Rahasia belasan pondok mungil bercat hijau yang menjadi 'rumah' bagi sopir taksi London

Kabin hijau Hak atas foto Getty Images

"Kami adalah komunitas peninggalan era Victoria," Henry, sopir taksi hitam ala London, berujar dengan nada bangga, seraya mengangkat topinya yang bermotif kotak-kotak.

Pagi itu langit London berwarna kelabu dan saya terjepit dalam bangunan mungil berwarna hijau di belakang meja berbentuk U yang sempit.

Di sekelilingku ada beberapa sopir taksi yang tengah menyeruput secangkir teh dan mengudap telur orak arik dan sosis.

Bilik kecil mungil di Russell Square ini adalah tempat para penjaga rahasia London bercengkerama - pengemudi taksi hitam yang otaknya dijejali peta setiap inci kota itu.

Ini adalah salah satu dari 13 tempat istirahat para sopir taksi yang tersisa di ibukota Inggris, dan hanya para pengemudi yang berlisensi yang diizinkan masuk.

Hak atas foto Chris J Ratcliff/Getty Images
Image caption Tiga belas tempat peristirahatan bersejarah para sopir taksi dapat ditemukan di berbagai sudut kota London.

Ide awal tempat untuk istirahat itu muncul pada akhir abad 19 saat George Armstrong, sebelum dia didapuk memimpin surat kabar The Globe, gagal mendapat taksi saat badai salju, sementara para kusir kereta kuda - taksi di zaman itu - menghabiskan waktunya di pub-pub terdekat.

Armstrong lantas menggandeng sejumlah lembaga amal, diantaranya Earl of Shaftesbury, untuk menemukan cara jitu agar para kusir kereta kuda itu menyudahi kebiasaan menenggak bir.

Kemudian digelontorkanlah dana untuk membangun semacam tempat peristirahatan bagi kusir kereta kuda. Akhirnya, pondok kayu pertama didirikan pada 1875 di kawasan St John's Wood. Saat ini bangunan itu masih berdiri dan tetap dimanfaatkan, kendatipun lebih dari 60 gubuk yang dibangun semenjak saat itu telah dirubuhkan.

Ukuran pondoknya kira-kira tak lebih besar dari gabungan seekor kuda dan keretanya, sesuai aturan kepolisian setempat, karena lokasinya di pinggir jalan raya. Di tempat itulah, para sopir yang tengah istirahat disediakan makanan, dan tentu saja diembel-embeli larangan menenggak alkohol, sumpah serapah, dan berjudi.

Lalu Perang Dunia I melanda Eropa. Para pengemudi berikut kendaraannya harus mengikuti wajib militer, dan ujungnya keberadaan taksi menurun dan tempat peristirahatannya terlantar. "Kami banyak kehilangan para kusir, kereta, serta kuda," kata Gary, salah seorang supir taksi yang saya ajak mengobrol di Russell Square.

Tidak digunakan dan ditelantarkan, pondok-pondok yang terbuat dari kayu oak itu membusuk dan akhirnya hancur. Ada sebagian luluh-lantak karena dihujani bom selama Perang Dunia II, sementara yang lainnya dibuldoser demi pelebaran jalan.

Hak atas foto Edward Gooch/Getty Images
Image caption Dibangun di akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, pondok-pondok hijau itu menyediakan tempat beristirahat bagi para pengemudi taksi - dulu kusir kereta kuda.

Saat ini hanya tersisa 13 bilik, dan 10 diantaranya masih beroperasi. Bangunan kuno bersejarah ini masuk kategori Grade II, yang artinya perlu diberi perhatian khusus, dan harus dilestarikan.

Pondok-pondok kayu itu dikuasai oleh Worshipful Company of Hackney Carriage Drivers (WCHCD), serikat pekerja yang menaungi para sopir taksi.

Adapun pemeliharaan dan perawatannya menjadi tanggungjawab The Cabmen's Shelter Fund - merekalah yang berhak mengeluarkan izin bagi siapa saja yang tertarik untuk memanfaatkan bangunan hijau itu.

"Para sopir taksi kesepian," kata Colin Evans, supir taksi berumur 44 tahun dan menjadi pengawas pengelolaan dana tersebut.

"Ini adalah tempat yang dapat Anda kunjungi, lalu minum secangkir teh atau kopi dengan teman-teman Anda. Jika para sopir taksi tidak menyokong tempat-tempat itu, mereka akan hilang selamanya."

Gary, yang acap berkunjung ke tempat ini untuk minum secangkir kopi dan mengeluh karena "semua orang berada di perahu yang sama."

Dia lantas menambahkan: "Saya sudah mengemudikan taksi bertahun-tahun dan saya baru mulai memanfaatkan tempat ini. Saya memutuskan, untuk memanfaatkannya, atau kita akan kehilangan mereka."

Hak atas foto Chris J Ratcliff/Getty Images
Image caption Tempat peristirahatan para sopir taksi tidak lebih besar dari seekor kuda dan keretanya, dan hanya pengemudi yang diizinkan masuk ke dalamnya.

Acapkali menyajikan sarapan (sosis, telur, dan bacon), roti tumpuk, dan minuman panas, dengan tambahan pie atau lasagna yang dimasak para sopir taksi di rumahnya dan lantas dipanaskan di dapur mungil itu.

Mereka yang bukan sopir taksi tidak diizinkan duduk di dalam tetapi tetap dapat memesan melalui jendela - kecuali karena ajakan yang sangat jarang terjadi.

"Kami bisa mendapatkan lebih banyak uang dengan cara itu," kata Jude Holmes, yang mengelola dapur di Russell Square. "Saya dapat melayani ratusan orang sementara seorang sopir duduk dengan secangkir teh."

Saat kami tengah duduk di sana, gerimis yang tak kunjung berhenti membawa lebih banyak sopir taksi merapat ke tempat itu, dan mereka saling bertegur sapa seperti anggota keluarga.

"Kelompok kecil saya datang ke sini setiap hari," kata Holmes. "Saya sedikit khawatir kalau tidak melihat mereka. Ini seperti rumah kedua mereka. Kadang-kadang mereka bahkan membawa teh mereka sendiri."

Dia menambahkan sopir-sopir yang baru seringkali terlalu merasa terintimidasi untuk masuk ke dalam, dan lebih suka memesan roti tumpuk bacon dari jendela.

Hak atas foto Ella Buchan
Image caption Bermain kartu dan berjudi terlarang di dalam tempat peristirahatan sopir taksi London.

Ketel mendidih, sendok teh berdenting bersinggungan dengan cangkir keramik, bacon memercik dan mendesis di wajan saat percakapan beralih ke topik yang ditakuti para sopir taksi. Misalnya tertipu, seperti seorang pelanggan kabur dan tidak membayar.

Berjuang habis-habisan untuk menemukan toilet umum ketika sedang melaju bersama pelanggan adalah keluhan umum lainnya (maklumlah, tempat peristirahatan itu tidak memiliki toilet).

Kebanyakan sopir memiliki keahlian lain, seperti musisi, seniman, produser TV, bahkan aktor. Tetapi mereka mengatakan kepada saya, sekali taksi - tetap taksi. "Jika kamu berhenti, kamu mati," ungkap Gary serius.

Di ruangan itu, aneka anekdot mengalir lancar, melebihi kecepatan saat teh dituangkan. Ada kisah 'Fat Ray', saking besarnya sampai dia harus mengecilkan dirinya di belakang kemudi setiap pagi, dan tidak bergerak sampai dia pulang.

"Dia tidak bisa datang ke sini," kata Henry, melambaikan tangannya di sekitar tempat itu. "Dia tidak pernah bisa lewat pintu!"

Hak atas foto Chris J Ratcliff/Getty Images
Image caption Banyak tempat peristirahatan supir menyediakan sarapan, roti-roti lapis dan minuman panas.

Evans mengajak saya berkeliling dengan taksinya, mampir ke tempat istirahat Temple Place di Victoria Embankment, yang sedang diperbaiki akibat diseruduk truk.

Status Grade II yang disematkan pada keberadaan pondok kuno bersejarah itu menyebabkan proses restorasinya rumit dan mahal. Biaya renovasi sekitar £30,000, menurut perkiraan Evans, dan bahan-bahan pengganti harus sesuai dengan aslinya.

Bahkan warna cat - Dulux Buckingham Paradise 1 Green - dibuat agar dapat sesuai cat asli ketika awal mula pondok itu dibangun.

Keberadaan pondok mungil itu juga terpukul peraturan pembatasan kebisingan di kawasan pemukiman, sehingga tidak ada yang beroperasi pada malam hari - kebanyakan buka sekitar pukul tujuh pagi dan tutup pada pukul satu siang.

Sebuah pondok di Chelsea Embankment sudah ditutup selama lima tahun karena pembatasan tempat parkir, dan dana tersebut sedang dipertimbangkan untuk disumbangkan ke London Transport Museum.

