Perbatasan AS dan Kanada yang diam-diam bergejolak

Kanada Hak atas foto Diane Selkirk
Image caption Perselisihan muncul ketika nelayan Kanada menemukan kapal-kapal dari Alaska mengambil ikan.

Selama 116 tahun terakhir, jalur yang disengketakan di lepas pantai Alaska telah memicu perang antara Amerika Serikat dan Kanada yang saling bertetangga.

Terletak di antara kepulauan Haida Gwaii, di pantai utara British Columbia dan ujung selatan Alaska Panhandle, perairan kaya sumber daya ikan Dixon Entrance, yang menarik sejumlah fauna seperti orca, albatros, dan lima spesies salmon, menjalar ke pantai berbatu dan hutan hijau Prince of Pulau Wales dan daratan.

Di beberapa titik ketika kami berlayar melawan ombak, kami meninggalkan perairan Kanada dan memasuki AS.

Namun sungguh, satu-satunya cara kami tahu bahwa kami masuk ke negara lain adalah saat melihat peralatan elektronik yang melonjak satu jam ke Alaska Standard Time.

Itu terjadi setelah kami melewati kapal patroli otoritas perikanan Kanada yang mencari pelanggar perbatasan.

Sebenarnya, garis yang kami seberangi itu telah lama menjadi perdebatan. Bahkan sebelum Bangsa Eropa datang dan melakukan kontak dengan masyarakat adat setempat, komunitas Haida, Tlingit dan Tsimshian kerap berperang atas batas darat dan laut di wilayah yang berlimpah ini.

Hari-hari ini, ketidaksepakatan batas ini berlanjut antara dua musuh baru. Harta karun di jantung perselisihan ini pun bukan lagi bulu atau emas, tapi salmon.

Meskipun AS dan Kanada memiliki perbatasan negara terpanjang di dunia yang tidak dijaga pasukan militer, Dixon Entrance adalah satu dari empat perselisihan perbatasan yang sudah berjalan lama antara tetangga yang bersahabat.

Akar pertengkaran itu bermula abad ke-18, ketika para pemangku kepentingan yang menjajah di wilayah Alaska Panhandle (jalur sempit pegunungan, fjord dan pulau-pulau saluran yang berbatasan dengan British Columbia modern) adalah Inggris dan Rusia, dan disusul AS.

Ketika armada Rusia tiba di Alaska pada 1732, mereka mendapati bahwa di daerah itu terdapat banyak sekali berang-berang laut. Alhasil, mereka memulai perdagangan bulu dengan penduduk setempat.

Dekade 1760-an, Kapten James Cook datang dan mulai memetakan dan mensurvei Pasifik Utara untuk kepentingan Inggris.

Hak atas foto The Washington Post via Getty Images
Image caption Industri perikanan memanaskan sengketa perbatasan antara Kanada dan Amerika Serikat di kawasan Alaska.

Kemudian pada awal 1800-an, penjelajah Amerika Meriweather Lewis dan William Clark menemukan jalan mereka ke Pacific Northwest.

Aktivitas itu akhirnya membuat sengketa teritorial. Penduduk pribumi terdampak penyakit dan perang, dan selama periode penjajahan Rusia, perbatasan selatan dan timur Panhandle Alaska tidak pernah ditetapkan dengan tegas.

Perjanjian 1825 Saint Petersburg antara Inggris dan Rusia menetapkan perbatasan pantai selatan Panhandle, dekat Pangeran Rupert modern, British Columbia.

Namun sebagian besar lanskap wilayah itu yang didominasi pegunungan tetap tidak diketahui.

Pada 1867, Amerika Serikat membeli Alaska dari Rusia. Beberapa tahun kemudian, British Columbia bergabung dengan Kanada.

Pemerintah Kanada berkata kepada AS bahwa sudah waktunya mereka melakukan survei resmi terhadap Panhandle. Tujuannya agar mereka dapat menyetujui perbatasan yang jelas. Akan tetapi, AS menganggap upaya itu terlalu mahal untuk sebidang tanah yang begitu terpencil.

Kemudian emas ditemukan; pertama di British Columbia dan kemudian pada 1897 di Klondike di wilayah Yukon, barat laut Kanada.

Saat itu, diperkirakan 100 ribu orang bermigrasi ke sana. Ternyata salah satu cara termudah untuk mencapai ladang emas itu adalah dengan perjalanan laut melalui Dixon Entrance, ke dalam fjord dan kemudian ke daratan melintasi Panhandle.

Kanada ingin melakukan perjalanan tanpa hambatan ke wilayah mereka, tapi AS enggan menyerahkan salah satu tanah yang baru-baru ini dianggap terlalu kecil untuk dipetakan.

Dua negara itu berusaha mencapai resolusi, tapi pada tahun 1899, mereka mencapai jalan buntu.

Hak atas foto Diane Selkirk
Image caption Dixon Entrance mengarah ke pantai berbatu dan hutan hijau Pulau Pangeran Wales dan daratan utama.

Pengadilan internasional dibentuk pada tahun 1903 untuk menyelesaikan sengketa batas Alaska. Terdiri dari enam ahli hukum dari AS, Kanada dan Inggris, kelompok ini akhirnya menetapkan batas timur Alaska di 56 kilometer sisi timur laut yang menyentuh pantai.

Batas selatan, yang dikenal sebagai garis A-B, membentang dari Cape Muzon, titik paling selatan Pulau Dall Alaska, lurus ke timur melalui Dixon Entrance ke Kanal Portland, di mana perairan itu mengalir di beberapa pulau sebelum kembali menuju Kanal Portland dan ke Pantai Pegunungan.

Kanada berang dengan keputusan itu dan persoalan lain segera muncul. Sejauh menyangkut Kanada, garis A-B adalah garis pemisah antara dua negara tetangga itu, baik di darat maupun di laut.

Namun AS memiliki pendapat berbeda. Mereka menyatakan, keputusan itu hanya berkaitan dengan perbatasan darat, dan bahwa menurut hukum laut, batas laut sebenarnya adalah 20 kilometer di selatan garis, setengah jalan melintasi Dixon Entrance.

Ketidaksepakatan ini berlanjut hingga hari ini. Kini, sekitar 1,5 juta orang berlayar melintasi perbatasan yang diperebutkan itu setiap tahun.

Dengan nyaman sambil menikmati gunung-gunung yang menjulang tinggi di kawasan ini dan menyaksikan pulau-pulau indah dari geladak kapal pesiar, feri, dan perahu layar, kebanyakan orang tidak mengetahui status sengketa perbatasan tersebut.

Mungkin aneh melihat dua sekutu dekat itu tak kunjung sepakat soal kepemilikan jalur sempit, dengan sisi 80 kilometer dan 50 kilometer ini, demi hubungan internasional yang lebih mudah. Namun ternyata ada alasan di balik hubungan itu, yaitu ikan salmon Pasifik.

Jumlah salmon yang melimpah dan migrasi tahunan kelompok ikan itu menjadikan penangkapan ikan sebagai industri utama dalam perekonomian di kawasan Pasifik barat laut.

Dari tahun 1880-an hingga 1950-an, lebih dari 100 pengalengan dan desa nelayan bermunculan di seluruh British Columbia. Dalam beberapa tahun terakhir, salmon yang hidup liar dari provinsi itu telah diekspor ke 53 negara yang berbeda.

Dalam demam sumber daya ikan ini, Dixon Entrance ibarat hadiah perjudian.

Lima jenis salmon setiap tahun melewati perairan itu, yakni ikan sockeye, coho, chinook, sohib, dan pink. Mereka kembali dari laut berniat mencapai 'rumah' mereka di Alaska, British Columbia, Washington atau Oregon, tempat mereka bertelur dan mati.

Hak atas foto Diane Selkirk
Image caption Penangkapan ikan salmon memutar perekonomian kawasan barat laut Pasifik.

Untuk menangkap salmon di perairan itu, dua kapal mengikuti dua regulasi yang berbeda.

Tanpa perbatasan yang disepakati, nelayan dari AS dan Kanada berusaha menangkap bagian salmon mereka dari perairan yang disengketakan.

Perselisihan yang sedang berlangsung memicu pertempuran lambat yang kadang-kadang mendidih, seperti yang selama ini disebut 'perang salmon', yang mengadu domba nelayan Kanada dan Alaska selama dekade 1990-an.

Sejak 1930-an, AS dan Kanada telah mencoba menentukan hak atas salmon mereka.

Ini adalah konsep yang presisi, tapi buram, karena salmon berenang bukan hanya menuju sungai tertentu, tetapi ke suatu bagian dari sungai itu.

Penangkapan ikan yang tak diatur mengganggu alur hidup salmon hingga nyaris punah. Dalam beberapa kasus, industri perikanan itu juga menghancurkan sumber pangan masyarakat lokal.

Pembuatannya butuh waktu 15 tahun, tapi Perjanjian Salmon Pasifik, yang bertujuan untuk memastikan para nelayan dari AS dan Kanada memiliki akses yang adil terhadap salmon di sepanjang pantai Pasifik, akhirnya ditandatangani pada 1985.

Namun, ketika bagian-bagian dari perjanjian itu berakhir tahun 1992, sebuah insiden internasional yang berlangsung selama enam tahun terjadi. Kanada dan AS kerap saling menangkap kapal penangkap ikan komersial.

Ketegangan meningkat ketika beberapa ratus nelayan Kanada akhirnya menghambat kapal feri milik otoritas negara bagian Alaska di kawasan Prince Rupert selama tiga hari pada tahun 1997. Mereka juga menyandera para penumpang kapal itu.

Hak atas foto The Washington Post via Getty Images
Image caption Penduduk Alaska mengeringkan ikan salmon sebagai bahan panganan sehari-hari mereka.

Perjanjian baru selama 10 tahun yang mengedepankan pendekatan ilmiah dan hak penangkapan ikan warga lokal diteken tahun 1999. Konflik mereda, tetapi itu tidak menyelesaikan sengketa perbatasan.

Sebaliknya, kebuntuan terus berlanjut dengan tenang.

Biasanya, Kanada dan AS menjadi polisi bagi nelayan mereka sendiri di perairan yang disengketakan. Namun terkadang pertempuran kecil muncul saat nelayan Kanada menemui kapal-kapal Alaska yang sedang memancing di perairan yang disengketakan.

Mereka lantas menghubungi pusat kontak telepon 24 jam yang secara khusus disiapkan untuk pelanggaran terkait penangkapan salmon.

Dengan menyerahkan koordinat GPS dan foto-foto kapal yang melanggar, mereka dapat mengajukan keluhan kepada Departemen Perikanan dan Lautan Kanada.

Karena lebih banyak pelanggaran cenderung dilakukan kapal asal AS, mereka hingga kini belum perlu membuat pusat pelaporan semacam itu.

Sementara itu, di Kanada, sebuah gerakan yang menyoroti hak dan kebutuhan masyarakat adat menjadikan sumber daya panganan laut mereka sebagai prioritas.

Jadi, ketika bagian dari Perjanjian Salmon Pasifik berakhir pada tanggal 31 Desember 2019, ketersediaan ikan salmon diperkirakan akan kembali mengganggu gencatan senjata perbatasan.

Berdiri di tepi Sungai Adam November lalu, hampir 1.500 kilometer sisi tenggara Dixon Entrance, Tanner Francois, laki-laki paruh baya dari kelompok lokal Secwepemc Nation menyanyikan lagu salmon. Ia berterima kasih kepada ikan-ikan itu karena telah melakukan perjalanan panjang yang berbahaya kembali ke tempat bertelur.

Dalam pengetahuan lokal, ada cerita tentang sungai berwarna merah yang mengalir begitu deras membawa rombongan salmon jenis sockeye. Menurut kisah itu, Anda bisa berjalan melintasi punggung mereka dan mencapai seberang sungai dengan kaki kering.

Namun pada pagi yang dingin ini, hanya ada beberapa nelayan yang akan menangkap salmon di sungai pada akhir musim pengembaraan rombongan ikan tersebut.

Migrasi tahunan salmon melalui Dixon Entrance, yang mengirimkan salmon ke berbagai sungai yang mengalir ke sebagian besar kawasan British Columbia, menjadikan ikan itu begitu vital bagi komunitas adat Kanada, First Nations, serta banyak orang lainnya di British Columbia.

Melakukan perjalanan bolak-balik hingga 4.000 kilometer dari sungai dan hulu, keluar laut dan kemudian kembali, salmon tidak hanya penting ekonomi, tapi juga santapan bagi binatang lain seperti orcas, beruang, dan elang. Pada gilirannya, mereka memberi makan hutan.

Hak atas foto Diane Selkirk
Image caption Sebuah gerakan sipil menempatkan penangkapan ikan komunitas adat lokal sebagai yang paling utama di kawasan Pasifik.

"Tanpa salmon kami tidak akan bertahan," kata Francois.

Masyarakat di pantai sekitar membersihkan sungai demi melindungi habitat salmon. Di sekolah, anak-anak mendapatkan pelajaran tentang tempat penetasan salmon lokal dan cara membebaskan benih yang baru menetas di sungai setiap musim semi.

Masyarakat adat menyanyikan lagu salmon di rumah melalui sungai dan melintasi pegunungan. Sementara para nelayan di Dixon Entrance menjaga bagian lautan mereka dengan hati-hati. Mereka selalu waspada terhadap pelanggaran perbatasan, siap untuk menghubungi 1-800 untuk menyelesaikan perselisihan diplomatik.

Sementara itu, salmon berenang di lautan itu tanpa menyadari politik perbatasan dan batas negara. Di atas ombak, sebagian besar penumpang kapal pesiar dan feri juga tidak menyadarinya.

Orang-orang itu mengagumi pemandangan dan kehidupan di daerah itu. Dari puncak yang tertutup salju, pegunungan beludru hijau yang mencapai langit, air terjun, berang-berang laut, orca, burung laut, dan beruang.

Mereka tidak sadar bahwa semuanya indah dan terhubung dengan baik berkat salmon yang berenang jauh di bawah laut.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, The little known US-Canada border war, bisa Anda baca di laman BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait