Ekiben: Bekal makan istimewa yang wajib dicicipi di Jepang

ekiben, jepang, jalan-jalan Hak atas foto Elisa Parhad

Selagi saya menelusuri lorong berliku di stasiun kereta Tokyo, saya merasa sepeti peziarah dalam perjalanan yang luar biasa, bahkan sebelum perjalanan sesungguhnya. Saya tengah berada di 'Mekah'-nya ekiben - makanan kotak populer yang khusus dibuat spesifik untuk perjalanan kereta jarak jauh.

Seperti orang-orang di kerumunan, saya punya kereta yang harus dikejar, dan urusan terakhir adalah mencari makan siang untuk dimakan di kereta.

Ekiben, gabungan dari kata 'eki' yang berarti stasiun dan 'ben' yang berarti bento adalah makanan berharga dan elemen penting dalam perjalanan kereta jarak jauh di Jepang.

Ketika ide 'makan di kereta komuter lokal' tidak disukai, orang-orang yang berpergian ddalam perjalanan kereta panjang, seperti kereta peluru atau kereta yang perlu dipesan dulu, malah dianjurkan untuk beli makanan sendiri. Tiap daerah, bahkan di tiap stasiun, punya menu unik tersendiri yang berkait dengan budaya dan kuliner lokal.

Setelah salah belok beberapa kali, saya tiba di Ekiben-ya Matsuri (yang artinya Festival Ekiben), yang menjual tumpukan kotak-kotak makan rapi, yang berulang-ulang digeser dan diamati oleh calon pembeli yang antusias.

Saya mengamati kontainer plastik panjang berbentuk shinkansen atau kereta peluru yang berisi macam-macam sayur, daging dan nasi, serta kotak-kotak makan yang bertulis aksara yang membawa kembali nuansa jaman lampau.

Saya mengintip di balik kerumunan sesama pembeli untuk melihat penawaran populer, seperti kotak makan edisi terbatas yang menandakan kedatangan musim semi. Saya berkerumun bersama pecinta makanan, pelancong, dan orang-orang yang mungkin hanya mencari furusato no aji (makanan kampung halaman).

Mereka semua berharap mencari kelezatan di antara sekutar 200-an jenis makanan yang dipajang. Dalam komunitas yang sangat santun di Jepang, senggol-senggolan di gang-gang yang ramai lumrah terjadi, mengindikasikan orang-orang -sama seperti saya- punya waktu yang terbatas untuk belanja.

Di seluruh Jepang, pelancong mengandalkan toko bento di stasiun kereta untuk membeli makanan dan minuman untuk tiap perjalanan tertentu, umumnya dengan pilihan yang terkait dengan lokasinya. Tapi toko ini berbeda.

Selagi menawarkan ekiben lokal dari Tokyo, Ekiben-ya Matsuri juga menjual pilihan populer dari berbagai daerah -dari Hokkaido di utara hingga Kyushu di selatan, memungkinkan pembeli menyicipi makanan unik itu tanpa harus berpergian ke daerah itu. Konsep ini populer: toko ini menjual 10.000 bento tiap hari, dan hingga 15.000 tiap akhir pekan.

Hak atas foto Elisa Parhad

Festival yang berpindah-pindah ini adalah hasil dari jaringan kereta yang luas dan efisien, dan kerinduan akan cita rasa kuliner lokal yang amat dicintai. Mencicipi contoh makanan lokal dari penjuru negara adalah budaya yang melekat erat di Jepang.

Konsep 'meibutsu' atau 'hal-hal populer' terdiri dari dua elemen ketika sedang jalan-jalan: ekiben dan omiyage (souvenir untuk keluarga dan teman-teman). Saat omiyage adalah cara untuk berbagi meibutsu ketika kembali pulang, ekiben adalah cara menikmati hal-hal spesial dalam perjalanan untuk diri Anda sendiri.

Steven R McGreevy, yang tinggal di Jepang sejak 2000, menjelaskan bahwa, "Budaya kuliner Jepang sangat beragam dan sering terkait dengan lokasi spesifik.

Hanya dengan menyebut satu nama tempat di Jepang misalnya, orang-orang akan mengingat jenis makanan tertentu yang unik dari sana atau sebuah tingkat kualitas tertentu. Ini tentu sudah umum di mana saja di dunia, tetapi saya harus bilang bahwa di sini sangat terasa - bahkan perjalanan kereta 30 menit saja, sudah bisa membawa kita ke suasana kuliner yang sangat berbeda.

Contoh populer termasuk gyutan, lidah sapi bakar dari Sendai; shumai, pangsit babi dari Yokohama; dan kani-meshi, nasi kepiting dari Hokkaido.

Walau kebanyakan menu ini telah lama menjadi bagian dari kuliner lokal, ide untuk mengemasnya sebagai daya tarik wisata berevolusi seiring dengan perkembangan sistem kereta api Jepang, yang mulai beroperasi pada 1872.

Ekiben pertama muncul pada 1885 di Stasiun Utsunomiya (sekitar 130 km dari Tokyo), terdiri dari bola-bola nasi acar plum - makanan siap saji yang umum di seluruh negeri.

Karena tidak ada gerbong yang menyediakan makan di era awal perjalanan kereta, pedagang akan menjual makanan pada penumpang kereta melalui jendela atau toko-toko di peron. Satu dekade kemudian, stasiun kereta mulai menyediakan menu unik di stasiun mereka dan industri ini mulai tumbuh.

Sekarang lebih dari 2.000 jenis ekiben tersedia, yang kebanyakan dibuat oleh bisnis lokal keluarga.

Hak atas foto Elisa Parhad

Lebih dari sekedar makanan, ekiben adalah cara lain menikmati kekhasan lokal. Begitu Anda berkunjung ke sebuah kuil di Kyoto, hal lain yang harus juga dilakukan adalah mencicipi Wagyu Bento (atau ekiben Kyoto populer lain yang tersedia) begitu Anda meninggalkan stasiun Kyoto.

Hatsuko Matsumoto, yang bekerja di Tokyo, menambahkan, "Ekiben bisa menjadi pengingat kapan, di mana, dan dengan siapa Anda makan, bahkan setelah Anda pulang."

Tak seperti makanan cepat saji di dunia Barat, di mana harga sering mengalahkan kualitas dan pilihan yang cenderung standar, ekiben tumbuh subur dari elemen lokal di kota asalnya. Jenis sayuran yang dipakai turun temurun, metode memasak unik, varietas padi khusus, kerajinan lokal, dan bahkan cerita rakyat berperan menjadi daya tarik ekiben. Musim juga penting.

Dalam artikelnya, Savour Slowly: Ekiben: The Fast Food of High Speed Japan, Paul Noguchi, mantan profesor antropologi dan sosiologi di Universitas Bucknell di Pennsylvania, menulis:

"Sayuran tertentu mungkin sedang musim atau tidak, dan spesies tertentu dari ikan baru saja memulai atau mengakhiri perjalanannya. Jadi, ekiben menyediakan makanan lokal terbaik yang tersedia, tetapi selalu selama musim tertentu, dan dengan begitu, ekiben menggabungkan waktu dan tempat terbaik. "

Saya sudah diperingatkan tentang ini - bahkan dengan nama yang sama, isi ekiben sering diganti sesuai musim. Sejumlah ekiben mengindikasikan bahwa kami berada di luar musim. Terus terang, saya merasa lega karena pilihan saya jadi terbatas - karena itu, saya memiliki sekitar 100 opsi terlalu banyak.

Dinding pameran di toko ekiben membantu saya memutuskan. Di sini, kontainer yang sama yang ditemukan di rak-rak dibiarkan terbuka untuk menggambarkan isi di dalamnya. Tidak dapat membaca bahasa Jepang dan tidak ingin membuat pilihan yang 'salah', saya mempelajari pilihan saya dengan sangat hati-hati.

Hak atas foto Elisa Parhad

Mie, sushi, daging di atas nasi - keistimewaan kuliner Jepang ada di sana, bersama dengan berbagai wadah plastik yang meniru ikon-ikon tertentu di daerah tertentu: kotak plastik berbentuk kepiting berisi daging kepiting Tottori yang terkenal; kotak makan manusia salju yang melambangkan salju hebat Niigata, diisi dengan daging cincang dan sayuran rebus di atas nasi Koshihikari.

Saya bisa melihat beberapa kemasan ekiben yang lebih inovatif, seperti kemasan yang memutar lagu ketika tutupnya diangkat atau memanas saat kita menarik seutas tali (hampir semua ekiben disajikan dingin, meskipun toko akan memanaskan ekiben atas permintaan).

Tapi, jam terus berdetak dan kereta saya sepertinya akan berangkat. Mata saya melesat di antara warna dan rasa yang menarik. Pada akhirnya, nostalgia masa kanak-kanak dan gagasan 'suvenir' menang.

Saya naik kereta tepat pada waktunya, dengan sekaleng kopi Nescafe yang dipanaskan dan wadah Hello Kitty samurai berwarna pink yang lucu, diisi dengan ayam teriyaki dan nasi, yang dibawa jauh dari Stasiun Okayama.

Saya menemukan makanan enak, dan sarana untuk mengingat perjalanan saya, sama seperti yang dilakukan orang Jepang sejak dimulainya perjalanan kereta api.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini berjudul Japan's special take on a packed lunch di BBC Travel.

Berita terkait