Kisah perempuan pemimpin pemberontakan yang menginspirasi kemerdekaan Peru

Sangarará

Sumber gambar, Heather Jasper

Pertempuran antara penjajah Spanyol dan pemberontak dari komunitas adat Sangarará yang dipimpin oleh seorang perempuan di Andes, menjadi cikal bakal pemberontakan yang memengaruhi kemerdekaan Peru.

"Amigo, medan perang ada di sini," kata Rodolfo Román Sandoval, sambil menunjuk ke sekitar alun-alun Sangarará, desa di pegunungan Andes tempatnya dibesarkan.

Terletak di ketinggian 3.800 meter di pegunungan Andes dan dikelilingi oleh puncak gunung yang memukau, tempat itu terasa senyap; ada lebih banyak domba yang menyeberang jalan daripada manusia, dan kesunyian hanya dipecahkan oleh anjing yang menggonggong sesekali atau keledai yang meringkik.

Román ingat ketika listrik datang ke kota; dan mengatakan kepada saya bahwa hingga pertengahan 1990-an, masyarakat Sangarará masih menggunakan sistem barter sebagai pengganti uang.

Baca juga:

Saat ini, pria itu sedang sibuk merenovasi rumah masa kecilnya di desa menjadi hostel dan pub wisata.

Belum banyak infrastruktur wisata di sini, kecuali beberapa hostel pedesaan dan restoran yang menyajikan pollo brasa (ayam rotisserie) dengan beberapa salsa picante terbaik yang pernah saya rasakan.

Tapi Román adalah salah satu dari sekelompok orang yang berpikir desa ini adalah tempat yang layak untuk dijelajahi.

Itu karena desa berdebu ini merupakan perhentian awal dan penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan Peru.

Lokasi konflik paling sengit

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Seperti banyak kota pedesaan Peru lainnya, alun-alun didominasi gereja kuno berukuran besar yang tidak proporsional.

Berhadapan langsung dengan gereja, berdiri dua patung - Tupac Amaru II dan Tomasa Tito Condemayta - sedang memegang senjata.

Semangat pemberontak dari kedua tokoh ini tetap tertanam kuat dalam budaya Sangarará, karena desa ini adalah tempat salah satu konflik paling sengit - dan salah satu pemberontakan masyarakat adat yang terpenting - dalam sejarah Peru.

Setiap orang Peru tahu cerita tentang bagaimana, pada tahun 1781, pemimpin pemberontak Tupac Amaru II dieksekusi oleh Kekaisaran Spanyol di alun-alun pusat Cusco.

Ia dipaksa menyaksikan istri dan anaknya dibunuh di depannya, lidahnya kemudian dipotong, dan ia ditarik hingga tubuhnya terpotong-potong, kemudian dipenggal.

Lalu, bagian tubuhnya dipamerkan di desa-desa di pegunungan Andes, di mana dan pasukannya mendapatkan dukungan dari warga sekitar.

Apa yang kurang diketahui adalah awal pemberontakan singkat di masyarakat adat Sangarará di Andes.

Pertempuran pada tanggal 18 November 1780 antara pemberontak Peru dan penjajah Spanyol di kota ini menandai awal sebenarnya dari pemberontakan Tupac Amaru II - yang meski gagal tetapi sangat berpengaruh - yang berakhir pada Maret 1783.

Sumber gambar, Heather Jasper

Keterangan gambar,

Desa Sangarará adalah tempat salah satu pemberontakan masyarakat adat terpenting dalam sejarah Peru. Heather Jasper

Pertempuran Sangarará adalah bagian dari sedikit kemenangan besar dalam gelombang pemberontakan Tupac Amaru II, dan pada akhirnya akan memicu revolusi di sebagian besar Amerika Selatan - termasuk kemerdekaan Peru sendiri 40 tahun kemudian.

Tahun ini menandai dua abad perayaan kemerdekaan resmi negara itu, namun benih-benih revolusi itu ditanam beberapa dekade sebelumnya oleh Tupac Amaru II, dan kampanyenya dipandang oleh banyak penduduk asli sebagai awal yang sebenarnya dari jalan panjang menuju kebebasan dari Spanyol.

Hari ini di Peru, Tupac Amaru II adalah sosok yang hampir mistis.

Terlahir sebagai José Gabriel Condorcanqui, dan seolah-olah memiliki darah raja Inca, ia adalah seorang pedagang keliling, yang memberinya pemahaman yang tepat tentang kondisi ekonomi dan kehidupan yang menghancurkan di desa-desa Andes yang miskin - kondisi yang dipaksakan pada mereka dengan cara brutal oleh pemerintah kolonial Spanyol.

"Tupac Amaru II melihat bagaimana masyarakat adat dipaksa bekerja untuk Spanyol - fajar hingga senja, 12 jam setiap hari.

"Ia melihat eksploitasi, pelecehan dan penandaan di tubuh [masyarakat adat]. Inilah yang membuatnya mulai berorganisasi ," tutur penduduk asli Sangarará, Enrique Arnedo Oimas.

