Pohon tua di Jerman yang sudah menjodohkan lebih dari 100 pasangan untuk menikah

Der Bräutigamseiche atau Pohon Pasangan Pengantin di Hutan Dodauer, Eutin, Jerman. Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Der Bräutigamseiche atau Pohon Pasangan Pengantin di Hutan Dodauer, Eutin, Jerman.

Sebuah pohon oak berusia 500 tahun di luar kota Eutin, Jerman, telah menjodohkan orang-orang lajang selama lebih dari seabad dan diyakini bertanggung jawab atas 100 pernikahan.

Pada sebuah siang yang dingin di Hutan Dodauer di Jerman utara, sekitar 100km timur laut Hamburg, seorang petugas pos mengenakan seragam kuning cerah berjalan sendirian di hutan.

Saat dia mencapai sebuah area terbuka, dia mengambil sesuatu di tasnya kemudian memanjat tangga kayu setinggi 3 meter untuk mengantarkan amplop ungu untuk pohon oak berusia 500 tahun itu.

"Hari ini hanya satu," katanya pada saya, sebelum menghilang dari hutan untuk menuju kotak surat berikutnya dalam rute pengantarannya hari itu.

Amplop ungu itu dari Denies di Bavaria.

Usianya 55, dia tidak takut untuk menertawai diri sendiri dan mencintai alam.

Dia tahu apa yang diinginkannya, tak keberatan sendiri tapi ingin tahu, apakah ada pria di luar sana yang bisa mengejutkannya.

Jika iya, dia berharap pria itu juga mencari cinta di dalam lubang di pohon ini.

Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Tangga setinggi 3 meter mengarah ke lubang di pohon, tempat orang mengirimkan surat cinta pada pohon berusia 500 tahun ini.

Pohon yang dikenal dengan nama Der Bräutigamseiche atau Pohon Pasangan Pengantin ini terletak di luar kota Eutin dan sudah menjodohkan orang-orang lajang jauh sebelum Tinder, dan diyakini bertanggung jawab atas lebih dari 100 pernikahan.

Kini, orang dari seluruh dunia mengirimkan surat yang dialamatkan pada pohon tersebut, dan berharap dengan membayar ongkos perangko, mereka bisa menemukan pasangan.

Ada Marie dari Brandenburg yang ingin mencari pria yang bisa berdansa; Heinrich dari Saxony yang mencari rekan perjalanan, dan Liu dari Shijiazhuang, Cina, yang hanya ingin tahu apakah ada perempuan Jerman yang ingin punya teman dari Cina.

"Ada sesuatu yang ajaib dan romantis akan pohon ini," kata Karl-Heinz Martens, 72 tahun, petugas pos yang mengantarkan surat ke pohon itu selama 20 tahun.

"Di internet, fakta dan pertanyaan menjodohkan orang, tapi di pohon, ini adalah kebetulan yang indah — seperti takdir."

Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Selama menjadi petugas pos, Martens mengantarkan surat dari enam benua ke pohon oak ini.

Meski kini sudah pensiun, Martens masih menyimpan buku kenangan yang berisi foto, surat, dan kliping koran dari saat ia menjadi pengantar cinta — dan dia dengan senang menunjukkannya pada saya sambil minum kopi di tengah kota Eutin.

Dalam dua dekade dia bertugas untuk pohon oak itu, Martens membawa surat-surat dari enam benua, sering dalam bahasa yang tidak ia mengerti.

Dia menjelaskan bahwa meski kini banyak orang yang tahu soal pohon itu, 128 tahun lalu, pohon itu adalah rahasia antara dua kekasih.

Pada 1890, seorang perempuan setempat bernama Minna jatuh cinta dengan seorang pemuda pembuat cokelat bernama Wilhelm.

Ayah Minna melarangnya bertemu Wilhelm, sehingga keduanya diam-diam bertukar surat dengan meninggalkannya di lubang pohon oak itu.

Setahun kemudian, ayah Minna akhirnya memberinya izin untuk menikahi Wilhelm, dan keduanya menikah pada 2 Juni 1891 di bawah cabang pohon oak itu.

Kisah cinta pasangan yang seperti dongeng itu kemudian menyebar, dan langsung saja, para pencari cinta di seluruh Jerman yang belum berhasil mendapat pasangan di biergarten atau ruang dansa kemudian menulis surat cinta ke Pohon Pasangan Pengantin.

Pohon itu menerima begitu banyak surat sampai-sampai pada 1927, pos Jerman, Deutsche Post, menugaskan petugas pos sendiri dan kode pos bagi si pohon.

Mereka juga menaruh tangga ke kotak pos seukuran kepalan tangan itu, sehingga siapapun yang ingin membuka, membaca dan menjawab surat itu bisa melakukannya.

Satu-satunya aturan, menurut Martens, jika Anda membuka surat yang tidak ingin Anda jawab, Anda harus menempatkannya di pohon agar ditemukan orang lain.

Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Seorang perempuan berhenti untuk membaca surat yang dikirimkan ke pohon oak, ditunggu dua kucingnya.

"Pohon itu menerima sekitar 1.000 surat setahun," kata Martin Grundler, juru bicara untuk Deutsche Post.

"Sebagian besar datang di musim panas. Saya pikir itulah saatnya semua orang ingin jatuh cinta."

Sementara bagi mereka yang sudah menaksir seseorang atau kekasih, ada legenda yang menyatakan bahwa jika seorang perempuan berjalan mengelilingi pohon itu tiga kali di bawah bulan purnama sambil memikirkan kekasihnya, tanpa bicara atau tertawa, dia akan menikah dalam setahun.

Kini, Pohon Pasangan Pengantin ini adalah satu-satunya di dunia yang punya alamat surat.

Enam hari seminggu selama 91 tahun, petugas pos akan berjalan ke dalam hutan — hujan, salju, atau cerah — dan menaiki tangga untuk memasukkan surat dari para lajang yang ingin jatuh cinta ke dalam pohon itu.

Dan tak ada yang mengantarkan surat ke pohon itu lebih lama daripada Martens.

"Itu merupakan bagian favorit hari saya," kata Martens, menyerahkan foto hitam putihnya mengenakan topi tukang pos dan kacamata, tersenyum saat dia akan memasukkan surat ke pohon oak.

"Orang kemudian menghapal rute saya dan menunggu saya datang karena mereka tidak percaya akan ada petugas pos yang mengantarkan surat untuk sebuah pohon."

Selama 20 tahun, menurut Martens, hanya ada 10 hari saat tak ada orang yang mengirim surat ke pohon, dan meski dia bisa mengantarkan sampai 50 amplop per hari, tak semuanya adalah surat cinta.

"Sebelum penyatuan Jerman (pada 1990), orang-orang dari Jerman Timur yang tak punya kontak di Jerman Barat sering menulis surat untuk pohon dan menanyakan jenis musik atau mobil apa yang tersedia di Jerman Barat," kata Martens.

"Saya ingin membalasnya, tapi bos saya menyarankan tidak usah."

Menurut Martens, pesan-pesan lain yang datang dalam tahun-tahun berikutnya berawal dari sebuah keisengan yang manis tapi kemudian berkembang menjadi sesuatu yang indah.

Hak atas foto Archiv TI Eutin
Image caption Deutsche Post menugaskan petugas pos untuk mengantarkan surat ke pohon.

Pada 1958, seorang serdadu Jerman bernama Peter Pump menggapai ke dalam pohon oak, meraba beberapa surat dan menarik secarik kertas yang hanya bertuliskan nama dan alamat.

Karena iseng, dia memutuskan untuk menulis ke 'Nona Marita yang Terhormat', yang sebenarnya tidak menulis ke pohon, tapi surat itu dikirimkan oleh teman-temannya karena Marita terlalu malu.

Peter dan Marita saling berkirim surat setahun sebelum dia memberanikan diri untuk bertemu dengan Marita.

Mereka menikah pada 1961 dan merayakan 57 tahun pernikahan pada tahun ini.

Kemudian ada kisah pasangan Christiansen. Pada 1988, Martens mengantarkan surat ke pohon oak dari perempuan Jerman Timur berusia 19 tahun bernama Claudia yang sedang mencari sahabat pena.

Seorang petani Jerman Barat bernama Friedrich Christiansen menemukannya dan menulis surat untuk Claudia.

Satu surat menjadi 40, dan pasangan ini jatuh cinta. Tak bisa bertemu, Friedrich dan Claudia berkirim surat selama dua tahun.

Saat Tembok Berlin runtuh, keduanya bertemu untuk pertama kali dan menikah pada Mei 1990.

"Saya tahu sedikitnya 10 pernikahan yang terjadi karena pohon itu," kata Martens. "Ada satu yang menonjol."

Pada 1989, televisi Jerman menyiarkan acara khusus akan pohon tersebut dan menanyakan apakah Martens menemukan cinta di pohon-pohonnya.

Dia menjawab belum. Dan beberapa hari kemudian, saat Martens tengah memanjat tangga untuk mengantarkan surat bagi si pohon, dia menemukan tulisan tangan dari seorang perempuan bernama Renate yang ditujukan untuk Martens

"Saya ingin bertemu denganmu," isi tulisannya. "Kamu adalah tipe saya. Saat ini, saya juga sendiri."

