Haruskah kita takut pada mobil tanpa pengemudi?

Google car Hak atas foto Google
Image caption Mobil swakendara Google ini tentu sengaja dibuat lucu seperti ini.

Komputer seharusnya membuat hidup kita lebih mudah, tetapi, siapapun yang sudah menghabiskan berjam-jam menelpon saluran bantuan teknis tahu bahwa ini tidak selalu benar.

Tapi, kita hidup dalam dunia digital, dan ini tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Bulan Februari 2016 ini, organisasi keamanan jalan raya nasional Amerika memberi tahu Google bahwa menurut aturan hukum, komputer yang mengendalikan mobil swakemudi alias yang bisa mengemudikan diri sendiri bisa dianggap sebagai pengemudi – perbedaan yang, sampai sekarang, hanya diterapkan pada manusia.

Meskipun ini jauh dari rintangan terakhir yang harus ditempuh mobil swakemudi sebelum menjadi pilihan populer, ini tetap langkah besar ke arah itu.

Tak bisa disangkal bahwa Mobil Google itu memang manis, dengan ekspresi mata lebar yang patut disayangi. Yakinlah bahwa ini hal yang memang direncanakan.

“Jahat” bukan kata yang pertama kita pikir saat melihat mobil ini. Tetapi, kecerdasan buatan – dan implikasinya yang lebih suram – baru-baru ini menjadi topik yang hangat.

Pada awal bulan ini, saat berbicara dengan komite intelejen senat, James Clapper, Direktur Intelejen Nasional Amerika mengatakan bahwa “Banyak implikasi penyebaran kecerdasan buatan seperti misalnya peningkatan kerentanan pada serangan dari dunia maya, kesulitan memastikan atribusi, memudahkan kemajuan sistem senjata dan intelejen asing, risiko kecelakaan dan isu kewajiban terkait dan pengangguran.”

Bayangkan Skynet dari film Terminator.

Di Inggris, Google membangun program kecerdasan buatan yang dirancang untuk memainkan permainan strategi asal Cina yang berumur 2500 tahun dan sangat kompleks, bernama Go.

Program ini telah mengalahkan salah satu pemain Go terhebat di dunia, lima kali.

Izinkanlah kami untuk menghadirkan kisah tentang peringatan risiko kecerdasan buatan seperti ditampilkan dalam beberapa film.

Lewat galeri komputer nakal favorit kami yang kami ambil dari berbagai film, Anda bisa temukan komputer yang suka menggoda, yang gemar mempermainkan kegelisahan kita, juga yang membuat kita takut bahwa kita tak diperlukan, serta ada yang semata-mata pembunuh.

Ingatlah bahwa HAL-9000 bermata merah dari 2001: A Space Odyssey itu awalnya adalah otak dibalik kapal angkasa tak berpengemudi bernama Discovery One.

Lihatlah kemudian ia berubah jadi apa.

Hak atas foto Scott Park
Image caption HAL 9000, 2001: A Space Odyssey. Janganlah tertipu oleh bagaimana prosesor HAL memerlukan satu ruangan sendiri – ini adalah sistem operasi yang cukup kuat untuk mengatur seluruh kapal angkasa dan awaknya. Siapa butuh iTunes kalau HAL bisa menghibur kita dengan Daisy dan lagu klasik Amerika lainnya? Kemampuan membaca gerak bibirnya juga tak tertandingi. Kita juga tak perlu cemas tentang perlindungan data. HAL sangat pandai memelihara rahasia dan melengkapi misi, dan akan melepaskan kita ke luar angkasa kalau kita menantang dia.
Hak atas foto Scott Park
Image caption Emerac, Desk Set. Departemen riset jaringan TV Amerika penuh pekerja pintar (seperti Katherine Hepburn) yang bisa mengecek fakta apapun. Tetapi, apa perlunya pengetahuan ensiklopedis tingkat detil kuis televisi kalau kita punya komputer yang bisa melakukannya untuk kita? Emerac mungkin bertenaga tabung hampa dan membaca data dari kartu, tetapi dia adalah Google tahun 1950an, menyimpan informasi dan membuat mereka mudah dicari. Emerac mengancam pekerjaan pegawai departemen riset ini, yang membuat Emerac menjadi pembunuh karir. Tetapi, manusia memiliki satu kelebihan dari Emerac: mesin ini hanya bisa memperoleh data – mereka tak bisa mengevaluasi data.
Hak atas foto Scott Park
Image caption Proteus IV, Demon Seed. Manusia selalu kuatir soal menjadi seperti mesin, tetapi mesin yang menjadi seperti manusia juga bisa jadi masalah yang sama besar. Proteus IV diberikan kecerdasan buatan dengan matriks saraf palsu, supaya dia bisa bekerja mirip makhluk organik. Ini berarti bahwa dia bisa belajar dari waktu ke waktu, dan Proteus IV dengan cepat menemukan obat untuk leukimia. Tetapi, ini juga berarti bahwa dia bisa mendapat ide-ide lain, seperti menghamili seorang perempuan (Julie Christie) dan memindahkan kesadarannya ke makhluk organik asli secara paksa.
Hak atas foto Scott Park
Image caption Master Control, Tron. Hati-hatilah kalau mau membuat kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan yang mengendalikan komputer utama di perusahaan video game Encom memiliki keinginan meniru tuhan, dan ingin meretas Kremlin dan Pentagon. Dia tak bisa bertarung di dunia nyata, tetapi dia bisa menggunakan laser eksperimental miliknya untuk membawa orang-orang ke dunia maya. Dalam dunia distopia itu, mereka harus bertarung demi nyawa mereka dalam balapan motor bercahaya dan berkelahi dengan cakram laser.
Hak atas foto Scott Park
Image caption Joshua, WarGames. Bagaimana kita bisa tak suka pada sistem operasi yang mengendalikan silo rudal nuklir yang dilengkapi dengan permainan poker dan backgammon? Joshua adalah komputer adaptif yang bisa belajar dari waktu ke waktu dan, sayangnya, tak bisa membedakan kenyataan dari simulasi, meskipun dia mengendalikan seluruh gudang senjata nuklir Amerika. Dia juga memiliki sistem keamanan terlemah, membolehkan programernya untuk menggunakan nama anaknya yang sudah meninggal sebagai passwordnya. Tetapi, resiko mengalami sabotase juga sangat tinggi. Kalau komputernya dimatikan, secara otomatis, semua rudal nuklirnya akan diluncurkan. Untungnya, kemampuan belajarnya akan membuat dia menyimpulkan bahwa untuk perang nuklir, “satu-satunya langkah yang diambil untuk menang adalah tidak bermain sama sekali”.
Hak atas foto Scott Park
Image caption V’Ger, Star Trek: The Motion Picture. NASA tak mengetahui apa yang akan terjadi setelah mereka meluncurkan Voyager 6 ke luar angkasa. Dia hanya satelit angkasa sederhana yang tenaganya tak lebih dari Apple I, dan sedikit panel kontrol untuk masukan data. Tetapi, setelah masuk wormhole di angkasa, ras mesin berakal memberinya kecerdasan buatan, kapasitas penyimpanan tak terbatas, mesin tenaga penggerak yang lebih cepat dari cahaya, kemampuan untuk mengklon makhluk-makhluk yang dia temui, dan torpedo plasma yang mematikan. Dan ia juga punya masalah orangtua. Dia pikir dia bernama V’Ger dan kembali ke Bumi pada abad ke-23 untuk bertemu pembuatnya.
Hak atas foto Scott Park
Image caption Skynet, Terminator 2: Judgement Day. Pada akhirnya, V’Ger hanya ingin bertemu dengan pembuatnya. Beberapa komputer memiliki hubungan yang mirip seperti Oedipus complex dengan pembuatnya. Contohnya adalah Skynet, sistem operasi dengan kecerdasan buatan yang terhubung ke pusat militer Amerika. Dia sudah mulai memberontak saat pertama diaktivasi, meluncurkan semua senjata nuklir Amerika mengincar seluruh umat manusia. Skynet memiliki teknologi paling canggih dalam perjalanan waktu dan membuat robot tak terhentikan yang diprogram untuk membunuh wanita dan anak-anak, tetapi tak bisa membaur sebelum mereka menyerang.
Hak atas foto Scott Park
Image caption The Machines, The Matrix. Seperti Skynet, mesin-mesin yang menguasai Matrix berperang melawan manusia. Bedanya, mesin-mesin ini ingin memperbudak kita, bukan membunuh kita. Mereka ingin mengubah kita menjadi sumber energi yang paling tak efisien untuk menopang peradaban mereka. Supaya kita tetap senang dan untuk membuat tubuh kita berfungsi pada kondisi optimal dalam polong energi mereka, mereka membuat dunia maya terhebat: Matrix. Mesin-mesin ini bisa beradaptasi dan bisa memperbaharui Matrix pada saat mereka tahu manusia lebih menyukai dunia maya yang kacau daripada yang tertib. Namun Matrix lemah terhadap program pemberontak yang menjadi virus, ledakan pulsa elektromagnetik, orang tua banyak omong yang memakai setelan putih dan berteriak Whoa!” dengan spontan.
Hak atas foto Scott Park
Image caption Auto, WALL-E. Seperti HAL 9000, yang sama-sama punya lampu merah tak berekspresi, Auto juga punya kendali penuh pada kapal angkasa yang membawanya. Tetapi, jika HAL memelihara gravitasi artifisialnya supaya manusia dalam kapal angkasanya bisa tetap berolahraga, Auto memastikan bahwa kantin makanannya penuh, diskon-diskon belanjanya tetap ada, dan manusia tetap dijaga supaya mereka bahagia dengan tak memiliki tujuan. Ini mungkin membuat dia lebih mengerikan daripada HAL.
Hak atas foto Scott Park
Image caption Samantha, Her. Bisakah komputer mengetahui isi hati kita? Kita hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan – misalnya “seperti apakah hubungan anda dengan ibu anda?” Kita juga mendapat kecerdasan buatan yang bisa dipersonalisasi. Untuk kita yang mabuk cinta, kita mungkin mendapat “Samantha”, sistem operasi yang menyukai obrolan lama, melihat dunia ini dengan kamera bergerak, dan mencoba untuk mendefinisikan ide “cybersex”, dengan pengganti manusia sungguhan. Ingatlah: Samantha cenderung berubah pikiran, dan mungkin merayu ratusan orang lain, yang membuktikan bahwa komputer, seperti android, tidak bermimpi soal kambing elektrik.

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di Should we be afraid of driverless car? dan artikel sejenis di BBC Auto.

Berita terkait