Setelah 100 jam di Tibet, saya tahu bahwa saya sudah harus pergi

Tibet Hak atas foto Nattapon/Getty Images
Image caption Pico Iyer: “Tantangan terbesar dari perjalanan… memiliki keberanian untuk mengetahui kapan harus dipersingkat.”

Penulis Pico Iyer memahami bahwa dengan membuat perjalanan lebih singkat, Anda dapat memperoleh perjalanan batin yang menggema seumur hidup.

Dalam waktu, seperti ruang, sebuah rumus matematika seringkali mengambil alih. Semakin sedikit hal yang Anda miliki dalam ingatan Anda, semakin luas setiap hal itu mengisi ruang diri Anda. Perjalanan singkat bisa bagakan sebuah ruangan kosong di sebuah rumah teh Jepang: jika tidak ada apa pun di sana selain sebuah gulungan, maka gulungan itulah yang menjadi semesta. Kadang-kadang, saya menemukan, hanya dengan membuat sebuah perjalanan singkat kita dapat memperoleh perjalanan batin yang menggema seumur hidupkita.

Saya tidak memikirkan hal ini secara sadar ketika pesawat saya yang terbang dari Chengdu, Cina, mendarat di landasan yang sepi beberapa km dari Lhasa, ibukota Tibet, pada September 1985. Sebaliknya: Saya waktu itu adalah pemuda di usia 20 tahunan yangbekerja di lantai 25 di gedung Midtown Manhattan, di mana saya menulis artikel mengenai peristiwa internasional untuk majalah Time.

Saya berhasil lolos dari kantor saya dengan mengambil enam bulan cuti, dan tak lama setelah tiba di Cina, saya mengetahui bahwa Tibet baru saja dibuka untuk orang asing untuk pertama kalinya.

Saya pertama kali bertemu dengan Dalai Lama di rumahnya di India saat saya masih remaja - berkat ayah saya yang bagaikan filsuf, yang bertemu dengan pemimpin Tibet itu beberapa bulan setelah dia mengungsi pada 1959 - dan saya mengikuti persoalan Tibet dari jauh. Namun ketika pemerintah Beijing membuka Tibet untuk turis asing, saya tidak dapat menahan diri untuk menjadi gelombang pengunjung yang pertama.

Ketika saya melangkah ke dalam negara berudara tipis dengan langit luar biasabiru - saya bertanya-tanya apakah saya akan bertekuk lutut pada mitologi Shangri-La. Sejumlah orang asing di maskapai komersial Cina itu tampak seperti para petualang: para penjelajah berbalut syal; celana semberono; para pakar sains dengan topi koboi dalam misi yang tak akan mereka ungkapkan.

Kami, jemaah kaum yang penasaran, dibawa ke sebuah bus compang-camping, dan sesudah itu kami terguncang-guncang sepanjang jalan berliku menuju Lhasa yang tampaknya tidak akan berakhir.

Hak atas foto Gu/Getty Images)
Image caption Penulis Pico Iyer merupakan pengunjung pertama Tibet setelah dibuka kembali untuk turis pada 1985.

Ada beberapa tanda yang saya pikir merupakan peradaban di sepanjang jalan: ternyata hanya beberapa patung kecil di luar gua dan lukisan Buddha di bebatuan dengan warna yang menyilaukan mata. Terkadang kami melintasi peziarah penuh peluh dan debu akibat perjalanan beratus hari menakupkan telapak tangan untuk menyembah, bersujud lagi dan lagi, dalam suatu rangkaian ibadah.

Ketika pada akhirnya kita memasuki sebuah halaman yang berantakan, 'Kota Matahari' membuka dirinya sebagai kota kecil yang terdiri dari rumah-rumah bercat putih di sekitar area pasar kuno Barkhor, dengan kotak-kotak bunga keemasan di bawah langit biru, bendera-bendera yang digunakan untuk berdoa berkibar di bawah atap yang terbuka.

Hak atas foto Matteo Colombo/Getty Images
Image caption Para peziarah bersujud di area pasar Barkhor Lhasa.

Saya pikir, saya agak tahu sedikit tentang Tibet. Saya melahap karya klasik seperti Melarikan diri dari Negeri Salju (Exile from the Land of Snows) dan Tujuh Tahun di Tibet (Seven Years in Tibet). Saya bahkan mengajak 16 rekan saya dari bagian liputan internasional majalah Time ke ruang bawah tanah yang kumuh di dapur restoran Tibet yang sudah ditutup di Third Avenue New York untuk menunjukkan mereka realitas Himalaya. Namun apa yang saya lihat tidak seperti apa yang saya baca dalam catatan mistis Magic and Mystery in Tibet karya Alexandra David-Néel.

Para lelaki berjalan mengelilingi alun-alun utama di Kuil Jokhang, menggumamkan kata 'Dalai Lama, Dalai Lama' dengan perlahan, berharap harapan orang asing mungkin menyelipkan foto pemimpin mereka yang mengasingkan diri. Polisi yang menyamar berkeliaran di sini dan di seberang alun-alun.

Setiap hari, perempuan nomaden suku Golok yang menggunakan topi warna hijau, para pendekar suku Khampa dengan untaian benang berwarna merah di rambut panjang mereka dan anak-anak berpipi ungu di samping mereka mengelilingi kuil, memutar-mutarkan roda-doa sambil berjalan, sementara para pekerja bersenandung lagu rakyat sembari memperbaiki bangunan-bangunan yang runtuh.

Saat di Midtown dulu, saya membaca megenai sebuah hotel baru di ujung kota, jadi saya berjalan dengan susah payah, mengangkat koper yang hampir lebih besar dari saya saat itu. Ketika saya tiba, menemukan apa yang tampak seperti kamar kosong di rumah sakit berhantu, dengan tabung oksigen di sisi setiap tempat tidur. Saya membalikkan badan dan mulai menjauh lagi - tidak ada yang memberitahukan pada saya mengenai penyakit akibat ketinggian. Para penggembala yak (sejenis lembu berambut panjang) meneriakkan sesuatu yang tidak saya mengerti. Musik dan lagu-lagu suku nomaden dinyanyikan dehan iringan satu alat petik, terdengar dari sebuah kaset di kios-kios pinggir jalan. Tibet belum banyak diungkap saat itu sehingga tak banyak pegangan yang bisa diandalkan orang-orang asing.

Hak atas foto Paul Harris/Getty Images
Image caption Gambar-gambar Dalai Lama yang hidup dalam pengasingan dilarang di Tibet.

Pada akhirnya saya melihat apa yang terlihat seperti orang-orang Eropa berbaris di sepanjang jalur utama, dan saya menyelinap melalui pintu masuk yang gelap dari arah mereka keluar. 'Hotel Banak Shol, Jalan Kebahagiaan', tulisan disebuah papan. Seorang anak muda Tibet dengan bahasa Inggris yang terbata-bata mengatakan kepada saya bahwa saya dapat menyewa kamar seharga $2 per malam. Sebuah kamar yang berisi: sebuah kasur polos besar dengan bantal jerami, dan tidak ada ruang untuk bergerak. Sebuah toilet kotor berada di ujung koridor di luar kamar; dan sebuah keran berkarat di halaman untuk mengambil air.

Saya melangkah terhuyung menaiki tangga kayu, menaruh koper saya di kamar gelap yang pengap, kemudian keluar lagi dan menyelinap melalui sebuah labirin gang-gang berlumpur menuju Jokhang (yang hanya beberapa pekan lalu dilalap api). Di depannya, biksu, perempuan penggembara, para balita mungil dan nenek mereka, tampil dalam tiga bagian ibadah seperti yang saya lihat mereka melakukannya dari fajar sampai tengah malam. Ketika saya memasuki kuil, saya dapat menangkap sedikit cahaya remang-remang lilin yang berkedip. Namun tak lama kemudian saya melihat air mata mengalir di pipi orang Tibet ketika para peziarah bergerak maju, melewati satu per satu dewa belas kasih dan kebijaksanaan, terpana karena akhirnya mencapai tepat tersuci di kota suci mereka.

Pagi berikutnya saya berjalan keluar ke Ganden, dulu merupakan salah satu biara terbesar di dunia. Saat ini hanya sebuah tumpukan batu yang hancur. Tiga bikhu berjubah merah tengah berpiknik di tanah yang kotor melambaikan tangan kepada saya agar bergabung dengan mereka menikmati yak asin - teh mentega dan roti kasar. Di dalam bus ketika kembali, perkelahian pertama terjadi ketika kelompok orang Tibet berkumpul di sekitar satu orang Cina, mengingatkan bagaimana penjajah ketika menjadi korban dari keadaan sekitar mereka.

Setelah malam tiba, saya memperhatikan bahwa seluruh kota kecil berada dalam perlindingan Istana Potala yang berlantai 13, hanya beberapa lampu yang menyala dari bangunan yang memiliki lebih dari 1.000 kamar tersebut.

Hak atas foto Joseph Geurts
Image caption Sebuah kamar di Hotel Banak Shol, di mana penulis Pico Iyer menginap selama berkunjung ke Lhasa pada 1985.