'Pahlawan perempuan'

Tapi Tupac Amaru II bahkan tidak hadir untuk merayakan kemenangan terbesar dari pemberontakannya sendiri.

Menurut Arnedo dan penduduk setempat lainnya, ia ditempatkan dengan pasukannya di dekat desa itu, namun tak bisa tiba sampai pertempuran selesai.

Sebaliknya, para pemberontak dipimpin oleh seorang tokoh yang kurang dikenal dalam sejarah Peru: Tomasa Tito Condemayta, "pahlawan perempuan dari Pertempuran Sangarará," kata Arnedo.

Tomasa Tito Condemayta adalah seorang cacica (pemimpin lokal) dari Acos, yang berlokasi tak jauh dari situ, yang juga memiliki rumah di Sangarará.

Ia adalah satu-satunya perempuan yang dikenal di wilayah itu sebagai cacica, dan secara pribadi memimpin batalionnya sendiri yang semuanya terdiri dari prajurit perempuan, dipersenjatai dengan ketapel dan busur.

Perannya dalam menggalang dan mengorganisir perempuan pribumi sangat penting untuk pemberontakan.

Arnedo mencatat bahwa sebelumnya, "ia memimpin pertempuran di jembatan Pilpintu, dan satu lagi di Acos.

Itu sebabnya Tupac Amaru II mengirimnya ke Sangarará - karena ia adalah pemimpin dan ahli strategi yang baik."

Sumber gambar, Heather Jasper

Keterangan gambar,

Penduduk asli Sangarará Enrique Arnedo Oimas (kiri) menyebut Tito Condemayta, "pahlawan perempuan Pertempuran Sangarará"

Menurut Arnedo, sebelum pertempuran, anak-anak setempat membunyikan alarm bahwa tentara Spanyol sedang dalam perjalanan dari Cusco ke Sangarará.

"Mereka berada di pegunungan mengawasi domba-domba mereka dan melihat tentara datang. Mereka berlari untuk memberi tahu Tomasa... ketika Spanyol tiba, semua orang datang untuk berperang. Pria, perempuan, anak-anak, semua orang bersenjatakan batu dan peralatan pertanian. ."

Saat ini, jantung pertempuran kontroversial itu didiami oleh gereja dengan atap ubin di alun-alun.

Beberapa bagian gereja telah direkonstruksi, namun bagian dari fondasi asli dan bahkan beberapa lukisan dinding tetap ada.

Marta Esperanza Pacheco, yang telah menjadi pengurus gereja selama 40 tahun, membawa saya ke ruang belakang, sebuah ruang dengan kolam pembaptisan dan jendela yang sangat kecil, namun penting.

"Selama rekonstruksi, mereka menemukan setumpuk tulang sampai di sini," kata Esperanza, menunjuk ke pinggangnya.

Ketika pasukan Spanyol tiba, salju mulai turun dan para prajurit bersembunyi di dalam gereja - mungkin mereka percaya bahwa mereka akan aman di sana, atau tidak menyadari adanya pemberontak yang berkumpul.

Baca juga:

Ada yang percaya Tito Condemayta sengaja membakar gereja.

Lebih banyak lagi - terutama penduduk setempat - meyakini bahwa ia mencoba untuk mengeluarkan orang-orang Spanyol dari persembunyian dan upaya itu di luar kendali.

Yang lain lagi mengatakan bahwa orang Spanyol secara tidak sengaja meledakkan bahan peledak saat berada di dalam gereja.

"Mereka mengubah orang Spanyol menjadi chicharron (perut/kulit babi goreng)," kata Arnedo tentang para pemberontak, sambil tersenyum licik.

Meskipun sumber api masih belum jelas, apa yang tidak diperdebatkan adalah bahwa ada ledakan besar dan hampir semua tentara Spanyol tewas saat itu atau ketika mereka melarikan diri ke luar - kecuali tiga orang.

Sumber gambar, Heather Jasper

Keterangan gambar,

Untuk menghindari kobaran api, tiga tentara keluar dari jendela kecil di belakang gereja dengan mengenakan pakaian orang suci

Ketiga orang ini mengenakan pakaian orang-orang kudus yang ditemukan di gereja dan melarikan diri melalui jendela kecil di bagian belakang gedung.

"Orang-orang berkata, 'Lihat, bahkan orang-orang kudus melarikan diri dari gereja!'," kata Gregorio Cruz Machaki, walikota Sangarará.

Sementara itu menggembleng kampanye Tupac Amaru II dengan masyarakat adat Peru, pembakaran gereja dan pembantaian orang-orang Spanyol berikutnya membuat banyak umat Katolik dan mestizo (orang-orang dari etnis campuran Peru dan keturunan Eropa) menentangnya.

Pada akhirnya, Tito Condemayta dieksekusi secara brutal bersama dengan Tupac Amaru II di Plaza de Armas Cusco.

'Terhapus dari sejarah'

Tak banyak yang diketahui tentang kehidupannya sebelum pemberontakan, tetapi Erika Quinteros, penulis Tomasa Tito Condemayta: Una Historia de Valor y Coraje (Tomasa Tito Condemayta: A Story of Courage) yang baru-baru ini diterbitkan, mencatat bahwa Tito Condemayta melakukan semua ini "selama masa ketika banyak orang Peru percaya bahwa perempuan tidak memiliki peran dalam militer, atau politik".

"Saya terkejut bahwa saya belum pernah mendengar ceritanya, meskipun saya orang Peru, dan nenek saya adalah anggota masyarakat adat.

"Di Peru, pahlawan nasional kita kebanyakan adalah pria kulit putih, tetapi banyak perempuan telah terlibat dalam momen bersejarah di Peru - tetapi mereka terhapus dari sejarah kita," kata Quinteros.

"Dengan buku ini, saya ingin menunjukkan kepada anak-anak [Peru] bahwa ada pahlawan yang mirip dengan mereka."

Ibu Román, Eugenia Virgina Sandoval Quispe, setuju.

Ia lahir di Sangarará dan bersekolah di sana dan di Lima - tetapi di Lima ia tidak pernah belajar tentang sejarah desanya yang kaya, atau peran Tito Condemayta.

Itu telah berubah: putrinya diajari hal-hal ini, dan ia yakin para perempuan Sangarará akan lebih terinspirasi untuk menjadi pemimpin dan terjun ke dunia politik.

"Sekarang, saya melihat anak-anak di sekolah lebih tertarik pada sejarah. Mereka ingin tahu. Anak perempuan saya tahu sejarah ... dan saya sendiri mulai meneliti lebih banyak. Saya lebih tertarik dengan apa yang terjadi di sini," katanya.

Sumber gambar, Heather Jasper

Keterangan gambar,

Tomasa Tito Condemayta memimpin batalionnya sendiri yang terdiri dari pejuang wanita, dipersenjatai dengan ketapel dan busur

Semangat pemberontak Sangarará bukan hanya peninggalan sejarah.

Karena sejarah panjang bentrokan dengan polisi, petugas federal (sebelumnya Guardia Civil) tidak pernah menginjakkan kaki di kota itu sejak tahun 1940-an.

Pada 1920-an, 150 tahun setelah Pertempuran Sangarará, terjadi bentrokan dengan orang Spanyol pemilik tanah setempat terkait kondisi kerja.

Bertahun-tahun kemudian pada tahun 1942, Arnedo ditawan oleh pasukan pemerintah pada usia 12 tahun, setelah perselisihan berdarah atas hak penambangan di daerah tersebut.

"Kami selalu menjadi pemberontak di sini. Kami selalu menghadapi otoritas," kata Arnedo.

Belum dapat pengakuan layak

Terlepas dari sejarah kerusuhan sosial yang mendalam, hari ini Sangarará adalah desa yang ramah dan tenang yang aman untuk dikunjungi.

Dan di antara penduduk setempat, ada konsensus bahwa desa tersebut belum mendapatkan pengakuan yang layak dalam catatan sejarah.

"Di sinilah pemberontakan Túpac Amaru dimulai, tempat dia mengorganisir dengan pemimpin lain seperti Tomasa Tito Condemayta," kata Cruz.

"Kami ingin pemerintah Peru secara hukum mengakui 18 November sebagai tanggal bersejarah," katanya.

Cruz sangat ingin mendorong pariwisata Sangarará, dan desa itu memiliki keunggulan: di dekatnya terdapat salah satu reruntuhan termegah namun belum banyak dikenal di Peru, Waqra Pukará yang ikonik (Quechua untuk "benteng bertanduk").

Asal-usul situs ini penuh misteri, meskipun diketahui bahwa peradaban Chanca mendudukinya sebelum ditaklukkan oleh Inca.

Sumber gambar, David Mendoza Valdivia/Getty Images

Keterangan gambar,

Waqra Pukará (Quechua untuk "benteng bertanduk") berada di ketinggian 4.100 meter, hampir dua kali lebih tinggi dari Machu Picchu

Terletak di ketinggian 4.100 meter, situs ini berlokasi hampir dua kali lebih tinggi dari Machu Picchu.

Dari kota, sangat mudah menyewa mobil agar lebih dekat ke reruntuhan, dan sekitar dua hingga tiga jam mendaki dari titik itu.

Benteng ini merupakan campuran elemen purba dan sentuhan Inca klasik, dan lebih mirip sesuatu dari tanah Mordor daripada Peru.

Selain itu, situs rumah Tito Condemayta di Sangarará sedang diubah menjadi museum, dan sebuah hotel telah dibangun di salah satu danau terdekat untuk mendukung pariwisata ke Waqra Pukará.

Ada juga pembicaraan tentang pengembangan rute menunggang kuda ke reruntuhan di samping jalur pejalan kaki yang sudah ada.

"Ini tempat penting. Tapi sudah dilupakan," kata Arnedo.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, The Indigenous rebellion that inspired Peru's independence, bisa Anda simak di laman BBC Travel .