'Cemas, marah, dan takut akan masa depan' - cara mengatasi dampak perubahan iklim pada kesehatan mental

Hak atas foto Getty Images/BBC

Semakin banyak orang merasa cemas akan perubahan iklim seiring pemanasan global menjadi lebih nyata di berbagai belahan dunia. Tetapi ada solusi yang dapat membantu mengurangi kecemasan tersebut, dan sekaligus memperlambat kerusakan iklim, tulis Christine Ro.

Pada tahun 2014 silam, saya dan pacar saya menandai tanggal di kalender daring bersama kami. Tidak seperti biasanya, itu tanda untuk tanggal 27 Agustus 2015 — satu tahun ke depan. Itu adalah tanggal yang tidak pasti.

Kami merasa ragu-ragu ketika harus mengambil keputusan-keputusan besar, dan ini yang terbesar: Apakah kami akan memiliki anak.

Kami menyadari bahwa sekarang, ketika kami berusia 30 tahunan, kami tidak bisa menunggu untuk memutuskan tanpa batas waktu.

Jadi kami menandai "pembahasan untuk punya anak" di kalender, seperti menggunakan hal yang tidak sopan dalam upaya untuk membuat hal-hal berat menjadi tidak terlalu menakutkan, dan dengan senang hati menyingkirkan pertanyaan untuk saat ini.

Tetapi 27 Agustus 2015 datang dan kemudian pergi. Kami merasa tidak siap lagi. Kami mengubah tanggal ke tahun yang lain.

Kemudian 27 Agustus 2016 lewat juga. Jelas strategi kami tidak berhasil. Meskipun ada banyak faktor yang mempengaruhi ambivalensi kami, masalah-masalah di tingkat pribadi dibayangi oleh satu masalah global: kecemasan akan masa depan planet yang tidak bisa lagi ditinggali karena perubahan iklim.

Perubahan iklim mencederai kesehatan mental dalam beberapa cara. Dari trauma dan stres pascabencana, sampai kerusakan hubungan yang disebabkan oleh perpisahan dan perpindahan, efek psikologis dari perubahan iklim dapat bertahan lama.

Tentu saja, berbagai dampak ini semakin meningkat bagi populasi tertentu yang rentan, seperti kelompok orang tua dan masyarakat berpenghasilan rendah, serta mereka yang berada di garis depan perubahan iklim.

Tetapi bahkan mereka yang kehidupan dan mata pencahariannya tidak secara langsung tergantung pada iklim dapat merasakan tekanan psikologis.

Sebagaimana dicatat dalam laporan dari dosen psikologi, Susan Clayton, dari College of Wooster dan rekan-rekannya, "kemampuan untuk mengolah informasi dan membuat keputusan tanpa menjadi tidak berdaya karena tanggapan emosional yang ekstrem terancam oleh perubahan iklim".

Perubahan iklim Hak atas foto Getty Images/BBC
Image caption Kekhawatiran tentang perubahan iklim merupakan hal yang masuk akal dan tanggapan kesehatan bagi salah satu ancaman terhadap kemanusiaan di masa sekarang

Para peneliti di University of Bath memberi beberapa saran. Ketika saya berkunjung ke kampus yang dikelilingi oleh hutan itu, dengan panorama kota nan megah di bawahnya, Caroline Hickman dan saya memutuskan untuk tidak berbicara di kantornya, tetapi di pinggir danau kecil yang berada di sekitar kampus.

Kami duduk di batu, dikelilingi oleh para mahasiswa yang sedang berjemur dan bebek-bebek yang tengah membersihkan bulunya, dan bertukar cerita tentang kekhawatiran iklim (atau istilah yang dipilih Hickman "kesadaran lingkungan").

Ada banyak hal yang dibahas, terlebih karena saat itu sehari setelah suhu terpanas yang pernah tercatat di Inggris.

Hickman yang merupakan seorang psikoterapis dan peneliti di Inggris, Maladewa dan beberapa negara lain, merasa frustrasi karena media telah berbuat sembrono sehari sebelumnya.

Seperti biasa, saya merasa gugup dengan pertanda malapetaka terbaru ini.

Namun, Hickman bersikeras bahwa kekhawatiran iklim – seperti depresi iklim atau kemarahan iklim – bukan merupakan patologi. Ini adalah reaksi yang masuk akal dan sehat terhadap ancaman yang ada.

"Saya agak heran kalau ada orang yang tidak merasa cemas," katanya.

Jadi langkah pertama adalah mengakui validitas perasaan-perasaan ini. Tugas seorang psikolog iklim kemudian adalah bertanya:

"Bagaimana kami dapat mendukung Anda agar dapat menjadikan ini hanya sebagai bagian dari hidup dan bukan keseluruhan hidup Anda?" Hickman mungkin akan mendorong para pasiennya untuk bergabung dengan kelompok pegiat, atau kelompok diskusi atau pendukung seperti kafe iklim.

Dalam satu penelitian tentang sebuah program yang disebut Carbon Conversations, yang melibatkan kelompok diskusi dan kegiatan untuk mengurangi dampak iklim, separuh dari partisipan mengatakan bahwa program tersebut membantu mereka menghadapi kekhawatiran mereka tentang perubahan iklim.

Dan keterlibatan emosional yang lebih besar dikaitkan dengan lebih banyak perubahan dalam kebiasaan ini. Hal ini menunjukkan manfaat tentang merasa menjadi bagian dari suatu komunitas, mengenali perasaan-perasaan sulit dan mengambil langkah-langkah konstruktif.

Riset seperti ini telah dipraktekkan di Klinik Kesehatan Lingkungan, New York University, yang meresepkan aksi yang bersahabat dengan iklim dan kegiatan kelompok bagi para pengunjungnya.

"Ada sedikit tempat untuk kekhawatiran secara emosional ketika Anda mengambil langkah-langkah praktis," catat Hickman.

Hal ini berlaku bahkan untuk perasaan-perasaan ekstrim. Hickman telah menasihati para orang tua yang berkhayal membunuh anak-anak mereka, karena ketakutan akan masa depan dengan kerusakan iklim.

Tetapi dengan tenang dia menunjukkan bahwa sejarah penuh dengan contoh para orang tua yang bersiap-siap untuk mengakhiri hidup anak-anak mereka karena ingin melindungi mereka.

"Jika kita mengabaikan perasaan itu, kita akan mendorong mereka kembali ke alam bawah sadar mereka," bantah Hickman.

Hickman percaya bahwa para orang tua yang mengakui pikiran-pikiran gelap mereka kepadanya tidak benar-benar akan melakukannya, dan penting bagi mereka untuk memiliki ruang mental yang aman dan bebas rasa malu untuk mengekspresikan kedalaman kekhawatiran mereka.

Psikoterapi dan cara-cara psikologi lainnya dapat membantu orang-orang merasa lebih nyaman dengan ketidakpastian yang tidak terhindarkan dalam hal perubahan iklim.

"Salah satu jalan untuk melalui kecemasan adalah menghadapi kesedihan dan rasa kehilangan Anda," kata Hickman.

Perubahan iklim Hak atas foto BBC/Getty
Image caption Rasa bersalah dan ketakutan dapat menyebabkan mati rasa secara psikis yang tidak membantu ketika berhadapan dengan sesuatu dalam skala krisis iklim

Di belahan dunia lain, di desa Salmara Utara yang terletak di bagian utara India, Gautam Barman mempraktikkan banyak hal yang disarankan oleh penelitian psikologi iklim tentang menjalin hubungan masyarakat dan tindakan praktis.

Ketika wartawan dan pebisnis Abhideep Choudhury dan saya mengunjungi Barman dan rekan-rekannya dari Maharanee Tea Company, kami duduk di antara kebun teh yang rimbun dan pabrik yang sibuk mengeringkan dan mengolah dedaunan.

"Sekarang kebun kami tidak sehat," keluh Barman. Suhu ideal untuk teh mereka adalah 30-33 derajat Celcius. Tetapi suhu sekarang sekitar 37-38 derajat Celcius.

Para petani Maharanee mengaitkan tingginya suhu dengan deforestasi, karena para penduduk yang miskin desa terpaksa menebang pepohonan yang rindang, dan pemanasan global.

Suhu yang tinggi secara langsung telah memengaruhi pendapatan petani; menghanguskan tanaman-tanaman, menghasilkan lebih sedikit daun hijau yang dapat digunakan, dan memerlukan lebih banyak waktu beristirahat bagi para pekerja yang memetik daun dengan tangan.

Taruhannya tinggi. Para penduduk di daerah itu memutuskan untuk berinvestasi dalam potensi pertumbuhan teh selama beberapa dekade yang lalu, ketika negara bagian Assam terpecah oleh beberapa kali konflik etnis.

Mereka membayangkan bahwa penanaman teh akan menyediakan pilihan mata pencaharian bagi kaum muda Assam yang akan sebaliknya merasa terpaksa bergabung dengan kelompok militan.

Para petani mengorganisir diri sendiri menjadi empat kelompok swadaya, yang mengadakan pelatihan dan mengumpulkan uang untuk membeli truk.

Maharanee sekarang mempekerjakan lebih dari 700 orang, jadi pengaruh iklim terhadap produksi teh memngaruhi banyak rumah tangga secara lokal.

Tetapi Barman tetap optimistis. Para petani berencana untuk beralih ke pertanian organik, yang akan dihargai lebih tinggi. Mereka juga telah menanam pohon untuk berteduh di petak kecil mereka, sebagai upaya untuk mengalahkan panas.

Hal ini akan menghasilkan manfaat lingkungan dan keuangan, tetapi tindakan iklim semacam ini juga membantu kesejahteraan para petani juga.

"Saya merasa lebih baik di sini daripada di rumah saya sendiri,' kata Jagadish Chandra Ray, yang berdiri dengan bangga di tengah-tengah dua hektar tanaman tehnya.

Jelas bahwa kegiatan berbasis alam membantu kesehatan mental, dan bahwa fokus lokal dan kolektif membantu masyarakat untuk berjuang dengan krisis iklim yang lebih besar, tetapi Ray tidak butuh jurnal ilmiah untuk mempelajari semua itu.

Muncul dari kelompok swadaya, dan bersatu untuk membuka pabrik, tanggapan nyata dari para petani Maharanee terhadap perubahan iklim sangat menginspirasi.

Perubahan iklim Hak atas foto BBC/Getty
Image caption Bagi para orang tua, kekhawatiran tentang perubahan iklim dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang masa depan anak-anak mereka.

Di sisi lain, saya adalah bagian dari masalah. Penerbangan pulang pergi antara London dan Guwahati, bandara terdekat ke Salmara Utara memancarkan tiga ton karbondioksida —sekitar dua kali lebih banyak dari yang dihasilkan orang India sepanjang tahun.

Saya datang ke India untuk alasan lain di samping mengunjungi kebun teh ini, meski semua pekerjaan saya dan pengurangan karbon tidak dapat mengurangi rasa bersalah terhadap lingkungan secara menyeluruh.

"Ketika kita merasa ketakutan, kita dapat membeku," tegas Susan M Koger, seorang dosen psikologi di Willamette University di Oregon, yang mengajar dan menulis tentang psikologi untuk kesinambungan.

"Kita dapat menjadi cacat karena ketakutan, atau sekedar kehilangan akal. Kami menggunakan berbagai jenis mekanisme pertahanan untuk mengalihkan perhatian, untuk membelokkan, untuk menghilangkan rasa sakit."

Jenis "psychic numbing" ini tidak membantu, baik dalam menghadapi krisis iklim dan yang lebih umum.

Yang juga tidak membantu adalah rasa bersalah yang cenderung terjadi pada saya. Koger berkata, "Rasa bersalah bukanlah emosi yang berguna karena rasa bersalah tidak memotivasi. Alih-alih merasa bersalah, kita bisa melihatnya sebagai rasa tanggung jawab."

Di Bath, saya mencari-cari cara untuk membingkai ulang emosi-emosi negatif saya, dengan bantuan dari Hickman.

"Dukungan utama yang kita dapatkan adalah melalui dokter dan pengobatan mereka dan CBT (terapi perilaku kognitif), tidak ada yang secara khusus cocok untuk menanggapi keadaan darurat iklim," katanya.

Pendekatan Hickman sedikit berbeda. Dia bersikeras bahwa psikologi yang dia terapkan merupakan psikologi arus utama, namun beberapa hal yang dia katakan bertentangan dengan beberapa psikolog mapan, dan dia tidak merasa khawatir menjadi kontroversial.

"Saya dapat melihat Anda sedang berjuang mengatasi hal itu," katanya. Sambil tersenyum dia menyiratkan bahwa saya bersikap defensif dan sedikit menjauh, dan mungkin saja benar begitu.

Di tengah percakapan kami, saya menukar kacamata saya dengan kacamata hitam — lebih karena matahari yang menyilaukan, tetapi sebagian karena saya merasa perlu untuk melindungi diri saya dengan cara lain.

Saya hanya menyinggung pacar dan anak-anak saya sekilas, jadi saya terkejut ketika Hickman kemudian membahas ini. Yang jelas, status saya sebagai orang tua, seperti keadaan di dunia ini, tetap tidak terselesaikan.

Saya tidak sendirian dalam ketidaknyamanan yang besar ini. Karya Hickman, seorang anggota Climate Psychology Alliance, dipengaruhi oleh gagasan "adaptasi yang mendalam". Konsep ini kontroversial di kalangan ilmuwan iklim dan psikolog karena berpendapat bahwa kehancuran tataran masyarakat tidak bisa terhindarkan.

Perubahan iklim Hak atas foto BBC/Getty
Image caption Penyangkalan perubahan iklim dan malapetaka atas masalah-masalah seperti melelehnya gletser bisa berbahaya dengan mengarahkan orang untuk merasa bahwa tindakan mereka tidak akan membuat perbedaan.

"Pada level pribadi, saya pikir itu mungkin benar. Jelas sulit untuk tetap berharap," Koger mengakui.

"Namun saya pikir itu berbahaya. Saya pikir itu berbahaya secara pribadi dan saya pikir juga berbahaya secara sosial karena jika tidak ada harapan, maka tidak ada alasan untuk bertindak."

Koger ingin menghindari ramalan malapetaka tentang bencana iklim (yang menurut beberapa orang sama berbahayanya dengan menyangkal perubahan iklim).

"Bagi saya pribadi, saya perlu merasa bahwa saya membuat sedikit perubahan."

Hickman, yang juga seorang instruktur selam, mengadaptasi prinsip-prinsip scuba untuk konseling pasangan dan terapi iklim: Stop. Bernafas. Berpikir. Menghubungkan. Beraksi.

"Apa yang kita butuhkan sebagai respon atas darurat iklim adalah solusi internal dan eksternal," katanya, dan model seperti scuba ini memungkinkan perawatan mandiri dan tindakan kolektif yang diperlukan untuk menghadapi kerusakan iklim.

Salah satu kesimpulannya adalah bahwa menyajikan fakta tentang perubahan iklim tidak begitu membantu daripada mendorong orang untuk merenungkan informasi tersebut, termasuk ketidaknyamanan yang mungkin mereka rasakan.

Perubahan iklim Hak atas foto BBC/Getty
Image caption Mendorong orang untuk merefleksikan informasi tentang perubahan iklim dan mengambil tindakan positif adalah salah satu cara untuk mengatasi kecemasan iklim.

Di akhir percakapan, kami melihat capung berterbangan di sekitar danau dan ilalang melambai karena hembusan angin.

Kami berseru kepada anak-anak bebek yang terhuyung-huyung mengikuti ibu mereka bangkit, dalam formasi V yang sempurna.

Saya telah menghabiskan waktu dua jam untuk berbicara tentang perubahan iklim, yang biasanya membuat saya merasa khawatir dan mual. Tetapi sementara ini, memfokuskan diri pada bebek-bebek membuat sesak di dada ini hilang.

Emosi Iklim

Artikel ini adalah bagian dari seri Climate Emotions kami. Perubahan iklim merusak planet, dan kemungkinan merusak kesehatan jiwa kita juga,

Dari rasa takut dan kekhawatiran untuk berharap dan sembuh, seri ini mengamati reaksi-reaksi kita yang kompleks terhadap perubahan iklim, dan bagaimana reaksi tersebut dapat membentuk kemampuan kita untuk menyesuaikan diri dengan tantangan lingkungan yang kita hadapi.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The harm from worrying about climate change di laman BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait