Kisah pembuat peta dan buku perjalanan abad 15 yang membantu kita memahami dunia

Seperti cahaya terang dalam kabut tebal, buku panduan perjalanan dan peta tua menjadi pegangan para navigator, penjelajah, musafir dan para ilmuwan di abad ke-15 dan ke-16 bergerak selangkah demi selangkah, memetakan dunia dan memungkinkan kita menggunakan jari kita untuk menggunakannya sekarang.

Peta Hak atas foto Rossi Thomson/Biblioteca Civica Bertoliana-Vicenza
Image caption Teater Dunia menghiasi lukisan kecil di kapal Ferdinand Magellan, Victoria.

Melihat aplikasi navigasi di telepon pintar yang memudahkan kita bergerak cepat dari titik A ke titik B sudah seperti kebiasaan baru kita sekarang. Sekarang, ibaratnya, dunia sudah masuk dalam saku kita.

Namun sangat mencengangkan melihat bagaimana beberapa abad lalu, ketika pengetahuan tentang geografi masih belum sepenuhnya dipetakan, dan keyakinan agama dan ketakutan akan hal-hal yang tidak diketahui masih kuat berakar, sementara sains masih berkembang di tahap awal.

"Coba lihat ini," ujar Mattea Gazzola seraya menunjuk planisfero (peta dunia berbentuk bulat atau planisfer) yang berusia 570 tahun di depan kami, dengan lengan yang dibungkus sarung tangan.

"Di sebelah timur adalah Firdaus yang digambarkan sebagai kota bertembok yang dihiasi dengan menara-menara. Di selatan adalah padang pasir yang panasnya tak tertahankan, dan di utara terhampar padang pasir yang tidak berpenghuni karena sangat dingin. Dan di pusat dunia terletak Yerusalem."

peta Hak atas foto Rossi Thomson/Biblioteca Civica Bertoliana-Vicenza
Image caption Planisfer yang dibuat oleh Gionvanni Leardo berdasarkan pada model geosentris Ptolomeus

Peta dunia buatan tahun 1448 yang dilukis di atas perkamen (kulit binatang) oleh kartografer Venesia, Giovanni Leardo, sangatlah indah dan menakjubkan.

Menggabungkan model geosentris Ptolomeus (gagasannya bahwa Bumi adalah pusat Tata Surya), keyakinan Kristen, simbol-simbol pagan, teori geografis Arab, dan formula ilmiah, peta itu menampilkan benua-benua menurut pengetahuan orang-orang Eropa saat itu, yang dikelilingi samudera nan luas.

Enam lingkaran konsentris yang digambar mengelilingi dunia dan diisi dengan angka-angka dan huruf-huruf kecil dan rapi, yang memungkinkan pengguna memperhitungkan kapan Paskah tiba, penanggalan di tahun itu serta perubahan dan perkembangan Bulan.

Kata 'planisfero' kata Italia yang berasal dari bahasa Latin planus (datar) dan sphaera (bulat), dan hanya ada tiga peta dunia termasyhur yang digambar dengan tangan dan ditandatangani oleh Leardo.

Yang tertua (1442) disimpan di Biblioteca Cumunale di Verona; adapun yang terbaru (1452) disimpan oleh American Geographical Society Library; dan ada peta di antara keduanya (1448) yang menjadi koleksi kebanggaan Biblioteca Civica Bertoliana di Vicenza, kota kecil di Italia, yang terjepit di antara Venesia dan Verona.

Disimpan di bekas biara Somascan, arsip di Biblioteca Civica Bertoliana berisi ribuan buku dan manuskrip langka. Jika dibariskan, mereka akan membentang lebih dari 19 kilometer.

Selama berabad-abad, buku-buku tersebut disumbangkan kepada perpustakaan itu oleh keluarga-keluarga bangsawan kaya di Vicenza, sebuah kota yang terkenal dengan warisan arsitektur, perdagangan sutera dan perhiasan yang bersejarah, serta kesetiaan mereka kepada Republik Venesia selama masa kejayaan maritimnya.

Dan sekarang, sebagian buku-buku dan manuskrip paling berharga dan menakjubkan itu tergeletak di atas meja kuno besar di depan saya, di ruangan arsip perpustakaan yang berdebu.

Sebenarnya panduan perjalanan, buku-buku dan peta-peta ini digunakan oleh para pelaut, akademisi dan musafir di abad ke-15 dan ke-16 untuk berlayar dan mengeksplorasi dunia.

Sambil membolak-balik benda bersejarah itu, Gazzola - pengarsip perpustakaan- memaparkan sebuah kisah.

Era baru pemetaan dunia

Pada kurun waktu antara penemuan mesin cetak pada 1440 dan Abad Penjelajahan, yang mencapai salah satu puncaknya di akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, sebuah revolusi terjadi dalam seni pembuatan peta dan penjelasan tentang dunia.

Pengetahuan dari tangan pertama yang diperoleh dari pelayaran, perdagangan, penemuan-penemuan geografis, perhitungan matematika yang rumit dan bahkan ziarah keagamaan menuju Tanah Suci datang membanjiri dan mengubah garis besar peta pada saat itu.

Dalam 150 tahun, model geografis planisfero ala Leardo sudah ditinggalkan, dan dunia yang lebih kurang kita kenal sekarang ini mulai terlihat.

Satu langkah penting pada periode itu adalah publikasi (pada tahun 1475 di Vicenza) edisi cetak Geografi Ptolemeus dalam bahasa Latin.

Claudius Ptolemeus, ahli matematika, astronomi dan geografi keturunan Yunani Romawi di abad ke-2 Masehi, sudah menggambarkan dunia yang dikenal kepada Kekaisaran Romawi saat itu dan menunjukkan koordinat geografis di semua tempat.

Yang tampak kemudian, Bumi merupakan suatu bidang datar sekitar 70 derajat yang melebar dari Cadiz ke barat dan India atau Cathay (Cina) ke arah timur.

Peta Hak atas foto Rossi Thomson/Biblioteca Civica Bertoliana-Vicenza
Image caption Peta yang berdasarkan Geografi Ptolomeus memfasilitasi perjalanan eksplorasi selama abad ke-15.

Karya Ptolemeus kemudian ditemukan lagi oleh seorang ahli dari Bizantium bernama Maximus Planudes pada abad ke-13, dan selama ratusan tahun Ptolemeus dianggap sebagai otoritas tertinggi dalam semua hal terkait kartografi dan geografis.

Sayangnya, peta aslinya telah hilang, dan Planudes menciptakan kembali berdasarkan teks dan koordinat tertulis.

Setelah Geografi Ptolemeus diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin pada tahun 1406 , lebih banyak peta yang digambar oleh beberapa kartografer yang berbeda berdasarkan teks, koordinat dan perhitungan matematika dari Ptolemeus.

Peta-peta ini memfasilitasi perjalanan eksplorasi selama abad ke-15 dan menjadi pionir kelahiran kembali kartografi.

Pada 1475, Geografi Ptolemeus edisi Vicenza tidak memasukkan peta (hanya teks dan koordinat asli). Kendati demikian, Gazzola memperlihatkan pada saya edisi terakhir karya penting yang diterbitkan di Roma pada 4 November 1490.

Sebanyak 31 peta yang dicetak secara rinci, sudah diwarnai dengan warna kuning dan kuning tua untuk tanah dan warna biru untuk lautan, diselipkan pada buku yang besar dan tebal.

Biasanya untuk sebuah incunabulum (istilah yang digunakan untuk menunjukkan buku cetakan edisi paling awal, terutama yang dicetak sebelum 1501), buku itu tidak memiliki gambar halaman depan.

Seperti sebuah manuskrip, edisi awal dari Geografi Ptolemeus langsung mulai dengan teks tanpa pengantar apapun.

"Halaman muka yang menampilkan nama penulis, karya dan tanggal cetak benar-benar baru digunakan setelah tahun 1500," jelas Gazzola.

Hal ini terjadi ketika sarjana dan penerbit Aldus Manutius melakukan revolusi dalam dunia cetak. "Dialah yang mengawali buku modern."

Di masa dominasi orang-orang Venesia atas laut Adriatik dan Mediterania, Manutius yang mendirikan kantor percetakan Aldine Press (di Venesia), adalah orang pertama yang memperkenalkan font (huruf cetak) italic, dan menerbitkan lebih dari 130 buku dalam bahasa Yunani dan Latin.

Pelopor panduan perjalanan modern

Buku perjalanan berikutnya yang diperlihatkan Gazzola kepada saya memiliki halaman muka yang rinci dan dicetak dengan indah.

Dan sebuah judul yang amat panjang: Quae intus continentur Syria, Palestina, Arabia, Aegyptus, Schondia, Holmiae, Regionum Superiorum Singuale Tabulae Geographicae.

Peta Hak atas foto Rossi Thomson/Biblioteca Civica Bertoliana-Vicenza
Image caption Karya Jacobus Ziegler termasuk deskripsi yang bertujuan untuk membantu para musafir menuju tanah Kitabiyah.

Ditulis oleh seorang humanis dan teolog dari Bavaria, Jacobus Ziegler, dan dipublikasikan pada tahun 1532 di Strasbourg, ini merupakan pelopor panduan perjalanan modern.

Buku ini mencakup penjelasan rinci tentang tanah-tanah Alkitab dan bertujuan untuk membantu para peziarah dalam perjalanan menuju ke sana.

Berisi informasi tentang berbagai kota di sana dan tradisi-tradisi lokal, sehingga membentuk gaya tertentu untuk jutaan panduan perjalanan yang akan diterbitkan di seluruh dunia sejak saat itu dan seterusnya.

Gazzola mengambil sebuah buku kecil bersampul kulit yang dideskripsikan sebagai 'molto geniale' atau 'very clever' dalam bahasa Inggris.

Inilah Cosmographia (yang juga dikenal sebagai Cosmographicus Liber) karya seorang humanis dan pemilik percetakan Jerman, Petrus Apianus.

Dikenal karena karyanya di bidang matematika, kartografi dan astronomi, Apianus menerbitkan Cosmographia di tahun 1524.

Itu adalah salah satu karya pertama yang mendasari geografi pada matematika dan pengukuran.

Karya itu merupakan keberhasilannya yang dicetak ulang sebanyak 30 kali dalam 14 bahasa.

Salah satu yang sedang saya lihat adalah edisi pertama dalam bahasa Latin yang dicetak pada tahun 1540 di Antwerp (salah satu dari tiga pusat percetakan Eropa awal, bersama dengan Venesia dan Paris)

Cosmographia terkenal karena penggunaan volvelles, diagram roda dengan bagian yang berputar untuk mempelajari astronomi dan navigasi.

Dibuat dengan menumpuk beberapa lembar kertas cetak, volvelle membentuk instrumen yang rumit - contoh awal kalkulator atau sebuah komputer analog - yang memungkinkan pengguna menentukan posisi bintang-bintang, fase bulan dan tanda-tanda zodiac, serta faktor-faktor penting lain dalam pelayaran.

"Mempersiapkan lempengan-lempengan kayu untuk dicetak di bagian-bagian yang berbeda dari volvelles yang rumit membutuhkan waktu berminggu-minggu," kata Gazzola seraya dengan hati-hati membalikkan lapisan atas dari satu perangkat ini untuk memperlihatkan kepada saya bahwa kertas yang digunakan untuk konstruksi itu dicetak dengan not-not musik di bagian belakang.

Tempat percetakan pada saat itu akan mendaur ulang, bahkan sampai potongan terkecil, karena tingginya harga kertas.

Selain dari empat volvelles, Cosmographia juga terkenal karena berisi peta dunia, yang merupakan salah yang paling awal untuk menunjukkan secara rinci seluruh pantai timur Amerika Utara.

Pengetahuan geografis terus berkembang saat itu. Salah satu faktor yang berkontribusi untuk hal ini adalah literatur teknis perjalanan - kumpulan buku sempoa, tarif pelabuhan, glosarium multibahasa, peta dan buku-buku penunjuk jalan - membantu Italian Maritime Republics mempelajari dan mengawasi rute perdagangan dan kapal-kapal militer di Mediterania.

