Mengapa Revolver merupakan album terbaik beatles?

Beatles Hak atas foto Getty
Image caption Personal Beatles (dari kiri) Paul McCartney, Ringo Starr, John Lennon (1940-1980), dan George Harrison (1943-2001).

Album Revolver karya The Beatles dirilis pada 5 Agustus 1966. Seiring dengan ulang tahun ke-50 album itu, Greg Kot berpendapat bahwa Revolver merupakan pencapaian terbaik The Beatles.

Album terbaik Beatles? Sejarawan musik rock seringkali menunjuk Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band sebagai momen, pada 1967, ketika rock secara ajaib tumbuh dan menjadi bentuk seni yang sah, setidaknya itu yang dilihat oleh media arus utama.

Adapun sebagian penggemar mencintai buaian dan variasi dalam album berjudul The Beatles atau yang populer dengan nama The White Album ketika album itu dirilis pada 1968.

Ada pula kegandrungan terhadap album Abbey Road dan rangkaian dari lagu pendek di dalamnya. Sedangkan para pengagum tipe musik Bob Dylan yang bergaya folk-rock pada pertengahan 1960-an memuja Rubber Soul.

Semua album tersebut memiliki keunggulan, tetapi tidak ada yang secara konsisten secemerlang dan seinovatif seperti Revolver.

Album itu memiliki semua yang ada pada Sgt Pepper, tapi Revolver muncul lebih dulu dan seringkali lebih baik. Hanya saja, Revolver tidak dikemas dan dipasarkan dengan baik.

Publisitas yang berlebihan sebelum album Sgt Pepper muncul memiliki peran besar dalam lompatan imajinasi, studio sebagai petualangan instrumen, sehingga pembuatannya lebih lama. Album Revolver yang dirills pada 1966 menghabiskan waktu dua setengah bulan, sedangkan untuk merekam Sgt Pepper perlu waktu sampai lima bulan.

Hak atas foto Apple EMI
Image caption Album Revolver bersampul ilustrasi karya Peter Blake.

Titik dimulainya pembuatan Revolver menunjukkan kepada kita di mana ujungnya. Ketika rekaman dimulai pada April 1966, The Beatles menceburkan diri ke masa depan dengan lagu Tomorrow Never Knows. John Lennon menyulap sebuah suara dalam kepalanya, lalu menyerahkannya kepada produser George Martin dan seorang teknisi berbakat berusia 20 tahun, Geoff Emerick, untuk mencari tahu bagaimana merekamnya. Dan mereka berhasil dengan spektakuler.

“Dia ingin suaranya seperti Dalai Lama berteriak dari sebuah puncak bukit,” kata Martin, mengenang permintaan Lennon. “Jadi saya katakan, cukup mahal untuk pergi ke Tibet. Apakah kita dapat melakukannya di sini?”

Suara Lennon kemudian disaring melalui peranti Leslie, yang menimbulkan efek vibrato yang biasanya diasosiasikan dengan sebuah keyboard Hammond.

George Harrison memasukkan unsur alat musik Timur ke dalam lagu dengan memainkan Tambura (sejenis alat musik kecapi yang berasal dari India) dan juga sitar. Paul McCartney menggunakan loop tape yang diputar mundur dan memainkan berbagai variabel kecepatan, termasuk salah satunya yang menimbulkan bunyi burung camar.

Ketukan drum Ringo Starr menjadi latar, membalik hirarki yang biasanya ada dalam sebagian besar instrumen rock. Drum Ringgo menjadi instrumen utama, bergemuruh di tengah kekacauan sonik. Vokal ala biksu Tibet yang dilantunkan Lennon mendorong pendengar untuk “menenangkan pikiran Anda, rileks dan melayang.”

Hak atas foto PA

‘Satu puncak ke puncak berikutnya’

Semua album Beatles sebelumnya dikerjakan dengan terburu-buru. Album debut mereka, misalnya, direkam dalam empat jam.

Tetapi pada 1966, kuartet ini berupaya mencurahkan diri mereka untuk menulis lagu dan membuat rekaman. Lennon dan McCartney masih terus berkolaborasi dan saling mendorong untuk melakukan inovasi ke tingkatan yang baru, dan Harrison muncul sebagai penulis lagu ketiga dan pengisi vokal yang tangguh dalam band itu. Sekarang, dengan kemewahan waktu untuk berpikir, mengedit, mengedit ulang dan bereksperimen, Beatles siap merekam sebuah karya besar.

Tomorrow Never Knows muncul sebagai sebuah standar tinggi untuk album yang bergerak dari satu puncak ke puncak berikutnya: petikan gitar yang kuat oleh Harrison dan petikan bas McCartney yang kuat berwibawa dalam Taxman adalah salah satu lagu Beatles terberat, gesekan senar yang cepat dalam Eleanor Rigby menjadi pertanda nuansa musik pop dan suara tenor emosional dalam She’s Leaving Home dalam album Sgt Pepper, serta Harrison yang menenggelamkan diri dalam suluk Timur dan modalitas dalam Love You To menjadi semacam awalan untuk Within You Without You di album selanjutnya.

Keindahan melankonis dalam Here, There and Everywhere menjawab tantangan album Beach Boys bertajuk Pet Sounds. Kemudian Doctor Robert serta And Your Bird Can Sing menyajikan kesempurnaan suara gemerincing gitar pop, dan Got to Get You Into My Life sebagai penghormatan bagi musik soul ala Motown dan Stax. Bahkan, lagu ringan seperti Yellow Submarine mendahului impian dan nuansa keheranan anak-anak dalam lagu-lagu di album Sgt Pepper seperti Lovely Rita.

Hak atas foto Getty

Sgt Pepper terbukti sebagai album yang lebih cantik, dengan sampul album yang menampilkan karya seni rumit karya Peter Blake, serta personel Beatles yang berjanggut dan berdiri di depan beragam ikon budaya, dari Karl Marx sampai Mae West. The Beatles menghabiskan 700 jam di studio mengerjakan album itu. Tetapi meskipun mencapai titik tinggi yang tak tergoyahkan – sebut saja lagu A Day in the Life, fantasi acid-rock dalam Lucy in the Sky with Diamonds –album itu juga memuat karya imut dan ringan (When I’m 64, Lovely Rita) dan menjemukan (Within You Without You).

Album Revolver muncul setelah Rubber Soul, direkam pada 1965, masa ketika The Beatles mencapai tingkat kecanggihan yang baru dalam penulisan lagu. Permainan kata yang menggugah dalam Norwegian Wood dan In My Life dibuat laksana puisi cinta Bob Dylan dan Smokey Robinson. Apabila ditinjau lagu demi lagu, album Rubber Soul setara dengan Revolver, tapi tak sedikitpun mendekati ambisi teknik suara sebagaimana diciptakan dalam Revolver.

Tetapi saat White Album dirilis pada 1968, Beatles terbelah dan pada dasarnya mengubah sesi rekaman menjadi rangkaian rekaman solo. Masing-masing anggota band berperan layaknya musisi lepasan. Album ini berisi musik yang luar biasa, termasuk karya Lennon Happiness is a Warm Gun dan himne karya McCartney yang bertema hak sipil, Blackbird. Di luar itu ada kolase bunyi-bunyian dalam Revolution 9; lagu remaja Why Don’t We Do it in the Road?; parody blues Yer Blues; bunga rampai musik Honey Pie.

Abbey Road menandai sesi rekaman terakhir The Beatles dan album itu menanam benih bagi rock progresif dengan menjahit 11 lagu setengah jadi menjadi rangkaian berurutan yang adiluhung. Pada catatan penutupnya – “Dan pada akhirnya, cinta yang Anda raih merupakan cinta yang Anda buat “-– adalah puncak warisan Beatles. Sisi pertama album memuat momen terbaik Harrison dalam Beatles, Something, dan karya Lennon yang menjadi pelopor musik metal, She's So Heavy. Album ini dalam diskografi Beatles yang mendekati keagungan Revolver.

Revolver tak selalu mendapatkan penghargaan yang besar. Beberapa bulan setelah dirilis, Beatles mulai merekam Sgt Pepper, sebuah peristiwa yang dicatat dengan kemeriahan selagi mereka mengurung diri dalam studio Abbey Road. Kemegahannya tampak sebuah ketentuan yang harus diterima. Sebaliknya, peluncuran album Revolver dibayangi oleh komentar Lennon yang sering disalahartikan: ‘lebih populer dibandingkan Yesus’. Tetapi waktu telah mengukuhkan nilai abadi Revolver. Kini, album itu menjadi album terbaik Beatles.

Anda bisa menyimak artikel aslinya dalam Why Revolver is the greatest Beatles album atau artikel lain dalam BBC Culture.

Berita terkait