Rambu-rambu unik dan selera humor gelap a la Bhutan

Bhutan road sign Hak atas foto Chris Dwyer

Tanah Naga Guntur, nama lengkap Kerajaan Himalaya dari Bhutan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, terkenal sebagai negara dengan modernisasi yang bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih lambat daripada sebagian besar dunia lainnya.

Televisi dan internet baru tiba pada tahun 1999, dengan jaringan telepon seluler datang empat tahun kemudian. Dan luar biasanya, jalan pertama baru dibangun pada tahun 1960, dan pembangunan dimulai di jalan pertama negara itu. Sampai saat itu, satu-satunya cara untuk berkeliling Bhutan adalah melalui jalan setapak dan trek keledai yang berselang-seling dengan pemandangan gunung yang menakjubkan.

Tapi lebih dari 1.500 km jalan telah dibangun sejak itu, dan ada keasyikan khusus dan tak terduga bagi mereka yang mengendarainya hari ini: beberapa rambu jalan yang sangat unik.

Sangat lucu, kasar dan kadang-kadang mendalam, rambu-rambu dan marka jalan itu adalah bagian dari Proyek Dantak, inisiatif yang didanai pemerintah India oleh Departemen Jalan Perbatasan (BRO), yang selama lebih dari setengah abad telah membantu jalan stabil Bhutan menuju modernisasi melalui konstruksi dan proyek pembangunan.

Di kota terbesar kedua di Bhutan, Paro, satu-satunya bandara di negara itu, hanya 12 pilot yang diizinkan mendarat secara manual di landasan pendek yang tampaknya muncul entah dari mana di antara gunung-gunung itu.

Di tikungan terdekat di jalan di bawah jalur penerbangan, di mana mobil menepi untuk mendapat pemandangan yang sempurna dalam menikmati menara pengawas abad ke-17 kota Ta-Dzong , pengemudi akan melihat peringatan puitis tentang bahaya mengemudi sambil mabuk, tema umum di antara marka-marka jalan di Bhutan.

Hak atas foto Chris Dwyer

Rambu-rambu ditulis dalam bahasa Inggris dan kadang-kadang juga dalam Dzhongka, bahasa resmi Bhutan. Rambu-rambu itu bisa keliru dalam dalam tanda baca, tapi enak dibaca dan mudah diingat, berkat permainan kata-kata dan bunyi yang lincah yang mungkin tidak akan muncul dari para birokrat.

Hak atas foto Chris Dwyer

Dengan hanya 75.000 mobil untuk total populasi 750.000 - di negara seukuran Swiss - jalan biasanya cukup kosong. Juga tidak banyak sinyal lalu lintas.

Di ibukota Thimphu dulunya terdapat lampu lalu lintas satu-satunya di Bhutan - namun hanya untuk 24 jam. Lampu lalu lintas itu segera dibongkar untuk digantikan oleh seorang polisi yang sekarang terkenal yang mengatur lalu lintas dengan gerakan tangan flamboyan, bersarung tangan putih. Ia berdiri di tengah-tengah apa yang merupakan salah satu jalan tersibuk di kota -bukan dalam pengertian jalanan sibuk atau dilanda kemacetan yang Anda tahu.

Hak atas foto Chris Dwyer)
Hak atas foto Chris Dwyer

Di sepanjang jalan pegunungan yang berliku-liku, ngebut adalah tema yang juga banyak digunakan. Pemainan rima bisa diduga bermunculan. Misalnya 'Going faster will see disaster,' atau 'On the bend, go slow friend'.

Peringatan juga bisa sangat kasar - terutama ketika menyangkut nyawa. 'Hidup adalah sebuah perjalanan, tuntaskanlah ' atau 'Waktu adalah uang, tetapi hidup itu berharga'.

Permainan rima terkadang sampai ke titik yang tak kredibel. Misalnya 'Don't hurry, be cool, since heaven is already full' -tapi pesannya tetap jelas.

Proyek Dantak tampaknya memiliki beberapa romantika di jajarannya, mengingatkan pengemudi dari orang yang mereka cintai untuk memastikan bahwa batas kecepatan dipatuhi:

Hak atas foto Chris Dwyer

Tapi itu adalah dua rambu jalan di Bhutan tenggara yang terpencil yang habis-habisan berurusan dengan humor.

Lalu yang ini menunjukkan bahwa di negara ini keterlambatan tidak menjadi masalah jika itu berarti mencapai tujuan Anda dalam keadaan utuh dan sehat wal afiat:

Hak atas foto Yeshey Dorji

Sementara yang satu ini memunculkan sedikit imajinasi:

Hak atas foto Yeshey Dorji

Di titiklain, jalan dari Thimphu ke bekas ibu kota Punakha melewati salah satu tempat istirahat paling indah di dunia di Dochula Pass, dengan cakrawala menakjubkan di taman nasional Jigme Singye Wangchuck Himalayan.

Tetapi karena semua pengemudi Bhutan yang berhati-hati tahu, 'Pegunungan adalah kebahagiaan hanya jika Anda mengemudi dengan santai'.

Hak atas foto Chris Dwyer

Bukan hanya rambu keselamatan jalan yang dibuat komunikatif, tapi juga kampanye lingkungan di negri bahagia itu: 'Jangan buang sampah sembarangan, itu akan membuat hidup Anda getir' ('Don't litter, it will make your life bitter', permainan kata bahasa Inggris antara 'litter' 'dan bitter'.)

Bahkan ada ruang untuk diam-diam menunjukkan kebanggaan atas pekerjaan mereka, 'Jalan mulus untuk perjalanan mulus Anda'.

Selama bertahun-tahun, Departemen Jalan Perbatasan juga telah membangun dan merawat jalan di negara-negara lain sekitar India, termasuk Afghanistan, Birma dan Sri Lanka.

Hak atas foto Chris Dwyer

Saat ini, mereka mempekerjakan sebagian besar pekerja lokal, tetapi secara historis, banyak orang India mengambil pekerjaan yang sulit dan berbahaya. Kemampuan mereka untuk memiliki rasa humor dalam situasi yang menantang, yampak jelas, Baik dalam rambu-rambu jalan maupun dalam misi mereka:

"Janganlah kita lupa bahwa jalan di medan yang sulit ini dibangun tidak hanya dengan semen dan beton, tetapi juga dengan darah orang-orang dari Departemen Jalan Perbatasan India. Banyak yang kehilangan nyawa saat bertugas di suatu proyek. Bagi orang-orang ini, yang selalu bermain dengan bahaya dan menertawakan kematian, menjalankan tugas adalah yang utama. "

Ini adalah pengorbanan yang terus dihargai dan dihormati orang-orang Bhutan sejak lebih dari setengah abad, dengan lebih dari sekadar senyum di sepanjang jalan.


Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini di Bhutan's dark sense of humor di BBC Travel

Topik terkait

Berita terkait