Bagaimana gaya busana hip-hop mengritik kelas sosial

Hak atas foto Adidas
Image caption Rapper A$AP Rocky dan desainer Jeremy Scott yang bekerjasama untuk koleksi sepatu Adidas.

Jarang-jarang peluncuran album hip-hop baru mendapat liputan di majalah Vogue edisi Amerika Serikat. Lebih-lebih lagi ketika ceritanya adalah tentang pilihan mode si rapper dan bukan musiknya. Tetapi pada Mei 2015, majalah ini merayakan peluncuran album dari bintang rap baru A$AP Rocky yang berjudul At.Long.Last.A$AP dan berisi banyak referensi terhadap dunia mode, termasuk pada Rick Owens, Dior, Martin Margiela dan Saint Laurent selain juga merek aksesoris mewah seperti jam Audemars Piguet dan Goyard, pembuat koper mewah berdasar pesanan.

Minat Rocky terhadap dunia fesyen cukup dalam. Dia sering terlihat berada di deretan depan peragaan, pernah bekerjasama dengan desainer Jeremy Scott untuk koleksi buat Adidas dan sempat berkencan dengan supermodel Chanel Iman.

Hip-hop sering dianggap sebagai musik dengan autentisitas yang tanpa kompromi, setia pada akar dan identitas asli dengan pernyataan 'keeping it real' adalah hal terpenting. Namun peran Rocky hari ini – Vogue menyebutnya "bintang mode yang penting" – adalah pengingat bagaimana hip-hop selalu punya ikatan erat dengan mode bahkan sejak aliran musik ini pertama muncul.

Setidaknya itulah argumen yang muncul dalam Fresh Dressed, sebuah dokumenter yang diproduseri oleh rapper Nas, yang menelusuri evolusi gaya hip-hop dari gaya old school 1970an dengan Adidas dan sepatu shell toes, topi Kangol dan kacamata Cazal sampai mantel bulu, perhiasan berlian dan pakaian karya perancang di era bling sekitar 2000an.

Seperti argumen yang ditekankan film tersebut lewat wawancara dengan Kanye West, Pharrell Williams dan produser Swizz Beatz, sulit untuk mengikuti perkembangan musik rap tanpa melihat siapa sedang memakai apa. Dan secara tidak langsung, menanyakan apa yang dikatakan seorang rapper ketika mereka memilih gaya mereka sendiri.

Keaslian dan buatan

Pada pertengahan 80an, desainer pilihan hip-hop adalah penjahit asal Harlem, Dapper Dan. Bintang rap seperti LL Cool J, Eric B dan Rakim dan Big Daddy Kane akan datang ke toko Dan di 125th Street untuk karya ciptaannya: jaket serta mantel Gucci, Fendi dan Louis Vitton yang dihiasi logo-logo besar dan secara nyata mengabaikan hak cipta. Tampilan mewah yang mencolok hasil rancangannya – mantel bulu sepanjang mata kaki yang diembos dengan logo Gucci berbahan kulit adalah yang paling banyak terjual – disukai oleh banyak kliennya orang-orang kulit hitam. Selain para rapper, pelanggan setianya adalah Mike Tyson dan beberapa gangster serta pengedar narkoba besar. Menurut salah satu pengagumnya, mengenakan jaket kreasi Dan "seperti mengenakan Rolls-Royce di punggung. Seperti kemewahan yang disuntik steroid."

Hak atas foto Sundance Institute
Image caption Memamerkan logo barang mewah adalah cara bagi rapper untuk mengekspresikan aspirasi dan kritik terhadap mobilitas sosial di Amerika Serikat.

Ahli sejarah Monica L Miller menggambarkan pilihan pakaian yang berlebihan ini, seperti rancangan Dan sebagai gaya "stylin' out" atau bergaya habis-habisan, tradisi warga kulit hitam untuk "berpakaian sangat necis, menunjukkan gaya mereka, terutama ketika acara mengharuskannya, atau bahkan lebih berkesan jika tak tak terkait acara apa pun."

Akar dari 'stylin' out' atau bergaya habis-habisan adalah praktik yang punya sejarah panjang sejak awal kehadiran warga kulit hitam di Amerika. Pada abad 18, beberapa budak kulit hitam berkeras untuk berpakaian dengan penuh gaya, membuat pakaian dari materi perca yang dikumpulkan atau dicuri sebagai cara untuk menegaskan kemerdekaan individual mereka terhadap pembatasan oleh keterbelengguan. Ada banyak sejarah kontemporer tentang budak yang kabur yang menyebut soal penampilan mereka – laki-laki atau perempuan digambarkan sebagai "penampilannya cukup bagus", "suka dengan pakaian", atau “kecanduan pada pakaian” – bahwa ada makna penting sejarah tentang seni sebagai penanda identitas kulit hitam sulit untuk diabaikan.

Kini, pakaian yang dipakai oleh para rapper dan penggemarnya menunjukkan komentar sosial atas posisi warga kulit hitam di Amerika. Pada 1990an, label preppy Ralph Lauren dan Tommy Hilfiger menjadi sangat populer di kalangan kru rap New York seperti Wu-Tang Clan dan Mobb Deep. Popularitas ini diawali dari geng Lo-Life di Brooklyn, yang mengambil nama itu karena pemujaan mereka terhadap merek Polo dari Ralph Lauren. Tren ini 'membajak' akan seragam dari para orang-orang kaya lama di Pantai Timur Amerika Serikat. Dengan mengenakan Hilfiger dari atas sampai bawah, seorang rapper seperti Method Man seolah memparodikan sekaligus merayakan kekayaan dan status sosial.

Dari gangsta sampai Gatsby

Pada awal 2000an Sean 'P Diddy' Combs membuat kaitan antara hip-hop dengan aspirasi kelas sosial menjadi semakin eksplisit dengan 'white parties' atau pesta putihnya yang mewah – para tamu wajib mengenakan baju warna putih – di the Hamptons. Combs sudah menanjak dari seorang pegawai magang di perusahaan rekaman menjadi miliuner dan mogul di industri musik serta perancang hanya dalam kurang dari satu dekade. Di the Hamptons, dia tidak mencoba untuk datang tak diundang ke pesta-pesta orang kaya dan berkuasa, justru dia membuat pesta mewahnya sendiri dan mengundang mereka hadir. Ini adalah gestur orang baru yang setara dengan Great Gatsby, yang menyerang sosialita kelas atas Amerika di Long Island, tak jauh dari Combs. Seperti halnya tokoh F Scott Fitzgerald, Combs memberi jawaban singkat terhadap pertanyaan wartawan, "Apakah saya sudah membaca The Great Gatsby? Saya adalah The Great Gatsby."

Hak atas foto Roc Nation
Image caption Jay Z punya merek pakaiannya sendiri, Rocawear, dan banyak rapper lain, termasuk Kanye West, Pusha-T, 50 Cent, André 3000, Lil Wayne dan P Diddy.

Kenaikan Combs juga menandai naiknya hip-hop. Pada pergantian milenium, rap menjadi musik paling populer di Amerika Serikat. Dari daya tarik musik ini, para bintang kemudian meluncurkan berbagai label mereka sendiri, dan lainnya menjadi kaya dari sponsor pakaian dan sepatu olahraga serta minuman. Dengan uang mengalir masuk, hip-hop pun bergelimang dalam konsumsi berlebihan dalam level yang seperti orgy. Para rapper menyebut Versace dan Gucci, Cartier dan Rolex; dalam video mereka menari di yacht, mengendarai Bentley dengan kap terbuka dan minum sampanye Cristal dalam jumlah besar.

Namun apa yang terjadi setelah Anda mendapatkan semua yang diimpikan? Pada 2012, Jay Z, yang besar dalam kemiskinan di Brooklyn era 1970an memiliki kekayaan senilai US$450 juta (sekitar Rp6 triliun lebih) dan akrab dengan presiden. Dalam lagunya Murder to Excellence, dia terdengar lega dengan kesuksesan (“Tuxes next to the president, I’m present/ I dress in Dries and other boutique stores in Paris” - "Mengenakan tuksedo di samping presiden, aku ada / Mengenakan busana dari Dries dan toko butik lain di Paris"). Tapi Anda juga bisa mendengar pengakuan bahwa dengan datangnya kesuksesan dan kebahagiaan, ada keterkucilan budaya (“Only spot a few blacks the higher I go” - "semakin tinggi aku berada, hanya sedikit orang kulit hitam yang kulihat"). Dan dengan itu, muncul kenyataan yang lebih besar dan menyedihkan, bahwa bagaimanapun beruntungnya Jay Z dalam satu dekade ini, kemajuan sosial yang sesungguhnya tak terjadi pada mayoritas warga kulit hitam, lepas dari harapan yang muncul saat seorang presiden kulit hitam terpilih. Pada akhir lagu, Jay Z terdengar lelah, “I’m all dressed up with nowhere to go” atau "Aku berpakaian bagus, tapi tak ada tujuan".

Hak atas foto REX
Image caption P Diddy pernah mengadakan “white parties” di rumahnya di East Hampton, New York, menyamakan dirinya dengan The Great Gatsby – Jay-Z memproduseri versi film yang disutradarai oleh Baz Luhrmann.

Dengan semua renungan akan akhir itu, terlihat bahwa pilihan mode Jay Z adalah cerminan untuk melihat kehidupannya. Bagaimana bisa, di hip-hop, status, harapan, keinginan, ambisi dan harga diri serta banyak faktor lainnya terikat erat dalam tindakan sederhana seperti memilih baju? Seperti kata Nas di Fresh Dressed, "Seseorang bilang ke saya, pakaian adalah sayap. Jadi jika kamu tahu kamu mau terbang, kamu harus memakai sesuatu yang bagus... Saat kita sudah mengenakannya, ceritanya lain lagi. Kita sudah di tingkatan berikutnya."

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di How hip-hop styles critique society di laman BBC Culture