Bagaimana unta Timur Tengah membangun pedalaman Australia

Unta liar Hak atas foto Posnov/Getty Images
Image caption Lebih dari satu juta unta liar berkeliaran di kawasan pedalaman Australia.

Terdapat ratusan ribu unta berkeliaran di pedalaman Australia, tapi bagaimana hewan yang identik dengan Timur Tengah ini bisa ada di sana dalam jumlah besar?

Terus terang, saya tidak menyangka akan melihat unta.

Waktu berjalan perlahan ketika Anda mengemudi di Stuart Highway, Australia. Dinamai sebagai penghormatan kepada penjelajah Abad 19 John McDouall Stuart, yang merupakan orang Eropa pertama yang dengan sukses melintasi benua ini bolak-balik dari laut ke laut, jalan raya tersebut mengikuti rute perjalanan maratonnya.

Jalan ini merentang sepanjangnya 2.834 kilometer, bentangan aspal yang nyaris tak ada ujung dari Port Augusta di selatan ke Darwin di utara, melalui kawasan yang sebagian besar adalah alam liar. Warga setempat menyebutnya, dengan sedikit meremehkan, 'The Track' (lintasan).

Saya berharap sesekali bertemu penghuni kehidupan liar dan memang kekosongan di dataran luas beberapa kali disela kehadiran satwa tahan-iklim panas yang menjadi ciri khas Australia.

Ada kangguru yang menatap kosong ke kejauhan dan elang berekor tajam hinggap di atas bangkai hewan. Pada suatu kesempatan, seekor dingo – sejenis anjing liar berwarna coklat pasir – muncul di semak belukar, bertubuh kurus namun kekar di dalam kondisi panas.

Saya menginap di kota-kota kecil di pedalaman sepanjang rute yang saya tempuh. Kemudian, pada hari ketiga perjalanan, saya melihat seekor unta.

Saya mencari tahu di internet sore itu demi memastikan bahwa saya tidak berhalusinasi. Unta, seperti Anda tahu, memiliki kisah yang serupa tentang Australia dengan beruang kutub. Setidaknya dahulu memang begitu.

Ternyata saya sangat kurang wawasan. Kawasan pedalaman Australia pernah dan saat ini merupakan habitat bagi sejumlah besar unta liar.

Hak atas foto Medford Taylor/Getty Images
Image caption Kawasan pedalaman Australia meliputi lebih dari 6 juta kilometer persegi, hampir dua kali luas negara India.

Situs web yang didukung pemerintah Australia, Feral Scan, yang memantau spesies invasif, memperkirakan jumlah unta di negara itu berkisar antara 1 hingga 1,2 juta. Angka ini dilaporkan bertambah dua kali lipat setiap delapan atau sembilan tahun. Jadi yang aneh sebenarnya bahwa saya tidak melihat unta terus-menerus di sepanjang jalan.

Jadi kenapa hewan yang bukan asli Australia itu bisa sampai ke sini dalam jumlah besar?

Jawabannya dimulai dari masa tokoh-tokoh perintis seperti Stuart. Pertama-tama, ada satu hal penting yang harus dipahami tentang pedalaman Australia. Wilayah ini besar. Sangat besar. Pernyataan ini memang sudah jelas, tapi merupakan esensi mutlak karakteristik khas pedalaman.

Pedalaman meliputi lebih dari 6 juta kilometer persegi, atau luas wilayah yang hampir dua kali lipat negara India. Di luar sini, kaki langit hanyalah awal bagi cakrawala berikutnya.

Ketika beberapa bagian pesisir Australia diduduki Inggris pada akhir tahun 1700-an, cara pikir penjajah pada waktu itu berarti eksplorasi dan pemahaman yang utuh akan daratan yang luas ini dipandang sebagai keharusan.

Para penduduk asli telah hidup di sini selama puluhan ribu tahun – beradaptasi, bertahan hidup, mempelajari alam – tapi bagi para pendatang dari Eropa, wilayah pedalaman adalah kawasan misterius yang hangus oleh matahari.

Ekspedisi darat mulai dilakukan secara rutin, seringkali dalam kondisi yang berat. Kebingungan terkadang merajalela – peta dari awal tahun 1800-an dengan keliru menunjukkan lautan besar di tengah-tengah daratan negeri – tapi, dari satu penjelajah ke penjelajah lain, peta benua ini disatukan sepotong demi sepotong.

Tambang emas ditemukan, permukiman di pendalaman didirikan, dan rute transportasi yang penting pun dibangun. Namun untuk menempuh jarak yang sangat jauh dibutuhkan kawanan kuda beban atau lembu jantan, yang umumnya kurang bisa bertahan dalam perjalanan panjang yang menyebabkan haus akut. Alternatifnya pun jelas.

Di antara 1870 dan 1920, sebanyak 20.000 unta diimpor ke Australia dari Semenanjung Arab, India, dan Afganistan, bersama sedikitnya 2.000 pawang atau penunggang unta dari wilayah yang sama.

Kebanyakan unta ini adalah hewan yang dijadikan kendaraan: tapak kaki mereka seberat setengah ton dan memiliki satu punuk.

Mereka sangat cocok dengan iklim pedalaman Australia: mampu bertahan selama berminggu-minggu tanpa air, dan punya stamina serta kekuatan untuk membawa muatan barang dan manusia melintasi lanskap yang terbuka dan sangat panas.

Hak atas foto De Agostini Picture Library/Getty Images
Image caption Pada akhir Abad 19 dan awal Abad 20, unta membawa barang-barang dan manusia melintasi pedalaman Australia.

Dampak dari kehadiran unta-unta ini – dan sama pentingnya, para pawang mereka – selama berpuluh-puluh tahun kemudian cukup besar. Dalam bukunya Australia's Muslim Cameleers: Pioneers of the Indland, 18602-1930s, Anna Kenny mengatakan bahwa para penunggang unta tidak cukup mendapatkan pengakuan dari para penduduk meskipun mereka memberikan kontribusi budaya dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Australia.

"Para cameleer membuka jalur suplai, transportasi, dan komunikasi antara permukiman yang saling terisolasi, memungkinkan perkembangan ekonomi di kawasan Australia yang gersang. Mereka juga memperkaya lanskap budaya."

Unta beban menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan di pedalaman. Mereka membawa wol dan air, tiang telegraf dan rel kereta api, teh dan tembakau. Suku Aborigin mulai menyertakan rambut unta ke artefak mereka.

Bahkan sampai hari ini, kereta mewah yang melintasi jalur vertikal antara Adelaide dan Darwin dinamai The Ghan, untuk menghormati para cameleer, yang umumnya dijuluki sebagai 'Afghans' (orang-orang Afgan).

Namun pada tahun 1930-an, industri unta bangkrut. Kemunculan mesin pembakaran dalam dan transportasi bermotor, berarti unta tak lagi dibutuhkan. Mamalia berkaki empat bukan tandingan kendaraan pengangkut barang, sekuat apapun ia bertahan di bawah suhu 40 derajat celcius. Ribuan unta pun dilepas ke alam liar, tempat mereka, secara alami, berkembang biak dengan pesat. Sembilan dekade kemudian, jumlahnya jadi melimpah.

Hak atas foto The Sydney Morning Herald/Getty Images
Image caption Populasi unta liar telah menjadi gangguan, membuat kerusakan di desa-desa pedalaman dan merumput di lahan-lahan tempat hewan liar asli Australia mencari makan.

Tapi semua belum baik-baik saja. Australia pernah mengalami masalah unta yang serius selama beberapa waktu. Hewan liar ini mungkin terkesan lembut dan santai, tapi tidak bagi desa-desa pedalaman yang pagarnya kerap mereka hancurkan, pipa airnya mereka patahkan, dan sumber airnya mereka minum sampai kering. Unta-unta tersebut juga sangat berdampak pada kehidupan liar asli, mengupas lahan tempat mereka biasa merumput sampai gundul.

Mengutip penjelajah zaman modern Simon Reeve, "unta sangat brilian dalam bertahan hidup dalam kondisi di pedalaman dengan caranya yang khas. Memperkenalkan mereka ke situasi pedalaman adalah solusi jangka pendek yang jenius, tapi bencana jangka panjang."

Berbagai cara drastis telah dilakukan untuk membatasi populasi unta. Pada akhir 2013 dilaporkan bahwa Proyek Manajemen Unta Liar Australia yang didanai pemerintah telah memangkas sekitar 160.000 unta sejak 2009, biasanya dengan cara ditembak.

Tidak mengherankan, pendekatan blak-blakan ini mendapat kritik keras dari beberapa orang, dan telah dilakukan upaya untuk mengubah kebanyakan unta liar di negara itu menjadi hal yang positif.

Salah satu contohnya adalah Summer Land Camels, yang saat ini memelihara lebih dari 550 unta di peternakan organik seluas 344 hektare di Queensland.

Mereka mempromosikan manfaat susu unta dan produk dari susu unta, yang memiliki kandungan tinggi asam lemak tak jenuh dan vitamin C. Peternakan ini menjual sejumlah produk susu, mulai dari keju fromage blanc dan feta Persia sampai gelato karamel—semuanya dibuat menggunakan susu unta.

Sementara itu di Queensland, perusahaan susu QCamel mengumumkan mereka akan meluncurkan produk susu unta rasa coklat pada akhir tahun ini.

Hak atas foto Lisa Maree Williams/Getty Images
Image caption Peternakan QCamel memanfaatkan melimpahnya populasi unta. Mereka kini giat mempromosikan manfaat susu unta bagi manusia.

Masa depan unta-unta liar di negeri ini belum pasti. Saya masih takjub akan betapa banyak jumlah mereka di luar sana. Sejak perjalanan pertama melintasi Stuart Highway, saya telah melakukan dua perjalanan trans-kontinental melintasi Australia, tapi saya belum menemukan lagi unta luar. Yang berupa siluet di kejauhan pun tidak.

Tapi begitulah Australia—tempat di mana peta membentang tiada ujung, horison mengabur di bawah panas, dan di mana statistik terwujud dalam skala yang tak terduga.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, The strange story of Australia's wild camel, di BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait