, setelah pindah ke Burgau, John meninggalkan dirinya dan empat anak mereka.

John harus kembali ke AS untuk bekerja dan "membangun hidup baru dengan orang lain," ujarnya dengan nada tegas.

John meninggalkan mereka tanpa pesan dan pemberitahuan. Tak ada salam perpisahan untuk anak-anak mereka.

"Saat ini, anak-anak telah mempunyai banyak teman dan lingkungan sosial yang baik di sini," kata Sally yang sejak kepergian John menjadi pemimpin rumah tangga.

"Jadi mereka tidak mengetahui penderitaan dan perjuangan menjalankan restoran, guest house, dan membesarkan empat anak."

Casa Grande mampu memuat paling banyak 16 tamu dalam satu waktu. Biasanya, rumah itu penuh antara Mei dan September.

Setiap pagi, Sally memenuhi meja makan berusia sekitar 150 tahun dengan beragam perlengkapan minum teh, buah-buahan segar, daging, dan keju berbagai jenis. Sally turut dibantu asistennya bernama Felicidad yang usianya kepala empat dan telah bekerja denganya selama lebih dari 25 tahun.

Tamu yang datang ke Casa Grande datang dari AS, Belanda, Jerman, Spanyol, Afrika Selatan, dan negara-negara lainnya.

Meski menyantap sajian makan pagi bukan kewajiban, Anda mungkin akan diperingatkan secara jenaka dan gelengan kepala seolah marah adalah jawaban jika Anda benar-benar memutuskan tidak sarapan.

Dan tentu saja saya semakin mengerti Sally, perempuan yang juga berstatus nenek untuk tujuh cucu, dari yang berusia empat bulan hingga 29 tahun.

Menurut Sally, saya mengingatkan dia akan salah satu cucunya, dan Sally memperlakukan saya seperti cucunya ketika pada pagi hari, usai menghabiskan malam mendengar fado, saya tidak hadir saat sarapan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sally mendorong tamu-tamunya untuk bersosialisasi dengan komunitas di Burgau.

Setelah makan malam itu, kesendirian mengantarkan saya ke tiga bar berbeda di Burgau. Tidak mengejutkan jika Sally mendorong para tamunya untuk bersosialisasi, bahkan menghadiri pesta.

Saya memesan minuman favorit saya, yakni vinho verde, terminologi dalam bahasa latin untuk anggur putih. Pada saat yang sama, dua pemuda Inggris duduk di sisi kiri saya sambil bermain kartu yang saya tidak kuasai.

Pemuda yang tinggi, salah satu dari mereka, mengajak saya untuk bergabung bermain kartu lalu membiarkan saya mengikuti tur mereka tiga bar berbeda malam itu.

Selama empat hari berikutnya, waktu yang kami lalui seperti tumpang-tindih, dan malam-malam kami menjadi kisah percintaan saat liburan.

Dan sekitar setahun berikutnya, kami saling jatuh cinta dan menjadi pasangan bertualang dan menjalani hidup bersama di London.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Portugal merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Eropa karena bangunan-bangunan kuno dan bentang alamnya.

Saat makan pagi usai menikmati malam di bar itu, ketika saya masih merasa mabuk namun kesendirian itu hilang, Sally bercerita kepada para tamunya tentang kisah hantu, seorang tamunya yang gemar pergi ke sana-sini, dan harta karun terpendam.

Dan waktu untuk menghormati tradisi muncul ketika Sally mulai memaparkan para orang penting yang pernah tinggal di Casa Grande, satu di antaranya adalah ratu kecantikan yang sebelum wafat menghabiskan musim panas di sana selama 20 tahun, apalagi saat mendapat libur tahunan selama dua pekan.

Pengusaha hotel Vikram Oberoi menghabiskan satu bulan di Casa Grande dengan keluarganya selama beberapa tahun terakhir. Vikram tidak pernah membawa status atau pekerjaannya selama liburan itu.

Musikus asal Inggris, Billy Idol, beserta keluarganya juga menghabiskan beberapa musim panas di Casa Grande. Ibunda Billy juga terus berkunjung ke penginapan itu hingga kini. Dia bahkan mengajari Sally menggunakan media sosial seperti Facebook.

Sally belum berpikir untuk pensiun mengurus Casa Grande dalam waktu dekat, meski usianya terus beranjak senja. Namun ia mengaku membutuhkan bantuan untuk menjalankan bisnis itu, terutama membuka kembali restoran yang telah ditutupnya empat tahun lalu.

Saat ini, dia mengumpulkan satu kelompok kecil orang asing yang mungkin tak akan pernah bertemu, apalagi berbagi cerita soal bayi, orang-orang yang sudah lama ditaksir dan harus dilupakan, atau kisah-kisah lain tentang kehilangan dan cinta (atau dalam kasus saya, kisah cinta yang baru).

Dan semua kisah cinta ini diceritakan dengan lancar di atas meja makan.

Hak atas foto Keluarga Vincent
Image caption Sally telah menjamu sejumlah tokoh terkenal seperti Billy Idol dan pengusaha hotel Vikram Oberoi.

"Saya menghadiri sebuah konser di Nottingham, sekitar 10 tahun setelah John meninggalkan kami," kata Sally kepada saya.

"Itu adalah konser The Irish Tenor dan mereka membawakan lagu yang saya dan John biasa nyanyikan. Lagu itu membawa seluruh kenangan indah yang pernah kami lalui, yang selama ini saya tutup."

Didorong memori dan alunan musik, tak lama setelah konser itu, Sally menulis surat kepada John untuk berterima kasih atas petualangan yang mereka jalani dan terutama untuk empat anak yang ia lahirkan.

"Sepertinya dia menangis. Dia menelepon anak-anak. Dia berbicara kepada saya dan momen itu sungguh indah. Musiklah yang memungkinkan itu terjadi," kata Sally.

"John kini telah wafat dan saya bahagia pada akhirnya kami berdamai."

"Saya menyadari betapa indah hidup yang kami jalani dan terutama perannya membawa kami ke tempat indah ini untuk membesarkan anak-anak."

"Jika kami mengikutinya ketika dia pergi, akhir cerita ini mungkin akan berbeda," ujar Sally.

Saat Sally berbicara kepada saya melalui aplikasi Face Time, ketika kami berbicara lagi untuk artikel ini, saya berada di London bersama pasangan.

Itulah momen ajaib yang menurut saya membuat masa-masa susah menjadi berharga. "Itulah keajaiban," tutur Sally dengan mata bersinar.

Anda dapat membaca kisah berjudul asli Portugal ini dalam bahasa Inggris di BBC Travel.

Berita terkait