"Jadi saya menelponnya — dengan agak kikuk — dan segera saya bertemu dengannya," kata Martens sambil memperlihatkan fotonya dan Renate berciuman di hari pernikahan mereka.

"Kami menikah pada 1994 dan kami mengadakan resepsi di bawah pohon oak."

Koran lokal menerbitkan foto Martens di tangga mengenakan setelan jasnya dan salah satu foto mereka tengah berciuman di bawah pohon dengan judul, 'Pernikahan tahun ini'.

Dua puluh empat tahun kemudian, Martens dan Renate masih menikah dan bahagia, dan pensiunan petugas pos itu tetap menyimpan surat Renate.

Saat matahari mulai turun di tengah kota Eutin, Martens tiba-tiba menutup buku kenangannya dan mengambil jasnya.

"Ayo pergi sebelum gelap," katanya mengambil kunci mobilnya. "Ikuti saya."

Hak atas foto Karl-Heinz-Martens
Image caption Perempuan menaiki tangga untuk membaca surat cinta pada 1930an.

Lima belas menit kemudian, saya kembali di Hutan Dodauer, kali ini mengikuti langkah Martens menuju pohon oak tua.

Di sekitar pagar yang mengelilingi pohon, dia menunjuk ke dua papan, satu yang menggambarkan sejarah pohon, yang ditulisnya, dan satu lagi bertuliskan, 'Semoga pernikahan ini bertahan lama'.

Pada 2009, setelah lebih dari 100 tahun menjodohkan orang, Pohon Pasangan Pengantin dinikahkan secara simbolis dengan pohon chestnut berusia 200 tahun dekat Düsseldorf.

Meski terpisah 503km, pohon-pohon itu tetap bersama selama enam tahun sampai pohon chestnut sakit karena terlalu tua dan harus dipotong, dan Pohon ini pun menjadi janda.

"Saat saya datang ke sini, pohonnya lebih kuat dan sehat," kata Martens, menunjuk ke serangkaian kabel yang menyangga cabang pohon oak.

"Tapi saya juga tidak terlalu sehat, jadi saya pikir kami punya hubungan khusus."

Beberapa tahun lalu, ahli pohon mendeteksi adanya infeksi jamur di dalam pohon, dan mereka pun menebang beberapa bagian cabang untuk mencegah infeksi meluas.

Di waktu yang sama, Martens didiagnosa dengan leukemia. Seperti cabang pohon itu, menurut Martens, tulang-tulangnya tak lagi stabil.

Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Meski pensiun, Martens suka mengunjungi lagi pohon itu.

"Tapi saya masih bisa menaiki tangga," katanya, sambil pelan-pelan menaiki satu per satu anak tangga.

Setelah mengintip ke dalam kotak pos kecil pohon oak itu, Martens minta izin.

Hari sudah mulai malam dan dia harus kembali ke istrinya.

Setelah Martens pergi, seorang pria yang kurus dengan rambut yang disisir rapi membawa secarik kecil kertas berjalan ke dalam hutan.

Saat dia mendekati pohon oak, saya bertanya apakah dia tidak keberatan menjawab beberapa pertanyaan untuk sebuah laporan yang saya kerjakan.

Dia mengatakan kadang-kadang dia datang sendiri ke pohon ini setelah kerja, dan dia memperlihatkan tulisannya.

"Saya seorang duda, 53 tahun, tinggi 1,75 meter, tinggal di Ostholstein. Saya mencari seorang perempuan ramping yang mencintai dan setia. Mungkin kita bisa bicara langsung, Jens."

Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Surat Denies di dalam kotak pos pohon itu.

"Anda tak pernah tahu," katanya tersenyum.

Saya berpisah dengannya dan mulai berjalan ke luar hutan. Namun di ujung hutan, saya berbalik dan melihat Jens di atas tangga, memasukkan sesuatu berwarna ungu ke dalam saku jaketnya.

Ingin mencoba peruntungan cinta dengan mengirim surat ke pohon oak ini? Anda bisa mengirimkannya ke:

Bräutigamseiche

Dodauer Forst

23701 Eutin, Germany

Untuk mengunjungi pohon ini, ambil jalan B76 dari Eutin menuju Plön, belok kanan di penyulingan Alex Münster, dan Anda akan melihat penanda kayu mengarah ke pohon itu di kiri jalan.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di In Germany, the world's most romantic post box di laman BBC Travel

Topik terkait

Berita terkait