Perjalanan kerja paling gila sedunia

Hak atas foto Royal Flying Doctor Service

Pekerjaan ekstrem dan dokter pesawat

Ketika seorang turis digigit ular di pedalaman atau peternak yang tinggal di tempat terpencil terlempar dari kudanya, Dr Minh Le Cong bergegas keluar dari markasnya di Mount Isa, di Queensland, Australia, dan terbang dengan pesawat kecil Super King Air B200 bermesin ganda turboprop untuk memberikan pertolongan medis.

Petugas kesehatan senior berusia 43 tahun ini menghabiskan beberapa hari demi panggilan darurat dan lainnya. Dia akan terbang ke klinik-klinik kecil di komunitas-komunitas terpencil dengan seorang pilot dan perawat. Dia adalah bagian dari tim elit Royal Flying Doctors, Australia, sebuah organisasi non profit ikonik yang dibiayai oleh negara-negara negara Commonwealth, pemerintah Australia, serta donasi masyarakat.

Layanan medis Cong mencakup semua lini, mulai perawatan kesehatan dasar dan vaksinasi hingga pemeriksaan kehamilan dan promosi kesehatan mental di tempat-tempat tujuan dalam radius 500 km dari Mount Isa - hingga ke pulau tropis di Teluk Carpentaria atau desa kecil kaum Aborigin di pedalaman.

“Kami pergi ke setiap wilayah terpencil di Australia dan satu hal yang saya sampaikan kepada para dokter baru bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan tidak kenal ampun,” jelasnya. “Tidak seperti di kamar darurat di sebuah rumah sakit di kota besar, tidak ada tombol panik di dinding untuk dipencet ketika keadaan memburuk. Tidak ada bantuan di luar sana. Kalian adalah bantuan.”

Terbang menuju tempat kerja adalah bagian terbaik dari pekerjaannya, kata Cong, tetapi ketika pesawat mendarat merupakan tantangan yang sama sekali lain. Ada banyak halangan seperti kawanan kanguru di landasan beraspal, resiko saat mendarat malam hari yang landasannya hanya diterangi lampu minyak tanah, dan fenomena alam yang aneh pada bulan-bulan musim panas yang tidak hanya menyebabkan pesawat naik dan turun akibat berupa turbulensi sehingga membuat mual, tetapi juga berbahaya.

Hak atas foto SukarnoMark Johanson

Laki-laki yang masuk ke dalam kawah

Gunung Ijen di Indonesia bukanlah tempat ideal untuk lingkungan pekerjaan. Tidak hanya berupa gunung api aktif yang merupakan tempat danau asam terbesar di dunia, tetapi juga merupakan tambang belerang.

Setiap hari sekitar 300 orang pria bergerak di sepanjang bibir kawah Ijen, bergerak menuruni jalan yang berbahaya menuju jurang yang tertutup uap, memecahkan belerang dalam bongkahan besar untuk keranjang junjungnya, dan kemudian mengirimkan mineral kuning yang bau itu kembali ke atas secara vertikal, menjauh dari air kawah berwarna hijau susu menuju stasiun pembayaran sejauh tiga km.

Sukarno, seperti banyak orang Jawa lainnya, hanya punya satu nama, telah melakukan pekerjaan yang jelas-jelas berbahaya ini enam hari setiap minggu selama 11 tahun terakhir. Lelaki berusia 33 tahun ini mengendarai sepeda motor ke kawah setiap malam dari Banyuwangi yang jauhnya 30 km, dan kemudian mendaki naik dan turun kawah dengan lebih dari 100 kilo belerang setidaknya dua kali sebelum matahari terbit.

Dia mulai melakukan perjalanan sejauh tujuh km berjam-jam sebelum subuh ketika suhu udara bersahabat (21 Celcius) dan awan gas gunung api yang beracun cuma sedikit. Kemudian, suhu akan meningkat sampai 35 derajat Celcius dan keadaan di kawah tidak tertahankan. Sukarno biasanya memanjat keluar kawah untuk yang kedua kalinya begitu matahari terbit di atas Dataran Tinggi Ijen dan menerima bayaran untuk hari itu saat makan siang.

“Ini merupakan pekerjaan yang sangat berat dan membawa barang seberat ini, tetapi bayarannya lebih bagus daripada pekerjaan lain di daerah ini,” jelasnya. “Saya memiliki seorang istri dan tiga anak di rumah di Banyuwangi dan saya melakukan pekerjaan ini untuk mereka.”

Sukarno membawa pulang Rp 200,000 per hari, dua kali lebih banyak daripada dia menanam di ladang tetangga.

Hak atas foto Mark Johanson

Insinyur yang terisolasi

Stasiun pusat tenaga air Manapouri berada di Taman nasional Fiordland di ujung barat daya South Island, Selandia Baru. Untuk menuju ke sana setiap hari dari rumahnya di Te Anau, koordinator perawatan, Brian Sinclair harus mengemudi selama 20 menit ke pinggir Danau Manapouri.

Lalu dia meloncat ke dalam sebuah kapal untuk perjalanan sejauh 20 km melintasi danau menuju West Arm, dan kemudian turun di sebuah jalur terpencil di pulau yang dikenal di antara turis lokal sebagai jalan masuk ke fjord menakjubkan di Doubtful Sound.

“Awalnya seperti sedikit ekstrem, tetapi saya pikir ini seperti hal lainnya: Kamu akan terbiasa dan kami akan menjadi sedikit bosan,” jelas pekerja berusia 55 tahun itu. Sinclair adalah salah satu dari hanya 11 pekerja penuh waktu di pusat tenaga listrik, suatu pekerjaan dambaan di sudut terjauh New Zealand, di mana turisme dan peternakan merupakan industri utama.

Meskipun dia menghabiskan banyak harinya bekerja di generator di bawah tanah, dia mengatakan masih punya waktu untuk mengagumi panorama yang mengagumkan dari lembah yang diselimuti hutan hujan.

“Cenderung lebih sering hujan di sini, sehingga sering bawah, tetapi pemandangannya selalu bagus,” katanya.

Jadi apa kekurangannya? “Tidak ada toko-toko,” kelakarnya. “Anda tidak dapat datang begitu saja ke toko dan membeli sepotong kue pie.”

Hak atas foto Nolan Davis

Dokter gigi di pedalaman

Kebanyakan dokter gigi bekerja dari kantor yang nyaman dan berpengatur suhu, dan menunggu pasien-pasien yang datang dan menemui mereka. Nolan Davis kebalikannya. Dokter gigi paruh waktu berusia 36 tahun ini bermarkas di Juneau, tetapi sudah mendapatkan kontrak kerja tetap ke desa-desa Alaska dari Prince William Sound ke St Lawrence Island, sebuah tonjolan karang yang lebih dekat ke Siberia ketimbang ke daratan Alaska.

“Saya berangkat dengan 227 kg peralatan gigi yang dapat dibawa-bawa,” kata Davis. “Biasanya sesuatu seperti ambulan desa akan menunggu di landasan untuk mengantar saya ke klinik, yang jauhnya mungkin hanya sekitar 365 m. Saya membongkar peralatan, memasangnya, dan di sana ada pondok di klinik dengan selimut-selimut dan bantal-bantal."

Davis biasanya bekerja di setiap desa selama sekitar satu minggu dalam satu waktu, delapan kali dalam setahun, menyeimbangkan waktunya antara pekerjaan di semak-semak dan menjadi pengganti bagi dokter-dokter di kota yang berlibur atau cuti sakit. Ketika bekerja di tempat terpencil, kadang-kadang dia tidur di tempat penyimpanan klinik; di lain waktu tidur di lobi atau di jalan masuk. Dia bahkan tidur dalam “kurungan orang mabuk” di penjara desa. Dia mengatakan bahwa titik lemahnya ada pada kesehatan gigi masyarakat dan petualangan yang keras menemukan tempat sempurna di alam liar Alaska.

“Bahaya terbesar adalah cuaca, dan tentu saja, kamu terbang ke sana kemari dengan pesawat bermesin tunggal buatan tahun 1950,” jelasnya. “Setelah satu pesawat yang seharusnya saya naiki jatuh, sang pilot keluar dari perusahaan dan mengatakan pada saya bahwa dua pesawat lagi yang sudah tidak terbang dalam dua bulan terakhir. Satu dapat kembali ke landasan dan satunya tidak. Saya segera menemukan.. perusahaan transportasi lain.”

Setelah 11 tahun duduk di kursi co-pilot dari pesawat-pesawat Cessna 206 dan 207, Davis sekarang dalam proses untuk memperoleh lisensi pilotnya sehingga jika sesuatu yang buruk terjadi dalam perjalanan pekerjaannya, dia tahu bagaimana mendaratkan pesawat.

Hak atas foto Creative Commons

Komuter mobil kabel

La Paz, Bolivia, membanggakan diri sebagai kota tertinggi dibanding ibu kota mana pun di dunia (antara 3.500m dan 4.100m). Tetapi kota itu tetap merupakan geografi berbukit-bukit dan jalanan sempit berliku-liku yang membuat perjalanan menuju tempat kerja membutuhkan keperkasaan ala Herkules.

Sistem kereta bawah tanah tidak ada dalam benak konseptor kota itu, jadi La Paz mengubah fokusnya di angkasa dan segera mengklaim sebagai pemilik sistem mobil kabel terbesar di dunia.

Tiga jalur pertama dari Mi Teleferico yang baru dibuka untuk umum antara bulan Mei dan Desember tahun lalu, dan lima yang lainnya dalam pengerjaan untuk mengatasi kemacetan dan menghubungan ibukota dengan kota dekat puncak gunung El Alto.

German Pongo Catari, yang berusia 25 tahun, adalah salah satu dari sekitar 100.000 komuter harian yang telah menukar bis dengan knalpot menyembur yang penuh sesak dengan sebuah gondola buatan Swiss yang mengkilap dan menggelinding di atas kota serta menawarkan pemandangan spektakuler lima puncak pegunungan Andes.

“Saya menggunakan mobil kabel setiap hari untuk pergi dari rumah saya di El Alto ke tempat bekerja di sebuah perusahaan agensi periklanan, dan ini merupakan keuntungan besar,” kata Catari. Lama perjalanannya telah dipersingkat dari satu setengah jam dengan bis menjadi hanya 20 menit dengan mobil kabel – dan hanya seharga 3 bolivianos ($0.45) untuk sekali perjalanan, hanya lebih satu boliviano dari yang dia bayar sebelumnya.

“Ini merupakan sistem transportasi yang paling aman di Bolivia dan pemandangannya sangat indah,” katanya. “Kamu dapat melihat hampir seluruh kota La Paz.”

Anda bisa juga membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul The world's craziest work commutes dan artikel lainnya di BBC Capital.

Berita terkait