Inikah jalur laut paling berbahaya di dunia?

Penulis James Clark melakukan perjalanan melewati Selat Magelhaens, hampir 500 tahun setelah rute laut tersebut ditemukan. Hak atas foto James Clark
Image caption Penulis James Clark melakukan perjalanan melewati Selat Magelhaens, hampir 500 tahun setelah rute laut tersebut ditemukan.

Untuk memperingati 500 tahun penemuan Selat Magelhaens, seorang penulis melakukan napak tilas perjalanan kakeknya menuju Tanjung Horn yang mematikan.

Saat saya masih kecil, kakek saya, Alfred Downes, sering bercerita tentang perjalanan 128 hari yang dilakukannya pada 1949, dengan menaiki Pamir.

Kapal layar empat tiang yang terkenal jenis Flying P-Liner Jerman itu berlayar dari Port Elizabeth di Adelaide, Australia menuju kota Falmouth di Cornwall, Inggris, dengan mengangkut 60.000 kantung gandung Australia.

Ini adalah perjalanan terakhir kapal tersebut melalui lautan dengan ombak tinggi melewati Jalur Francis Drake, dan ini akan menjadi untuk terakhir kalinya sebuah kapal layar komersil melewati Tanjung Horn di Cile selatan.

Untuk memperingati 70 tahun perjalanan kakek saya dan 500 tahun penemuan rute laut Selat Magelhaens yang memisahkan ujung paling selatan Amerika Selatan dengan kepulauan Tierra del Fuego di Cile, saya menaiki kapal ekspedisi Ventus Australis di Punta Arenas, Cile.

Saya selalu ingin melihat lanskap alam yang sering diceritakan oleh kakek saya, dan meski tak mungkin bagi saya untuk mengikuti perjalanannya selama empat bulan, perjalanan empat malam saya cukup membuat saya merasakan semangat petualangannya.

Saya dibawa melewati fjord sempit di Selat tersebut yang juga dilaluinya, dan kemudian ke selatan, klimaks dari perjalanannya: Tanjung Horn yang berbahaya yang terus diingatnya seumur hidup.

Kakek saya meninggalkan Australia saat dia berusia 20 tahun dan bekerja sebagai anak buah kapal di Pamir, dia tak pernah pulang lagi.

Dia memang sudah lama memimpikan meninggalkan Australia, karena hubungannya dengan ayahnya yang tak bahagia.

Ayahnya ingin dia menikahi seorang perempuan dari kampung halamannya di daerah pinggiran Adelaide dan bekerja di pertanian keluarga. Tapi kakek saya ingin memulai hidup baru di Inggris. Dia tak tahu apa-apa tentang negara itu, tapi dia selalu terpesona akan sejarahnya saat di sekolah.

Saat seorang teman keluarga memberi kesempatan untuk bergabung dengan Pamir, kakek saya langsung menerimanya dan menaiki kapal itu tiga hari kemudian, bersama dengan 33 kru lain.

Dia bekerja selama 18 jam sehari dan menghabiskan harinya membersihkan dan mengepel dek, membantu di dapur dan membersihkan toilet.

Saking bencinya dia dengan pekerjaan itu, saat kru lain langsung mendaftar untuk perjalanan pulang selama 128 hari kembali ke Australia, dia turun kapal dan langsung pergi ke kota Wymondham di Norfolk.

Dia mendengar rumor akan kesempatan bekerja sebagai petani di daerah pedesaan, dan dia tinggal di sana selama 54 tahun sampai akhirnya meninggal pada 2003.

Satu-satunya yang disukai oleh kakek saya tentang perjalanan yang dilaluinya adalah kesempatan melihat kepulauan terpencil Tierra del Fuego yang melindungi Selat Magelhaens dari lautan, menghirup dalam-dalam udara Antartika dan merasakan angin beku yang meniup wajahnya.

"Tak ada tempat lain seperti ini di Bumi dan sangat jauh berbeda dari kehidupan saya bekerja di ladang ayah saya yang kering dan gersang," katanya saat saya berusia 10 tahun.

Mata kakek saya saat itu penuh dengan kekaguman. "Tak ada satu pun hal yang mengingatkan saya akan rumah. Saya merasa tersesat dan takut, tapi bebas."

Hak atas foto Bettmann
Image caption Pada 1949, kakek penulis melalui perjalanan 26.000 km menaiki Pamir dari Australia menuju Inggris.

Tujuh puluh tahun kemudian, saya datang di Punta Arenas dan berjalan ke alun-alun utama kota tersebut, Plaza de Armas. Patung Ferdinand Magelhaens, orang Eropa pertama yang melalui selat tersebut pada 1520 dalam perjalanannya mengelilingi dunia, berdiri tegak di depan meriam.

Penjelajah Portugis itu berlayar ke titik yang dengan kota ini — terletak di ujung paling selatan dari kawasan Patagonia, Cile — dan seperti terlihat dari perbedaan warna di sepatu boot tembaganya, kini orang-orang yang menaiki kapal layar menganggap bahwa menyentuh kaki Magelhaens sebelum mengikuti jejaknya sebagai tanda keberuntungan.

Selama 400 tahun, Selat Magelhaens menjadi rute utama untuk kapal-kapal yang melakukan perjalanan antara samudera Atlantik dan Pasifik.

Terlepas dari jalur panjang 600km ini harus melalui kumpulan pulau dan fjord yang tersebar, jalur ini dianggap sebagai yang teraman daripada melewati bagian bawah Tanjung Horn dan melewati Jalur Drake yang memisahkan Tanjung Horn dan South Shetland Islands, Antartika.

Penyelesaian Kanal Panama pada 1914 menyebabkan turunnya lalu lintas laut yang melewati Selat tersebut, tapi tak seperti kapal uap, kapal layar dari Australia kesulitan mengakses jalur barat Kanal tersebut karena lokasinya yang terletak di tengah sabuk berbahaya yang penuh dengan badai atau angin yang datang tiba-tiba dan tak bisa diprediksi.

Tapi karena ukuran panjang Pamir yang mencapai 114 meter dan tiang setinggi 14 meter, kapal layar dengan tiang besi dan berukuran besar itu terlalu lebar untuk bisa melewati Selat yang berkelok-kelok.

Maka kakek saya tak punya pilihan lain selain melewati pinggiran selat tersebut dan kepulauan Tierra del Fuego untuk mengelilingi Tanjung Horn.

Dia merasa cukup bangga karena dia dan krunya adalah pelaut komersil terakhir yang pernah melakukannya. Dia bilang, "Jadi yang terakhir itu bagus, karena jadi yang pertama kamu menjadi sejarah."

Hak atas foto Ben Sayer
Image caption Penulis James Clark berdiri di tugu peringatan untuk banyak pelaut yang kehilangan nyawanya berusaha untuk 'mengelilingi Tanjung'.

Saya menyesap pisco sour saat kru Ventus Australis menarik jangkar di Punta Arenas.

Saya menyadari perbedaan antara pengalaman kakek saya dan saya; jika perjalanan melewati 26.000 km melewati salah satu perairan dengan ombak terkuat di dunia bisa disamakan dengan mendaki Gunung Everest versi pelaut, perjalanan saya terasa seperti mendaki gunung dengan digendong oleh sherpa yang membawa saya ke puncak.

Lampu-lampu Punta Arenas terlihat memudar saat kami memasuki Selat yang penuh rintangan. Langit langsung gelap dan saya hanya bisa merasakan pergerakan kapal melewati ombak.

Kakek saya pernah bercerita soal malam-malam panjang penuh kegelapan dan kesepian di lautan.

Sulit baginya untuk meninggalkan ibu dan saudari-saudarinya, tapi dia tak pernah meragukan keputusannya untuk memulai hidup baru di negara baru sesuai dengan keinginannya.

Keesokan paginya, saya menaiki Zodiac, sebuah kapal apung, dan pergi ke pantai berbatu Ainsworth Bay.

Fjord panjang itu dikelilingi oleh hutan sub-kutub dan terletak di bawah Gletser Marinelli yang putih menjulang. Saat kami semakin dekat ke bongkahan es itu, saya terkesima dengan keindahan tempat tersebut.

Cahaya matahari memantul di gletser tersebut dan lautan terlihat begitu jernih sampai-sampai terlihat seperti air minum yang segar.

Saya menghabiskan dua jam mendaki puncak danau es tersebut, melewati aliran air berwarna turkuois dan air terjun. Kesunyian tempat itu benar-benar magis. Kakek saya sering mengenang tenangnya kawasan tersebut — dia menyebut fenomena itu sebagai 'Momen Patagonia'. Saat saya masih kecil, saya tak memahami apa yang dia maksud, tapi saat saya besar, saya menyukai konsep ini.

Setiap kali saya berbicara dan kakek saya ingin saya diam, dia akan melihat ke arah saya dengan galak dan bilang, "Saatnya kamu merasakan Momen Patagonia. Tenang." Ainsworth Bay adalah untuk pertama kalinya saya mengalami kesunyian total, dan saya tak bisa tak mengingat kakek saya.

Hak atas foto James Clark
Image caption Ainsworth Bay yang terletak di Selat Magelhaens penuh dengan fjord panjang dan dikelilingi oleh hutan sub-kutub.

Siang itu, kami kembali ke Zodiac dan melewati perairan dengan gelombang yang lebih kuat untuk melihat penguin Magellanic di Tuckers Islets. Kakek saya sering mengenang sebuah pulau berbatu di Patagonia yang penuh dengan penguin yang dilihatnya dari dek Pamir.

Kakek saya menggambarkan burung-burung itu sebagai 'makhluk bau yang bentuknya aneh' dan sering bercanda soal pernah memakan mereka.

Sekitar 4.000 penguin yang kini menghuni Tuckers tampak cukup senang meski langit semakin gelap dan hujan turun. Saya ikut tersenyum saat melihat penguin bermain, bertanya-tanya apakah mereka adalah kerabat jauh dari penguin yang dilihat kakek saya 70 tahun lalu.

