Saluran air bawah tanah Qanat, keajaiban teknologi peninggalan Iran kuno

Hak atas foto Eric Lafforgue/Corbis via Getty I

Diciptakan sekitar 3.000 tahun silam, keberadaan sistem saluran air bawah tanah (qanat) merupakan solusi cerdik dan berkelanjutan untuk mengatasi kelangkaan air sehingga memudahkan untuk diakses.

Benda apakah itu? Saya bertanya pada diri sendiri sesaat sebelum pesawat yang saya tumpangi mendarat di kota Isfahan, Iran, di sebuah musim panas nan terik.

Dari jendela pesawat, saya dapat melihat banyak gundukan tanah berukuran besar dengan lubang di tengahnya serta garis-garis menyilang semacam simbol yang ditinggalkan makhluk luar angkasa.

Sebagai seorang bocah, saya hanya dapat menerka kira-kira apa yang tersimpan di bawah permukaan gundukan tanah yang serba misterius itu.

Selama berabad-abad, masyarakat Iran sangatlah memuja air, bahkan melebihi takzim mereka terhadap api - dikenal sebagai 'Anak Tuhan' dalam kepercayaan Zoroaster yang dipraktekkan oleh masyarakat kuno negara itu.

Qanat atau saluran air bawah tanah. Hak atas foto Kaveh Kazemi/Getty Images
Image caption Terowongan air bawah tanah di wilayah Kish, Iran, yang dibangun sekitar 5,000 lalu untuk memudahkan masyarakat kuno negara itu mengakses air.

Dihuni selama ribuan tahun oleh orang-orang yang diyakini sebagai bangsa Arya, wilayah Iran merupakan dataran luas, kaya dan beraneka ragam, seperti yang terlihat sekarang ini.

Namun demikian, dataran itu sangatlah kering.

Itulah sebabnya, masyarakat kuno Iran memiliki tugas maha berat, tidak hanya untuk bertahan hidup tetapi juga menaklukkan hampir semua wilayah yang mereka kenali.

Demi menemukan air dalam lanskap serba gersang dan mematikan, lalu menciptakan pemandangan serba hijau dan subur, sepertinya terlihat mustahil.

Qanat atau saluran air bawah tanah. Hak atas foto Wikipedia
Image caption Saluran air bawah tanah atau qanat di sekitar kota Isfahan, Iran.

Bagaimanapun, mereka akhirnya rmenemukan solusi efektif dan berkelanjutan terhadap masalah kelangkaan air di wilayahnya sehingga mudah diakses.

Inilah yang kelak disebut sebagai keajaiban teknik Iran kuno yang dikenal sebagai kariz - lebih dikenal dengan nama Arabnya, qanat - atau saluran air bawah tanah.

Diciptakan sekitar 3.000 tahun silam, sistem saluran air kuno ini yang sudah terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2016, qanat merupakan bukti kecerdikan orang-orang Iran kuno.

Jauh di bawah tanah

Secara sederhana, qanat adalah terowongan atau saluran bawah tanah yang membawa air segar dari sumbernya yaitu di wilayah pegunungan menuju kawasan lebih rendah untuk tujuan irigasi - solusi sempurna di wilayah yang dilimpahi pegunungan.

Qanat atau saluran air bawah tanah. Hak atas foto Eric Lafforgue/Getty Images
Image caption Anak tangga menuju saluran air bawah tanah di Meybod, Provinsi Yazd, Iran.

Salah-satu kemungkinan untuk mengetahui sumber air adalah dengan mengidentifikasi sebuah kawasan yang merupakan endapan sedimentasi berbentuk kipas di bawah puncak gunung atau disebut alluvial fan.

Dalam beberapa kasus tidak banyak diperlukan penggalian yang rumit, tetapi ada beberapa lubang sumur yang harus digali sekitar 300 meter untuk mencapai sumber air.

Proses penggalian sumur itulah yang membuat ada gundukan tanah dalam jumlah banyak di sekitar lubang.

Qanat atau saluran air bawah tanah. Hak atas foto Wikipedia

Keberadaan lubang-lubang sumur itu juga berfungsi sebagai ventilasi udara bagi para pekerja yang melakukan penggalian di bawah tanah.

