Mengapa orang Korea Selatan jarang menggunakan kata 'saya'?

Korea Selatan Hak atas foto Alain Evrard/robertharding/Getty Images
Image caption Beom Lee: orang Korea menggunakan kata 'uri' ketika sesuatu dibagikan oleh sekelompok atau komunitas (Kredit: Alain Evrard/robertharding/Getty Images)

'Uri' bukan hanya merupakan sebuah tata bahasa, itu adalah sebuah norma yang menangkap esensi sebuah bangsa.

"Suami kami juga seorang guru," kata rekan kerja kepada saya sambil dia menyeruput supnya. Dia duduk di samping seorang rekan, yang juga menyeruput supnya.

Saya bingung. Apakah saya salah dengar? Apakah perempuan-perempuan ini menikah dengan orang yang sama?

"Dia berbicara tentang suaminya," kata rekan kerja menjelaskan, mungkin memperhatikan kebingungan saya . "Di Korea, kami sering kali mengatakan 'milik kami' atau 'kami' daripada 'milik saya' atau 'saya'.

Kami berada di ruang makan staf di tempat kerja baru saya, Sekolah Menengah Mae-hyang Girls, untuk mengenal sati sama lain selama empat dan lima periode. Sambil mengigit kimchi, saya berusaha menggenggam sumpit logam saya yang licin- dan seperti bahasa Korea.

Hak atas foto Michael Runkel/Getty Images
Image caption Penulis bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Suwon, Korea Selatan (Kredit: Michael Runkel/Getty Images)

Di pekan pertama saya di Suwon, Korea Utara, bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris. Saya baru saja lulus dari universitas di negara bagian AS Wisconsin, dan mendapatkan kontrak kerja internasional pertama saya dan sangat bersemangat. Saya tidak mengetahuinya saat itu, tetapi Korea Selatan akan menjadi rumah saya selama empat tahun mendatang.

Sepanjang tahun-tahun itu, rasa ingin tahun tentang 'milik kami' atau'kami' - dalam bahasa Korea 'uri' terus muncul. Dari seluruh kata-kata yang dijelaskan kepada saya, itu merupakan salah satu yang paling berkesan dan mendalam, meninggalkan tanda yang abadi. Karena ternyata 'uri' bukan sekedar tata bahasa, tetapi merupakan norma budaya. Yang menangkap seluruh esensi sebuah bangsa.

"Orang Korea menggunakan 'uri' ketika sebuah kelompok atau komunitas membagikan sesuatu, atau ketika banyak anggota di dalam sebuah kelompok atau komunitas berada dalam keadaan yang sama atau mirip," kata profesor bahasa Korea di Universitas Columbia kepada saya dalam sebuah waawancara. "(Itu) berdasarkan pada budaya kolektif kami".

Nilai komunal Korea Selatan terkait dengan keringkasannya, populasi etnik yang homogen dan nasionalisme yang bergairah. Di sini, sebuah rumah - bahkan jika Anda membayarnya - bukanlah milik Anda; itu milik kami.

Demikian juga, perusahaan saya merupakan perusahaan kami, sekolah saya adalah sekolah kami dan keluarga saya merupakan keluarga kami. Hanya karena saya mungkin memiliki atau mempunyai sesuatu secara individual tidak berarti orang lain yang tidak memiliki pengalaman serupa terhadap kepemilikan atau kepunyaan. Mengatakan 'saya' hampir mirip dengan egosentris.

"Orang Korea selalu menggunakan uri nara (negara kami) dibandingkan nae nara (negara saya). 'Nae nara' terdengar aneh. Itu seperti mereka memiliki negara sendiri," kata Lee. "Nae anae (istri saya) terdengar sepertinya dia merupakan satu-satunya orang yang memiliki istri di Korea."

Di atas semua itu, budaya kolektif negara ini merupakan warisan dari sejarah Konfusianisme. Ketika Korea Selatan diluar era dinasti, hirarki berdasarkan kelas, memegang teguh terhadap etik Konfusian yang mendikte individu harus mendekati konsteks sosial - dari memesan makanan dan minuman dengan teman-teman, untuk mengendarai transportasi publik dengan orang asing- dengan kelompok tersebut. Dalam jaringan kelompok, 'kita' merupakan diri orang Korea yang kolektif, menurut profesor studi budaya Hee-an Choi dari Universitas Boston, dan itu diperlukan untuk kata 'aku'.

Hak atas foto Bloomberg/Getty Images
Image caption Nilai komunal Korea Selatan terkait dengan keringkasannya, populasi etnik yang homogen dan nasionalisme yang bergairah. (Kredit: Bloomberg/Getty Images)

"Tidak ada batasan yang jelas antara kata 'saya' dengan 'kami' seperti ditulis oleh Choi dalam bukunya A Postcolonial Self. "Seperti penggunaan kata 'kami' dan 'saya' seringkali ditukar, jadi untuk mengindentifikasi 'kami' seringkali ditukar dengan identitas 'saya'. Arti 'kami' dan 'saya' dapat dinegosiasikan tidak hanya dalam penggunaan bahasa sehari-hari Korea tetapi juga dalam kesadaran dan dibawah sadar pikiran orang Korea."

Tak lama setelah saya bergabung dengan Mae-hyang sebagai satu-satunya guru penutur asli bahasa Inggris, saya juga menjadi satu-satunya murid yang bukan penutur asli bahasa Korea. Instruktur saya, sekelompok gadis remaja dengan seragam kotak-kotak merah, akan menemui saya di kelas setelah jam sekolah berakhir, buku dan catatan, kartu dan kamus di tangan dan senyum lebar di wajah mereka. "Anda adalah murid sama seperti kami!" kata mereka. "Ya benar !" kata saya tersenyum.

Juga rekan kerja saya, bos, tetangga, pemilik rumah yang saya sewa dan bahkan supir taksi atau pegawai toko atau bartender. Mereka memiliki peran dalam mengajari saya satu atau dua hal mengenai bahasa yang dulu merupakan milik saya, tetapi secara mendadak tidak lagi ketika saya sebagai seorang anak diadopsi dari Korea Selatan ke AS. "Anda orang Korea," mereka akan mengatakan kepada saya, "Jadi sangat penting bagi Anda untuk berbicara bahasa yang diucapkan orang Korea."

Hak atas foto EschCollection/Getty Images
Image caption Hee-an Choi: "Tidak ada batasan yang jelas antara kata 'Saya' dan 'Kami' " (Kredit: EschCollection/Getty Images)

Menjadi warga Korea artinya mengetahui tentang orang Korea. Untuk memahami diri saya adalah memahami negara. Gagasan yang kabur bagi saya saat itu, tetapi pada akhirnya menjadi satu kesatuan dan serupa, setidaknya berdasarkan perilaku tradisional kebersamaan orang Korea.

Pada 1400-an merupakan zaman keemasan di Korea di zaman Dinasti Joseon, yang memerintah selama lima abad dan meninggalkan sejumlah warisan ilmiah dan budaya antara lain huruf Korea. Sebelumnya, kerajaan tidak memiliki aksara sendiri, meminjam dari karakter Cina untuk menuliskan pidato berbahasa Korea.

Namun sistem klasik Cina sangat sulit untuk menjadi demokratis, sifat logografinya tidak sesuai dengan tata bahasa Korea yang kompleks. Menyaksikan masyarakat tidak mampu mengekspresikan diri secara mamadai, Raja Sejong menugaskan penemuan Hangeul pada tahun 1443.

Salah satu dari sejumlah aksara di dunia yang sengaja dibuat, tidak berevolusi secara organik. Hangeul dimaksudkan untuk memudahkan semua orang, dari keluarga kerajaan yang paling kaya sampai petani termiskin untuk belajar membaca dan menulis.

Hak atas foto Dylan Goldby at WelkinLight Photography/Getty
Image caption Hangeul dimaksudkan agar mudah bagi semua orang (Kredit: Dylan Goldby at WelkinLight Photography/Getty Images)

Saat ini di Korea Selatan, Hangeul dirayakan dengan hari libur nasional setiap 9 Oktober. (Di Korea Utara, peringatan digelar pada 15 Januari) Presiden Korea Selatan Presiden Jae-in Moon memperingati Hari Hangeul 2017 melalui sebuah unggahan di Facebook. "Yang paling hebat mengenai Hangeul adalah itu untuk masyarakat dan itu dipikirkan untuk masyarakat," kata dia. "Penemuan Hangeul oleh Raja Sejong sejalan dengan demokrasi pada saat ini."

Dengan Hangeul, kata Moon, sangat mungkin bagi orang Korea dari berbagai latar belakang untuk bersatu menjadi satu, dengan sebuah budaya dan identitas mereka sendiri. "Hangeul merupakan aset komunitas yang terbesar yang menghubungkan masyarakat kita."

Bagi Eun-kyoung Choi, pustakwan yang tinggal di Seoul, bahasa Inggris membuatnya seperti orang asing. Dia ingat ketika masih muda mempelajari bahasa Inggris, pernah berpikir bahwa bahasa asing terdengar dingin, bahkan egois. Jika bahasa Korea, dari huruf-huruf ke kata-katanya, dibuat untuk komunal, kemudian bahasa Inggris tampak individualistik. Semuanya adalah "punya saya, punya saya, punya saya " dan "saya, saya, saya", kata dia.

Dalam budaya Amerika, kata 'punya saya', 'saya' dan 'aku' merupakan sebuah entitas otonom, menurut profesor bahasa dan bahasa linguistik Universitas Hawaii Ho-min Sohn. Tetapi tidak dalam budaya Korea.

Hak atas foto Atlantide Phototravel/Getty Images
Image caption Upaya mempelajari bahasa Korea dilakukan dalam memesan makanan dan menggunakan transportasi publik. (Kredit: Atlantide Phototravel/Getty Images)

"Sementara orang Amerika umumnya memiliki kesadaran egaliter dan individualistik, menghargai otonomi pribadi, hubungan interpersonal Korea secara umum masih sangat terkait dengan hierarki sosial dan cita-cita kolektivis, yang sangat menghargai ketergantungan interpersonal," tulis Sohn dalam bukunya Korean Language in Culture and Society.

Ketika Choi, pustakawan, bertemu dengan suaminya yang orang Amerika, Julio Moreno, di Korea Selatan, perbedaan antara dua komunikasi budaya mereka semakin nyata. Moreno juga ingat adanya kesalahpahaman. Seorang guru bahasa Inggris dan blogger, dia pernah mendengar murid-muridnya mengobrol tentang "ibu mereka" dan bertanya-tanya berapa banyak dari mereka yang merupakan saudara kandung. "Itu sangat membingungkan," kata Moreno sembari tertawa.

Penggunaan kata ganti posesif tunggal dan jamak dalam bahasa Korea menurut penerjemah profesional dan juru bahasa Kyung-hwa Martin merupakan salah satu tantangan terbesar bagi orang Korea yang belajar bahasa Inggris ataupun sebaliknya. Namun, pada akhirnya mempelajari bahasa juga mengharuskan kita untuk belajar mengenai perspektif lain. "Bahasa dan budaya tertanam satu sama lain. Bahasa mencerminkan budaya dan budaya yang mencerminkan bahasa," kata Martin, yang pindah dari Seoul ke Virginia. "Bila Anda mempelajari bahasa yang berbeda, Anda harus berpikiran berbeda."

Bagi saya, berpikir berbeda tidaklah mudah.

Jika satu setengah dari identitas saya yang paling ideal seharusnya merupakan orang Amerika yang bebas dan luar biasa, lalu separuh lainnya merupakan kolektivisme orang Korea. Itu merupakan sebuah dikotomi yang tidak saya ketahui bagaimana menyatukannya. Dan konsekuensinya sangat besar. Namun kekecewawaan sering saya rasakan dari rekan sebaya saya, yang kemudian saya menyadari, ini merupakan keinginan bawaan untuk persatuan. Ini merupakan pelajaran yang kadang saya lupakan, namun saya tahu saya dapat mengandalkan 'uri' untuk mengingatkan saya.

Anda bisa membaca artikel ini dalam versi Inggris dalam Why South Koreans rarely use the word me atau artikel lain dalam BBC Travel.

Berita terkait