Keesokan paginya, saat kami mendekati Pia Glacier dan lanskap spektakuler Glacier Alley, saya ingat kakek saya dengan penuh semangat mengisahkan tentang perairan dramatis di kepulauan Tierra del Fuego yang penuh dengan sebaran es dan "potongan es raksasa di antara gunung-gunung".

Baru kemudian dia mengetahui bahwa formasi ini punya nama: gletser. Saat Pamir melewati potongan es besar ini, dia ingat para kru akan berhenti mengerjakan apa yang mereka lakukan dan melihat adegan spektakuler ini yang terasa seperti sebuah dunia lain buat mereka.

"Itu adalah tempat yang paling menakjubkan!" Kata kakek saya pada satu pagi di Hari Natal saat saya masih berusia delapan tahun. Dia menatap keluar jendela, melihat ke arah es yang menggantung. "Saya belum pernah melihat gletser sebelumnya. Tak ada gletser di Adelaide."

Hak atas foto ullstein bild/ullstein bild via Getty Images
Image caption Kakek si penulis bekerja 18 jam sehari di kapal Pamir, tapi berhenti bekerja untuk melihat penguin dan gletser di dekat Patagonia.

Pia Glacier, yang terletak di barat laut Selat Beagle, dulunya adalah bongkahan es seluas 14 km persegi, tapi kini sudah menyusut jadi 7 kilometer persegi. Saat saya mendekat ke gletser itu dan mendaki Darwin Mountain Range, suara es yang pecah dari gletser dan jatuh ke laut di bawahnya memecah kesunyian.

Saya merasa curang saat melihat gletser-gletser raksasa itu dengan hangat di kapal. Kakek saya sering bercerita tentang pengalamannya duduk di dek dengan satu tangan memegang minuman panas agar tetap hangan dan satu tangan lain memegang rokok sambil menghirup udara dingin.

Saat kapal kami menavigasi di sekitar bongkahan es, saya melihat sekelompok kecil lumba-lumba berenang dekat kami. Saya juga melihat paus, hanya 20 meter jaraknya dari kapal, menyemprotkan air ke udara setinggi 1 meter seperti geyser yang meledak.

Di ujung Glacier Alley, kami belok ke arah tenggara menuju puncak perjalanan saya dan kakek saya, Tanjung Horn. Pamir harus mendekati tanah berbatu ini dengan melewati Jalur Drake, yang angin kencangnya serta ombak setinggi 10 tingkatnya telah membuat ratusan kapal tenggelam, dan telah menginspirasi Charles Darwin, Herman Melville dan Jules Verne menuliskan keganasannya.

Hak atas foto James Clark
Image caption Pia Glacier, yang terletak di barat laut Selat Beagle, dulunya adalah bongkahan es seluas 14 km persegi, tapi kini sudah menyusut jadi 7 kilometer persegi.

Saya tahu kami sudah semakin dekat saat saya terbangun dengan terkejut pada 04.30 saat kapal mulai berayun dengan keras di atas ombak besar. Bahkan di atas kapal cruise pun, perairan di sekitar Jalur Drake masih dikenal sebagai salah satu rute maritim paling berbahaya di dunia.

Saya berjalan terhuyung-huyung ke kamar mandi saat kapal oleng, dan gelombang kuat yang menggerakkan kapal membuat iga saya terbentur, dan saya terbangun.

Karena cuaca tak menentu di kawasan tersebut, banyak kapal yang tak bisa mendarat di Tanjung Horn. Saat Pamir mendekati Tanjung itu pada 1949, kakek saya dan kru kapal lain menghabiskan sepagian mengeruk salju dari dek kapal.

Namun saat angin berkurang, kami bisa mencapai Tanjung dengan selamat menggunakan Zodiac. Saya bisa merasakan kakek saya ikut tersenyum melihat ini.

Hujan, es beku, dan angin menampar wajah saya saat kami mendarat di Tanjung Horn. Saya mendaki bebatuan menuju mercusuar, kapel kecil dan patung besar memperingati ribuan pelaut yang meninggal saat berusaha 'mengelilingi Tanjung'.

Hak atas foto James Clark
Image caption Potongan es yang berada di sekitar Pia Glacier di Selat Magelhaens.

Pamir tidak mendarat di Tanjung Horn, tapi kakek saya tak pernah melupakan apa yang dia gambarkan sebagai batu di pulau itu 'yang kelihatan jahat' dan menatapnya balik dari kapal.

"Ada terlalu banyak orang yang meninggal sebelum saya, melakukan apa yang saya lakukan," kata kakek saya. "Saya tak sabar untuk menjauh dari Tanjung Horn sesegera mungkin, saya tak mau kembali lagi ke sana."

Namun, kini saya menatap lanskap tajam yang menginspirasi kakek saya untuk terus berlayar, terus hidup dan tak lagi melihat ke belakang.

Saya ingin tahu pendapatnya tentang saya yang berusaha mengikuti jejaknya, dan saya kembali naik ke Zodiac, membiarkan angin mendorong saya terus maju.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di Is this the world's most dangerous sea route? di laman BBC Travel

Topik terkait

Berita terkait