Seperti apa rasanya tinggal di negara ramah lingkungan?

Hak atas foto ENRICO CANO
Image caption 'Rumah sakit umum hijau pertama di dunia' ini berada di Italia, dirancang arsitek setempat Emilio Ambasz

Lima negara ini - Norwegia, Portugal, Uruguay, Kenya dan Selandia Baru- dianggap berkontribusi secara positif dan global terhadap planet dan iklim saat ini, menurut Good Country Index.

Laporan iklim terbaru tampak suram: penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal sains menunjukkan bahwa lautan menghangat 40% lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Sementara itu, panel ilmuwan perubahan iklim PBB menerbitkan laporan penting pada bulan Oktober 2018 yang memperingatkan bahwa kenaikan suhu dapat menyebabkan banjir besar, kekeringan, kekurangan makanan dan kebakaran hutan pada tahun 2040, kecuali jika dilakukan suatu tindakan drastis.

Selagi komunitas dunia masih membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan masalah perubahan iklim itu, sejumlah negara muncul dengan membuat kontribusi positif terhadap planet bumi, menurut Good Country Index alias Indeks Negara Baik.

Indeks itu bertujuan untuk mengukur dampak yang diciptakan suatu negara terhadap lingkungan sekitarnya, seperti jejak ekologinya terhadap ukuran perekonomian mereka dan persentasi energi terbarukan yang mereka gunakan.

"Di era globalisasi kita yang maju dan saling tergantung satu sama lain, segalanya - cepat atau lambat - berdampak pada keseluruhan sistem," ujar Simon Anholt, penasihat kebijakan independen yang menyusun indeks tersebut.

"Saya ingin menciptakan indeks pertama yang mengukur dampak eksternal masing-masing negara terhadap kemanusiaan, planet, di luar batas-batas wilayahnya."

Negara-negara di Eropa mendominasi daftar 10 teratas kategori Planet dan Iklim dalam Indeks Negara Baik.

Di sisi lain, negara-negara lainnya di seluruh dunia juga tengah mengambil langkah besar untuk mengurangi dampak negatif yang mereka buat terhadap lingkungan.

Kami berbincang dengan warga dari lima negara yang berprestasi tinggi dalam indeks tersebut dan menanyakan bagaimana rasanya tinggal di negara yang berbuat banyak dalam upaya menyelamatkan planet bumi.

Sejumlah remaja yang tergabung dalam organisasi Nature and Youth di Norwegia berunjuk rasa damai menuntut upaya pelestarian lingkungan Hak atas foto HEIKO JUNGE/AFP/Getty Images
Image caption Norwegia memuncaki daftar negara dalam Indeks Negara Baik yang telah menciptakan kontribusi positif terhadap iklim dan planet bumi

Norwegia

Peringkat Indeks kategori Planet & Iklim: 1

Memuncaki daftar negara dengan kontribusi positif terhadap iklim dan planet bumi adalah Norwegia, yang menjadi nomor satu di dunia dalam sejumlah program pelestarian lingkungan, termasuk pengadopsian mobil listrik terbanyak di dunia dan komitmen pemerintah setempat untuk menjadi negara dengan iklim beremisi karbon dioksida minimum (climate neutral) pada tahun 2030.

Yang perlu diketahui, hubungan dengan lingkungan alam di negara ini jauh lebih maju dari sekadar kebijakan. Masyarakat Norwegia memiliki konsep friluftsliv, yang bermakna 'hidup di alam terbuka' dan membawa pesan betapa pentingnya menghabiskan waktu di luar ruangan agar sehat dan bahagia.

"Itu benar-benar merupakan bagian dari budaya kami yang mengakar, dan sesuatu yang hampir seperti suatu agama bagi banyak orang," ujar warga Norwegia, Axel Bentsen, pendiri sekaligus CEO Urban Sharing, perusahaan di balik program peminajaman sepeda (bike sharing) terkenal Oslo City Bike.

"Kami menghabiskan waktu di luar ruangan dalam berbagai kondisi cuaca, dan bahkan anak-anak bayi kami tidur siang di luar. Ibu kota kami, Oslo, unik, di mana Anda bisa menaiki transportasi umum langsung menuju hutan, karena itu memang sesuatu yang banyak dilakukan warga sebelum atau setelah pergi bekerja."

Oslo dinobatkan sebagai Ibu Kota Hijau Eropa 2019 oleh Komisi Eropa karena berhasil memulihkan jalur airnya, berinvestasi dalam program bersepeda dan transportasi publik, serta atas pendekatan inovatifnya terhadap pembuatan anggaran penanggulangan perubahan iklim (membuat emisi karbon dioksida menjadi suatu ukuran yang dapat dilacak seperti halnya pendanaan keuangan).

Kota itu juga tengah berupaya agar menjadi kota bebas-kendaraan di bagian pusatnya.

"Sepanjang tahun lalu, luar biasa melihat kota ini menghilangkan area-area parkir untuk memperluas kawasan ramah pejalan kaki dan pesepeda, sementara infrastruktur untuk bersepeda telah ditingkatkan dengan memperbanyak jalur sepeda," ujar Bentsen.

Warga Norwegia menerapkan konsep friluftliv, yang berarti 'hidup di alam terbuka' Hak atas foto ERIK JOHANSEN/AFP/Getty Images
Image caption Warga Norwegia menerapkan konsep friluftliv, yang berarti 'hidup di alam terbuka'

Meskipun 99% energi domestik di Norwegia dihasilkan secara berkelanjutan oleh tenaga air dari pesisir pantai, fjord dan air terjunnya, Norwegia masih tetap menjadi negara penghasil dan pengekspor minyak, yang, ironisnya, menjadi masalah politik yang kontroversial.

"Apakah penyedotan serta ekspor minyak dan gas yang berkelanjutan layak dilakukan karena menghasilkan uang dalam jumlah besar untuk digunakan dalam pembangunan infrastruktur lingkungan yang jika tidak dilakukan maka tak akan bisa dibangun?" tanya David Nikel, ekspat asal Inggris yang telah tinggal di Norwegia sejak tahun 2011 dan menulis blog di Life in Norway.

"Banyak yang berpendapat (uang yang digunakan untuk membangun infrastruktur lingkungan) akan menginspirasi kota-kota dan negara-negara lain, dan pada akhirnya menjadikan dunia yang lebih ramah lingkungan. Sedangkan yang lain menganggap bahwa itu adalah standar ganda. Tergantung dari sisi mana Anda melihatnya."

Portugal

Peringkat indeks Planet & Iklim: 3

Berada di posisi ketiga atas kontribusinya terhadap planet Bumi, Portugal. Negara ini sejak awal memimpin investasi dalam pembangunan jaringan lengkap stasiun pengisian bahan bakar untuk mobil listrik (yang sempat digratiskan).

Portugal juga telah memberi insentif kepada warganya untuk memasang panel tenaga surya dan energi terbarukan dengan harga yang lebih murah dan kesempatan untuk menjual kembali energi tersebut ke dalam jaringan.

"Sebagian besar tetangga saya, mereka memiliki panel surya atau pompa air. Di rumah, orang tua saya memasang sebuah pompa yang bisa mengubah air hujan menjadi air bersih (yang) kami gunakan utamanya untuk menyirami tanaman kami, mencuci pakaian dan memberi minum hewan peliharaan kami," ujar Mariana Magalhães , yang berasal dari Portugal namun kini tinggal di Inggris dan menjadi seorang manajer komunikasi pada sebuah agensi branding Forty8Creates.

Ia juga mengaku terkejut saat melihat hanya ada sedikit stasiun pengisian bahan bakar mobil listrik di London, dibanding di kota kecil tempatnya berasal yang lebih banyak jumlahnya.

Mendaur ulang dan mengompos sampah adalah gaya hidup normal di sana, dengan tempat sampah khusus di setiap lingkungan perumahan, termasuk salah satunya untuk sampah baterai. Pendidikan berperan penting dalam menciptakan budaya ramah lingkungan dalam kegiatan sehari-hari menjadi nyata.

"Di SMA, kami punya banyak kelas pendidikan lingkungan dan kami sering mengadakan kelas di taman kota setempat untuk membangun rasa cinta kita terhadap lingkungan," ujar Magalhães.

Portugal merupakan negara yang sejak awal memimpin investasi dalam pembangunan jaringan lengkap stasiun pengisian bahan bakar untuk mobil listrik Hak atas foto Horacio Villalobos - Corbis/Corbis via Getty Image
Image caption Portugal merupakan negara yang sejak awal memimpin investasi dalam pembangunan jaringan lengkap stasiun pengisian bahan bakar untuk mobil listrik

Sejak lama Portugal menjadi masyarakat agraris yang telah banyak memanfaatkan sumber daya alamnya yang melimpah.

"Di perbatasan antara Portugal dan Spanyol di sisi utara, Anda bisa melihat pegunungan yang dipenuhi mesin-mesin angin penghasil energi terbarukan. Anda juga bisa melihat (dam hidroelektrik) di danau-danau untuk menghasilkan energi dari air," ujarnya.

"Kami punya kondisi alam yang mendukung penggunaan energi terbarukan," tambah Joana Mendes, manager penginapan Molinum di selatan Portugal. "Karena itu semua lebih murah, kami pun secara bertahap mulai berubah ke sana."

Di ibu kota Lisbon yang berbukit-bukit, pengadopsian sepeda sebagai moda transportasi tidak segiat di ibu kota-ibu kota negara Eropa lainnya, tapi moda transportasi berkelanjutan lainnya mulai digalakkan.

"Penyewaan skuter listrik yang mulai diperkenalkan di Lisbon mulai populer," ujar warga Amerika Serikat, Wendy Werneth, yang sudah tinggal di Portugal selama dua tahun dan menulis blog di The Nomadic Vegan. "Warga Lisbon sudah merangkul skuter listrik sebagai moda transportasi yang ramah lingkungan untuk digunakan berkeliling kota."

Uruguay

Peringkat indeks Planet & Iklim: 15

Berada di peringkat teratas di antara negara Amerika Selatan lainnya dalam indeks kategori Planet dan Iklim (di posisi ke-15) dan secara konsisten dinobatkan sebagai salah satu kota tujuan paling layak dikunjungi karena kebijakan sosial dan lingkungannya, Uruguay telah menjadi pemimpin global dalam upaya menciptakan energi terbarukan - baik sebagai kebutuhan maupun bentuk penghormatan terhadap planet Bumi.

"Uruguay tidak punya cadangan minyak dan telah menghabiskan banyak dana untuk mengimpornya. Maka, kami mulai mengganti bahan bakar minyak dengan energi terbarukan, yang telah berhasil dicapai selama satu dekade terakhir," ujar warga Amerika keturunan Uruguay Lola Méndez, yang menulis blog di Miss Filatelista.

Saat ini, sekitar 95% listrik di sana berasal dari energi terbarukan, kebanyakan diproduksi pembangkit listrik tenaga air, juga disumbang dari tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga biofuel. "Pada tahun 2012, Uruguay hanya menghasilkan 40% energi terbarukan, jadi ini adalah suatu perubahan drastis yang dilakukan dalam waktu singkat," ujarnya.

Komitmen itu terbayar lunas, ketika negara kecil tersebut mencuri perhatian dunia saat berlangsungnya Kesepakatan Paris tahun 2015 lalu karena telah menciptakan perubahan signifikan, dan semuanya dilakukan tanpa subsidi pemerintah.

Uruguay secara konsisten dinobatkan sebagai salah satu kota tujuan paling layak dikunjungi karena kebijakan sosial dan lingkungannya Hak atas foto MIGUEL ROJO/AFP/Getty Images
Image caption Uruguay secara konsisten dinobatkan sebagai salah satu kota tujuan paling layak dikunjungi karena kebijakan sosial dan lingkungannya

Di luar insentif ekonomi, penduduk telah membangun hubungan yang kuat dengan tanah kelahiran mereka selama berabad-abad. "Warga Uruguay selalu mencintai dan menghormati Tierra Madre," ujar Mendez.

"Dari penduduk asli suku Charrúa hingga para gaucho (penunggang kuda) yang mengembangkan ternak ratusan sapi dan domba negeri ini, hidup dari tanah air kami selalu menjadi cara orang Uruguay untuk bisa makmur."

Transportasi publik (kebanyakan bertenaga listrik) dapat dilihat berseliweran di kota-kota besar di sana, dan Bandara Internasional Carrasco di ibu kota Montevideo juga hampir secara keseluruhan dipasangi sistem tenaga surya (PV), dan menjadi bandara pertama di Amerika Latin yang menggunakan pembangkit listrik tenaga surya.

Kenya

Ranking indeks Planet & Iklim: 26

Dengan meningkatnya pola cuaca ekstrem dan kekeringan, Kenya telah merasakan dampak awal perubahan iklim.

Sebagai reaksi, pemerintah Kenya berupaya untuk melindungi perekonomian negerinya yang sangat bergantung pada bidang agrikultur, dengan meluncurkan Rencana Aksi Penanggulangan Perubahan Ilim dan berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 30% pada tahun 2030.

Upaya lain yang telah membuat Kenya berada di ranking ke-26 dalam indeks Planet dan Iklim adalah pelarangan kantong plastik yang baru-baru ini diterapkan untuk melindungi jalur perairan dan lingkungan setempat.

Larangan tersebut menjadi salah satu peraturan paling ketat di dunia, dengan ancaman penjara dan sanksi uang yang besar kepada penduduk (atau bahkan wisatawan) yang kedapatan memilikinya.

Komunitas lokal di Kenya memiliki sistem perlindungan lingkungan tradisional yang diterapkan Hak atas foto TONY KARUMBA/AFP/Getty Images
Image caption Komunitas lokal di Kenya memiliki sistem perlindungan lingkungan tradisional yang diterapkan

Campur tangan pemerintah tidak selalu diperlukan dalam upaya melindungi lingkungan sekitar.

"Komunitas lokal di sini memiliki sistem perlindungan lingkungan alam secara tradisional, di mana sistem tradisional tersebut juga berhasil dengan baik," ungkap warga Amerika Faye Cuevas, yang tinggal di Nairobi sebagai wakil presiden senior IFWA (International Fund for Animal Welfare).

"Hutan Maasai Loita adalah contohnya - satu dari sedikit hutan yang dikelola masyarakat asli di Kenya dan itu murni, sebagian besar karena adanya peraturan lokal dan sistem tradisional yang diterapkan untuk melindunginya."

Keluarga dan lingkungan tak bisa dipisahkan bagi warga Maasai, masyarakat etnis pribumi di selatan Kenya dan utara Tanzania.

"Ketika Anda mendengar warga Maasai menyapa satu sama lain, sapaan itu terjadi dalam serangkaian percakapan. Pertama-tama, mereka akan membicarakan soal lingkungan sekitar - curah hujan, kesuburan rumput, kondisi air. Lalu, mereka mendiskusikan ternak. Dan terakhir, mereka menanyakan kabar keluarga masing-masing," jelas warga Kenya, John Kamanga, tetua komunitas Maasai dan direktur SORALO Conservancy di Danau Rift Selatan, Kenya.

"Seperangkat prinsip tradisional yang sama digunakan untuk mengelola segala jenis kehidupan - kurang baiknya kesehatan lingkungan berarti tak akan ada sapi, yang berarti tak akan ada anak-anak, yang berarti hilangnya kebudayaan tradisional dan tata cara hidup kuno."

Selandia Baru

Peringkat indeks Planet & Iklim: 39

Berada di posisi ke-39 dalam indeks Planet dan Iklim - yang membuat Selandia Baru menjadi yang terdepan di kawasan Asia Pasifik.

Selandia Baru menganggap sangat serius upaya perlindungan sumber daya alam, khususnya dikarenakan pertanian dan perekonomian mereka yang berbasis wisata sangat bergantung padanya.

Selandia Baru ada di peringkat ke-39 dalam indeks Planet dan Iklim, membuat negara ini sebagai yang terdepan di kawasan Asia Pasifik Hak atas foto Kerry Marshall/Getty Images
Image caption Selandia Baru ada di peringkat ke-39 dalam indeks Planet dan Iklim, membuat negara ini sebagai yang terdepan di kawasan Asia Pasifik

"Negara kami dikenal seluruh dunia dengan sebutan 'Selandia Baru yang Hijau nan Bersih' dan kami sangat terikat dengan identitas itu," tutur Brendan Lee, warga asli Selandia Baru, yang menulis blog di Bren on the Road.

"Kiwis (sebutan bagi warga Selandia Baru) sangat bangga ketika para pengunjung mengatakan kepada kami bahwa alam kami indah, negara kami indah."

Sementara itu, Selandia Baru merupakan satu di antara negara penghasil emisi karbon terbesar per kapita. Utamanya, disebabkan oleh emisi gas metana dari industri besar peternakan domba dan sapi, serta peningkatan industri energi.

Meski demikian, negara ini membentuk koalisi pimpinan parlemen lintas partai untuk menciptakan program Net Zero in New Zealand, sebuah rencana untuk memetakan kebijakan yang dibutuhkan untuk mencapai netralitas karbon (program emisi karbon minimum) pada tahun 2050.

Meskipun Selandia Baru berukuran dua pertiga California, mereka memiliki populasi hanya 10% dari negara bagian AS tersebut, yang membuat mereka tidak terlalu mengkhawatirkan masalah-masalah lingkungan harian, seperti polusi udara atau timbunan sampah, jika dibandingkan dengan kota besar lainnya di dunia.

Akan tetapi hal itu berubah beberapa tahun belakangan.

"Sangat langka, di Selandia Baru, untuk menemukan timbunan sampah plastik, atau aliran-aliran air tersumbat botol dan kantong plastik, jadi ini merupakan masalah yang tidak terantisipasi," ujar Lee. Namun hal tersebut juga tengah diubah beberapa waktu terakhir.

"Sekarang, penggunaan kantong plastik dilarang di supermarket-supermarket - Anda tidak akan melihat sedotan plastik. Memiliki botol minuman yang dapat digunakan kembali menjadi sebuah tren," jelas Jess Tonking, warga Inggris yang ini tinggal di Queenstown dan bekerja di sebuah merek pakaian olahraga ramah lingkungan Sundried.

"Saya lebih memerhatikan lingkungan sekarang, sejak saya tinggal di Selandia Baru. Saya mendaur ulang segala hal di sini, saya sudah mengurangi konsumsi produk-produk binatang, dan saya rasa saya menjalani gaya hidup yang lebih ramah lingkungan."

Akibat emisi gas metana dari industri besar peternakan domba dan sapi, juga karena peningkatan industri energi, Selandia Baru merupakan satu di antara negara penghasil karbon terbesar per kapita Hak atas foto Hagen Hopkins/Getty Images
Image caption Akibat emisi gas metana dari industri besar peternakan domba dan sapi, juga karena peningkatan industri energi, Selandia Baru merupakan satu di antara negara penghasil karbon terbesar per kapita

KLARIFIKASI: Artikel ini telah diedit untuk menjelaskan bahwa kelima negara yang diulas di atas tidak semuanya masuk ke dalam jajaran 10 teratas penilaian Indeks Planet dan Iklim Negara Baik.

Anda dapat membaca artikel bahasa Inggris Living in a country that thinks green di laman BBC Travel.

Berita terkait