Rahasia yang terkubur di tempat yang paling mematikan di bumi

Yucatan Hak atas foto GettyImages/Ullstein Bild

Para turis berenang dengan ceria di danau yang terbentuk dari kawah meteor, mungkin tak mengetahui bahwa tempat itu terbentuk akibat dentuman besar yang mematikan.

Pada pertengahan 1980-an, sekelompok arkeolog Amerika meneliti citra satelit Semenanjung Yucatan, Meksiko. Mereka tidak tahu harus bagaimana saat mereka menemukan pola yang tak terduga: sebuah lingkaran cincin yang nyaris sempurna, berdiameter sekitar 200 km.

Cenote, lubang penampungan air biru alami yang banyak muncul di brosur turis Yucatan, memenuhi lanskap gersang ini. Sekilas lokasi mereka seperti acak saja ketika Anda melintasi dataran luas Yucatan, daerah hutan kering di tepi timur Meksiko.

Hak atas foto Getty Images/Donald Miralle

Tapi dilihat dari angkasa, lubang-lubang itu sebenarnya membentuk pola: busur hampir setengah lingkaran, seolah-olah jangka telah tertancap di peta di pantai Teluk Meksiko dan diputar ke sekeliling hingga kehabisan daratan.

Para arkeolog telah menemukan pola itu, yang mengelilingi ibukota Yucatec, Merida, dan kota-kota pelabuhan Sisal dan Progreso. Mereka mencoba memahami apa yang telah terjadi pada peradaban suku Maya yang pernah menguasai semenanjung itu.

Maya, suku pribumi, telah bergantung pada cenote untuk air minum, tetapi lingkaran yang luar biasa yang dibentuk lubang-lubang itu membingungkan para peneliti ketika mereka mempresentasikan temuan mereka kepada sesama spesialis satelit pada konferensi ilmiah Selper di Acapulco, Meksiko, tahun 1988.

Di antara hadirin ada satu ilmuwan muda, Adriana Ocampo, yang saat itu adalah ahli geologi planet di Nasa. Formasi melingkar itu bagai sinyal yang sudah lama dia tunggu-tunggu.

Ocampo, sekarang 63 tahun, menjelaskan bahwa yang dia lihat bukan hanya sebuah cincin, tetapi susunan lingkaran berbentuk seperti sasaran panahan.

Hak atas foto NASA
Image caption Lokasi pola: busur hampir setengah lingkaran, seolah-olah jangka telah tertancap di peta di pantai Teluk Meksiko.

"Melihat slide itu adalah momen 'Aha!' saya. Saya pikir 'Ini adalah sesuatu yang luar biasa'," kata Ocampo, yang sekarang adalah direktur program Lucy di NASA, yang akan mengirim pesawat ruang angkasa ke orbit Jupiter pada 2021.

"Dalam hati, saya benar-benar bersemangat, tetapi saya tetap tenang karena Anda tidak tahu dengan jelas sampai Anda memiliki lebih banyak bukti."

Ocampo mendekati para ilmuwan, dengan jantung berdetak kencang, dia bertanya apakah mereka memperhitungkan bahwa itu adalah dampak tumbukan asteroid. Asteroid raksasa yang cukup kuat untuk melukai planet begitu hebatnya, hingga lukanya masih bisa terdeteksi 66 juta tahun kemudian.

"Mereka bahkan tidak tahu apa yang saya bicarakan!" dia tertawa, tiga dekade kemudian.

Pertemuan kebetulan Ocampo adalah awal dari korespondensi ilmiah yang akan membangun landasan untuk sebuah teori yang dipercaya kebanyakan ilmuwan hingga hari ini: bahwa cincin ini terhubung dengan tepiah kawa yang disebabkan oleh asteroid selebar 12 km. Asteroid itu menghantam Yucatan dan meledak dengan kekuatan tak terbayangkan, hingga mengubah batu menjadi cair.

Hak atas foto Science History Images
Image caption Ilmuwan percaya bahwa tumbukan asteroid memunculkan lingkaran kawah seperti ilustrasi ini, 66 juta tahun lalu.

Sejak awal 90-an, tim ilmuwan dari Amerika, Eropa, dan Asia telah bekerja untuk mengisi kekosongan yang masih belum bisa dijelaskan. Mereka sekarang yakin bahwa tumbukan asteorid langsung menciptakan kawah sedalam 30 km. Bumi bereaksi seperti kolam setelah dilempar kerikil: tanah merangsek ke tengah dan menciptakan gunung, meski hanya sesaat, tapi tingginya mencapai dua kali ketinggian Gunung Everest, sebelum jatuh.

