Mengapa orang Armenia menyukai orang asing

armenia mural Hak atas foto AFP

Seperti halnya tetangga Kaukasus mereka, orang-orang Armenia telah lama terkenal karena keramahannya terhadap orang asing - mengingat sejarah negara itu di Jalur Sutra.

Saya tidak pernah bermaksud menghabiskan malam di Dilijan. Awalnya saya sedang melakukan perjalanan ke Armenia Utara menuju ibukota Yerevan, setelah menyeberang dari Georgia beberapa hari sebelumnya.

Perjalanan saya membawa saya ke selatan, tetapi perlahan. Pemandangan di sini selayaknya otot kekar; terdiri dari lembah-lembah kering yang terjal, dan ngarai yang dalam.

Sudah jelas sejak awal bahwa Armenia akan sangat menarik. Setelah melintasi perbatasan dari Georgia saya melompat masuk ke dalam marshrutka tua - salah satu minibus umum murah yang ada di mana-mana - dan melewati Kaukasus. Selagi kami meluncur, sang supir meletakkan seekor burung berwarna madu di atas dashboard.

Burung itu melihat ke jalan selama lima menit, terbang berputar-putar di atas para penumpang yang tidak merasa terganggu, lalu pergi melalui jendela dan keluar menuju bukit-bukit yang keras dan kecokelatan. Apakah ini latihan biasa? Semacam ritual keberuntungan? Saya tidak pernah mencari tahu. Mungkin suatu tanda untuk mengharapkan yang tidak terduga.

marshrutka Hak atas foto wikipedia.org
Image caption Bus tua marshrutka adalah moda transportasi untuk melakukan perjalanan ke Kaukasus yang paling terjangkau.

Tetapi saya tidak pernah bermaksud menghabiskan malam di Dilijan. Saya sudah terlalu lama keluyuran di sekitar kuil-kuil yang ada di dalam daftar UNESCO di Debed Canyon. Dan ketika saya tiba di sore hari, supir marshrutka yang saya ajak komunikasi dengan bahasa isyarat, menandakan dia benar-benar sudah tidak dapat melayani perjalanan. Tidak ada lagi alat transportasi.

Tetapi kota kecil ini sangat menarik, bersandar di lereng yang diselimuti kayu ek. Satu malam di sini pasti tidak akan sulit. Kemudian saya mengetahui bahwa di masa Uni Soviet, Dilijan telah mendapatkan reputasi sebagai tempat tetirah para seniman dan lokasinya yang di tengah hutan yang indah membuatnya disebut sebagai "Swiss Kecil".

Bagaimanapun saya butuh tempat bermalam. Saya mempelajari buku panduan saya yang sudah ketinggalan jaman, dan menemukan satu-satunya alamat penginapan, yang setelah melalui beberapa penyelidikan (Saya menemukan bahwa huruf-huruf Armenia tidak dapat dimengerti seperti halnya lembaran musik dari abad pertengahan), akhirnya saya berada di daerah pinggiran kota. Saya berharap ketika berjalan, saya setidaknya dapat bertemu dengan seseorang.

orang armenia menari Hak atas foto AFP
Image caption Orang-orang Armenia telah lama dikenali karena kebaikan hatinya terhadap orang asing.

Rumah itu terletak di bukit permukiman yang tenang, membelakangi jalanan berdebu di balik gerbang besi. Saya mengetuk pintu, dan berhadapan dengan keheningan yang panjang.

Sepertinya, saya kira, tamu jarang ada di sini. Bahkan rumah ini sudah bukan lagi sebuah penginapan.

Saya bertanya-tanya apakah saya memasuki tempat yang salah. Saya mencoba meneriakkan kata 'halo' dalam bahasa Armenia - "barev dzez" - ke arah jalan masuk, awalnya pelan, kemudian lebih keras.

Akhirnya ada langkah kaki, dan seorang perempuan paruh baya dengan celemek membuka gerbangnya.

Dia melihat saya dengan tatapan bingung. Saya memperlihatkan buku panduan yang saya bawa. Saya merasa lega ketika dia tersenyum dan menggandeng siku saya, mengajak masuk ke rumah.

Saya diperlihatkan satu buah kamar standar dengan satu tempat tidur yang ditutupi oleh selimut berbunga warna warni.

Kemudian saya menyadari rumah ini ramai. Suara tawa terdengar di koridor. "Jam sembilan belas," kata perempuan itu dalam bahasa Inggris, sambil menunjuk ke ruangan di seberang. Dia memperagakan makan. "Jam sembilan belas."

Saya merasa lelah dan juga bingung - saya tidak mengharapkan makan malam - tetapi pada pukul tujuh malam saya melakukan apa yang diminta. Apa yang terjadi kemudian adalah malam yang memabukkan, hangat dan penuh dengan vodka dan tidak pernah saya alami.

Ketika saya muncul pada jam yang diminta, saya mendapati diri saya berada di tengah-tengah makan malam untuk merayakan ulang tahun ke-18 anak perempuan tertua di keluarga tersebut.

Tangan saya bergetar hebat, kursi sudah ditarik untuk saya. Ada sekitar 12 orang yang duduk mengitari meja malam itu, dan kami sangat berisik: Lusine, anak perempuan yang diceritakan itu; sekelompok teman-teman terdekat dan tersayangnya yang ramah; dan satu wisatawan yang bingung tapi senang.

makanan armenia Hak atas foto AFP
Image caption Penulis diundang oleh pemilik penginapan untuk bergabung di suatu perayaan keluarga.

Makanan dihidangkan dalam porsi yang besar. Perempuan yang menyambut saya tadi adalah ibunya Lusine, dan dia yang bertanggung jawab pada acara.

Piring-piring tampak penuh dengan lavash, roti pipih tanpa ragi yang memenuhi lemari makan Armenia.

Ada terong dan zaitun, lobak segar dan setumpuk keju berserat. Kemudian babi panggang dihidangkan, dan sayuran dengan bawang putih.

Di beberapa sudut ada semangkuk jamur cincang goreng dengan bawang, dan ayam berbalur saus beraroma tajam. Kemudian menu menjadi samar-samar.

Penyebab dari semua ini adalah oghi, atau vodka buah bikinan sendiri. Meja tempat kami berpesta dipisahkan berdasarkan gender: kaum perempuan di satu sisi, dan laki-laki di sisi yang lain.

Saya baru tahu, melalui ucapan dalam bahasa Inggris oleh gadis yang berulang tahun, saya duduk diapit dua paman, Keduanya riang gembira, gemuk, dan memastikan gelas saya tidak kering lebih dari satu detik. Seperti halnya dengan makanan yang tidak pernah berhenti dikeluarkan, demikian juga dengan minuman keras berbahan dasar dasar buah berry itu.

Saat acara itu semakin meriah, para paman bersikeras untuk bersulang, bagi semua orang dan semua hal. Bagi Armenia. Bagi Inggris. Bagi keluarga-keluarga. Bagi keluarga saya. Bagi orang yang sudah lama meninggal. Bagi masa depan. Bagi persahabatan.

Beberapa toast membuat saya bingung, tetapi semua berjalan dengan cara yang sama - dentingan gelas-gelas, siku-siku yang bersentuhan, tenggorokan yang hangat terbakar alkohol. Kemudian terdengar nyanyian-nyanyian, dan kue-kue. Saya merasa pusing dengan itu semua. Malam itu berakhir dengan pelukan erat, dan upaya-upaya bahasa yang patah-patah untuk menyatakan kekerabatan yang kekal.

makanan armenia Hak atas foto AFP
Image caption Ben Lerwill: "Saya dipandu ke dalam perayaan itu sealami dan sefoya-foya itu, seolah-olah saya memang bagian dari mereka".

Ketika saya berangkat keesokan harinya, dengan kepala terasa ringan tetapi penuh dengan sarapan, keinginan saya meninggalkan sejumlah uang untuk makan malam mendapatkan penolakan sedemikian rupa sehingga saya mengurungkan niat karena takut dianggap menghina. Setelah diberikan alamat seorang kerabat di Armenia selatan - seseorang yang sekarang saya sesali karena tidak pernah menghubunginya - saya pergi dengan perasaan hangat, dan berjalan ke lapangan marshrutka dalam keadaan linglung.

Baru kemudian saya menyadari betapa ramahnya keluarga tersebut. Saya adalah orang asing dari negara yang berjarak ribuan mil jauhnya. Saya muncul di gerbang mereka, tanpa pemberitahuan, tidak bercukur, satu jam sebelum makan malam keluarga besar.

Tidak hanya diberi kamar untuk tidur, saya juga diajak bergabung ke jamuan makan yang akrab dan berlimpah, seolah-olah saya adalah salah satu dari mereka. Peristiwa ini memperluas makna 'guesthouse' menjadi luar biasa ekstrem.

Orang-orang Armenia seperti halnya para tetangga Kaukasus mereka, telah lama dikenal karena keramahtamahannya kepada pendatang. Lokasi negara itu di jalur perdagangan bersejarah Jalur Sutera merupakan bagian integral dari hal ini.

Wilayah ini telah menjadi saksi perjalanan ribuan pedagang, tentara, pendatang dan pejalan kaki. Sejak tahun 400 SM, jenderal Yunani Xenophon membawa pasukannya melalui jalur ini dan memberi makan mereka dengan daging domba, unggas dan anggur jelai.

armenia Hak atas foto Getty Images/Brendan Hoffman
Image caption Keramahtamahan Armenia berakar dari sejarah lokasi negara itu di sepanjang jalur sutra.

Mungkin harus dicatat bahwa ketiga negara Kaukasus - Georgia, Armenia dan Azerbaijan - mempertahankan persaingan yang sehat satu sama lainnya. Ada lelucon sinis Armenia yang menggambarkannya.

Seorang anak laki-laki bertanya pada kakeknya mengapa Armenia belum mengirimkan astornot ke luar angkasa. "Karena orang-orang Georgia akan mati karena iri," jawab sang kakek. "Dan jika orang-orang Georgia mati karena iri, kemudian kita akan mati saking gembiranya - dan orang-orang Azerbaijan akan hidup sendiri dengan semua wilayah yang tersisa."

Akan tetapi, terhadap para pelancong dan orang asing, keramahan lokal di seluruh wilayah sangat luar biasa.

Armenia telah melalui penderitaan dan kesengsaraan yang tidak terkatakan. Tidak kurang dari sekitar 1,5 juta jiwa orang yang dideportasi dan meninggal di antara tahun 1914 dan 1923.

Puluhan negara bagian di Amerika Serikat dan 29 negara mengakui peristiwa genosida oleh Kekaisaran Ottoman. Negara Turki modern menyangkalnya. Jiwa nasional Armenia secara pasti telah terbentuk oleh masa itu. Dan dengan demikian, gagasan bahwa mereka yang datang dalam damai harus disambut dengan tangan terbuka menjadi lebih kuat.

Saya bisa berkata: saat Anda menemukan keramahan di Armenia, Anda tidak akan dapat melupakannya.


Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini di Why Armenians love strangers di BBC Travel.