Perempuan-perempuan Myanmar dengan tradisi tato wajah

Hak atas foto Dave Stamboulis

Legenda Chin menceritakan bahwa ketika seorang raja Burma pergi ke pegunungan ini, dia begitu terkesan oleh kecantikan seorang perempuan hingga dia menculiknya untuk dijadikan pengantin.

Karena itu, orang-orang Chin mulai menato putri mereka untuk memastikan mereka tidak akan dibawa pergi.

Dongeng Chin lainnya mengatakan bahwa tato dilakukan untuk kecantikan, dan mungkin lebih masuk akal, untuk membedakan suku-suku yang berbeda jika salah satunya diculik oleh yang lain.

Penjelasan lain mungkin berkaitan dengan agama. Sejak zaman penjajahan Inggris, banyak minoritas Chin telah beralih ke agama Kristen atau menerima agama itu namun tetap menjalankan keyakinan animisme.

Beberapa perempuan Chin ingat diajar oleh pendeta lokal mereka bahwa hanya mereka yang memiliki tato akan dianggap cocok untuk pergi ke surga.

Orang-orang Chin mulai menato putri mereka untuk memastikan mereka tidak akan dibawa pergi Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Orang-orang Chin mulai menato putri mereka untuk memastikan mereka tidak akan dibawa pergi

Pemerintah sosialis Birma melarang praktik tato wajah ini sekitar tahun 1960an sebagai bagian dari program untuk menghapuskan tradisi lama dan membawa modernisasi ke Birma.

Di sisi lain, misionari yang ditugaskan di Chin juga menyebut tato wajah sebagai praktik barbar.

Perempuan-perempuan ini menjadi generasi terakhir yang mempraktekkan tato wajah, jika mereka meninggal, satu bab dari sejarah Chin bakal beralih ke buku teks.

Perempuan dari suku M'uun Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Perempuan dari suku M'uun

Enam suku di Chin memiliki desain tato yang berbeda-beda.

Perempuan dari suku M'uun, adalah yang paling mudah dikenali, dengan tanda huruf P atau D besar tertera di wajah mereka dan simbol huruf Y di jidat mereka.

Perempuan dari suku M'kaan Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Perempuan dari suku M'kaan

Perempuan dari suku M'kaan, memiliki pola garis tato di jidat dan pipi mereka. Suku Yin Du dan Dai memiliki tato garis vertikal panjang di seluruh wajah, termasuk di kelopak mata; mirip dengan tato wajah suku Nga Yah dengan titik dan garisnya.

Perempuan dari suku Uppriu Hak atas foto AFP
Image caption Perempuan dari suku Uppriu

Suku Uppriu, salah satu yang paling sulit untuk dikenali, mentato seluruh wajahnya dengan titik-titik, sehingga wajah mereka tampak lebih hitam karena dipenuhi oleh bintik-bintik tato.

Dahan, daun dan duri yang digunakan perempuan Myanmar untuk menato wajah mereka Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Dahan, daun dan duri yang digunakan perempuan Myanmar untuk menato wajah mereka

Tato dibuat menggunakan daun, pucuk rumput, dan jelaga. Daun memberi warna, jelaga bertindak sebagai desinfektan dan tunas rumput ditambahkan di ujungnya, berfungsi sebagai perban dan penutup penyembuhan alami. Ramuan ini diaplikasikan pada wajah menggunakan duri tajam, yang menusuk kulit untuk menciptakan pola.

Daw Ngai Pai dari suku M'uun Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Daw Ngai Pai dari suku M'uun

Daw Ngai Pai, 72, dari suku M'uun menuturkan dia ditato ketika berusia 12 tahun.

"Itu sangat menyakitkan, wajah saya sakit selama lima hari. Saya tidak berpikir mengapa saya melakukannya, itu hanya kebiasaan kami dan apa yang dilakukan semua gadis seusia saya," akunya.

"Anak perempuan saya tidak memiliki tato, dan saya pikir orang-orang muda tidak menganggapnya indah seperti yang kami lakukan," imbuhnya kemudian.

Yaw Shen, seorang perempuan M'kaan berusia 86 tahun dan tetangganya, Hung Shen yang berusia 88 tahun. Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Yaw Shen, seorang perempuan M'kaan berusia 86 tahun dan tetangganya, Hung Shen yang berusia 88 tahun.

Yaw Shen, seorang perempuan M'kaan berusia 86 tahun dan tetangganya, Hung Shen yang berusia 88 tahun, sangat terkenal di Mindat.

Mereka menjadi bintang di destinasi wisata yang muncul karena akses ke Negara Bagian Chin meningkat dan pengunjung mulai berdatangan.

Yaw Shen, yang mendapatkan tato pada usia 15 tahun, menghibur pengunjung dengan memainkan flute hidung, seni yang juga mulai memudar. Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Yaw Shen, yang mendapatkan tato pada usia 15 tahun, menghibur pengunjung dengan memainkan flute hidung, seni yang juga mulai memudar.

Yaw Shen, yang ditato pada usia 15 tahun, mengaku wajahnya bengkak selama satu minggu setelah tato ditorehkan ke wajahnya.

"Tetapi saya tidak keberatan. Ibu saya mengatakan kepada saya bahwa saya akan menemukan suami yang baik dengan tato semacam itu."

Saat bepergian dari Mindat ke Kampetlet, kami bertemu Pam Hung yang berusia 28 tahun, yang menurut pemandu saya berasal dari suku Uppriu. Dia mengenakan pakaian Barat dan lipstik cerah, namun seluruh wajahnya ditutupi tato,

Pam Hung yang berasal dari suku Uppriu Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Pam Hung yang berasal dari suku Uppriu

Dia adalah salah satu dari sedikit perempuan Chin muda yang mengikuti praktek kuno ini: kehilangan orang tuanya pada usia muda, sesepuh setempat menyarankan dia ditato untuk perlindungan spiritual. Meskipun ada larangan pemerintah, Negara Bagian Chin jauh dari ibu kota dan banyak desa pegunungan menerima sedikit interaksi di luar.

Pam Hung mendapatkan tato setelah orang tuanya meninggal Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Pam Hung mendapatkan tato setelah orang tuanya meninggal

"Saya mendapatkan tato saya setelah orang tua saya meninggal. Sejak saya muda dan saya sendiri, saya membutuhkan perlindungan, dan tato memiliki kekuatan spiritual untuk membuat Anda tetap aman. Saya sangat takut ketika saya melakukannya, tetapi teman-teman saya menghormati saya setelah itu karena begitu kuat."

Tetapi dengan meningkatnya akses ke dunia luar, kebanyakan orang-orang Chin muda tidak melihat tato wajah sebagai mode atau indah. Kenyataannya, banyak dari mereka malu dengan tanda-tanda nenek mereka yang tampaknya sudah ketinggalan zaman.

Banyak dari mereka malu dengan tato nenek mereka yang tampaknya sudah ketinggalan zaman Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Banyak dari mereka malu dengan tato nenek mereka yang tampaknya sudah ketinggalan zaman

Tetapi ketika para fotografer, jurnalis, dan sejarawan pergi ke Negara Bagian Chin untuk mendokumentasikan tradisi yang menghilang, beberapa keluarga mulai bangga dengan nenek-nenek mereka yang dihias, rumah mereka dengan bangga menampilkan potret wanita bertato yang berpose penuh.

Di Kampetlet, Daw Nay Ngui, seorang nenek dari suku Dai, berceloteh bahwa dia tidak tahu kapan dia dilahirkan (meskipun putrinya mengatakan bahwa dia lebih dari 90 tahun). Dia mengatakan dia tidak ingat kapan dia mendapatkan tato, dan berpikir tato sudah ada sejak dia lahir.

Daw Nay Ngui, seorang nenek dari suku Dai yang berusia lebih dari 90 tahun Hak atas foto Dave Stamboulis
Image caption Daw Nay Ngui, seorang nenek dari suku Dai yang berusia lebih dari 90 tahun

"Semua gadis di sini sekarang tahu tentang dunia luar. Mereka melihat komputer, mereka membaca buku dan mereka menyukai mode dari Yangon, bukan gaya lama kami, jadi mereka tidak menganggap tato itu indah. Tetapi semua teman saya memilikinya, itu membuat kami dekat, kami semua berbagi sesuatu. Saya kira kami adalah yang terakhir yang tersisa."

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini di Myanmar's tattooed Chin women di BBC Travel

Berita terkait