Pada tahun-tahun setelah bencana itu, dunia pun berubah hingga tak dapat dikenali lagi. Gumpalan abu menghalangi langit, menciptakan malam malam abadi selama lebih dari setahun, suhu turun di bawah titik beku, dan membunuh sekitar 75% dari semua kehidupan di Bumi - termasuk hampir semua dinosaurus.

Hari ini, titik pusat itu, tempat dimana meteor itu jatuh dan gunung itu pernah naik, terpendam sedalam satu kilometer di bawah sebuah kota kecil, Chicxulub Puerto.

Ketika saya mengunjungi tempat bermukim beberapa ribu orang itu, rumah-rumah rendah yang dicat kuning, putih, dan oranye, mengelilingi semacam alun-alun kota sederhana, seperti di banyak desa Yucatecan yang fotogenik namun biasa-biasa saja.

Saking tidak terkenalnya, beberapa pecinta dinosaurus yang mencoba berziarah di sepanjang jalan Yucatan yang panjang dan berkelok-kelok di antara hutan semak berduri, sering salah datang ke kota lain yang disebut Chicxulub Pueblo, setengah jam perjalanan darat dari Chicxulup Puerto.

Hak atas foto Science Photo Library
Image caption Gambar buatan komputer yang mengilustrasikan lokasi dentuman besar yang membuat bumi jadi gelap dan sebagian penghuni bumi punah.

Bahkan jika mereka mencapai kota yang benar, hanya ada sedikit tanda bahwa tempat ini adalah lokasi kejadian dan bencana yang paling mempengaruhi bumi dalam 100 juta tahun terakhir.

Berjalan di sekitar alun-alun Anda akan melihat lukisan dinosaurus yang digambar anak-anak lokal. Ada taman bermain di dekatnya dengan tempat panjatan dan perosotan yang dilapisi dengan plastik keras warna warni. Satu-satunya monumen terletak di depan gereja di alun-alun, berbentuk kartun tulang, terbuat dari beton, diletakkan di depan altar.

Sampai temuan Ocampo diterbitkan pada tahun 1991, daerah ini tidak menarik di mata dunia internasional.

Hari ini, ada sebuah museum yang dibuka pada bulan September 2018. Museum of Science of the Chicxulub Crater adalah sebuah proyek bersama Pemerintah Meksiko dan universitas terbesar negara itu, Universitas Otonomi Nasional Meksiko (UNAM).

Museum ini bertujuan untuk membawa orang kembali ke 66 juta tahun yang lalu, ketika asteroid 12 km mengubah sejarah dunia. Dengan meningkatkan kesadaran lokal mengenai bencana yang terjadi di sini, museum berharap bisa membawa wisatawan menjelajahi masa lalu prasejarah Yucatan, yang melengkapi tujuan populer sejarah suku Maya seperti Chichen Itza dan kota pesta Cancun.

Chicxulub Puerto dan sekitarnya memang pantas menjadi lebih dikenal di seluruh dunia, kata Ocampo. Asteroid memang membawa bencana yang tak terbayangkan ke daerah ini. Tapi bencana itu menguntungkan satu spesies: manusia, yang, jutaan tahun kemudian, akan berevolusi dengan memanfaatkan celah ekologis yang muncul karena matinya predator terbesar di dunia.

Tanpa meteor itu, kemanusiaan mungkin tidak pernah ada.

Hak atas foto Getty Images

"Kejadian ini memberi kita kesempatan untuk dapat bersaing, untuk dapat berkembang, seperti yang pada akhirnya kita lakukan," katanya.

Penemuan Ocampo mengakhiri pencarian lokasi tabrakan asteroid yang sudah dilakukan selama satu dekade. Kuncinya adalah intuisinya yang terasah setelah bekerja dengan tokoh legendaris ilmu ruang angkasa, Eugene Shoemaker.

Shoemaker adalah ahli geologi Amerika perintis yang diakui sebagai salah satu pendiri bidang ilmu planet. 21 tahun setelah kematiannya, Shoemaker menjadi satu-satunya orang yang abunya dimakamkan di Bulan. Sang ahli telah menginstruksikan pada Ocampo bahwa lingkaran sempurna tidak mungkin disebabkan oleh kekuatan terestrial lainnya, dan dapat memberikan petunjuk perkembangan geologi Bumi.

Gagasan bahwa asteroid raksasa memusnahkan dinosaurus diusulkan oleh ayah-anak dari California Luis dan Walter Alvarez pada awal 1980-an.

"Tapi, waktu itu ide tersebut sangat kontroversial," kata Ocampo. Apa yang dia lakukan adalah menempatkan potongan teka-teki terakhir yang menghubungkan ide-ide yang tersebar di antara para ilmuwan independen dengan potongan-potongan informasi yang sering kali tumpang tindih.

Misalnya, pada awal 1978, geofisikawan Glen Penfield, bekerja bersama Antonio Camargo-Zanoguera untuk perusahaan minyak nasional Meksiko, Pemex, terbang melintasi perairan Karibia yang meliputi pantai di Chicxulub Puerto.

Dengan menggunakan magnetometer, dia mencari tanda-tanda minyak, tapi malah menemukan setengah bagian bawah kawah besar di bawah air. Tapi bukti itu milik Pemex, jadi tidak tersedia untuk komunitas ilmiah.

Bahkan, orang pertama yang menghubungkan cincin Yucatan dengan teori asteroid Alvarez adalah seorang wartawan Texas bernama Carlos Byars. Byars menulis artikel untuk Houston Chronicle pada 1981 menanyakan apakah keduanya terkait. Byars kemudian menjelaskan teorinya pada seorang mahasiswa bernama Alan Hildebrand, yang kemudian mendekati Glen Penfield setelah memeriksa lapisan batu di Haiti, dan mereka berdualah yang memutuskan bahwa kawah itu bukan gunung api, tetapi dampak asteroid.

"[Byars] mendapat pujian sebagai yang pertama mengumpulkan potongan-potongan teka-teki itu - seorang wartawan!" Kata Ocampo. "Ini adalah kisah yang luar biasa."

Tapi cerita ini bukan hanya sejarah, tapi juga bisa memberi kita wawasan tentang kehidupan di luar Bumi. Pelajaran dari kawah asteroid menjadi sumber info penelitian Curiosity Rover milik Nasa, yang mendarat di Mars pada tahun 2012 dan telah menghabiskan enam tahun terakhir untuk menyelidiki lingkungan dan geologi Mars.

Hak atas foto Getty Images/Kike Calvo
Image caption Potongan meteor Chixculub yang ditemukan beberapa tahun lalu, dan diduga bagian dari meteor yang memusnahkan dinosaurus.

Puing-puing yang ditemukan dari dampak asteroid di Mars dibandingkan dengan dampak dari Chicxulub Crater. Hasilnya sama, yang menunjukkan bahwa Mars dulunya punya atmosfer yang jauh lebih tebal daripada sekarang - yang selangkah lebih dekat ke atmosfer yang mendukung kehidupan di Bumi.

"Penting bagi kita untuk mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, demi menyiapkan masa depan," kata Ocampo. "Wilayah ini memberikan wawasan yang sangat bagus soal apa yang telah terjadi dalam evolusi geologi Mars."

Namun, di Kawah Chicxulub, sebagian besar pengetahuan luar biasanya masih terkubur di bawah tanah, jarang dipelajari oleh pengunjung meskipun museum telah dibuka dan Meksiko minta pengakuan Unesco.

Turis yang mengunjungi salah satu dari sedikit cenote cantik yang tersisa, di mana mereka dapat berenang di antara ikan dan akar pohon yang menjuntai- mungkin tidak menyadari bahwa fitur geologis ini bisa terjadi karena batu terdorong ke permukaan tanah saat terjadinya benturan. Selama ribuan tahun, air yang menetes telah menembus batu kapur di garis patahan ini.

Hak atas foto Donald Miralle

Ocampo telah mengunjungi semenanjung itu beberapa kali sejak penemuannya pada akhir 1980-an. Ketika ditanya apakah orang-orang sadar akan pentingnya tempat ini, dia menjawab dengan nada tidak senang.

"Jawaban singkatnya, tidak," jawabnya. "Kita harus berusaha lebih baik lagi. Kita perlu mendidik dan membuat mereka sadar betapa luar biasanya tanah yang mereka tinggali."

"Ini adalah tempat yang unik di planet kita, sungguh! Tempat ini harus dilestarikan sebagai situs Warisan Dunia."


Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini di The Buried Secrets of the Deadliest Location on Earth di BBC Travel

Topik terkait

Berita terkait