Peta Hak atas foto Rossi Thomson/Biblioteca Civica Bertoliana-Vicenza
Image caption Perkamen peta yang digambar dengan menggunakan tangan disebut 'portolanos' dibuat oleh para kartografer kapal.

Para kartografer yang bekerja di kapal menghasilkan grafik laut yang rinci. Gazzola memilih sebuah portolano, peta perkamen yang digambar tangan yang menunjukkan semua pelabuhan yang diketahui di Mediterania, kota-kota pesisir, rute angkatan laut, wilayah galangan, dan titik-titik kompas.

Ikon-ikon kecil menggambarkan karakter masing-masing tempat. Misalnya, ada gambar unta, singa dan burung unta di pantai Afrika.

Bendera warna-warni berkibar di atas ikon kota yang ditunjuk, dan nama tempat yang tidak terhitung banyaknya berjejer di garis pantai.

Portolano berasal dari paruh kedua abad ke 16. Karena itu adalah alat kerja, maka tidak ditandatangani oleh penulisnya dan perubahannya dapat dilakukan dengan bebas, sesuai dengan kebutuhan navigasi kapal yang digunakan.

Buku meja kopi pertama?

Berbeda dengan portolano, buku berikut yang diperlihatkan Gazzola kepada saya dirancang sebagai pelopor buku-buku meja kopi yang indah.

Dinamakan Theatre of The World (dalam bahasa Latin, Theatrum Orbis Terrarum), ini merupakan atlas modern pertama yang sesungguhnya.

Ditulis oleh sarjana dan ahli geografi Flemish, Abraham Ortelius, buku itu aslinya dicetak di Antwerpen.

Untuk pertama kalinya, satu buku berisi seluruh pengetahuan geografis Eropa Barat dalam teks dan peta.

Peta yang berdasarkan karya-karya para kartografer terbaik, dicetak secara seragam dan menggunakan pelat tembaga, dan kemudian diwarnai dengan cat yang masih terlihat terang dan segar.

Seperti itulah keinginan Zaman Pencerahan atas pengetahuan geografi dan ilmiah di kalangan kelas menengah kaya - yang menghargai buku sebagai simbol pengetahuan - bahwa atlas berulang kali dicetak dalam bahasa Latin, Perancis, Jerman dan Belanda di antara bahasa-bahasa lainnya.

Peta Hak atas foto Rossi Thomson/Biblioteca Civica Bertoliana-Vicenza
Image caption Teater Dunia Abraham Ortelius dianggap sebagai puncak kartografi abad ke-16.

Pada saat banyak buku yang diterbitkan antara tahun 1570 dan 1612, Theatre of the World adalah buku yang sangat berharga dan agak mahal yang disukai para pedagang kaya dan para bangsawan Eropa untuk menambah koleksi berharga mereka.

Saat ini, buku itu dianggap sebagai puncak kartografi abad ke-16.

Sejumlah peta yang memiliki beberapa sumber sudah tidak ada lagi atau sangat jarang keberadannya. Nama-nama ahli geografi dan kartografer yang digunakan baik sebagai sumber dan dikenal oleh Ortelius disediakan dalam daftar panjang yang disebut Catalogus auctorum tabularum geographicarum (Katalog Para Pembuat Peta Geografis) di Theatre of the World.

Pada 1570, daftar edisi pertama memasukkan 87 nama; hanya dalam tiga dekade telah berkembang menjadi 183 nama.

Di antara mereka, misalnya, terdapat nama seorang naturalis Charles de l'Écluse (yang lebih dikenal dengan nama Latinnya, Carolus Clusius) yang menerbitkan salah satu buku paling awal tentang flora Spanyol dan yang karyanya mengilhami peta Spanyol di Theatre of the World Ortelius.

Peta Hak atas foto Rossi Thomson/Biblioteca Civica Bertoliana-Vicenza
Image caption Teater Dunia menghiasi lukisan kecil di kapal Ferdinand Magellan, Victoria.

