Bagaimana puisi digunakan orang Iran untuk meramal nasib

puisi Hafez Hak atas foto John Moore/Getty Images

Tradisi meramal lewat puisi-puisi penyair terkenal Hafez (praktik yang dikenal dengan istilah fal-e Hafez) telah dipraktikkan di Iran - dan di tempat lain yang berbahasa Persia, seperti Afghanistan - selama berabad-abad.

Saya berjalan santai di kaki bukit di Teheran dengan teman saya Jamshid, dan Shirin, gadis yang sedang dia pacari.

Seorang teman Shirin baru saja didiagnosis mengidap kanker, dan Jamshid dan saya berusaha menghiburnya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja - tetapi tidak berhasil.

Ketika kami berjalan menuju salah satu tempat yang sering saya kunjungi untuk minum chai (teh) dan ghalyan (shisha di Arab), kami menemukan seorang lelaki tua keriput dengan burung kenari yang bertengger di kotak kecil penuh kartu berwarna.

"Tunggu," kata Shirin kepada kami, berjalan ke arahnya sambil mengambil uang dari dompetnya.

Dia menyerahkan selembar uang, menutup matanya dan menggenggam kedua tangannya bersamaan ketika burung kecil itu melompat dan mengeluarkan kartu secara acak dengan paruhnya.

Saat Shirin membaca puisi yang tertulis di belakang kartu, senyum muncul di wajahnya.

"Apa katanya?" Jamshid bertanya padanya.

"Puji Tuhan," jawab Shirin sambil menghela nafas, membaca kalimat pembuka: "Yusuf yang tersesat akan kembali ke Kanaan - jangan bersedih." Itu artinya dia (temannya) akan baik-baik saja."

Tentang cinta dan anggur

Puisi menempati ruang yang sangat kudus dalam budaya Iran. Jauh dari sekadar menghargai puisi sebagai bentuk seni, kami orang Iran - dari semua latar belakang dan kelas sosial-ekonomi - menghidupinya.

Seorang penyapu jalan akan mengutip Khayyām tentang kefanaan hidup, seperti halnya supir taksi akan membaca ayat mistik Rumi dan politisi akan meminta patriotisme ala Ferdowsi.

Di sisi lain, paman buyut saya, seperti halnya Voltaire, mencintai Sa'di yang terdidik sampai pada titik ia memilih nama keluarga kami (Bekhrad, yang berarti 'bijaksana') dari sebuah kalimat dalam salah satu puisinya. Namun, ketika berbicara mengenai penulisan belles-lettres Persia, Hafezlah yang tidak diragukan lagi berada di di hati dan pikiran orang Iran.

Seorang penyair abad ke-14, Hafez menghabiskan sebagian besar hidupnya di Shiraz, tempat asalnya, yang sekarang dikenal sebagai 'Kota Penyair'.

Dia terkenal karena ghazal (puisi cinta), yang merupakan bagian terbesar dari kompendiumnya, Divan.

Dalam puisinya, ia menulis terutama tentang cinta dan anggur, serta kemunafikan orang suci dan otoritas keagamaan.

Tidak pernah mementingkan penampilan, Hafez lebih suka terlibat dalam apa yang disebut 'dosa' daripada menjadikan dirinya sebagai teladan kebajikan.

Ditulis dalam gaya yang berbunga-bunga, namun jernih dan sangat mudah dibaca, karya-karya yang dikumpulkannya di Divan mewakili apa yang banyak orang yakini sebagai puncak keemasan puisi Persia.

Begitu dicintainya puisi Hafez itu, begitu kontroversialnya juga puisi itu ketika ditulis - fakta yang mungkin menjelaskan popularitasnya yang sangat besar selama berabad-abad.

Di era modern Iran, Hafez tak tertandingi, dipuja sebagai sosok yang hampir seperti dewa. Puisinya sering dinyanyikan dan dimasukkan ke musik klasik Persia. Makamnya di Shiraz selalu penuh dengan penggemar, pengikut dan turis dari seluruh dunia.

Yang paling menarik, bagaimanapun, adalah tradisi Iran yang populer menggunakan puisi Hafez untuk meramal; dengan kata lain, apa yang Shirin lakukan hari itu di Teheran.

Hak atas foto Leemage/Getty Images
Image caption Karya-karya yang dikumpulkan Hafez di Divan mewakili apa yang banyak orang yakini sebagai puncak keemasan puisi Persia.

'Lidah para roh'

Dikenal sebagai fal-e Hafez (yang secara kasar diterjemahkan menjadi 'ramalan melalui Hafez'), tradisi ini melibatkan konsultasi dengan penyair - dikenal sebagai Lesan ol Gheyb ('Lidah para roh') - untuk pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan, serta panduan mengenai keputusan dan dilema yang sulit.

Tradisi fal-e Hafez telah dipraktikkan di Iran (dan di tempat lain yang berbahasa Persia, seperti Afghanistan) selama berabad-abad.

Menurut cerita yang populer, itu berasal dari kematian sang penyair. Dalam sebuah surat tahun 1768 kepada Orientalis Sir William Jones, bangsawan Hungaria, Count Károly Reviczky, yang telah 'membaca [cerita] di suatu tempat', menulis bahwa beberapa orang suci tidak yakin apa yang harus dilakukan dengan mayat Hafez karena 'ketidaksopanan puisinya'.

Sebuah perselisihan terjadi, apakah mereka harus menguburnya, setelahnya Reviczky menulis, 'mereka memutuskam untuk menggunakan ramalan, dengan membuka bukunya secara acak, dan melakukan apa yang disebut di bait pertama'.

Itu adalah hari keberuntungan Hafez, karena kebetulan kata-katanya adalah ini:

Dari jasad Hafez kamu tidak menyusut;

Meskipun tenggelam dalam dosa, Surga adalah miliknya.*

Hak atas foto John Moore/Getty Images
Image caption Makam Hafez di Shiraz, Iran, selalu penuh dengan pengagum, pengikut dan turis dari seluruh dunia.

Sama seperti tidak mengherankan mengapa puisi Hafez begitu dipuja di antara orang-orang Iran, demikian pula kebiasaan fal-e Hafez.

Sejak zaman dahulu kala, orang-orang Iran adalah orang yang sangat ingin tahu, selalu berusaha mengungkap makna tersembunyi dan misteri di dunia di sekitar mereka.

Menurut Encyclopaedia Iranica yang dikeluarkan Columbia University, sejarawan Bizantium Agathias, misalnya, menulis tentang imam-imam Zoroastrian yang melihat masa depan dalam api.

Dalam kisah epik nasional Iran, Shahnameh (Kitab Raja-Raja), Ferdowsi mengatakan (hanya dalam salah satu dari banyak buku tentang ramalan) bagaimana raja Khosrow Parviz mengartikan jatuhnya satu buah kwinsi dari atas tahtanya sebagai pertanda dari kematiannya yang dekat dan kehancuran dinasti Sassania.

Di zaman yang lebih modern, seperti sastrawan akademisi Persia Mahmoud Omidsalar menulis dalam Encyclopaedia, orang Iran menggunakan kartu remi - dan bahkan buncis - untuk meramal nasib mereka.

Dan, meski sebagian juga menggunakan buku-buku lain dari puisi Persia (seperti Masnavi dari Rumi), serta Al-Quran, Omidsalar berpendapat bahwa Divan-nya Hafez tidak diragukan lagi adalah buku paling populer ketika menyangkut penggunaan buku-buku dalam ramalan di Iran.

Hari ini, nasib Anda dapat dibacakan oleh penyair Shiraz hampir di mana saja di Iran.

Pria dengan burung terlatih itu memberikan kartu puisi mereka di jalanan yang sibuk serta di tempat rekreasi populer bagi penduduk setempat dan wisatawan, seperti Darband di Teheran di tempat Shirin dibacakan, dan makam Hafez di Shiraz.

Di kota-kota besar seperti Teheran, yang terkenal karena lalu lintasnya yang hampir tak bisa bergerak, anak-anak (tanpa burung yang menarik perhatian) berkumpul di persimpangan yang ramai bergantian mendatangi para penumpang di lampu merah yang panjang, memilih kartu puisi secara acak untuk (semoga) membuat hati mereka tenang.

Sementara vendor kartu puisi Hafez berlimpah di seluruh Iran, fal-e Hafez dapat dilakukan di mana saja, selama Divan ada di tangan.

Hanya pikirkan sebuah pertanyaan (jangan pernah ungkapkan kepada siapa pun) dan pilih satu halaman di buku secara acak untuk jawabannya.

Haruskah saya melakukan perjalanan ke Venesia? Apakah kekasih saya berselingkuh? Apakah saya akan mendapatkan pekerjaan itu? Seperti kata pepatah, hanya Tuhan dan Hafez dari Shiraz yang tahu jawabannya - yang terutama terletak pada bait pertama yang dilihat seseorang.

Orang-orang Iran datang ke penyair kapan saja mereka inginkan, meskipun hari raya besar Iran yang menandai titik balik - seperti Norooz (Tahun Baru Iran) dan Shab-e Yalda (Titik balik matahari musim dingin) - sangat populer.

Shirin beruntung menerima jawaban positif dari Hafez, yang tidak selalu memiliki kabar baik.

Pada tahun yang sama, saya juga menutup mata saya, mengajukan sebuah pertanyaan dalam pikiran saya dan dengan khidmat membuka Divan secara acak.

Iran akan bermain melawan Argentina pada hari berikutnya di Piala Dunia 2014, dan saya ingin tahu apakah tim kami akan membuat Lionel Messi keluar lapangan dan mempermalukannya.

Dengan banyak kecemasan mata saya jatuh pada baris berikut:

Untuk kesedihan zaman ini, yang tidak berakhir yang saya lihat,

Simpanlah anggur ungu, saya tidak tahu obat lain. *

Begitu saya mengetahui hasilnya, ternyata Hafez tak hanya tahu mengenai anggur, tetapi juga Piala Dunia. Sepasti dia mengatakannya, Messilah yang mengirim kami keluar dari arema, dan bukan sebaliknya.

Hak atas foto BEHROUZ MEHRI
Image caption Orang-orang Iran datang ke penyair kapan saja mereka inginkan.

Penyair untuk semua musim

Ada Sa'di, penyair yang namanya sama seperti saya dan Khayyām yang adalah pahlawan saya - tetapi dengan Hafezlah saya, seperti kebanyakan rekan-rekan saya, hidup.

Ketika masih anak-anak, saya tidak pernah bisa memahami ketertarikan nenek saya dari pihak ayah dengan Hafez, atau mengapa kakek dari pihak ibu saya biasa mengutip penyair setiap saat, dan menyimpan salinan tipis dari Divan-nya di atas meja ruang tamu, seperti semacam perlengkapan permanen (salinan itu masih ada).

Yang paling tidak bisa saya hargai adalah bagaimana, pada Shab-e Yalda, bibi saya akan menutup matanya, membisikkan sesuatu untuk dirinya sendiri, dan membuka Divan yang usang itu untuk melihat 'apa yang akan ditanggapi 'Hafez tua yang tidak bermoral' (seperti yang pernah dideskripsikan Friedrich Engels tentang penyair itu dalam sebuah surat kepada Karl Marx) terkait pertanyaan-pertanyaannya.

Seiring waktu, saya akhirnya bukan hanya terobsesi pada keindahan puisi Hafez dan menganggap memiliki hubungan yang spesial dengannya, tetapi juga mengembangkan kegemaran saya atas fal-e Hafez.

Saya tidak percaya pada takdir atau predestinasi, dan sama sekali tidak menjamin keampuhan penyair sebagai pemecah masalah serba bisa.

Namun, dalam semangat Iran yang sebenarnya, saya selalu menemukan diri saya berpaling ke Hafez setiap kali saya memiliki pertanyaan yang membara atau membutuhkan nasihat tentang masalah sensitif.

Tentu, cukup membuat sedih ketika Hafez memberi tahu saya bahwa Iran tidak akan mengalahkan Argentina; tetapi ada kegembiraan dan kenyamanan yang tak terlukiskan yang saya rasakan ketika penyair itu meyakinkan (dan terkadang, meyakinkan kembali) bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dan bukankah itu yang kita semua, Iran atau yang lain, ingin tahu - atau setidaknya percaya?

* Semua terjemahan dilakukan oleh penulis

Artikel ini dapat Anda baca dalam versi bahasa Inggris pada BBC Travel dengan judul Iran's fascinating way to tell fortunes

Berita terkait