Toyi-toyi, tarian pemersatu warga kulit hitam Afrika Selatan melawan apartheid

Toyi-toyi, gerakan ritmis dan menghentak yang mengangkat protes, menjelma menjadi sesuatu yang menyihir, menyatukan jutaan warga kulit hitam Afrika Selatan dalam pertempuran melawan apartheid.

Toyi-Toyi Hak atas foto Jeff J Michell/Getty Images

Tatkala mantan presiden Amerika Serikat, Barack Obama, berkunjung ke Johannesburg awal tahun ini, presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, berkelakar di atas panggung bahwa tamunya hanya kalah dari Nelson Mandela dalam satu bidang: berjoget.

Obama yang malang tidak akan bisa menyaingi sebagian besar politisi Afrika Selatan di bidang ini. Mereka berjoget di berbagai acara, dari kampanye politik hingga di dalam parlemen.

Khalayak di seluruh dunia menari untuk mengungkapkan cinta, gairah dan harapan. Terlepas apakah gerakan itu mengikuti ritme atau tidak, kita menggerakkan tubuh mengikuti musik sebagai cara untuk merayakan dan memperlihatkan kesenangan saat berkumpul.

Tetapi di Afrika Selatan, menari telah melampaui dunia kebahagiaan hingga menjadi bentuk seni berpolitik dan suatu cara yang kuat bagi mereka yang merasa suaranya tidak didengar.

Toyi-Toyi Hak atas foto Pedro Ugarte/Getty Images
Image caption Di Afrika Selatan, menari telah menjadi suatu cara yang kuat bagi mereka yang merasa suaranya tidak terdengar.

Saya memiliki ingatan masa kecil yang terang-benderang tentang bagaimana potensi kemarahan dan perasaan diperlakukan secara tidak adil dapat diterjemahkan melalui tarian.

Saya lahir di Johannesburg pada 1980an dengan keistimewaan sebagai keluarga kulit putih. Saya masih mengingat suara lamat-lamat genderang protes di seluruh kota dan derap kaki yang menghantam trotoar sebelum raungan sirine polisi membangunkan mereka dari tidur-tidur ayam mereka.

Kami pindah ke London selama puncak kekerasan apartheid pada akhir 1980-an.

Dari apartemen kami di Battersea, orang tua saya dengan cemas menonton gambar-gambar buram di BBC News perihal warga kulit hitam Afrika Selatan di Soweto yang menari dengan amarah serta juga gairah di hadapan polisi Afrika bersenjata lengkap dan anjing-anjing pemburu mereka.

Kini saya mengetahui mereka tengah menarikan toyi-toyi. Suatu gerakan ritmis menghentak yang mengubah aksi protes menjadi sesuatu yang menyihir, toyi-toyi berjasa membangkitkan jutaan warga kulit hitam Afrika Selatan dalam perjuangan melawan apartheid.

Setelah hak memilih mereka dihilangkan dan hak asasi manusia ditindas oleh pemerintahan kulit putih, mereka memenuhi jalanan untuk berjuang melawan penindas mereka dengan satu-satunya senjata yang mereka miliki: tubuh mereka.

Toyi-Toyi Hak atas foto Brooks Kraft/Getty Images
Image caption Selama apartheid, jutaan warga kulit hitam Afrika Selatan turun ke jalan untuk melawan penindasan dengan tubuh-tubuh mereka.

Selama masa perjuangan, toyi-toyi adalah tarian provokasi terang-terangan. Seperti yang dikatakan musisi jazz Afrika Selatan Hugh Masekela, merujuk pada polisi negara bagian, "Karena kami tidak bisa mengalahkan orang-orang ini secara fisik, Anda dapat menakut-nakuti mereka dengan lagu-lagu kami."

Seperti itulah jika toyi-toyi bertujuan untuk mengintimidasi.

Ini adalah tarian kolektif yang membutuhkan ratusan peserta untuk menciptakan kesan mendesak yang nyata, karena setiap anggota kerumunan itu mengangkat lutut mereka tinggi-tinggi dan kemudian menghentakkannya keras-keras ke tanah.

Tangan diangkat ke atas kepala dan setiap gerakan disertai dengan suara-suara ritmis atau nyanyian. Selama apartheid, seseorang biasanya akan berteriak 'Amandla!', yang berarti 'kekuatan' dan kerumunan akan menjawab dengan 'Awethu!' - 'untuk orang-orang'.

"Toyi-toyi memiliki dampak yang signifikan terhadap perang melawan apartheid," kata Dr Gavin Walker, seorang etnomusikolog di Stellenbosch University.

"Tarian itu telah menjadi salah satu bentuk budaya protes yang paling dikenal di seluruh dunia - tidak hanya dalam sikap tubuh dan gerakan, tetapi juga irama."

"Toyi-toyi memasuki kesadaran kolektif warga Afrika Selatan ketika lagu-lagu berubah dari lagu ratapan dan kesedihan pada tahun 1970an menjadi lagu-lagu bernada marah," lanjutnya.

"Kehadiran toyi-toyi bertepatan dengan momen ketika ANC (The African National Congress, partai yang memimpin perjuangan melawan apartheid dan sekarang memerintah Afrika Selatan) memulai perjuangan bersenjata mereka, dan musiknya mencerminkan dan membantu mendorong perubahan itu.

"Hal itu membuat saya teringat pada kutipan Brecht - 'Seni bukanlah cermin untuk menggambarkan masyarakat, tetapi palu untuk membentuknya'."

Toyi-Toyi Hak atas foto Anesh Debiky/Getty Images
Image caption Dr Gavin Walker: "[Toyi-toyi] telah menjadi salah satu dari bentuk budaya protes yang paling dikenal di seluruh dunia".

Toyi-toyi barangkali telah membantu pembentukan Afrika Selatan modern, tetapi tarian ini diyakini ditemukan oleh pejuang kemerdekaan Rhodesia, Zimbabwe era modern.

Tarian ini segera menyebar seperti api kepada kelompok-kelompok non militan dan dikerahkan dalam pertempuran mingguan melawan polisi di kota-kota di seluruh negeri.

"Ketika toyi-toyi melintasi perbatasan, tarian itu melebur ke dalam pertunjukan budaya yang mengelilingi protes itu, dan segera saja menjadi cara untuk mengintimidasi tentara pertahanan apartheid," kata Dr Walker.

"Mereka (warga kulit hitam Afrika Selatan) tidak bersenjata dan berhadapan dengan senjata-senjata canggih tanpa suatu apa kecuali musik di sisi mereka, dan mereka membutuhkan sesuatu untuk membakar semangat mereka.

"Segera saja hal itu menjadi alat yang ampuh, sebagian karena ini merupakan aktivitas yang menuntut latihan fisik - Anda mengangkat lutut Anda setinggi mungkin, dan hal ini melepaskan adrenalin, sementara iramanya menciptakan denyut eksternal dan suasana kolektif yang kuat, yang mencegah rasa takut."

Toyi-Toyi Hak atas foto AFP contributor/Getty Images
Image caption Toyi-toyi diyakini telah ditemukan oleh pejuang kemerdekaan Rhodesia, sekarang Zimbabwe.

Toyi-toyi sangat mengagumkan ditonton. Beberapa pekan sebelum ulang tahun saya yang kesepuluh, kami menghabiskan liburan satu bulan penuh di rumah kakek dan nenek di kota tepi pantai di ujung paling selatan Afrika.

Satu pagi saya duduk dengan pakaian terbaik saya dan menonton siaran televisi.

Saat itu bulan Mei 1994 dan Nelson Mandela berpidato di hadapan ribuan orang sebagai presiden Afrika Selatan yang baru.

Ketika dia mengucapkan kata-kata harapan dan cinta tentang negerinya yang rusak, kerumunan massa di hadapannya mulai menari.

Ratusan ribu orang di Johannesburg melakukan toyi-toyi untuk Madiba hari ini, dan sebagai tanggapannya, dia menari untuk mereka di atas panggung, gembira di bawah sorotan dunia.

Toyi-toyi, yang menarikan intimidasi dan kekerasan, tiba-tiba menjadi ekspresi perayaan. Sebagai negara yang mengalami perubahan yang luar biasa dalam waktu yang sangat singkat, makna toyi-toyi telah berubah menyesuaikan.

"Saya pikir toyi-toyi adalah tarian tentang keberanian dan persatuan," kata Themba Mbuki, seorang koreografer dan penari dari Soweto.

"Tarian ini menyatukan masyarakat untuk berjuang ketika kita ketakutan, dan tarian ini memberikan kita kekuatan dalam kelompok. Tetapi pada saat itu, di tahun 94, tarian ini juga menjadi simbol persatuan kita sebagai bangsa."

Toyi-Toyi Hak atas foto Marco Longari/Getty Images
Image caption Saat ini, toyi-toyi masih ditampilkan dalam pawai, protes dan perayaan.

Selang 24 tahun kemudian dan toyi-toyi hidup di Afrika Selatan. Tarian ini ditampilkan pada saat pawai dan perayaan-perayaan, dan lagu-lagunya digunakan untuk melepas emosi gembira, sakit, marah, semangat, patah hati dan penghiburan.

Protes massa terjadi tahun lalu terhadap korupsi yang dilakukan presiden saat itu, Jacob Zuma. Spanduk-spanduk bertuliskan 'Turunkan Zuma' bertebaran , warga Afrika Selatan dari berbagai usia dan ras turun menari di jalanan, menuntut akuntabilitas para pemimpin mereka.

Orang tua saya pindah kembali ke Cape Town beberapa tahun yang lalu, dan sekarang tinggal di kaki bukit Table Mountain.

Saya mengunjungi mereka ketika terjadi protes tahun lalu dan bersama-sama kami bergabung dengan ribuan warga Afrika Selatan untuk menuntut penghentian pemerintahan Zuma.

Tidak seperti tarian dalam pawai di Johannesburg dan Durban, protes di Cape Town berjalan lebih tenang.

Toyi-Toyi Hak atas foto Bernard Bisson/Sygma via Getty Images
Image caption Toyi-toyi, gerakan ritmis dan menghentak yang mengangkat protes, menjelma menjadi sesuatu yang menyihir, menyatukan jutaan warga kulit hitam Afrika Selatan dalam pertempuran melawan apartheid.

Tetapi menjelang sore, suara ritmis dari hentakan kaki di tanah mulai meningkat dan energi pawai segera berubah ketika sekelompok orang mulai melakukan toyi-toyi di Parliament Street.

Saya bisa melihat bagaimana hal itu bisa intimidatif dalam konteks yang berbeda. Tetapi di hari musim semi yang cerah, ketika seluruh kota merasa seperti disatukan dalam protes melawan korupsi, toyi-toyi dipenuhi emosi dan rasa patriotisme.

"Segera begitu Anda mulai melakukan toyi-toyi, ada ikatan kelompok yang luar biasa," kata penari di Johannesburg, Georgina Thomson.

"Ini adalah tentang menyatakan bahwa kita tidak akan menyerah dan kita berdiri sebagai satu bangsa, dan mengekspresikan suara kita secara kolektif. Ini terasa sangat meriah."

Toyi-Toyi Hak atas foto Jeff J Mitchell/Getty Images
Image caption Pada tahun 2013, tarian toyi-toyi duka selama prosesi pemakaman Nelson Mandela.

Sekarang, tarian ini dapat digunakan untuk menandai semua tonggak kehidupan: orang-orang bertoyi-toyi di upacara pernikahan, pesta ulang tahun, pemilihan umum dan kelulusan - dan bahkan selama menunggu antrian lama di kantor pos.

Para pengunjung dapat melihat orang-orang Afrika Selatan memulai tarian secara spontan di hari libur, terutama saat Natal dan Tahun Baru.

Saya sering duduk di jalur Camps Bay di Cape Town dan melihat sekelompok laki-laki bertoyi-toyi di luar kafe hanya untuk kesenangan.

Di sisi lain, mereka bertoyi-toyi saat prosesi pemakaman sebagai ekspresi kesedihan - pada hari musim semi yang luar biasa basah pada 2013, ribuan pelayat yang berduka melakukan toyi-toyi di jalanan Johannesburg selama pemakaman Mandela.

Saya tidak cukup berani untuk bergabung dalam tarian itu, tetapi banyak generasi yang 'lahir di masa merdeka' - mereka yang lahir setelah 1994 - mengambil alih tarian orang tua dan kakek nenek mereka.

Toyi-Toyi Hak atas foto Kevin Carter/Sygma/Sygma via Getty Images
Image caption Massa dari suku Zulu melakukan Toyi-toyi, di salah-satu sudut kota Alexandra, saat menuju stadion Orlando untuk mendengarkan pidato pimpinan Partai Kebebasan Inkatha dalam sebuah rapat umum, 24 April 1994.

Dalam kegiatan politik di kampus-kampus, para mahasiswa dari berbagai etnik menggelar toyi-toyi menuntut penurunan biaya pendidikan dan persamaan hak di bidang pendidikan untuk seluruh warga.

"Sebagian orang mengatakan bahwa orang-orang kulit putih tidak akan melakukan toyi-toyi karena sejarah tarian itu, tetapi saya tidak setuju," kata Mbuli.

"Ini adalah tari persatuan yang diketahui orang seluruh Afrika Selatan, dengan langkah-langkah yang semua orang bisa lakukan, penari atau bukan; tua atau muda; hitam atau putih.

"Bagi saya, tarian protes bukan tentang ras. Jika orang-orang merasa tidak suka pada sesuatu, dan mereka menari di jalan, warna kulit menjadi tidak relevan."

Tidak seperti tarian Afrika Selatan lainnya, toyi-toyi tidak berhubungan dengan suku apapun, dan tidak membutuhkan keterampilan menari.

Inilah kenapa, dalam negara multi bahasa dan multi budaya, toyi-toyi memiliki kemampuan yang hampir ajaib untuk menyatukan kelompok apapun.

Afrika Selatan adalah tempat bagi 11 bahasa nasional yang mengagumkan; tampaknya tepat bahwa toyi-toyi - senjata ampuh melawan kekerasan apartheid - sering dianggap sebagai bahasa ke-12.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini Is this South Africa's 12th official language? di BBC Travel.

Berita terkait