Di sinilah dibutuhkan perhitungan yang tepat untuk memastikan secara persis saluran air itu harus dibuat, mulai sudut kemiringan hingga memastikan air itu dapat mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Qanat dan keberadaan Persepolis

Bagaimanapun, kerumitan di balik pembangunan saluran air kuno bawah tanah itu nantinya bermanfaat bagi orang-orang yang tinggal di atasnya.

Selama ribuan tahun, keberadaan komplek saluran air bawah tanah ini telah memudahkan rakyat Iran untuk mengakses dan menyalurkan air di beberapa daerah yang paling kering.

Salah satu contoh yang paling mengesankan adalah keberadan qanat di provinsi Fars di wilayah barat daya Iran.

Persepolis Hak atas foto Vivienne Sharp/Getty Images
Image caption Reruntuhan kota Persepolis, yang merupakan pusat kekuasaan penguasa Persia, Achaemenid, sekitar 550-330 Sebelum Masehi.

Di sinilah, kota Persepolis dibangun oleh kekaisaran Achaemenid (550-330 Sebelum Masehi) di dataran rendah yang terik dan berdebu serta dikelilingi oleh Pegunungan Zagros.

Lokasi ini sama sekali tidak layak untuk ditinggali karena sangat minim kehidupan hayati.

Namun demikian, karena keberadaan qanat, Persepolis tumbuh menjadi pusat kekaisaran yang kekuasaannya membentang dari Yunani hingga ke India.

Kota itu juga dianggap oleh banyak orang sebagai kota paling mewah di dunia, yang terkenal dengan bangunan istana mewah dan kebun-kebunnya yang serba menakjubkan.

Qanat atau saluran air bawah tanah. Hak atas foto Andrea Ricordi/Getty Images
Image caption Fungsi dan kegunaan saluran air bawah tanah itu akhirnya menyebar ke penjuru dunia, pertama melalui penaklukan kaum Persia kuno, dan belakangan melalui kaum Arab Muslim.

Fungsi dan kegunaan saluran air bawah tanah itu akhirnya menyebar ke penjuru dunia, pertama melalui penaklukan kaum Persia kuno, dan belakangan melalui kehadiran kaum Arab Muslim.

Kaum Arab Muslim kemudian mengadopsi sistem qanat dari Persia itu ke kawasan koloninya yang baru di kawasan Iberia yaitu Andalusia, Sisilia dan Afrika Utara.

Menurut William B Hemsley dalam bukunya The Qanat: An Ancient Water Supply, kaum Mesir kuno memberikan penghormatan "gelar Firaun" kepada kaisar Persia saat itu, Darius Agung, karena memperkenalkan sistem qanat tersebut.

Menurunkan suhu dalam ruangan

Tidak hanya untuk memenuhi konsumsi air minum, keberadaan qanat juga dapat menurunkan suhu dalam ruangan.

Qanat atau saluran air bawah tanah. Hak atas foto Wikipedia

Di kawasan Yazd di wilayah Iran bagian tengah, di mana musim panas dapat menyebabkan suhu panas yang menyengat, fungsi qanat menjadi tidak tergantikan.

Dengan mengkombinasikan menara penangkap angin alias badgir, udara panas itu masuk ke dalam sumur bawah tanah (qanat) yang akan mendinginkan udara tersebut, sebelum dilepaskan ke ruang bawah tanah dan dikeluarkan melalui bukaan di bagian atas badgir.

Di sebagian rumah di Yazd, misalnya, metode kuno pengkondisian udara ini masih banyak digunakan, dan merupakan aspek yang tak terpisahkan dari sarana teknologi dan ciri arsitekturnya.

Qanat atau saluran air bawah tanah. Hak atas foto Eric Lafforgue/Getty Images
Image caption Menara angin untuk mendinginkan udara panas masih banyak dijumpai di kota Nain, provinsi Isfahan, Iran.

Demikian pula, qanat memungkinkan untuk menyimpan bongkahan es sepanjang tahun di iklim gurun.

Dibangun dalam bentuk kerucut yang terbuat dari campuran beberapa bahan dasar tahan panas, serta memanfaatkan teknologi penangkap angin Iran, yakhchal (arti harfiah 'ice pit') adalah bentuk kuno alat pendingin ala Iran kuno yang berusia sekitar 400 Sebelum Masehi (SM).

Pada musim dingin, air yang bersumber dari qanat akan dibiarkan membeku di ruang bawah tanah yakhchal sebelum dipotong menjadi balok dan disimpan untuk digunakan sepanjang tahun.

yakhchal Hak atas foto Wikipedia
Image caption Dibangun dalam bentuk kerucut yang terbuat dari campuran beberapa bahan dasar tahan panas, serta memanfaatkan teknologi penangkap angin Iran, yakhchal adalah bentuk kuno alat pendingin ala Iran kuno.

Udara yang masuk melalui sumur qanat akan didinginkan oleh aliran air bawah tanah yang nantinya akan membantu mengurangi suhu.

Makna spiritual taman bunga

Tetapi keberadaan qanat tidak semata bermanfaat secara fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual.

Terlepas dari lingkungan mereka yang keras, melalui prestasi rekayasa teknologi Persia kuno, mereka mampu membangun taman Persia yang tersohor, sehingga masuk dalam daftar situs yang dilindungi oleh UNESCO.

Taman di Iran Hak atas foto Fatemeh Bahrami/Getty Images
Image caption Seorang turis mengabadikan sebuah sudut di taman Finr di Kashan, Iran.

Layaknya surga yang menyenangkan untuk dinikmati, dan sangat kontras dengan lingkungannya yang kering, oase ini sering dirancang dalam empat bagian sebagai chahar bagh (dalam pengertian sederhana 'empat kebun') - yang dipenuhi pepohonan, bunga, air mancur dan saluran air, semuanya diatur dalam harmoni dan simetris untuk mencerminkan nilai-nilai Zoroaster tentang alam dan unsur-unsurnya.

Tidak mengherankan bahwa deskripsi surga dalam agama-agama monoteis memiliki asal-usulnya dari taman Persia, yang oleh orang Persia disebut pari-daida (menunjukkan adanya taman yang bertembok), yang kemudian melahirkan kata 'paradise' (surga).

Menurut ahli Persia, Touraj Daryaee, semua taman Persia kuno "memiliki aneka tanaman, bunga serta air yang mengalir, sebuah komoditas paling berharga bagi penduduk dataran tinggi."

Bagh-e Shazdeh (Taman Pangeran) di dekat Kerman, di wilayah tengah Iran adalah contoh paling memukau.

Bagh-e Shazdeh (Taman Pangeran) di dekat Kerman, Iran. Hak atas foto Eric Lafforgue/Getty Images
Image caption Tidak mengherankan bahwa deskripsi surga dalam agama-agama monoteis memiliki asal-usulnya dari taman Persia, yang oleh orang Persia disebut pari-daida (menunjukkan adanya taman yang bertembok), yang kemudian melahirkan kata 'paradise' (surga).

Tapi aneka taman lainnya - yang, pada umumnya, terbuka untuk umum - dapat dilihat di seluruh negeri.

Ketika saya berada di kota masa kecil saya, Teheran, saat mendatangi beberapa taman seraya menghirup chai, teh tradisional Iran, menikmati panorama yang indah, dan tidak memperdulikan hiruk-pikuk di jalan protokol di sekelilingnya.

Di kawasan utara kota itu, saya bisa mengunjungi Bagh-e Khoshnevisan (Taman Kaligrafi), Bagh-e Muzeh ( Museum Taman) hingga Bagh-e Ferdows (Taman Surga).

Saya acapkali mengunjungi taman-taman itu untuk melarikan diri dari polusi musim panas yang menyesakkan, demi menikmati suara air mancur dan nyanyian burung di tengah-tengah pepohonan rimbun, semak-semak dan bunga-bunga, yang semuanya membangkitkan puisi Hafez dan Sa'di.

taman bunga Hak atas foto Fatemeh Bahrami/Getty Images
Image caption Masyarakat Iran mengunjungi Taman Chamran di kota Karaj, Iran, selama digelar Festival bunga Tulip.

Seperti halnya qanat, taman Persia tidak hanya terus berkembang di Iran modern - yang dikenal pula dalam penyebaran rancangan, tata letak serta tema karpet- tetapi juga di tempat lain di seluruh dunia.

Dampak filsafat chahar bagh dapat dilihat hingga ke Versailles di Prancis, taman-taman dan halaman istana Alhambra, serta komplek istana Marrakech, yang diimpor oleh orang-orang Arab dalam kasus dua yang terakhir.

Namun demikian, contoh terbaik di luar Iran adalah India dan Pakistan pada masa dinasti Mughal.

Ketika dinasti itu berkuasa, mereka menganggap Persia sebagai puncak kesempurnaan dalam membicarakan bahasa. Demikian pula saat mendefisikan perihal taman, arsitektur, atau lanskap, mereka pun berkiblat ke Persia.

komplek kunuran Humayun di India Hak atas foto Pankaj Nangia/Getty Images
Image caption Dan sekarang, keberadaan taman di komplek Taj Mahal dan komplek pemakaman Humayun (foto atas), misalnya, secara alami merupakan implementasi filsafat bagh chahar.

Dan sekarang, keberadaan taman di komplek Taj Mahal dan komplek pemakaman Humayun, misalnya, secara alami merupakan implementasi filsafat bagh chahar - cara pandang orang-orang Mughal yang ternyata masih bisa terlihat pengaruhnya hingga sekarang.

Tak ada bandingannya

Walaupun inovasi teknologi telah mengurangi ketergantungan masyarakat Iran terhadap qanat, keberadaan saluran air masih menonjol dan tersebar luas di seluruh negeri.

Dengan adanya puluhan ribu qanat di Iran, yang total jaraknya sama dengan jarak antara Bumi dan bulan, kecerdikan orang-orang Persia jelas sudah teruji oleh waktu.

Sesuai dengan penghormatan orang-orang Iran kuno/Zoroastrian terhadap alam dan unsur-unsurnya, keberadaan qanat - tentu saja - tak ada bandingannya sebagai metode berkelanjutan dan ramah lingkungan, baik dalam manfaat untuk mengekstraksi air segar, tetapi juga pendingin udara dan proses pendinginan.

kuburan Cyrus The Great Hak atas foto Klaus Rose/Getty Images
Image caption Kuburan Cyrus the Great di Pasargadae, Iran.

Selain itu, dalam konteks pedesaan, sistem qanat memungkinkan distribusi air yang merata di berbagai wilayah yang kering.

Keberadaan qanat yang memerlukan pemeliharaan secara berkelanjutan tentu akan berdampak pada kerja sama di antara masyarakatnya.

Meskipun Cyrus The Great (559-530 SM), raja Persia, terkenal sebagai pemimpin yang bijak, adil, dan penuh kasih, tidak banyak orang yang bertanya apakah kekaisaran yang dia dirikan - yang menjadi pijakan keberadaan Iran modern - akan bertahan lama tanpa bantuan qanat.

Apa yang dapat dilakukan tentara dan rakyat Persia jika tidak memiliki akses ke air bersih? Dan tanpa saluran air bawah tanah ala Persia itu, apakah mungkin Persepolis - dan kota-kota lain di dunia yang tak terhitung jumlahnya - dapat berdiri anggun sehingga kelak mengubah wajah arsitektur taman di dunia?

Bagi seorang pemimpin seperti Cyrus yang, seperti diutarakan ahli teori agama Bruce Lincoln, "... akan menaklukkan seluruh dunia demi mendirikan Surga di Bumi", menurut ahli sejarah Persia, Touraj Daryaee, tentu ini didasari iklim Iran yang keras, sehingga tanpa rekayasa teknologi yang luar biasa, keberadaan qanat tidak bisa dipandang sebagai sekedar saluran air semata.


Anda bisa membaca artikel aslinya Iran's ancient engineering marvel dan artikel lainnya dalam BBC Travel.

Berita terkait