Apakah Anda takut dengan matematika?

takut matematika Hak atas foto Thinkstock
Image caption Ternyata banyak orang yang merasa takut atau setidaknya khawatir menghadapi matematika.

Aritmatika mental atau dalam istilah yang lebih sederhana dikenal dengan mencongak -menghitung di luar kepala, tanpa bantuan kalkulator- bisa menjadi momok bagi sebagian orang. Mengapa ini terjadi?

Keringat dingin dan jantung berdebar lebih kencang. Itulah yang selalu saya rasakan ketika diminta mencongak di depan umum.

Bahkan untuk hitung-hitungan yang sederhana, seperti membagi tagihan di restoran bisa membuat saya berkeringat dingin. Padahal saya merasa sudah berkonsentrasi dan berusaha sekuat tenaga untuk menghitung, tapi otak saya seakan beku.

Yang membuat saya lebih malu lagi adalah, saya ini lulusan universitas dari jurusan… matematika.

Saya sebenarnya tak memiliki masalah dalam urusan hitung-menghitung ketika saya sendirian. Soal kalkulus dengan mudah bisa saya pecahkan.

Tapi begitu diminta menghitung di luar kepala di depan kawan-kawan, kemampuan matematika saya langsung lenyap.

Jangankan melakukan perkalian atau pembagian, mengingat kode akses masuk ke apartemen kadang juga susah, jika itu harus saya lakukan di depan orang lain.

Ternyata saya tidak sendiri. Ada banyak orang yang mengalami “fobia angka” seperti saya, meski apa yang saya alami masih dalam kategori ringan.

Dan karena ini gangguan yang cukup serius, para psikolog makin banyak yang melakukan kajian, dengan harapan bisa membantu mereka yang mengalami “takut matematika” ini, terutama bagi yang masih bersekolah.

Benar atau salah

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Menulis tentang apa yang kita khawatirkan bisa membantu kita menghadapi ujian atau tes matematika.

Sejauh ini belum jelas benar mengapa matematika, jika dibandingkan dengan geografi misalnya, membuat orang begitu khawatir atau takut.

Mungkin karena dalam ilmu matematika ini hasil yang kita hitung bersifat pasti, maksudnya jawaban yang kita tulis hanya ada dua: benar atau salah.

Mungkin ini yang membuat kita takut. Kalau kita ikut ujian matematika dan ternyata hasilnya buruk, kita tentu akan malu.

Perasaan khawatir dan takut ini tentu punya pengaruh buruk. Ada banyak hasil kajian psikologi yang menunjukkan mereka yang takut biasanya mendapatkan nilai yang lebih jelek ketika mengikuti ujian atau tes matematika.

Padahal kekhawatiran ini sebenarnya tak berdasar.

Dalam penelitian di Amerika Serikat pada 2012, pemindaian otak terhadap anak-anak usia tujuh hingga sembilan tahun memperlihatkan, mereka yang merasa takut atau khawatir dengan matematika memiliki aktivitas otak yang lebih aktif di bagian amygdalae.

Ini adalah bagian otak yang biasanya bekerja ketika kita merasa terancam.

Ketakutan ini juga berdampak terhadap bagian prefrontal cortex, yang kita fungsikan untuk memproses hal-hal yang abstrak.

Diperkirakan kekhawatiran terhadap matematika mengurangi memori jangka pendek, yang berarti anak-anak susah berkosentrasi dan sulit melakukan perhitungan.

Mungkin, kekhawatiran ini juga memblokir kemampuan anak untuk melakukan perhitungan matematika tersebut.

Dari mana sumbernya?

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Sudah banyak kajian untuk membantu anak-anak yang merasa takut dengan matematika.

Sumber kekhawatiran akan matematika bisa berasal dari banyak hal, salah satunya adalah para guru.

Para pendidik yang takut dengan matematika cenderung mengirim ketakukan ini ke anak didik mereka.

Ekspektasi budaya juga menjadi sebab, mungkin karena stereotip bahwa murid perempuan tidak terlalu pintar matematika.

Terlepas dari mana sumber kekhawatiran ini, begitu ia masuk ke dalam diri kita, maka ia akan makin membesar. Ia akan makin sering muncul ketika kita berhadapan dengan matematika.

Psikolog yang menangani kasus-kasus fobia biasanya memakai metode aversion theraphy, yaitu dengan menghadapi sumber ketakutan itu sendiri.

Sayangnya, dalam konteks ini, mengikuti terus menerus pelajaran matematika tidak akan menjadi solusi efektif.

Tapi jangan khawatir. Masih ada cara lain, yakni expressive writing atau menuliskan apa yang kita rasakan ketika menghadapi matematika ini.

Banyak penelitian menunjukkan mengekspresikan atau mengartikulasikan ketakutan bisa membuat kita lebih tenang.

Dalam satu penelitian, orang-orang yang takut matematika diminta menulis tentang kekhawatiran mereka sebelum ujian, dan hasilnya ternyata tindakan ini menaikkan nilai mereka dari B- menjadi B+.

Peneliti lain meminta anak untuk tidak menganggap matematika sebagai ancaman, tapi lebih sebagai tantangan.

Nah, saya sudah bercerita panjang lebar soal ketakutan yang saya alami setiap kali diminta mencongak di depan kawan-kawan.

Apakah ketakutan saya akan berkurang?

Harapannya tentu demikian. Ya kalau pun ternyata saya masih mengalami ketakutan, ada jalan keluar praktis. Aplikasi kalkulator di telepon genggam saya…

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris: Do you have 'math anxiety'? dan artikel-artikel lain di BBC Future.

Berita terkait