Yamabushi, para pertapa di pegunungan Jepang - 'Kembali ke alam, kembali ke dirimu sendiri'

  • Steve John Powell & Angeles Marin Cabello
  • BBC Travel
Jepang

Sumber gambar, Westend61/Getty Images

Keterangan gambar,

Meditasi di bawah air terjun adalah salah satu ritual yang diwajibkan untuk menjadi Yamabushi bersertifikat.

Di hutan kuno dengan pepohonan aras yang menjulang tinggi, semua hening kecuali suara kicauan burung-burung yang tak terlihat.

Tiba-tiba aku mendengar suara dentingan lonceng. Dari balik kabut, selusin sosok muncul, berjalan dalam satu barisan.

Dipimpin oleh sosok lelaki Tolkienian dengan janggut abu-abu panjang, mereka tampak seperti hantu, berpakaian serba putih.

Mereka adalah Yamabushi: penyembah gunung Jepang.

Selama lebih dari 1.400 tahun, berabad-abad yang lalu sebelum siapa pun berbicara tentang "forest bathing", biksu Yamabushi telah berjalan di pegunungan suci Dewa Sanzan (diterjemahkan sebagai, "Tiga Pegunungan di propinsi Dewa") di Prefektur Yamagata.

Namun perjalanan mereka bukanlah pendakian yang menyenangkan. Melalui penyatuan dengan alam dan disiplin diri yang ketat, Yamabushi mencari kelahiran kembali secara spiritual.

Sumber gambar, Tohoku Tourism Promotion Organization

Keterangan gambar,

Yamabushi mencari kelahiran kembali spiritual melalui penyatuan dengan alam dan disiplin diri yang ketat.

Yamagata terletak di Tohoku, wilayah paling utara pulau Honshu Jepang.

Sebagian besar Tohoku terisolasi, penuh deretan pegunungan, dan rentan terhadap hujan salju terberat di Jepang.

Ini adalah tanah yang digambarkan oleh penyair haiku Matsuo Basho dalam bukunya Narrow Road to the Deep North (1689).

Status sakral atau suci dari ketiga gunung-gunung ini - Gunung Haguro, Gunung Gassan dan Gunung Yudono - berasal dari tahun 593 M ketika Pangeran Hachiko melarikan diri dari ibu kota Jepang, Kyoto setelah pembunuhan ayahnya, Kaisar Sushun.

Pangeran Shotoku, keponakan Kaisar, menyarankan Hachiko untuk melarikan diri ke Gunung Haguro, di mana dikatakan bahwa dia akan bertemu dengan Kannon, Dewi Pengasih.

Pangeran Hachiko membangun kuil di masing-masing dari tiga puncak sehingga para dewa-dewi gunung akan tetap berada di sana, dengan demikian menjamin kedamaian dan kemakmuran wilayah tersebut.

Baca juga:

Dia menetapkan pegunungan sebagai pusat Shugendo, bentuk pemujaan gunung khas Jepang yang berasal dari masa ketika gunung dianggap sebagai dewa.

Seiring perkembangannya, Shugendo memasukkan unsur-unsur Shinto, Budha dan Taoisme.

Shugendo adalah agama Yamabushi. "Secara historis, Yamabushi hidup di pegunungan yang lebih tinggi di Jepang.

"Mereka menghabiskan waktu sampai bertahun-tahun di pegunungan," jelas Tim Bunting, Pemimpin Proyek Yamabushido dan Asisten Ahli Yamabushi.

"Misalnya, Yamabushi yang melakukan pertapaan menjadi Sokushinbutsu (Buddha Hidup) harus menghabiskan setidaknya 1.000 hari di pegunungan."

Proses mumifikasi diri melibatkan puasa berat dalam waktu yang lama, dan praktik tersebut dilarang lebih dari 100 tahun yang lalu selama era Meiji (1868-1912).

Sumber gambar, BSPI/Getty Images

Keterangan gambar,

Gunung Haguro adalah rumah bagi "Kakek Aras", pohon keramat yang diyakini berusia lebih dari 1.000 tahun.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Saat ini, ada sekitar 6.000 Yamabushi di Jepang. Mereka percaya bahwa pelatihan pertapa Shugendo di lingkungan alam pegunungan yang keras dapat membawa pencerahan.

Memasuki "dunia lain" pegunungan melambangkan kematian diri duniawi mereka, "itulah sebabnya mereka mengenakan jubah putih, atau shiroshozoku, yang secara tradisional digunakan untuk mendandani orang mati," jelas Yamabushi Kazuhiro, pelatih dan pemandu Yamabushi di Dewa Sanzan.

Untuk menjadi Yamabushi bersertifikat, seseorang harus menyelesaikan Ritual Puncak Musim Gugur Akinomine selama seminggu.

Sifat sebenarnya dari ritual tersebut adalah rahasia, tetapi diketahui mencakup kegiatan seperti meditasi di bawah air terjun, berjalan di malam hari, dan mengunjungi tempat-tempat di mana para dewa bersemayam di pegunungan dan berdoa kepada mereka.

Setelah itu, berapa lama dan seberapa sering mereka berjalan di gunung tergantung pada masing-masing individu.

"Kebanyakan Yamabushi Dewa Sanzan setidaknya mengulang Ritual Puncak Musim Gugur Akinomine setiap tahun. Beberapa melakukan pelatihan sendiri," kata Bunting.

Baca juga:

Melalui penyatuan di pegunungan ini, mereka menjadi satu dengan roh gunung dan muncul kembali dari pegunungan tercerahkan.

"Dengan berjalan kita dilahirkan kembali. Kita meremajakan hidup kita," kata Master Yoshino, seorang pendeta Yamabushi generasi ke-13, sekarang berusia 70-an, dan merupakan kepala Haguro Yamabushi.

Dewa Sanzan menjadi tempat ziarah yang populer sekitar 1.400 tahun yang lalu, menurut Kazuhiro, "setelah Pangeran Hachiko membantu mengakhiri wabah yang menghancurkan komunitas petani setempat".

Setelah 100 hari dalam pengasingan berdoa untuk mengakhiri wabah, pangeran memiliki visi yang memerintahkannya untuk membuat api besar.

Dia membagikan visinya kepada orang-orang, yang kemudian membangun patung iblis besar dan membakarnya.

Dan secara ajaib, wabah itu berakhir.

Selama Zaman Edo (1603-1868), peziarahan ke Dewa Sanzan dikenal sebagai cara untuk memulihkan semangat awet muda.

Prajurit samurai juga termasuk di antara mereka yang datang untuk berlatih di sini, dan pendakian tersebut dikenal sebagai Perjalanan Kelahiran Kembali.

Sumber gambar, Westend61/Getty Images

Keterangan gambar,

Meditasi di bawah air terjun adalah salah satu ritual yang diwajibkan untuk menjadi Yamabushi bersertifikat.

Nama Pangeran Hachiko masih digunakan pada waktu-waktu krisis.

Pada Mei 2020, festival api khusus diadakan di kuil Dewa Sanzan untuk berdoa agar pandemi Covid-19 berakhir.

"Kami berharap dapat meminjam kekuatan pendiri kami Pangeran Hachiko dan mendukung rasa kelelahan orang-orang selama pandemi virus Korona," kata seorang pendeta kepada surat kabar lokal Shonai Nippo.

Sementara itu, semakin banyak orang dari seluruh Jepang dan luar negeri yang menemukan dan merasakan dampak dari energi penyembuhan Dewa Sanzan.

Pelatihan Yamabushi tidak banyak berubah dalam 1.400 tahun terakhir. Bedanya, sekarang Anda juga bisa bergabung dengan mereka.

Setelah sekitar 30 tahun menjalankan kursus hanya dalam bahasa Jepang, peminat dari luar negeri meyakinkan Master Hoshino untuk mulai menawarkan kursusnya dalam bahasa Inggris juga.

Baca juga:

"Saya hidup dengan tradisi Yamabushi dan saya mengajar orang lain untuk melakukan hal yang sama," kata Guru Hoshino.

Beberapa ribu orang mengikuti kursus pelatihan pada tahun 2019.

"Kursus ini sangat populer dengan tipe Steve Jobs yang berprestasi tinggi, eksekutif yang terlalu banyak bekerja yang ingin terhubung kembali dengan diri mereka sendiri melalui hubungan yang dalam dengan alam," kata Hiroyuki Yoshizumi, seorang Yamabushi di kantor turis Haguro, yang mengatur pengalaman Yamabushi bagi para pengunjung.

"Banyak yang kembali untuk mengikuti kursus tiga atau empat kali."

Ada berbagai pilihan, termasuk kursus satu hari, dua hari dan empat hari, dengan akomodasi biasanya di Shukubo, atau penginapan peziarah, tersebar di sekitar Gunung Haguro.

Peserta harus berjalan dalam diam selama durasi. Juga, tidak ada telepon, jam tangan, sikat gigi, mencukur, hanya membaca atau menulis yang diperbolehkan.

Sumber gambar, BSPI/Getty Images

Keterangan gambar,

Para peziarah biasanya mengenakan sandal jerami dan harus berjalan dalam diam selama pelatihan mereka.

Hanya satu kata yang diizinkan untuk diucapkan selama kursus berlangsung.

"Ketika Master Yamabushi memberi Anda instruksi, Anda harus menanggapi dengan mengatakan 'uketamou' (saya menerima)," jelas konsultan PR yang berbasis di Tokyo, Yumiko Nishitani, setelah menyelesaikan satu hari pendakian Gunung Haguro.

"Melalui rutinitas ini," tambahnya, "Anda belajar menerima segala sesuatu apa adanya. Dengan cara ini, peserta dipaksa untuk hidup pada saat ini. Jadi, pelatihan Yamabushi tidak hanya untuk pencerahan dan penemuan diri tetapi juga untuk kesadaran."

Meskipun terdengar menantang, ini membantu Anda mengatasi cara berpikir dan bertindak yang biasa Anda lakukan, dan fokus pada saat ini daripada mengkhawatirkan masa depan.

"Kami ingin orang-orang menghadapi diri mereka sendiri, melihat kedua kaki mereka di tempat mereka berdiri, dan merasakan suatu hubungan dengan alam, masyarakat, dan dunia, "kata Maiko Ito, pemimpin Proyek Yamabushido.

"Pikirkan tentang apa yang ingin Anda lakukan, dan apa yang Anda lakukan dan cara terbaik untuk berpartisipasi dalam masyarakat."

Baca juga:

Untuk Yamabushi, masing-masing dari ketiga gunung tersebut mewujudkan dewa yang berbeda dan langkah yang berbeda dalam perjalanan menuju kelahiran kembali.

Gunung Haguro melambangkan masa kini, dan orang-orang berdoa di sini untuk kebahagiaan duniawi.

Gunung Gassan, Gunung Bulan, adalah masa lalu, tempat arwah leluhur beristirahat.

Di sini, orang-orang berdoa untuk kehidupan akhirat yang damai. Gunung Yudono adalah masa depan, dan tempat kelahiran kembali.

Perjalanan dimulai di torii merah besar atau gerbang di kaki gunung.

Seperti semua torii, itu menandai pintu masuk ke tanah suci tempat tinggal para dewa.

Hanya setinggi 414m, Haguro adalah satu-satunya puncak yang tetap buka sepanjang tahun, sementara dua gunung lainnya yang lebih tinggi menghabiskan musim dingin di salju.

Sumber gambar, BSPI/Getty Images

Keterangan gambar,

Tidak boleh ada telepon, jam tangan, menyikat gigi, bercukur, membaca atau menulis.

Haguro adalah rumah bagi pagoda kayu berlantai lima yang menjulang setinggi 30m di tengah pepohonan seperti bagian alami dari hutan.

Beberapa meter jauhnya tampak Jiji-sugi atau Kakek Cedar yang sama mengagumkannya.

Diyakini berusia lebih dari 1.000 tahun, Monumen Alam yang Ditunjuk ini mengenakan tali shimenawa di sekitar batangnya, yang menunjukkan status sakral pohon tersebut (baik di Shinto maupun Shugendo, pohon, bebatuan, sungai, dan fenomena alam lainnya diyakini dihuni oleh dewa).

Dari sini, tangga spektakuler dengan 2.446 anak tangga bebatuan (jauhnya sekitar 1,7km) mengarah ke puncak.

Jalan setapak yang telah dibuat dari tahun 1648 ini dikelilingi dengan 580 pohon cedar, beberapa dari mereka berusia lebih dari 600 tahun.

Tenggelam dalam keheningan total di antara pepohonan yang megah ini, kekhawatiran yang mengganggu dan pikiran bising yang biasanya mengacaukan pikiran Anda digantikan oleh ketenangan, seperti saat Anda bermeditasi.

Seperti yang dikatakan Guru Yoshino, "kita meninggalkan diri kita di alam, kita memberi ruang dalam pikiran kita."

Akhirnya, Anda tiba di kuil Sanjin Gosaiden di mana dewa dari ketiga gunung tersebut diabadikan, menjadikannya tempat pemujaan utama.

Kuil tersebut beratapkan rumbia dengan tebal lebih dari 2m - merupakan kuil terbesar di Jepang.

Gunung Gassan, puncak kedua, adalah yang tertinggi dan paling megah dari ketiga gunung, dengan ketinggian 1.984m.

Punggung bukit yang menghubungkan Gassan ke dua puncak lainnya, menawarkan pemandangan pedesaan sekitarnya yang luar biasa.

Padang rumput terbuka Gassan dan angin segar kontras dengan pedalaman hutan di Haguro.

Hati Anda tersenyum melihat lautan bunga alpine di sekitar lahan basah Midagahama Moor. Karena Gassan adalah tempat tinggal roh nenek moyang, Anda secara simbolis melewati Tanah Orang Mati dalam perjalanan menuju kelahiran kembali.

Sumber gambar, Tohoku Tourism Promotion Organization

Keterangan gambar,

Perjalanan dimulai di torii merah yang menandai pintu masuk ke tanah suci.

Puncak dari pendakian adalah Gunung Yudono, gunung 1.504m masa depan, dan paling suci dari tiga puncak.

Setengah jalan ke atas adalah batu besar berwarna tembaga tempat mata air panas menyembur keluar.

Tempat ini sangat sakral sehingga tidak ada foto yang diizinkan. Bahkan dilarang untuk berbicara secara rinci tentang apa yang telah Anda lihat di kuil, yang dikatakan sebagai titik kelahiran kembali.

Seperti yang telah dituliskan Basho:

Saya tidak bisa berbicara tentang Yudono

Tapi lihat betapa basahnya

Lengan bajuku berlinang air mata

Yang bisa saya ceritakan kepada Anda adalah bahwa Gunung Yudono juga merupakan rumah bagi air terjun ganda spektakuler yang bergemuruh ke dalam kolam batu di bawahnya.

Di sini peserta diinstruksikan untuk berdiri di bawah riam es sambil membacakan sutra selama satu menit.

Dengan ucapan "Uketamo!" Anda melangkah ke dalam kolam. Tidak mengherankan, bahwa bagian dari program ini dihentikan setelah musim panas berlalu, saat cuaca menjadi terlalu dingin untuk semua kecuali para pertapa yang paling tangguh.

Tetapi jika mandi air dingin dan pendakian yang berat bukan untuk Anda, ada pilihan lain yang tidak terlalu menuntut, seperti pendakian satu hari khusus Gunung Haguro.

Seperti yang dijelaskan Kazuhiro, "Dengan begitu, kamu masih bisa mengunjungi kuil Dewa Sanzan. Dewa dari ketiga gunung itu diabadikan di sana, jadi sama saja dengan mengunjungi ketiga puncak."

Sekarang siapa pun, tanpa memandang usia atau kebugarannya, dapat merasakan efek terapi dari Perjalanan Kelahiran Kembali Dewa Sanzan.

Seperti motto Yamabushi menyatakan: "Kembali ke alam, kembali ke dirimu sendiri."

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini di BBC Travel dengan judul Japan's mountain ascetic hermits