Yang paling penting, kata Evans, pondok-pondok kecil itu tidak boleh hilang - sejarah mereka juga tidak boleh dilupakan. "Terlalu mudah menyingkirkan hal-hal seperti itu. Tempat peristirahatan itu unik. Mereka berasal dari suatu waktu."

Hak atas foto Ella Buchan
Image caption Jude Holmes juga menjual makanan kecil untuk umum melalui jendela di tempat peristirahatan di Russell Square.

Memang benar ada banyak sejarah di balik dinding-dindingnya. Evans memberitahu saya bahwa tempat istirahat di Gloucester Road dijuluki 'The Kremlin' karena sering dikunjungi oleh sopir-sopir sayap kiri.

Pondok Piccadilly yang sudah dibuldoser adalah tempat pesta-pora pada 1920 dengan Champagne yang berlimpah dan dijuluki "Junior Turf Club" - dari nama klub khusus laki-laki yang berada di dekatnya - oleh para penikmat aristokrat (bukan supir taksi) yang menyelundupkan minuman keras.

Dan menurut legenda lokal, seorang laki-laki yang mengaku sebagai Jack the Ripper pernah mengunjungi pondok peristirahatan Westbourne Grove.

Tanda-tanda fisik dari sejarah mereka tetap terpelihara. Pasak-pasak yang menempel di dasar pondok-pondok adalah tempat para sopir menambatkan kuda-kudanya sebelum masuk ke dalam. Hewan-hewan yang minum dari mangkuk marmer, kini sudah lenyap tak berbekas.

Masih ada tempat sirkulasi udara di bagian ataspnya dengan ornamen berukir - mengingatkan pada tungku pembakaran kayu yang pernah digunakan untuk memanaskan dan memasak.

Hak atas foto Ella Buchan
Image caption Di tempat istirahat Warwick Avenue, rak-rak dipenuhi oleh mug-mug taksi yang bertuliskan nama-nama tim sepak bola favorit mereka.

Kami melanjutkan ke pondok mungil Warwick Avenue, yang kerap dikunjungi para musisi dan aktor yang tinggal di dekatnya. Paul Weller, penyanyi rock Inggris, mantan penyanyi utama The Jam dan The Style Council, sering datang seraya mengudap roti tumpuk sosis dan telur, ungkap Tracy Tucker, pengelola salah-satu pondok kepada saya.

Tucker, yang suaminya seorang sopir taksi, telah menjadi pengelola tempat istirahat itu selama 14 tahun, telah pindah ke lokasi itu dari Thurloe Place pada tahun 2016. Atapnya baru-baru ini diperbaiki yang menyebot dana sekitar £13,000, tetapi dibiayai oleh lembaga yang bertanggungjawab untuk pelestariannya.

Di dalamnya, ada dapur kecil lengkap dengan kompor yang mendesis karena sosis dan bacon, lemari es yang berisi roti tumpuk, dan rak-rak yang penuh dengan mug-mug taksi bertuliskan nama-nama tim sepak bola kesayangan mereka. Ketika salah-satu tim sepak bola kalah dalam sebuah laga, Tucker mengikatkan pita hitam pada pegangan mug sebagai tanda simpati

Hak atas foto Ella Buchan
Image caption Tracy Tucker, yang mengelola tempat istirahat Warwick Avenue, memandang pelanggan tetapnya sebagai keluarga.

Bagi para pelanggannya, Tucker adalah keluarga.

"Mereka memandang saya sebagai kakak perempuan," katanya. "Jika saya sakit, saya harus mengirimkan pesan teks ke 20 orang untuk mengatakan tempat ini tutup. Beberapa dari mereka tidak akan tahu apa yang harus dilakukan dengan diri mereka sendiri."

Dia punya aturannya sendiri: tidak menatap telepon pintar dan tidak mengeluhkan kehadiran Uber. "Kami sangat mengetahui hal itu. Pasar taksi sedang sekarat, dan saya telah memikirkan apa yang dapat saya kerjakan jika harus mempunyai pekerjaan lain. Saya tidak berpikir saya dapat bekerja di tempat lain.

"Kehidupan kecil di tempat peristirahatan ini," kata Evans sambil tertawa kecil ketika kami pergi. "Ini bukan sekedar bangunan. Ini juga soal karakter. Jika kita kehilangan ini, kita juga kehilangan sejarah tentang taksi dan sebagian sejarah London. Itu benar-benar memalukan."

Anda bisa membaca artikel aslinya dalam The secret green shelters that feed Londons cabbies atau artikel lain dalam BBC Travel.

Berita terkait