Mapplethorpe: Look at the Pictures, tinjauan Sundance

mapplethorpe Hak atas foto Sundance Film Festival

Film dokumenter baru tentang Robert Mapplethorpe yang diputar di Festival Film Sundance memperlihatkan bagaimana fotografer ini mengubah pornografi menjadi seni. Owen Gleiberman mengulasnya.

Dua puluh tujuh tahun lalu ketika Senator Jesse Helms muncul di Kongres Amerika Serikat melontarkan kecaman terhadap pameran foto Robert Mapplethorpe, pemisahan perang kebudayaan jelas. Kelompok kanan tidak menyukai Mapplethorpe, foto-foto bernada S&M-nya dipandang jorok. Kelompok kiri memandang karyanya sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang terdepan: bentuk seni yang absah. Salah satu hal yang paling menarik tentang Mapplethorpe: Look at the Pictures, dokumenter indah buatan Fenton Bailey dan Randy Barbato tentang bintang dunia seni ini adalah film ini tidak pernah menyangkal bahwa sejumlah fotonya tidak senonoh, tetapi Mapplethorpe tetaplah seorang seniman yang penting dan berani. Karyanya menimbulkan skandal dan mengejutkan, karena pemakaian pornografi. Ini memang hal yang dipakai Mapplethorpe sejak pertama kali menjadi seniman. Film ini memperlihatkan salah satu insipirasi utamanya adalah mengubah hal yang tidak senonoh menjadi seni.

Perdebatan tentang pameran keliling Mapplethorpe pada tahun 1989 menjadi berita utama sehingga sampai sekarang pun menyebutkan namanya menimbulkan kontroversi di AS. Mapplethorpe: Look at the Pictures berusaha mengeluarkan subjek itu dari bayang-bayang tersebut dengan mengundang kita untuk merasakan kemanusiaan lewat foto-fotonya yang paling mengejutkan. Dengan memperlihatkan keterkejutan akan menunjukkan pengaruh pentingnya. Mapplethorpe adalah ahli teknik memotret, yang mengambil foto bunga dengan cara yang sama seperti saat dia memoto tubuh pria, terutama alat kelaminnya. Mengubahnya, dengan menggunakan cahaya dan bayang-bayang, menjadi patung erotik.

Film ini menangkap bagaimana ini semua muncul dari Mapplethorpe sendiri - anak beragama Katolik tahun 50-an yang tumbuh menjadi pria jangkung, berambut bergelombang mirip Jon Bon Jovi. Dia pindah ke Chelsea Hotel New York, di mana Mapplethorpe berteman dengan Patti Smith. Kita melihat foto dua orang seksi ini yang bersama-sama berusaha menjadi terkenal. Mapplethorpe mungkin kelihatan mirip gembel bertulang pipi tinggi, tetapi dia adalah seseorang yang ambisius. Kita mendengar bagaimana ini membuatnya menjadi terlalu mencintai dirinya sendiri. Ini juga mendorongnya untuk gemar bereksperimen. Mulai dari kolase pornografi gay yang diwarnai, Polaroids sampai ke foto berbingkai klasik dari objek terlarang. Dia menjadikan aspek fotografi yang paling umum dan palsu menjadi bentuk baru seni pop hitam putih yang keren. Apa yang dilakukan oleh Ansel Adams terhadap pohon, Mapplethorpe melakukan hal yang sama terhadap baju ketat dari karet. Subjeknya adalah keindahan tubuh seksi, yang diperkuat fetisisme.

Surga dan neraka

Hak atas foto EPA
Image caption Festival Film Sundance digelar di Utah, Amerika Serikat mulai 21 hingga 31 Januari 2016.

Mulai dari Eyes of Tammy Faye sampai ke Inside Deep Throat, Fenton Bailey dan Randy Barbato selalu menemukan cara cerdas untuk mewakili jiwa subjeknya. Dalam Mapplethorpe, mereka menciptakan citra indah kemewahan dari tidak teraturnya New York tahun 70-an, yang kemudian berubah menjadi kekaguman terhadap uang tahun 80-an. Film ini adalah buku yang disunting dengan indah dari kegilaan dunia bawah tanah. Mapplethorpe adalah jiwa cinta kebebasan yang menjadi inspirasi hampir semua orang yang dia temui. Dan ketika dia mendatangi klub gay gelap seperti Mineshaft, pesta gila setiap malam mempengaruhi imajinasinya. Dia, pada saat yang sama, menjadi orang Katolik yang hidup di neraka dan surga. Seseorang yang menanyakan: bagaimana gambar yang sesempurna ini dipandang salah?

Mapplethorpe terus mengarahkan dirinya untuk membuat foto-foto yang dapat membuatnya menghadapi masalah. Tetapi dia juga mendekati berbagai museum, yang diharapkannya akan membuat pencapaiannya menjadi suatu kekekalan. Tragisnya adalah rencana besarnya mulai menunjukkan keberhasilan saat dia kehabisan waktu. Mappplethorpe didiagnosa terkena AIDS. Saat itu dia menggelar pameran besar di Whitney Museum. Foto-foto dari pesta pembukaan memperlihatkannya tiba-tiba menjadi 30 tahun lebih tua. Begitu film ini mengunjungi kembali kontroversi yang terjadi, di mana Jesse Helms mengutuk foto-fotonya, kita menyadari yang ditampilkan adalah slide foto. Ini adalah cara untuk mengutuk seorang seniman menjadi simbol dekadensi. Tentu saja, Anda bisa memandang Robert Mapplethorpe sebagai ikon dekadensi. Tetapi film ini berani mempertanyakannya: memang ada yang salah?

★★★★☆

Versi Bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Sundance review - Mapplethorpe: Look at the pictures pada BBC Culture.

Berita terkait