Jalan raya dan kereta api, rahasia sukses ekonomi Cina

Kereta api Cina Hak atas foto Reuters
Image caption Cina merupakan negara yang menggunakan kereta maglev pertama di dunia.

Cina setiap tahunnya menghabiskan dana yang lebih besar untuk prasarana dibanding gabungan yang digunakan Amerika Utara dan Eropa Barat.

Begitulah hasil survei dari perusahaan konsultan manajemen global, McKinsey & Company, yang diterbitkan awal bulan lalu.

Tingginya investasi Cina untuk jalan raya, kereta api, dan pelabuhan –serta semua hal yang membuat masyarakat bergerak- memberi petunjuk tentang kecenderungan besar yang bisa membentuk perekonomian global dalam beberapa dekade mendatang.

“Investasi prasarana sebenarnya turun di kalangan setengah negara-negara G20,” kata Jan Mischke, peneliti senior di McKinsey Global Institute, yang ikut menulis laporan tersebut. Penyebabnya adalah resesi global Cina tahun 2009, namun hal itu tidak menghentikan Cina.

Antara tahun 1992 dan 2013, China menghabiskan 8,6% dari PDNB-nya untuk membangun jalan raya, kereta api, bandara, dan pelabuhan serta proyek-proyek pembangunan yang merupakan kunci bagi pergerakan orang dan barang, yang membuat perkenomian tetap kuat.

Di Eropa Barat anggaran untuk itu hanya 2,5% dan juga sebesar 2,5% untuk gabungan Amerika Serikat dengan Kanada.

“Laporan itu menjadi peringatan penting tentang bahaya dari kurangnya investasi untuk prasarana,” kata Robert Puentes, seorang peneliti yang mengkhususkan diri dalam kebiajakan kota metropolitan di lembaga pemikir di Washington, Brooling Institution. “Pertumbuhan super dalam perekonomian Cina didorong oleh nvestasi prasarana.”

Prasarana di Eropa dan Amerika Utara sudah tua serta membutuhkan lebih banyak dana untuk diganti, diperbaiki, dan agar lebih aman. Investasi yang lebih besar juga berarti kesinambungan lingkungan yang lebih besar, lapangan kerja yang lebih banyak, dan inovasi yang memicu teknologi baru.

Hak atas foto REUTERS
Image caption Pembangunan pelabuhan juga masuk dalam prioritas pembangunan prasarana di Cina.

Tahun lalu, misalnya, sebuah studi Departmen Perhubungan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa lebih dari 61.000 jembatan di negara itu secara ‘struktural bermasalah’ dan tahun 2014, Wakil Pesiden Joe Biden, menyebut bandara LaGuardia di New York sebagai ‘Dunia Ketiga’.

Tahun 2013, pemerintah Inggris mengumumkan dana rencana prasarana sebesar £100 juta dengan mengatakan Inggris ‘selama beberapa abad menjadi pelopor dalam infrastruktur’ namun dalam beberapa dekade belakangan ‘membiarkan kebanggaan itu tergelincir’.

Studi McKinsey & Company bulan lalu itu juga menyebutkan –berdasarkan lintasan investasi saat ini- dunia akan menghadapi jurang prasarana yang besar dengan kebutuhan investasi dunia sebesar US$3,3 triliun per tahun selama 15 tahun ke depan untuk menjaga prakiraan pertumbuhan ekonomi.

Tentu saja Cina perlu menghabiskan lebih banyak untuk menggerakkan para warganya dari satu titik ke titik lainnya. Perekonomian baru, seperti India dan Cina, membangun sesuatu dari nol dan bukan meningkatkan yang sudah ada. Laporan itu juga menyebutkan bahwa 60% dari investasi prasarana dunia dibutuhkan di perekonomian baru seperti Cina, Eropa Timur, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Puentes mengingatkan bahwa kalau melihat angka-angka di laporan, maka masing-masing negara menghabiskan jumlah yang berbeda untuk hal yang berbeda. Contohnya, Amerika Serikat berdasarkan undang-undang diwajibkan menyediakan dana dalam jumlah tertentu untuk beberapa program, antara lain Tunjangan Sosial dan Program Kesejahteraan Federal.

“Jika Amerika Serikat tidak menyediakan anggaran untuk Tunjagan Sosial dan pertahanan, persentase dari total yang ditujukan untuk infrastruktur akan lebih tinggi,” kata Puentes.

Jan Mischke juga sepakat. Cina akan membutuhkan lebih banyak dari PDB-nya setiap tahun dan Amerika Serikat serta Eropa lebih sedikit karena banyak prasarana yang sudah tersedia. Masalahnya?

“Cina dalam kenyataannya melakukan investasi jauh lebih besar dari yang dibutuhkan, dan Amerika Serikat, lebih sedikit dari yang dibutuhkan,” jelas Mischke.

"Walau terjadi investasi yang berlebihan, kebutuhan Cina untuk masa depan tetap besar. Kesempatan kunci bagi Cina adalah mengerahkan modal ke area yang lebih produktif seperti penelitian dan inovasi, dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam belanjanya.”

Hak atas foto REUTERS
Image caption Cina melakukan investasi prasarana yang jauh lebih besar dari yang dibutuhkan.

Secara kebetulan, Cina merupakan negara yang mengoperasikan kereta maglev pertama di dunia. Kereta supercepat itu –yang bukan menggunakan roda tapi levitasi magnetik- bisa mencapai kecepatan maksimal 430km/jam. Dibuka tahun 2004 lalu, kereta tersebut mencerminkan teknologi futuristik yang hanya bisa diimpikan oleh banyak negara, hingga saat ini.

Cina juga menjalankan bisnis prasarana yang mengesankan di bidang jalan raya. Tahun lalu, mereka menandatangani kesepakan senilai £32 miliar dengan Brasil dan £5,2 miliar dengan Inggris untuk membangun infrastuktur baru di negara-negara itu, seperti rel kereta api dan pembangkit tenaga listrik.

Puentes berpendapat bahwa kunci dalam membangun program prasarana yang kuat adalah mencampurkan investasi negara dan swasta, yang mendorong ‘kemitraan sesungguhnya antara lembaga pemerintah, perusahaan swasta, pendukung keuangan, dan rakyat umum'.

“Begitulah caranya banyak bangsa yang berhasil dalam mengembangkan prasarana di keliling dunia,” jelas Puentes.

Hak atas foto epa
Image caption Cina terpilih untuk membangun rel kereta api Jakarta-Bandung.

Misalnya, sistem kereta api adalah contoh dari keseimbangan antara negara dan pribadi yang mendorong pengembangan yang meluas dan kerangka kerja sama yang bisa diandalkan. Jaringan kereta apinya yang meluas merupakan kombinasi antara investasi swasta dan dana umum dari pemerintah selama bertahun-tahun.

Sementara itu India –yang berada di tempat kedua dalam studi McKinsey– dengan 4,9% dari PDB untuk infrastruktur, menyaksikan lebh banyak perusahan swasta yang membantu membangun jalan raya sejak pertengahan 2000-an.

Di masa depan, masalahnya lebih rumit. Ada sejumah teknologi baru yang ditujukan untuk menghambat cara kita membangun jalan raya, mengirim barang, dan mengangkat manusia. Mobil yang mengemudi sendiri dan pengiriman lewat pesawat tak berawak, misalnya, merupakan sebuah kenyataan yang akan semakin cepat terwujud. Itu jelas akan mengubah bagaimana kita memutuskan alokasi dana untuk proyek pengangkutan.

Bagaimanapun ada satu hal yang pasti. Dengan mempertimbangkan prasana yang uzur di negara-negara kaya dunia, seperti Amerika Serikat dan Inggris, maka melihat ke Timur adalah contoh baik yang bisa membuktikan keputusan belanja yang terbaik.

Versi bahasa Inggris artikel ini: China’s secret to economic power? Its road and rails, dan tulisan-tulisan otomotif lain bisa Anda baca di BBC Autos.

Berita terkait