Sebelum fajar di hari berikutnya, saya berjalan sekitar satu jam dari bangunan-bangunan, melewati tenda-tenda penggembara yang terbuat dari rambut yak, lilin-lilin berada di luarnya, sampai saya tiba di sebuah tebing yang jauh di mana para penduduk Tibet yang kuat sedang melakukan ritual yang mengerikan: berlatih memotong jenazah manusia yang masih segar, dengan cara tradisional, untuk memberi makan burung pemangsa. Itu rasanya seperti sebuah invasi - sebuah ritual suci yang ditelan oleh kami para turis yang tidak mengerti - namun tidak melihat sebuah 'Pemakaman Langit' akan tampak seperti sebuah penistaan.

Pada sore hari, saya keluar menuju biara Sera dan Drepung, mengingatkan cerita yang disampaikan ayah profesor saya yang mengatakan tengkorak mereka dilukisi mural dan ritual berdebat yang dihadiri 20.000 orang. Pada saat ini, banyak anjing-anjing dengan sabar duduk di halaman dan seorang bikhu muda meminta untuk memainkan kamera saja.

Akhirnya, pada pagi ketiga saya di kota ini, saya melakukan pendakian ke jalur zig- zag ke Potala. Mengikuti sebuah grup orang Tibet yang ada di halaman pertama, saya berpisah dengan mereka setelah membeli dua gulungan naskah religi yang bergambar dewa dan visi tentang alam semesta. Saya naik ke kamar yang dilewati sinar matahari yang tinggi, ketika para bikhu duduk di setiap sudut; para perempuan membungkuk untuk menerima air berkat dari biarawan di tengah peninggalan sembilan Dalai Lama yang pernah tinggal di sana.

Hak atas foto Keith Levit/Getty Images
Image caption Peziarah di Lhasa berdoa dari mulai fajar sampai tengah malam, seringkali memutar roda doa.

Pada satu titik saya melangkah keluar menuju sebuah teras bercat putih untuk melihat bukit lalu pengunungan, yang diselimuti oleh salju. Langit berkilau, semua datang kepada saya dengan ketajaman lensa zoom. Saya tidak dapat mengatakan mengapa, saya tidak dapat mengatakan bagaimana, namun entah bagaimana, ketika saya berdiri di sana, saya merasa tidak hanya berada di 'atap tertinggi dunia' seperti tertulis dalam brosur-brosur, namun berada di atap tertinggi keberadaan saya - beberapa lebih jelas, pikiran yang lebih kuat yang tidak saya kenali.

Mungkin itu merupakan udara tipis. Mungkin gegar budaya atau akumulasi kelelahan akibat penerbangan dan perjalanan dengan bus di jalanan yang bergelombang. Tentu saja, saya tidak berhasrat merasakan sesuatu yang istimewa di tempat yang begitu banyak dikaitkan dengan perjalanan batin.

Saya ingat bagaimana Sir Francis Younghusband, tentara Inggris yang memimpin sebuah pembunuhan di kota pada musim dingin pada 1904, telah terjadi pada sore terakhirnya di Lhasa. Apapun pengalaman dia sangatlah kuat sehingga dia menanggalkan seragam serdadunya, kembali ke Eropa dan menjadi salah satu juru kampanye perdamaian yang gigih sepanjang abad.

Saat ini saya malu terhadap diri saya di masa usia 20 tahunan, terlalu cepat menghakimi, sangat terkungkung dalam sikap skeptisme anak-anak sekolah. Namun pada suatu momen, insting saya benar. Saya meninggalkan Lhasa setelah hanya empat hari, dan 33 tahun berlalu, setiap jam ketika saya tinggal terasa seperti kanvas tersendiri di sebuah aula perjamuan besar. Saya kembali ke ibukota Tibet lebih dari sekali, saya menghabiskan perjalanan keliling Bhutan dan Ladakh serta Nepal, serta tempat yang memiliki ketinggian yang menggantikan Bolivia dan Peru. Namun saya tepat: saya merasakan momen tersebut, yang tidak pernah saya rasakan.

Sekarang, saya duduk di meja saya dan melakukan perjalanan sekali lagi, saya teringat bagaimana selalu di ruang kosong yang saya rasa sepenuhnya. Bagian dari tantangan dari setiap perjalana ke luar, terutama ketika kemuliaan, adalah memiliki keberanian untuk mengetahui kapan harus mempersingkat,hanya jika dapat dilakukan perjalanan batin - dan akan- tetap hidup, khas, utuh dan selamanya.

Pico Iyer merupakan penulis utama banyak buku perjalanan, yang terbaru adalahThe Art of Stillness dan The Man Within My Head.

Anda bisa membaca artikel aslinya dalam After 100 hours in tibet i knew it was time to leave atau tulisan lain dalam BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait