Menelusuri desa yang hilang di perbukitan Derwent

Pada 2018, musim panas membara dan kering melanda English Midlands, dan ketika air di Ladybower Reservoir surut, desa Derwent yang hilang itu muncul kembali.

Desa Derwent Hak atas foto Anthony Devlin/Getty

Semuanya hilang. Jajaran pondok-pondok gritstone, gereja dan bangunan sekolah tua, domba-domba yang merumput di lereng bukit dan padang rumput yang miring.

Meski menuai protes, Dewan Air Derwent Valley telah membanjiri lembah dan Desa Derwent untuk menyediakan air bagi kota-kota yang sedang tumbuh di English Midlands.

Pada tahun 1945, Desa Derwent tidak ada lagi dan di tempat itu terhampar lembaran biru: Waduk Ladybower.

Setelah menyelesaikan bendungan pada 1943, yang dibutuhkan untuk cadangan air, hujan, aliran air dari gunung dan sungai pun memenuhi lembah — dan perlahan, air meningkat.

Sejak saat itulah, tidak ada bagian Derwent yang terlihat, kecuali puncak menara gereja yang tampak samar-samar muncul dari bendungan itu selama musim kering ketika tingkat air menurun.

Di saat-saat seperti inilah, warga setempat akan kembali melihat panorama yang memunculkan daya tarik mengerikan, seolah-olah mengingatkan lagi bahwa desa itu dulunya ada.

Beberapa orang bersumpah dapat mendengar bel gereja berdentang dari seberang danau - meskipun bel itu telah dicopot sebelum desa itu ditenggelamkan.

Desa Derwent Hak atas foto Helen Moat
Image caption Pembuatan Waduk Ladybower pada 1940 menenggelamkan Desa Derwent.

Sebelum dua Perang Dunia, Derwent dan desa Ashopton yang terletak di dekatnya, terlihat mirip dengan kawasan luas Distrik Peak di atasnya, dengan aneka bangunan batu berusia ratusan tahun dan komunitas yang telah lama ada.

Dewan Air telah mengalokasikan wilayah terisolasi di atas lembah untuk pembangunan dua bendungan serta lokasi penampungan air Howden dan Upper Derwent.

Sejumlah kecil warga di kawasan pertanian yang terdampak kemudian dipindahkan ke kawasan lembah di Derwent dan Ashopton. Tidak ada yang bermimpi bahwa bagian Lembah Derwent dengan dua desanya yang cantik ini, akan segera ditenggelamkan.

Membuat dua bendungan pertama merupakan pekerjaan besar: merelokasi penduduk; mengorganisir tenaga kerja; mempersiapkan lahan; memasang pipa; membangun jembatan-jembatan dan kepala bendungan.

Sebuah desa sementara yang baru pun bermunculan di dekatnya untuk menampung ratusan pekerja.

Kota Birchinlee, yang dijuluki "Kota Timah", karena semua bangunannya terbuat dari logam bergelombang - mudah dibangun dan dibongkar setelah pembangunan bendungan berakhir.

Meskipun keberadaannya singkat, desa itu nyaris memiliki aneka fasilitas: rumah sakit, sekolah, kantin (yang juga berfungsi sebagai pub), kantor pos, ruang rekreasi, rumah pemandian, dan stasiun kereta api. Bahkan ada kantor polisi.

Pada 1912, pembangunan bendungan Howden selesai, dan waduk Upper Derwent di bawahnya, tuntas empat tahun kemudian. Ratusan pekerja dan keluarga mereka berkemas dan pergi. Kota Timah pun dibongkar, lembaran logam demi lembaran logam.

Tidak lama kemudian, Dewan Air menyadari bahwa air yang ditampung di waduk Howden dan Upper Derwent tidak mampu memenuhi permintaan kota-kota di kawasan Midland Inggris yang tengah tumbuh seperti Sheffield dan Leicester.

Waduk ketiga, Ladybower, disetujui untuk dibangun lebih jauh ke kawasan selatan, meskipun desa Derwent dan Ashopton menghalangi pembangunannya

Pembangunan Ladybower dimulai pada 1935, dan warga desa yang terdampak dipindahkan lagi ke wilayah lain.

Desa Derwent Hak atas foto Helen Moat
Image caption Selama awal abad ke 20, pembangunan bendungan-bendungan di Peak District di Inggris memaksa para penduduk meninggalkan desa Derwent dan Ashopton.

Pada saat saya pindah ke Distrik Peak pada 2000, hanya tersisa sedikit bukti perihal kota Birchinlee.

Tanpa ragu-ragu, pada suatu hari di musim panas sekian tahun lalu, saya pun berangkat untuk mencari Kota Timah, mengikuti jalan berumput di samping Waduk Howden dan melewati pepohonan di mana jalur kereta api dulu pernah berdiri di atasnya.

Tak tampak adanya tanda-tanda keberadaan pondok timah; hanya fondasi batu yang tersisa.

Namun demikian, papan informasi yang didirikan di sepanjang jalur kereta api menunjukkan serangkaian foto hitam-putih perihal para penghuni sedang bekerja dan sedang bermain di depan gubuk timah, dengan keterangan tertera di bawahnya.

Ada pula foto-foto para navvies - pekerja keliling - yang terlihat sibuk di lokasi konstruksi, perempuan dan anak-anak mencuci pakaian di luar rumah sederhana dan sebuah keluarga tengah berpose di ruangan rumah yang sederhana.

Saya mendapati bahwa salah satu gubuk telah didirikan ulang di dekat desa Hop, dan saya menemukan sisa-sisa Kota Timah yang terjepit di antara gedung-gedung di pinggir jalan, gubuk bergelombang kecil yang kini disulap menjadi salon penata rambut sederhana.

Saya juga bisa memburu keberadaan jembatan kuda - sebuah jembatan bungkuk nan indah - yang dibangun kembali di Slippery Stones, di mana jembatan itu membentang di atas sungai di ujung Waduk Howden.

Jembatan legendaris itu dipindahkan ke sana, batu demi batu sebelum air bah tiba.

Desa Derwent Hak atas foto Anthony Devlin/Getty Images
Image caption Selama musim kering ketika air di bendungan itu surut, desa Derwent muncul kembali

Setelah menjelajahi situs-situs Birchinlee dan Slippery Stones, saya berharap agar reruntuhan Derwent yang terendam segera muncul ke permukaan, seperti yang kadang-kadang terjadi selama musim kering.

Derwent sempat muncul sebentar di musim panas dan kering pada 1976, dan sekali dalam setiap dekade berikutnya, baru-baru ini terjadi pada 2003.

Ashopton, desa kedua yang tenggelam, juga terhampar tenang di bawah air, tetapi saya tahu tidak ada kesempatan untuk melihatnya, karena terkubur lumpur. Tetapi apa yang tersisa dari Derwent di dasar Ladybower?

Saya beruntung. Pada 2018, musim panas yang kering, cuaca terik menerpa wilayah itu.

Air waduk surut, dan makin surutu lagi, hingga bebatuan Derwent yang tersisa muncul dari tebing lumpur.

Pada pertengahan September, reruntuhan Gereja Derwent terungkap ke permukaan. Di dekatnya, pintu-pintu pondok, perapian, dan dinding-dinding bangunan bagian bawah menampakkan diri.

Level air waduk terus menurun dan saya dapat berjalan di sekitar reruntuhan rumah megah Derwent Hall, melangkah hati-hati melintasi tanah berlumpur di bawah sinar matahari musim gugur.

Di antara puing-puing, perapian batu yang mengesankan dengan tiang bulatnya sebagian besar masih utuh, dan tiang bangunan penuh hiasan menyeruak.

Berkeliaran di antara puing-puing, saya membayangkan kehidupan yang terjadi di dalam dinding rumah megah tersebut.

Jalan setapak di luar gereja yang mengarah ke sekolah itu juga terungkap ke permukaan, bersama dengan jembatan kecil yang melintasi sungai menuju gedung sekolah.

Ada semacam kegilaan dan melankoli di tumpukan batu hitam. Panorama sangat berbeda dengan foto-foto sepia yang pernah kulihat di desa: anak-anak sekolah berkeliaran di sepanjang jalur pedesaan yang rimbun dengan topi dan baju jerami; bocah laki-laki berkeliaran di tepi sungai di bawah pondok; penduduk desa membungkuk di atas jembatan di depan rumah besar itu.

Foto-foto lama Derwent Hall memperlihatkan bahwa ruang tamu berpanel besar dan ruangan besar yang penuh hiasan.

Desa Derwent Hak atas foto Anthony Devlin/Getty Images
Image caption Reruntuhan Derwent biasanga muncul sekali dalam satu dekade, baru-baru ini terjadi di musim gugur tahun 2018

Apakah masih ada orang yang menyimpan ingatan tentang desa-desa yang hilang di Upper Derwent Valley? Apakah ada sosok yang dapat menghembuskan nafas kehidupan ke reruntuhan yang luluh-lantak dan selalu basah?

Seorang teman mengarahkan saya kepada perempuan berusia 92 tahun, Mabel Bamford, yang tinggal di desa Bamford, di selatan bendungan. Mabel menyambut saya di rumahnya dengan gerakan yang masih lincah dan mata berbinar.

"Barangkali saya adalah orang terakhir yang ingat Ashopton dan Derwent," katanya riang.

Bamford mempersilakan saya duduk, dan dia memulai ceritanya.

"Ketika Rose Cottage di Ashopton masih kosong, orang tua saya pindah ke sana, dan kami tinggal di desa itu sampai 1938."

"Kehidupan seperti apa yang Anda ingat di Ashopton?" tanya saya.

"Saya ingat pondokan kami sangat sederhana. Tidak ada listrik hanya lampu parafin di ruang tamu. Lilin digunakan di tempat lain. Kamar kecil adalah jamban tanah yang terletak jauh dari rumah."

Saya mengangguk, teringat pada beberapa tulisan yang saya baca tentang rumah-rumah penduduk desa yang direlokasi oleh Dewan Air ke rumah-rumah baru dengan kamar mandi modern.

Desa Derwent Hak atas foto Anthony Devlin/Getty Images
Image caption Para pengunjung di waduk Ladybower pada 2019 dapat melihat reruntuhan Gereja Derwent dan gedung aula Derwent.

"Dan bagaimana dengan desa Derwent, Mabel? Apa yang kamu ingat?"

"Oh ya, saya bersekolah di sana, bahkan ketika pembangunan Ladybower sedang berlangsung. Kami harus berjalan sejauh satu setengah mil ke Derwent.

"Kadang-kadang pemburu belibis memberikan tumpangan. Tetapi kami paling suka menumpang kendaraan para pekerja pipa. Mereka memasukkan kami ke dalam pipa besar berwarna hitam yang akan mereka gunakan di lokasi reservoir," katanya.

Saya mengangguk. Saya telah melihat pipa-pipa besar yang membelah Ladybower di Fairholmes. Pipa-pipa itu begitu besar sehingga cukup untuk menampung seorang anak.

"Saya ingat di musim dingin selalu ada nyala api di sekolah," lanjut Bamford.

"Kami membawa kentang berukuran besar dengan inisial nama kami terukir di sana, dan guru akan memanggang kentang-kentang itu untuk kami dan membuatkan secangkir minuman cokelat."

Desa Derwent Hak atas foto Helen Moat
Image caption Mabel Bamford yang berusia sembilan puluh dua tahun masih mengingat kehidupan di desa Ashopton sebelum desa itu lenyap di Ladybower Reservoir.

Bamford bercerita lebih banyak lagi: tentang petugas polisi yang datang ke rumahnya untuk menghardiknya lantaran mencuri apel; dan kegembiraan di Ashopton ketika pemilik pompa bensin menghasilkan listrik dengan alat mirip kincir angin.

Dan bagaimana anak-anak muda Derwent berjalan ke Methodist Church di Ashopton untuk meminta makanan pada kegiatan sosial mereka, sehingga mereka dijuluki "Teh kaum Bujangan".

Saya meninggalkan Bamford, merasa terhormat setelah mendengar kisahnya langsung dari tangan pertama tentang desa-desa yang ditenggelamkan. Saya ditawari melihat sekilas ke masa lalu, yaitu yang pertama, kemunculan kembali Desa Derwent, dan kemudian Desa Bamford.

Satu tahun kemudian, reruntuhan desa Derwent telah kembali ke kedalaman Ladybower Reservoir nan suram.

Sekarang saya bertanya-tanya akankah desa itu tetap tersembunyi dalam sekian dekade ke depan atau bahkan lebih? Atau dengan adanya perubahan iklim, akankah kemunculannya kembali menjadi hal yang biasa? Saya harus menunggu dan melihatnya nanti.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The lost villages of the Derwent Valley di laman BBC Travel.

Berita terkait