Bagaimana sukun jadi 'pohon kehidupan' yang memicu pemberontakan

buah sukun Hak atas foto Getty Images

Di pulau-pulau Polinesia, sukun adalah bagian penting untuk makanan dan kebudayaan mereka — sangat penting sampai ceritanya diabadikan dalam sejarah.

Warga Polinesia Prancis, pulau kecil di tengah Samudera Pasifik, punya legenda tentang wabah kelaparan yang terjadi di Pulau Ra'iatea. Alkisah, sebuah keluarga yang terdiri atas enam orang sudah putus asa mencari makanan sampai mereka tinggal di dalam gua dan hanya makan pakis yang tumbuh di lembah sekitar.

Sang kepala keluarga tak sanggup lagi menyaksikan orang-orang tercintanya menderita, maka dia mengatakan kepada istrinya bahwa dia akan mengubur diri di belakang gua.

Di sana, dia akan tumbuh menjadi pohon yang bisa memberi mereka makan.

Ketika istrinya terbangun pada pagi hari dan tak dapat menemukan suaminya, dia pun mengerti apa yang telah terjadi.

Di dekat kuburan suaminya muncul pohon uru yang tumbuh amat cepat, dengan buah sukun bergelantungan di cabang-cabangnya. Saat ini, tempat itu disebut Mahina, tapi orang-orang tua masih menyebutnya Tua-uru, yang artinya "lembah buah sukun".

Dalam kunjungan saya ke Polinesia Prancis, saya tak butuh dongeng untuk menyimpulkan bahwa sukun, atau uru, demikian orang lokal Polinesia menyebutnya, adalah bagian penting dari budaya dan santapan warga pulau.

Kemanapun saya pergi, saya melihat pohon menjulang tinggi dengan daun berlekuk, dan buah beratnya bergelantungan, masing-masing sebesar bola softball, atau lebih besar.

Pepohonan sukun menghiasi pinggiran jalan, dan halaman rumah-rumah yang sederhana. (Hal biasa, kata warga Polinesia bernama Tea pada saya, "sebab itu berarti Anda dapat memberi makan keluarga bertahun-tahun".)

Di lapak-lapak pasar, sukun bulat dan lonjong (ada lusinan jenis di Polinesia Prancis saja), diletakkan berjejer dengan kelapa, sirsak, markisa, dengan kulit luarnya yang dipenuhi aneka bentuk heksagonal mono. Beberapa telah dibelah, menunjukkan dagingnya yang putih berserat.

Mereka mirip dengan nangka muda, meskipun lebih kecil, dan ternyata mereka berasal dari famili yang sama, bersama dengan buah ara juga.

Di lebih dari 100 pulau yang membentuk Polinesia Prancis, sukun adalah makanan pokok. Di beberapa tempat, sukun disebut juga buah-roti, karena ketika sudah cukup matang untuk dimakan, buah yang penuh pati ini mirip roti yang baru saja dipanggang. Semakin matang, dia akan semakin manis, dan bisa disajikan dalam beberapa cara, termasuk ditumbuk, direbus, dipanggang dan digoreng, bahkan bisa juga dimakan mentah.

Orang lokal menyebut sukun sebagai "Pohon Kehidupan" karena dia dapat menyediakan begitu banyak untuk banyak orang: buah dan daun mudanya bisa dimakan, batangnya yang ringan bisa digunakan untuk membangun rumah dan kano tradisional, dan kulit kayunya digunakan untuk membuat pakaian.

Uru bukan rahasia. Warga lokal New Guinea, Polinesia, telah membawa dan menanam sukun dalam eksplorasi mereka sepanjang Pasifik Selatan selama ribuan tahun. Sekali penjelajah Inggris tahu tentang tanaman yang banyak menghasilkan dan buahnya yang bergizi, tak butuh waktu lama sampai sukun beredar di seluruh dunia.

Kini, sukun ada di daerah tropis di sekitar 90 negara di dunia, termasuk di Indonesia, Venezuela (disebut pan de ano) dan India (kadachakka).

Hak atas foto Getty Images/Ian Trower
Image caption Kapten James Cook berangkat dengan kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris HMS Endeavour dalam misi mencari sukun.

Pada 1768, Kapten James Cook berangkat dengan kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris HMS Endeavour, dengan ahli botani Inggris Sir Joseph Bank turut serta, pelayaran penjelajahan mereka termasuk berhenti tiga bulan di Tahiti. Di sini, kedua pria itu dengan cepat tertarik dengan potensi sukun untuk memberi makan budak di Hindia Barat Inggris. Apalagi, pohon sukun bisa tumbuh dengan cepat, tak butuh perawatan khusus, dan menghasilkan buah dengan karbohidrat tinggi.

Ketika kembali ke Inggris, Banks (yang kemudian menjadi presiden Royal Society, institusi ilmiah nasional tertua di dunia), mengabarkan pada King George III tentang temuan mereka. Ahli botani itu bahkan menawarkan hadiah untuk siapapun yang bisa membawa 1.000 buah sukun dari Tahiti ke Hindia Barat.

Saya pun melakukan ekspedisi buah sukun saya sendiri. Di Taman Tropis, lahan pertanian milik keluarga yang dipenuhi bunga dan pohon buah di Pulau Mo'orea, saya menyantap sukun kukus yang diredam dalam tapioka, atau disebut juga sebagai po'e (puding buah ala Tahiti). Sejak saat saya mencecap rasa yang kaya, dengan rasa agak mirip custard, saya tertarik. Ke mana pun saya pergi, saya akan mencari menu yang terbuat dari sukun. seperti sukun goreng, salad, dan es krim.

Saya membaca tentang sukun yang dimasak di atas api, kemudian direndam di fermentasi santan, dan dimakan hangat dengan punu pua'toro, atau kornet kalengan. Sukun juga bisa dibuat jadi tepung untuk membuat roti bebas gluten.

Beberapa ahli tanaman bahkan menyataan bahwa sukun adalah buah super untuk masa depan, yang punya potensi jadi solusi masalah kelaparan dunia. Saya bertanya pada diri saya sendiri, bagaimana buah sepenting ini, dan punya sejarah yang menarik, bisa tak saya ketahui sekian lama?

Hak atas foto Getty Images
Image caption "Pemberontakan Pemburu Hadiah" itu hingga kini menjadi legenda

Hampir dua dekade setelah ekspedisi awal Kapten Cook, Raja George III menunjuk Letnan William Bligh untuk memimpin ekspedisi sukun ke Tahiti. Pada 28 November 1787, Bligh mengangkat sauh dengan krunya di kapal HMS Bounty. Perjalanan mereka sulit sejak awal. Angin kencang dan badai secara signifikan memperlambat perjalanan mereka, dan setelah tiba di Tahiti, Bligh dan krunya harus menunggu hingga lima bulan kemudian sebelum kapalnya siap mengangkut.

Ketika mereka bersiap berlayar dari perairan Karibia, kru Bligh sudah terbiasa dengan kehidupan pulau — dan pada perempuan Tahiti. Banyak dari mereka yang tak ingin pergi. Jadi, pada tanggal 29 April 1789, hanya satu bulan dari perjalanan mereka melintasi Pasifik Selatan menuju Hindia Barat, asisten Letnan Fletcher Christian dan 18 anggota kru lain yang tak puas, memaksa Bligh dan 18 pendukungnya, masuk ke kapal sepanjang 7 meter, membuang mereka ke laut lepas, melempar semua tanaman sukun ke laut, dan berlayar.

"Pemberontakan Para Pemburu Hadiah" itu hingga kini menjadi legenda, dan banyak sejarawan percaya bahwa itu tejadi karena mereka yang mendukung Christian berpikir bahwa dia bisa membantu mereka kembali ke Tahiti — sesuatu yang pada akhirnya memang terjadi, meskipun tak seperti rencana semula. Bligh dan krunya secara mengejutkan berhasil selamat, dengan hanya menggunakan insting dan ingatan mereka sepanjang 3.618 mil laut, atau 6,701 kilometer, selama 48 hari, hingga tiba di Timor.

Bligh segera kembali ke Inggris, di mana dia dibebaskan dari segala tuduhan, dan dua tahun kemudian kembali berlayar ke Tahiti, kali ini berhasil menyelesaikan misinya. Faktanya, beberapa pohon yang dibawa oleh Bligh dikabarkan masih menghasilkan buah di Jamaika.

Pada hari terakhir, saya pergi ke Pasar Papeete, pasar yang masif dan sibuk, hanya beberapa blok dari teluk Tahiti. Ketika pejalan lain sibuk dengan toko yang tak tehitung banyaknya yang menjual pareos, sejenis sarung, botol-botol monoi (campuran minyak kelapa dan bunga), minyak valilla, dan hiasan rambut bunga gardenia yang harum, saya naik ke atas ke Cafe Maeva untuk mencoba satu jenis olahan sukun yang sengaja saya hindari sejauh ini: frites de uru, atau keripik tebal yang digoreng kering.

Tiap gigitan di lapisan luar yang renyah untuk merasakan lapisan dalamnya yang hangat dan lembut, bagai menegaskan bahwa buah ini memang layak punya sejarah yang legendaris.


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Travel dengan judul The island fruit that caused a mutiny

Berita terkait