Apakah orang Belanda mencuri teff, 'makanan super' dari Ethiopia?

teff Hak atas foto Getty Images

Pada awal tahun 1980-an, gambar anak-anak yang kelaparan di daerah yang dilanda kekeringan parah sering ditemukan di ruang-ruang santai di seluruh dunia ketika organisasi-organisasi kemanusiaan mengajak orang-orang untuk membantu jutaan warga Ethiopia yang menderita kelaparan.

Foto-foto itu begitu kuat sehingga banyak orang yang masih sulit untuk percaya bahwa negara itu adalah rumah bagi teff, makanan yang disebut-sebut di belahan dunia Barat sebagai makanan super baru.

Teff, sereal bebas gluten yang tinggi protein, zat besi dan serat, telah dibudidayakan di Ethiopia dan negara tetangga Eritrea selama setidaknya 2.000 tahun.

Di gubuk lumpur di dataran tinggi dan restoran mewah di ibukota Addis Ababa, teff digiling menjadi tepung dan digunakan untuk membuat hidangan pokok negara, injera.

Roti yang difermentasi seperti panekuk sangat cocok untuk dimakan bersama semur daging dan sayuran berkuah, dan sebagian besar orang Ethiopia memakannya setidaknya sekali sehari.

Seperti kebanyakan pelancong, saya dengan cepat jatuh cinta dengan tekstur injera yang sedikit kenyal dan rasanya yang tajam.

Saya memesannya berkali-kali ketika kami berjalan berkeliling negeri itu. Hidangan ini disajikan di atas piring bundar besar dengan campuran sayuran warna-warni, termasuk lentil, collard hijau, kacang kuning, domba, sapi, dan ayam.

Hak atas foto New Ethiopia Tour
Image caption Teff disebut sebagai makanan super baru.

Merobek injera dan memakannya dengan tangan membuat pengalaman itu jauh lebih menyenangkan.

Namun, sulit dipercaya, meski injera sangat populer di seluruh Ethiopia, hak paten untuk pemrosesan tepung teff dan produk-produk teff terkait dimiliki sebuah perusahaan di Belanda.

Semuanya berawal pada tahun 2003, ketika belasan varietas biji teff dikirim ke ahli pertanian Belanda, Jans Roosjen, melalui sebuah kemitraan dengan Institut Konservasi Keanekaragaman Hayati Ethiopia untuk penelitian dan pengembangan.

Empat tahun kemudian, Kantor Paten Eropa memberikan hak paten kepada perusahaannya, Health and Performance Food International (HPFI).

Sementara Roosjen melebih-lebihkan potensi benih itu saat itu dan perusahaannya menjadi bangkrut, dia terus memasarkan dan menjual produk teff.

Perselisihan tentang siapa yang memiliki teff menjadi berita utama internasional awal tahun ini setelah Roosjen mencoba menuntut perusahaan Belanda lainnya yang memasarkan produk teff atas dasar pelanggaran paten, namun patennya dinyatakan tidak berlaku di Belanda.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Perempuan-perempuan Ethiopia membawa injera di atas kepala mereka.

Ketika batas waktu untuk banding berakhir pada bulan Februari 2019, banyak orang Ethiopia menyebut peristiwa itu sebagai kemenangan di media sosial.

Diplomat Ethiopia Fitsum Arega menulis dalam akun Twitternya bahwa itu adalah berita bagus.

"Saya berharap kita dapat belajar dari kejadian ini bahwa aset nasional kita harus dilindungi oleh Ethiopia & teman-teman negara #Ethiopia," tulisnya.

Tetapi dengan paten Roosjen masih berlaku di beberapa negara Eropa lainnya, perang masih berlanjut.

Pada bulan Februari, jaksa agung Ethiopia Berhanu Tsegaye menulis dalam akun Twitternya bahwa pemerintah bertekad untuk mempertahankan hak-hak hukum Ethiopia terkait dengan teff.

"Ethiopia telah menugaskan sebuah firma hukum untuk melawan kasus teff secara internasional," tulisnya.

Ini bukan pertama kalinya Ethiopia harus melindungi salah satu produk terbesarnya. Sebelumnya, negara itu berperang melawan Starbucks atas penggunaan tiga nama kopi premium.

Setelah pembicaraan yang intens, Starbucks dan pemerintah Ethiopia mencapai perjanjian lisensi yang memungkinkan Starbucks untuk menjual dan memasarkan kopi Harrar, Sidamo dan Yirgacheffe pada 2007.

Menurut laporan World Intellectual Property Organization, perselisihan tingkat tinggi itu meningkatkan nilai kopi Ethiopia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebelum konflik terkait teff, Ethiopia juga berperang melawan Starbucks atas penggunaan tiga nama kopi premium.

Dr Bula Wayessa, ahli tanaman, percaya bahwa paten Belanda itu menghilangkan hak-hak jutaan petani Ethiopia.

"Ini merupakan manifestasi dari hubungan kekuatan global di mana perusahaan jutaan dolar merampas budaya di negara-negara Dunia Ketiga," katanya. "Kelemahan dalam sistem hukum internasional, yang memberikan kepemilikan paten pada perusahaan swasta, tanpa penyelidikan menyeluruh secara mempengaruhi negara-negara berkembang seperti Ethiopia."

Dr. Wayessa, asisten profesor tamu di Universitas Negeri New York, New Paltz, dilahirkan dalam keluarga petani teff di Negara Bagian Oromia, yang merupakan salah satu dari sembilan daerah berbasis etnis Ethiopia. Dia tumbuh besar dengan makan injera dua kali sehari dan membantu mengolah, merawat dan memanen tanaman teff sepulang sekolah dan liburan musim panas.

"Jika saya makan makanan lain selain injera saat makan siang dan makan malam, saya masih merasa lapar," katanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption 'Teff bukan hanya tanaman; tapi adalah bagian dari warisan budaya Ethiopia.'

Sejak meninggalkan tanah airnya pada tahun 2009 untuk belajar di luar negeri, Dr Wayessa telah kembali beberapa kali untuk melakukan penelitian.

Dia mengatakan teff bukan hanya tanaman; tapi adalah bagian dari warisan budaya Ethiopia. "Injera dari teff adalah identitas umum di lebih dari 80 kelompok etnis yang tinggal di negara ini," katanya. "Makanan itu menunjukkan teknologi pangan asli Ethiopia dan identitas sosial dan nasional warga, yang berkumpul dan berbagi injera bersama."

Meskipun perselisihan tentang kepemilikan teff menjadi berita besar di seluruh dunia, Sofonias Melese, kepala operasi New Ethiopia Tours, mengatakan ia hanya mengetahui masalah itu karena ia bekerja di industri pariwisata, dan sebagian besar warga negaranya tidak mengetahui adanya persoalan itu.

"Masalah paten sangat menyedihkan bagi saya," katanya. "Teff adalah tulang punggung dapur kami. Kami memakannya setiap hari - kadang tiga kali sehari - di hampir semua wilayah dan suku."

Melese mengatakan dia suka memperkenalkan wisatawan pada injera selama tur.

"Sebagian besar turis pertama kali mencoba injera, lalu saya bisa melihat wajah mereka berubah masam," katanya. "Lalu saya katakan pada mereka untuk mencobanya dengan wat pedas, yang seperti semur, dan kemudian mereka menyukainya. Ketika saya memberi tahu mereka makanan itu bebas gluten, tinggi protein dan zat besi, mereka terpesona."

Meskipun umur pastinya tidak jelas, para arkeolog percaya bahwa teff berasal dan dikembangkan di dataran tinggi Ethiopia sekitar 2.000 tahun yang lalu, meskipun alat pemanggang injera mungkin berasal dari 2.500 tahun yang lalu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Injera yang dibuat dengan teff dipandang sebagai injera terbaik oleh orang Ethiopia.

Dr Diane Lyons PhD, salah satu penulis buku Griddles, Ovens, and Agricultural Origins: An Ethnoarchaeological Study of Bread Baking in Highland Ethiopia telah melakukan penelitian ekstensif di wilayah Tigray Ethiopia utara, di mana injera dipanggang di atas wajan tanah liat dan disajikan dengan semur daging, sayuran dan legum.

Dia mengatakan ada dua warna biji teff - putih dan merah. Yang pertama secara tradisional dianggap lebih berharga dan melambangkan kekayaan, dan selalu disajikan untuk tamu-tamu penting. Injera merah lebih murah dan lebih sering digunakan dalam makanan sehari-hari.

Baik Dr Lyons dan Dr Wayessa mengatakan bahwa harga teff sekarang mahal untuk orang-orang miskin di perkotaan akibat permintaan global.

Sebagian besar petani di Tigray utara dan selatan menjual teff mereka untuk mendapatkan biji-bijian yang lebih murah di pasar, seperti jelai, gandum, dan sorgum, untuk membuat injera. Hal ini menyebabkan "hilangnya budaya dan nutrisi," menurut Dr. Lyons.

"[Teff] biasanya digunakan untuk membuat injera di restoran - dan selalu di restoran yang lebih bagus di Ethiopia," tambahnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Harga teff menjadi terlalu mahal untuk orang-orang miskin Ethiopia karena adanya permintaan global.

Sebagai orang luar, Dr Lyons mengatakan bahwa tampaknya tidak etis untuk mengambil hak Ethiopia atas teff.

"Ini adalah negara yang sangat miskin dan nenek moyang mereka mengembangkan tanaman ini," katanya.

"Mereka harus memiliki hak untuk mendapat manfaat dari pemasarannya. Orang Etiopia sangat bangga dengan masakan mereka, dan berhak demikian. Makanan mereka enak, dan injera yang dibuat dengan teff dipandang sebagai injera terbaik oleh orang Ethiopia. Saya sungguh berharap mereka mendapatkan kembali 'kepemilikan penuh' atas teff."

Saya menghabiskan waktu dua minggu bepergian ke seluruh Ethiopia, dari Addis Ababa ke Pegunungan Simien, makan malam di restoran setiap hari.

Anak-anak, yang dibesarkan dengan biji-bijian, melambaikan tangan dan mengejar mobil kami ketika kami melewati mereka.

Kami disambut di rumah keluarga pedesaan yang menunjukkan kepada kami dapur kecil tempat mereka membuat injera. Demi dan masa depan orang-orang yang hangat dan ramah ini, saya mengharapkan hal yang sama seperti Dr Lyons.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini Did the Dutch 'steal' this African food? di laman BBC Travel

Berita terkait