Atlas ini tampak menakjubkan. Selain menggambarkan fitur geografis yang cermat, setiap peta juga dihiasi dengan gambar-gambar rinci dari adat kebiasaan setempat, serta makhluk-makhluk phantasmagorical.

Edisi ini disimpan di Biblioteac Civica Bertoliana sejak tahun 1592 dan terdiri dari 108 peta. Peta ini menampilkan dunia yang kita kenal sekarang.

Yang mengherankan, peta Amerika Selatan menampilkan gambar Victoria berukuran kecil, salah satu dari lima kapal penjelajah berkebangsaan Portugis, Ferdinand Magellan dan yang pertama kali sukses berlayar mengelilingi dunia.

Kebetulan, seorang penumpang terkenal di Victoria adalah Antonio Pigafetta, penulis buku harian Magellan dan salah satu dari 18 orang yang kembali dari ekspedisi tersebut.

Nama Pigafetta, yang lahir di Vicenza, masih sangat terkenal dan dihormati di kota itu.

Perjalanan keliling dunia yang pertama

"Ini dia," kata Gazzola dan menarik satu buku terakhir. "Perjalanan keliling dunia pertama."

Ini merupakan cerita Pigafetta tentang pelayaran Magellan. Antara tahun 1524 dan 1525, Pigafetta menulis catatannya tentang perjalanan bersejarah itu, disusun dari buku harian yang sangat cermat yang disimpannya selama tiga tahun perjalanan.

Buku harian asli dari pelayaran pertama di seluruh dunia diberikan sebagai hadiah kepada Kaisar Charles V, yang memerintah seluruh Kekaisaran Spanyol dan Kekaisaran Suci Romawi, dan kemudian lenyap, pengadilan Spanyol kemungkinan ingin menghapus keunggulan Magellan yang orang Portugis.

Antonio Pigafetta adalah saksi yang tidak menyenangkan atas apa yang terjadi selama ekspedisi dan dihentikan dengan tergesa-gesa oleh Kaisar Spanyol.

Namun pada 5 Agustus 1524, Senat Republik Venesia memberikan Pigafetta hak istimewa untuk mencetak buku hariannya.

Peta Hak atas foto Rossi Thomson/Biblioteca Civica Bertoliana-Vicenza
Image caption Antonio Pigafetta merinci perjalanan Magellan dalam The First Voyage Round the World.

Biblioteca Civica Bertoliana menyimpan buku harian Pigafetta edisi akhir abad ke 18 dengan ilustrasi berwarna.

Membaca buku yang luar biasa ini memberikan pemahaman langsung tentang pencapaian Magellan dan kesulitan luar biasa yang dialami para awak kapalnya.

Sejak Magellan menemukan Samudera Pasifik untuk Eropa, dan memberikan nama sesuai dengan karakter yang lembut dan halus (pacifico berarti 'peaceful' - damai, dalam bahasa Spanyol dan Portugis) untuk pengamatan penting yang dibuat oleh Pigafetta tentang flora, fauna dan antropologi di tanah baru, teks ini dibumbui dengan fakta-fakta geografis yang mendorong pengetahuan ilmiah Eropa.

Tentu saja, penemuan yang paling penting saat itu adalah ternyata Bumi itu bulat, dan awak kapal Magellan (menurut perhitungan Pigafetta) menjalani 14.460 liga (43.400 mil) untuk membuktikan hal ini.

Berabad-abad setelah buku perjalanan dan peta yang penting ini pertama kali digambar dan dicetak, sangatlah luar biasa jika kita mengingat bahwa lompatan dalam ilmu pengetahuan manusia telah kita rasakan semenjak saat itu.

Seperti cahaya terang dalam kabut tebal, mereka memimpin para navigator, penjelajah, musafir dan para ilmuwan maju selangkah demi selangkah, memetakan dunia dan memungkinkan kita menggunakan jari kita untuk menggunakannya sekarang.


Anda bisa membaca artikel aslinya dalam The travel guides that charted our world atau artikel lain dalam BBC Travel.

Berita terkait