Kisah perempuan Kosovo pertama yang berhasil menaklukkan Everest

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Lahir dan besar di negara yang dilanda perang, pendaki gunung asal Kosovo, Arineta Mula, berani melampaui batas dengan mendaki puncak-puncak gunung satu demi satu.

Kosovo, yang kedaulatannya hanya diakui oleh 116 dari 195 negara di dunia, Kosovo sering dianggap sebagai negara termuda di Eropa.

Negara itu memproklamasikan kemerdekaannya dari Serbia pada 17 Februari 2008 setelah beberapa dekade terlibat konflik etnis Balkan menyusul pecahnya Uni Soviet pada 1991.

Arineta Mula, anak bungsu dari empat bersaudara, lahir pada tahun 1988. Saat itu, kawasan Balkan penuh gejolak, di mana etnis Albania dan etnis Serbia di Kosovo berada dalam konflik yang saling mematikan.

Dia tumbuh di era Perang Yugoslavia, yang sering disebut sebagai konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Kosovo Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Kendati keadaan yang ada di hadapannya cukup menantang, Mula berhasrat untuk menaklukkan beberapa puncak tertinggi di dunia, termasuk Gunung Everest, pada tahun 2017.

Kepopulerannya sebagai salah satu pendaki gunung Balkan yang paling dikenal bermula secara tidak sengaja, tak lama setelah dia meninggalkan kota asalnya di Peja untuk menimba ilmu politik di Universitas Pristina pada usia 18 tahun.

Saat tinggal di ibu kota Kosovo, ia mulai mengenal mendaki.

"Saya belum pernah melakukannya," kata Mula, "tetapi seorang teman menyarankan agar kami pergi mendaki, dan saya setuju. Dengan segera saya ketagihan. Setiap akhir pekan sejak pendakian pertama, saya berada di suatu tempat di pegunungan Kosovo."

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Namun, bukan niat Mula untuk menjadi pendaki gunung. Di Kosovo, seperti di banyak negara Balkan yang mengelilinginya (termasuk Serbia, Montenegro, Albania, dan Republik Makedonia Utara), perempuan cenderung mengikuti peran tradisional perempuan yang membuat mereka berada di rumah dan di luar angkatan kerja.

Menurut Bank Dunia, hanya 18% perempuan Kosovo yang berpartisipasi dalam pekerjaan yang dibayar.

Tapi Mula punya ide berbeda. Sebelum dia lahir, ayahnya pergi ke Swiss untuk mencari pekerjaan dan tidak kembali, kecuali untuk kunjungan sesekali selama 18 tahun, meninggalkan ibunya membesarkan keluarga sendirian di Peja.

Perjuangan ibunya sebagai orang tua tunggal di negara yang dilanda perang meninggalkan kesan pada Mula.

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Pada Maret 1999, ketika Mula berusia 10 tahun, dia dan ibunya beserta saudaranya bersama dengan ratusan orang etnis Albania lainnya diusir dari rumahnya oleh tentara Serbia dan dibawa ke pusat Peja.

Mereka berharap untuk mengungsi ke negara tetangga Montenegro yang relatif lebih aman. Namun sayangnya, bukanya mengungsi, mereka malah dibawa ke gelanggang olahraga di Peja.

"Saya ingat ketika kami dibawa ke sana, bau bensin di mana-mana," ujar Mula mengingat masa lalunya.

Kosovo Hak atas foto Aleksandar Manasiev

"Saya mendengar orang berujar, 'Mereka akan membakar kita di dalam'. Kami tinggal di dalam sampai keesokan harinya ketika mereka akhirnya membebaskan kami."

Mula menuturkan dia teringat mendengar NATO mengancam untuk mengebom Beograd jika tentara Serbia tidak membebaskan etnis Albania di Kosovo. Dan pada 24 Maret 1999, NATO memulai serangan udaranya melawan Yugoslavia.

Menurut Human Rights Watch, 80% dari seluruh rumah di Peja hancur selama perang Kosovo. Rumah Mula adalah salah satunya.

Meskipun menghadapi kesulitan, Mula dan keluarganya berhasil bertahan hidup. dan ketika ayah Mula kembali ke rumah pada 2005, satu-satu impiannya sebelum meninggal adalah agar Mula melanjutkan kuliah.

Mula mengatakan ayahnya berujar kepada ibunya: "'Jangan pernah hentikan dia untuk melakukan apa impiannya. Berikan dia uang untuk melanjutkan pendidikan di Pristina.' Jadi saya adalah satu-satunya anak di keluarga saya yang melanjutkan kuliah di luar Peja."

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Di Pristina, Mula tidak hanya menjadi sarjana dan bekerja tak lama setelah kelulusannya, namun juga menjelajahi gunung-gunung di negaranya. Pada 2015, dia mulai menantang dirinya untuk mendaki gunung di luar pegunungan Balkan, termasuk Gunung Mont Blanc dengan puncak tertinggi di Eropra Barat.

Ketika Kosovo mulai menyeleksi tim pertamanya yang akan melakukan pendakian ke puncak Everest, Mula melobi supaya dirinya bisa masuk ke tim yang seluruhnya beranggotakan pria itu.

Meksipun mendapat prasangka buruk dan penolakan dari teman pendakinya, dia berpegang teguh bahwa dia pantas menjadi anggota tim itu.

"Di Everest, perempuan diberlakukan berbeda," ujarnya.

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

"Para sherpa cenderung mengabaikan saya tetapi mendengarkan teman pria saya. Saya tidak berpikir itu disengaja. Jauh lebih sedikit perempuan yang mendaki daripada pria. "

Mula melihat prasangka berlanjut begitu dia kembali ke Kosovo.

"Orang-orang akan berkomentar konyol seperti 'Bagus sekali, tetapi kamu beruntung memiliki seorang pria untuk membantumu'," katanya.

"Saya berjuang. Semua orang melakukannya. Tetapi ketika saya mencapai puncak pada 22 Mei 2017, bagian dari tim Kosovo pertama yang melakukannya, saya melakukannya dengan usaha saya sendiri."

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Setelah Everest, Mula menjadi lebih bertekad untuk menunjukkan bahwa pejalan kaki perempuan harus diperlakukan sama dengan rekan pria mereka.

Pada Agustus 2017, ia mengatur pendakiannya sendiri di Eiger melalui Mittellegi Ridge di Pegunungan Alpen Swiss. Pemandu prianya terkejut timnya menyelesaikan pendakian hanya dalam dua hari dan mengatakan kepadanya bahwa ia dilahirkan untuk mendaki.

Belakangan tahun itu, dia mendaki Ama Dablam, gunung setinggi 6.812 mdpl di Nepal dengan tim khusus perempuan.

"Ini merupakan pendakian yang secara teknis sulit," kata Mula.

"Yang mengherankan, ada lima perempuan lain, dari AS dan Swedia. Saya merasa bebas, untuk pertama kalinya, dari kerumitan tentang dinilai sebagai perempuan di lingkungan yang didominasi pria."

Mula menyelesaikan perjalanan, yang biasanya membutuhkan waktu empat minggu dengan waktu untuk menyesuaikan diri, hanya dalam delapan hari.

"Senang rasanya menunjukkan kepada orang lain - dan saya sendiri - bahwa saya dapat melakukan sesuatu tanpa memiliki pasangan pria dari negara saya," kata Mula.

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Ketika popularitas Mula tumbuh, pendiri Balkan Natural Adventure Virtyt Gacaferri dan Nol Krasniqi mendekatinya agar mau menjadi sebagai pemandu di perusahaan petualangan luar ruangan mereka, dengan memandu para wisatawan mendaki puncak Balkan, melintasi perbatasan Kosovo, Albania dan Montenegro.

Gacaferri, mantan jurnalis yang membantu wartawan Barat selama Perang Kosovo, percaya pembangunan ekonomi adalah kunci untuk mencegah perang di Balkan di masa depan.

Itu sebabnya dia meninggalkan dunia jurnalisme untuk membangun perusahaan yang fokus pada mempromosikan pariwisata di Pegunungan Alpen Albania.

"Saya sudah tahu nama [Mula] karena dia seorang selebriti olahraga di Kosovo," kata Gacaferri. "Setelah dia mendaki Everest, tidak ada keraguan tentang kemampuannya mendaki gunung."

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Pada 2018, dia bergabung dengan tim Balkan Natural Adventure yang memandu pendakian di pegunungan Balkan. "Ketidaksetaraan gender di Kosovo bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan oleh siapa pun," kata Gacaferri.

"Kami berpikir bahwa dengan membawa Arineta, itu akan membantu negara kami dan perempuan lain untuk termotivasi dan mengejar impian mereka."

Mula mengatakan dia bukan satu-satunya wanita yang memimpin pendakian melalui Puncak Balkan, "tetapi tidak banyak dari kita", menambahkan bahwa kliennya sering terkejut menemukan seseorang yang telah mencapai puncak Everest memandu mereka dalam pendakian di Balkan.

"Pengalaman saya memberi saya kredibilitas," kata Mula. "Hanya dengan melakukan itu, saya mengatasi prasangka yang tersisa di masyarakat ... dan mungkin dalam pikiran saya sendiri."

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Dewasa ini pemerintah Kosovo mendulang keuntungan dari popularitas Mula, dengan sering mensponsori pendakiannya; sementara Albania telah memberinya paspor untuk bepergian ke negara-negara yang tidak mengakui kedaulatan Kosovo.

Kedua negara mengirim bendera nasional mereka bersama dengannya.

Pada bulan Agustus 2018, ia mendaki Gunung Elbrus (5.642 m), gunung tertinggi di Eropa, yang terletak di Pegunungan Kaukasus Rusia. Dia mendakinya sendirian hanya dalam tiga hari.

Beberapa minggu kemudian, dia menaklukkan puncak Carstensz di Indonesia, sehingga kini hanya dua puncak dari tujuh gunung tertinggi di dunia yang belum dia daki.

Arineta Mula Hak atas foto Aleksandar Manasiev

Mula paling betah di Puncak Balkan, di mana ia disambut dengan hangat di setiap wisma tamu, apakah ia di desa pegunungan Theth, Albania yang ikonis, atau di puncak Doberdol yang gersang dan tanpa pohon.

Sementara Mula memuji ayahnya karena memastikan dia akan masuk universitas (dan akhirnya memenuhi takdirnya sebagai pendaki gunung), dia memberi ibunya penghargaan atas kekuatannya.

"Dia memiliki banyak kesulitan dalam hidupnya," kata Mula, mencatat bahwa ibunya mengajarinya bagaimana bertahan melalui saat-saat sulit.

"Saya dapat mengatakan hari ini bahwa posisi perempuan di Kosovo jauh lebih baik," tambahnya.

"Kami memiliki lebih banyak hak; kami mengejar impian kami; kami dapat melakukan hal-hal yang ingin kami lakukan. Satu hal yang kami semua miliki bersama, pada generasi sebelum dan hari ini, adalah kekuatan batin ini yang muncul secara alami dan muncul ketika kita menghadapi tantangan."

Anda bisa menyimak versi bahasa Inggris dari artikel ini, The Kosovar woman who conquered Everest di laman BBC Travel

Topik terkait

Berita terkait