Pornografi yang mengubah pertunjukan teater

Credible Likeable Superstar Role Model Hak atas foto Jassy Earl
Image caption 'Credible Likeable Superstar Role Model' yang mengeksplorasi seksualisasi remaja dan dampaknya.

Agar panggung teater tetap relevan, perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan jelas tak bisa diabaikan.

Namun memasukkan teknologi ke panggung teater merupakan upaya yang sulit untuk ditempuh karena orang-orang yang menatap layar komputer biasanya sulit tergerak oleh teater. Dan ketika teknologi diterapkan terlalu jauh, ada risiko suasana teater jadi hilang sama sekali.

Masalahnya -bisa Anda bayangkan- menjadi berlapis-lapis ketika berurusan dengan salah satu aspek paling jelas dari budaya dunia maya: pornografi internet.

Topik ini tetap jadi perdebatan panas di media dan juga menemukan jalan masuknya ke panggung teater –walau perlu segera saya tambahkan, tidak dalam pengertian sesungguhnya. Soalnya, para penulis naskah teater menemukan cara yang kreatif untuk bertanya tentang bagaimana pornografi mempengaruhi masyarakat kita.

Dan jika Anda pikir ini kepedulian segelintir orang saja, yaitu untuk pertunjukan kaum feminis di larut malam, Anda tidak sepenuhnya benar.

Hak atas foto Richard Davenport
Image caption 'We Want You to Watch', tentang dua perempuan melawan habis-habisan pornografi internet.

Ada pertunjukan yang terkenal dari festival di Edinburgh baru-baru ini tentang seks daring dan seksualisasi: Credible Likeable Superstar Role Model karya Bryony Kimming, yang bercerita tentang seorang perempuan dengan misinya untuk mengubah dunia setelah menghadapi kepanikan lantaran hal-hal yang bisa dilihat oleh keponakannya yang berumur sembilan tahun di internet.

Juga Fleabag karya Phoebe Waller-Bridge, tentang seorang perempuan muda yang kebiasaannya mengkonsumsi pornografi merusak hubungan asmaranya.

Pekan ini, topik serupa muncul di London’s National Theatre, tempat kelompok teater Rash Dash bekerjasama dengan penulis naskah terkenal Alice Birch menampilkan We Want You to Watch.

Pertunjukan energik ini menampilkan dua perempuan Abbi Greenland dan Helen Goalen membahas pornografi internet. Kisahnya bercerita tentang dua perempuan yang menginterogasi seorang lelaki muda yang menonton video penuh kekerasan dan mencoba membuat Sri Ratu melarangnya, maupun mempekerjakan seorang peretas ulung agar mematikan internet secara total.

Ini adalah provokasi -jadi sebenarnya bukan sebuah usulan- dalam sebuah pertunjukan yang berani, lucu dan penuh kemarahan yang membawa perdebatan tentang soal itu ke tengah panggung.

Mereka tidak antiseks tapi sekedar berpikir untuk memperbaki pornografi yang ada sekarang, yang merendahkan dan menghina perempuan.

“Kami membuat versi (yang masih kami kembangkan) sekitar dua tahun lalu yang sifatnya lebih domestik, tentang dampak pornografi internet terhadap hubungan asmara, tapi rasanya kurang tepat,” kata Birch.

“Kami tahu kami ingin membuat sesuatu yang politis, dan rasanya positif ketika menemukan sebuah bentuk yang bisa seperti itu dan tanpa kompromi. Maka ide tentang dua orang perempuan yang bertekad mengatasi pornografi rasanya menarik –sekaligus konyol!”

‘Tanpa kompromi dan berlebihan'

Hak atas foto Getty
Image caption Pornografi daring adalah salah satu perkembangan teknologi yang tak mungkin tak dibicarakan.

Tujuannya adalah untuk menimbulkan perdebatan serta menghentikan gagasan bahwa menonton seks penuh kekerasan sebagai sebuah bentuk hiburan yang lazim di tahun 2015. Dan tujuan itu membuat “banyak orang berpikir dan menantang pandangan mereka sendiri,” kata Birch.

Penonton tak melihat pornografi yang sebenarnya dalam pertunjukan, tetapi We Want You to Watch memasukkan deskripsi yang rinci. Para pemain teater pada satu momen mencoba mengekspresikan –dalam bentuk tarian– saat menonton film porno, termasuk dalam gerakan-gerakan.

Mereka ingin pertunjukan teater mereka 'tanpa kompromi dan berlebihan, serta sedikit bombastis' kata Birch. Alasannya, karena seperti itulah mereka meneliti dan menonton film porno.

We Want You to Watch jelas menggunakan kekuatan teater yang hadir di hadapan wajah Anda secara langsung untuk membuat para penonton berdiri tegak dan mendengarkan argumen mereka.

Kekuatan tubuh manusia di atas panggung, tentu saja merupakan hal yang membedakan teater dengan TV, film, fotografi dan pornografi daring.

Mudah sekali bagi Anda untuk menarik jarak dari gambar kecil di layar telepon pintar Anda, tapi jauh lebih sulit untuk tak terganggu oleh orang yang ada di depan Anda.

Kekuatan mengganggu ini yang dipakai untuk memperkuat pertunjukan Jennifer Haley, The Nether, yang mulai ditampilkan di Los Angeles pada tahun 2013 sebelum dipentaskan di West End, London dan di Broadway musim semi tahun ini. Penonton di pantai Barat Amerika bisa menontonnya awal tahun depan ketika pertunjukan ini dipentaskan di San Fransisco Playhouse.

The Nether menceritakan kisah yang menggetarkan di masa depan, ketika internet sudah menjadi kenyataan virtual sepenuhnya. Para tokoh di pertunjukan bisa masuk dan mengunjungi The Hideaway, sebuah rumah besar bergaya semi-Victorian, tempat mereka bisa melakukan hubungan seks dengan seorang gadis kecil dan kemudian membunuhnya tanpa konsekuensi apapun.

Hak atas foto Rex
Image caption 'The Nether': jika terlihat nyata dan terasa nyata, apakah tanggungjawabnya juga nyata?

The Nether bertanya tentang pertanyaan sulit mengenai tanggung jawab kita terhadap aksi daring kita sendiri. Namun saat yang sama pertunjukan ini juga menempatkan penonton dalam posisi sangat tidak nyaman: mereka sedang mementaskan dunia virtual, tapi aktor yang memerankannya adalah gadis kecil sungguhan yang terdiri dari darah dan daging.

Penonton tak bisa menolong, tapi akan tergerak untuk bertanya: jika segala peristiwa itu terlihat nyata dan terasa nyata, mungkinkah tanggung jawab moralnya juga nyata?

Menggunakan teknologi di atas panggung bukan sekadar melongok ke masa depan yang suram tapi juga memperbarui yang klasik di masa kini. Ini ada pada Spring Awakening, karya Frank Wedekind yang ditulis ulang oleh Anya Reiss.

Ketika menulis ulang naskah teater tentang seorang remaja yang punya kebingungan orientasi seksual dan kecenderungan bunuh diri (dan kecenderungan ini dituding sebagai sesuatu yang pornografis di tahun 1891), Anya tak bisa mengabaikan internet.

Produksi teater ini menggunakan Skype, Facebook dan YouTube, tempat sang remaja yang resah berbagi dan menukar video pornografi yang berisi seks dengan kekerasan.

Ketika saya bicara kepada Reiss dalam pembukaan pertunjukannya, penulis berusia 22 tahun ini mengatakan bahwa ia sebelumnya belum pernah melihat pornografi di internet sebelum menangani proyek ini. Ketika sedang melakukan riset, ia terkaget-kaget, "Tak seperti yang saya kira!" katanya. Ia mengaku ketakutan melihatnya, "apalagi kalau umur saya 14 tahun."

Bukan untuk anak-anak

Orang dewasa yang terkaget-kaget dengan yang ditonton oleh orang muda adalah sebuah tema yang umum, dan satu pertunjukan baru yang membicarakan pornografi daring didasarkan pada kehidupan nyata.

Lizi Patch tiba-tiba berada di tengah badai media dua tahun lalu sesudah menulis di blog-nya tentang anaknya yang berumur 11 tahun yang trauma setelah diperlihatkan film pornografi hard-core di telepon oleh teman-temannya di sekolah.

Pertunjukannya tentang soal ini, Punching the Sky, mendapat dana publik untuk produksinya di Inggris Raya. Ia berharap bisa mendapat dukungan dana lagi agar bisa menampilkannya di berbagai teater di seluruh Inggris. Pertunjukan ini memakai animasi untuk menampilkan karakter anak kecil sementara ibunya diperankan oleh seorang aktris, sebagaimana karakter dalam internet.

Dengan demikian Patch bisa membicarakan internet dan menyuarakan debat tentang pornografi daring serta bagaimana melindungi anak-anak darinya.

"Sebagai seorang penulis dan sutradara, saya antisensor. Anak saya bilang sendiri, jika ia tak menontonnya di rumah, mungkin ia pergi ke rumah teman dan menontonnya," aku Patch.

Tak ada solusi mudah, tapi ia berharap pertunjukan teaternya bisa merangsang diskusi tentang hal ini.

"Ini untuk membuat diskusi ini terus berlangsung. Hal pokoknya bagi saya adalah pendidikan: saya tahu sulit untuk bicara tentang pornografi di lingkungan sekolah, tapi kita mungkin akan menghadapi guncangan besar suatu saat."

Dan pertunjukan teater bisa membantu untuk hal ini.

"Orang muda yang menonton Punching the Sky bisa membicarakan persoalan mereka melalui tokoh-tokoh dalam pertunjukan teater itu, ketimbang sebagai persoalan diri mereka sendiri. Ini berarti percakapan tentang hal terebut bisa jauh jangkauannya."

Para pelaku pertunjukan teater ini ingin Anda menonton tapi secara bersamaan mereka juga menghendaki Anda untuk berpikir.

Silakan baca artikel ini dalam bahasa Inggris di Sexual performance: theatre works tackle internet porn, dan berbagai artikel tentang kebudayaan lain di BBC Culture.

Berita terkait