Apa yang menyebabkan bayi tertawa ?

Bayi Hak atas foto Getty Images

Bayi tidak dapat memahami gurauan, jadi apa yang menyebabkan mereka terkekeh-kekeh? Jawabannya akan mengungkapkan bagaimana pikiran kita terbentuk, kata Tom Stafford.

Apa yang membuat bayi tertawa? Ini tampak seperti salah satu pertanyaan paling lucu yang bisa diselidiki para peneliti, tetapi ada alasan ilmiah yang serius yang ingin ditemukan oleh Caspar Addyman.

Dia bukanlah orang pertama yang mengajukan pertanyaan ini. Darwin mempelajari tawa putranya ketika masih bayi, dan Freud menyusun sebuah teori bahwa kecenderungan kita untuk tertawa bermula dari sebuah perasaan unggul. Jadi kita senang melihat orang lain menderita - gaya lelucon slapstick yang kasar tentang orang gagal, jatuh, cacat, adalah contohnya - karena hal itu tak terjadi pada kita.

Pakar pengembangan psikologis manusia, Jean Piaget, mengira bahwa tawa bayi dapat digunakan untuk melihat benak mereka. Jika Anda tertawa Anda pasti "paham pada lelucon" pada tingkat tertentu - lelucon yang baik memiliki keseimbangan antara sangat tidak terduga dan membingungkan dan gampang ditebak dan membosankan.

Dia berasalan mempelajari bayi tertawa dapat menjadi cara yang baik untuk memperoleh wawasan yang lebih dalam mengenai bagaimana mereka memahami dunia. Tetapi meskipun sudah dimunculkan pada tahun 1940an, ide ini harus diuji secara layak. Lepas dari sudah banyaknya ahli terkenal yng telah melakukan penelitian terhadap topik ini, tetapi teori ini lama dikesampingkan oleh psikologi modern.

Hak atas foto Getty Images
Image caption JIka Anda ingin membuat bayi tertawa, maka mengelitiknya merupakan metode yang tepat. (Kredit: Getty Images)

Addyman, dari Birkbeck, Universitas London, berupaya mengubahnya. Dia yakin kita dapat menggunakan tawa untuk mengetahui bagaimana bayi memahami dunia. Dia menyelesaikan survei terbesar dan paling komprehensif mengenai pemyebab bayi tertawa. Ia empresentasikan hasil pendahuluan penelitiannya dalam sebuah Konferensi Internasional Studi tentang Bayi di Berlin, tahun lalu. Melalui situsnya dia meneliti lebih dari 1.000 orangtua dari seluruh dunia, dan mengajukan pertanyaan mengenai kapan dan mengapa bayi mereka tertawa.

Hasilnya - seperti topik penelitiannya - menggembirakan. Senyum pertama seorang bayi terjadi pada usia enam pekan, tawa pertama mereka sekitar tiga setengah bulan (meskipun sbanyak juga bayi yang membutuhkan waktu tiga kali lebih lama untuk dapat tertawa -jadi tak perlu khawatir jika bayi Anda belum mencapai tahap tersebut).

Permainan cilukba jelas merupakan yang paling disukai oleh bayi dan membuat mereka tertawa (untuk sejumlah alasan yang saya tulis di sini), tetapi yang paling membuat bayi tertawa adalah gelitikan.

Yang santa penting, respon penelitian menunjukkan bahwa - sejak tawa pertamanya - bayi tertawa bersama orang lain dan pada apa yang orang lain lakukan. Sensasi fisik dari sesuatu yang mudah membuat geli tidaklah cukup, begitu pula ketika melihat sesuatu yang hilang atau muncul tiba-tiba. Itu hanya akan menjadi sesuatu yang lucu ketika seorang dewasa melakukannya untuk bayi.

Ini menunjukkan bahwa jauh sebelum bayi dapat berjalan, atau bicara, mereka - dan tawa mereka - bersifat sosial. Jika Anda menggelitiki seorang bayi pasti mereka tertawa karena Anda mengelitiki mereka, tidak hanya karena mereka merasa geli.

Lebih jauh lagi, bayi tidak menertawai orang yang jatuh. Mereka tampaknya lebih suka tertawa jika mereka sendiri yang jatuh, dan bukan orang lain; atau ketika orang lain bahagia, dan bukan ketika mereka sedih atau menerima kejutan yang tidak menyenangkan.

Dari hasil ini, teori Freud (yang, dalam kasus tertentu, dikembangkan berdasarkan wawancara klinis dengan orang dewasa, dibandingkan dari studi formal yang seksama pada anak-anak sendiri) tampaknya salah belaka.

Meskipun para orangtua melaporkan bayi laki-laki mereka agak lebih banyak tertawa dibandingkan bayi perempuan, semua bayi menganggap ibu dan ayah mereka sama-sama lucu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bayi melihat kita lucu- meski dia masih terlalu muda untuk mengerti mengapa kita jadi lucu (Kredit: Getty Images)

Addyman terus mengumpulkan data, dan berharap seiring penlitian membuahkan hasil lebih jelas, ia akan dapat menggunakan analisisnya untuk menunjukkan bagaimana tawa itu menunjukkan perkembangan bayi dalam memahami dunia - bagaimana misalnya, kejutan memberikan cara untuk mengantisipasi sesuatu.

Menurut Addyman, meskipun memiliki potensi ilmiah, tawa bayi sebagai topik riset "anehnya, diabaikan". Alasannya antara lain adalah sangat sulit untuk membuat bayi tertawa di laboratorium -soal ini dia berencana menjadikannya sebagai proyek berikutnya.

Dia mengatakan topik ini telah diabaikan anara lain karena tidak dipandang sebagai sebuah subyek yang layak untuk diteliti secara ilmiah. Addyman berharap prasangka ini bisa diubah, karena bagi dia studi tentang tawa pasti bukan merupakan sebuah lelucon.

Anda dapat membaca versi asli artikel ini dalam Why do babies laugh out loud?, atau artikel lainnya di BBC Future.