Istri Charles Dickens yang terlupakan

Hak atas foto charles dickens museum

Catherine adalah penulis, aktris dan juru masak, namun semua hal itu 'menghilang' setelah menikah.

Pada Februari 1835, Charles Dickens menggelar pesta ulang tahun yang ke-23 dan Catherine Hogarth, anak perempuan dari editor majalah tempat Dickens bekerja, adalah salah seorang tamunya.

"Dickens menjadi lebih menarik setelah kami bertemu," tulis Catherine kepada seorang sepupunya setelah pesta itu.

Ini adalah pernikahan yang membuat keduanya sangat bahagia, tetapi juga sekaligus bersedih.

Hak atas foto Charles Dickens Museum
Image caption Di sebelah kanan adalah miniatur Charles Dickens yang diberikan kepada Catherine Hogarth saat bertunangan dan di bagian kiri adalah lukisan cat air Catherine karya Daniel Maclise (Credit: Charles Dickens Museum)

Selama 15 tahun, Catherine hamil sampai sepuluh kali dan mengalami paling tidak dua kali keguguran. Mereka berubah dari pasangan serasi yang saling mencintai, senang berpesta dan berlibur bersama, menjadi pasangan yang tidak bisa hidup di rumah yang sama.

Selain menjadi ibu, Catherine adalah seorang pengarang, aktris yang sangat berbakat, juru masak yang ahli dan -seperti dikatakan suaminya- adalah seorang teman berjalan-jalan yang sangat menyenangkan.

Tetapi menjadi istri tokoh yang terkenal membuat semuanya berubah.

Dan lewat pameran berjudul The Other Dickens, Museum Charles Dickens di London mencoba mengembalikan jati diri Catherine.

Tergantung penulisnya

Sebagai keturunan Catherine dan Charles, saya melakukan penelitian tentang pasangan ini dan keluarganya. Dan saya akhirnya menyimpulkan tentang jati diri Catherine dan hal yang terjadi antara dirinya dengan Charles.

Telah banyak hal ditulis tentang pernikahan Dickens dan perpisahan yang diketahui umum pada tahun 1858.

Hak atas foto charles dickens museum
Image caption Lukisan Catherine buatan Daniel Maclise pada tahun 1847 (Credit: Charles Dickens Museum).

Pada permulaan abad 20, beberapa puluh tahun setelah kedua orang ini meninggal, lebih banyak pihak yang mendukung Charles dan muncul gosip negatif tentang mengapa dia 'harus' berpisah dengan istrinya -salah satu alasannya karena Catherine 'pemabuk'.

Desas-desus ini kadang-kadang masih muncul, bahkan sampai abad ke 21. Jarang sekali Charles diberikan kesempatan untuk menjadi laki-laki normal yang melakukan kesalahan nyata.

Dia dituliskan sebagai penjahat atau setengah dewa, tergantung pada keberpihakan penulisnya.

Karena itulah reputasi Catherine ditentukan pada pandangan yang sejalan dengan pemikiran itu: apakah sebagai korban atau perusak seorang tokoh.

Saya terkejut saat wartawan bertanya," Jadi apakah Anda berpihak pada Charles Dickens karena Anda keturunannya?"

Setiap kali saya harus menegaskan bahwa saya juga keturunan Catherine, terutama, dalam kaitan dengan menghasilkan keturunan, dialah yang sebenarnya lebih berperan!

Latar belakang berbeda

Saat menulis biografi anak perempuan mereka, Katey -yang merupakan seorang seniman- saya menjadi percaya bahwa pernikahan mereka terputus karena alasan yang masuk akal: yaitu tekanan yang tidak terduga karena begitu cepatnya Charles Dickens menjadi selebriti.

Ketika mereka bertemu, Charles mengagung-agungkan Catherine.

Masa kanak-kanak Charles ditandai dengan kemiskinan dan bayang-bayang dipenjarakannya orang-orang yang tidak bisa membayar utang sedang Catherine berasal dari keluarga kelas menengah yang bahagia dan nyaman hidupnya.

Saya percaya Dickens menginginkan hal itu: seorang istri dan ibu yang dapat memberikan anak-anaknya stabilitas dan rumah yang aman. Catherine menjadi wanita idealnya.

Hak atas foto charles dickens museum
Image caption Cincin pertunangan yang diberikan Charles kepada Catherine tahun 1835 di sebelah kiri, dan surat perpisahan keduanya di kanan. (Credit: Charles Dickens Museum).

Saat mereka baru menikah, Catherine memang lebih unggul di masyarakat dan keuangannya, tetapi tidak lama kemudian, Charles berubah dari sebelumnya seorang wartawan yang bekerja untuk ayahnya menjadi seorang pria yang begitu terkenal, sampai-sampai karyanya dibaca Ratu Victoria.

Dalam beberapa tahun pernikahan mereka, pemikiran Charles mulai mempengaruhi pandangan politik Inggris.

Sebagai istri seorang bintang, Catherine mulai tidak diperhatikan. Pada mulanya dia memang sama bahagianya dengan suaminya, tetapi kehamilan yang dialami berkali-kali mulai mempengaruhi kesehatan, semangat dan pernikahan mereka.

Sekarang, lebih satu abad kemudian, Catherine menjadi dikesampingkan dan dikenang sebagai seorang istri yang membosankan.

Film tentang Dickens bahkan tidak dipusatkan pada Catherine, tetapi lebih pada kekasihnya Ellen Ternan. Hubungan inilah yang pada akhirnya menjadi penyebab perpisahan mereka.

Catherine menulis buku

Tetapi sebenarnya Catherine adalah seorang wanita muda yang gemar bersenang-senang, istri selebriti dunia, yang sering berjalan-jalan dan berkesempatan melihat dan mengalami hal-hal yang tidak bisa dinikmati sebagian besar wanita pada zamannya.

Keduanya adalah aktor amatir dan Catherine tidak hanya akting di dalam rumah, tetapi juga di panggung di Amerika Serikat dan Kanada.

Hak atas foto GL Archive Alamy
Image caption Charles Dickens saat membacakan karyanya (Credit: GL Archive/Alamy).

Catherine juga berhasil menerbitkan sebuah buku. Ketika saya menelitinya, saya menjadi marah karena begitu banyak orang, termasuk para akademisi, yang menyatakan karya tersebut ditulis Charles.

Pandangan ini sangat merendahkan karena mengisyaratkan Catherine tidak cukup cerdas untuk menulis sebuah buku.

Tetapi ini juga suatu pandangan yang luar biasa karena menyatakan Charles -yang sudah begitu sibuknya- masih bersedia untuk menerbitkan buku dengan nama palsu dan menggunakan nama seorang perempuan, pada zaman ketika sebagian besar penulis wanita dipaksa memakai nama pria agar karyanya dapat diterbitkan.

Hak atas foto charles dickens museum
Image caption Ruang makan rumah Dickens di London, sekarang menjadi Charles Dickens Museum (Credit: Steve Vidler/Alamy).

Buku Catherine itu berjudul What Shall We Have for Dinner? Isinya sebuah panduan bagi para istri yang masih muda dan bukan hanya tentang resep masakan, tetapi juga nasehat melakukan tugas rumah tangga dan memasak untuk sampai 18 orang.

What Shall We Have for Dinner? diterbitkan 15 tahun sebelum terbitnya buku masak karya Mrs Beeton yang sekarang terkenal.

Sekarang para pengunjung Museum Charles Dickens berkesempatan untuk mengetahui semua hal tentang wanita yang penuh semangat dan menarik yang merupakan 'Dickens yang lain'.

The Other Dickens dibuka sampai 20 November 2016.

Buku baru Lucinda Hawksley, Charles Dickens and his Circle, diterbitkan National Portrait Gallery di Inggris dan Amerika Serikat.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The forgotten wife of Charles Dickens di BBC Culture.

Berita terkait