Menunggu helikopter menjadi angkutan udara

Rotodyne
Image caption Rotodyne dirancang untuk mampu membawa 40 penumpang. (Kredit foto: SFF/Wikipedia CC BY-SA 2.5)

Membangun bandara mahal dan perlu lahan luas, harus cukup untuk landasan pacu dan hanggar, terminal dan gudang bagasi, maupun tempat parkir dan layanan lain untuk perjalanan udara.

Bandara juga menghasilkan suara bising, yang semakin jadi masalah pada era 'ledakan' peningkatan penerbangan masa 1950-an dan 1960-an, ketika perjalanan udara terjangkau oleh orang-orang biasa.

Dan para pembuat pesawat terbang mengisi tuntutan itu dengan pesawat jet yang bisa membawa jauh orang dengan aman dan nyaman, walau suara yang tidak bising bukan jadi tujuannya.

Jadi kenapa helikopter -yang lebih hening dibanding generasi awal pesawat jet dan bisa lepas landas serta mendarat di tempat yang amat kecil dibanding pesawat biasa- tidak mengisi peluang itu.

Sepertinya merupakan satu jalan ke luar yang cerdas.

Bayangkan Anda terbang ke Prancis selatan naik helipoter dari pusat kota London. Sayangnya, mengkombinasikan keluwesan helikopter dan kapasitas penumpang dalam pesawat biasa merupakan perjuangan berat.

Ada masalah fisikanya walau dengan kemajuan teknologi kita mungkin bisa menemukan jalan ke luarnya.

Pendek, gemuk, dan ribut

Ada satu pesawat terbang yang mendekati kombinasi itu dan memang bisa terbang, yaitu Fairey Rotodyne, sebuah upaya pada tahun 1950-an untuk membuat helikopter sebagai angkutan udara.

Image caption Suara Rotodyne amat memekakkan telinga. (Kredit foto: SFF/Wikipedia CC BY-SA 2.5)

Ada baling-baling besar di atas dan sepasang sayap gemuk, yang masing-masing membawa mesin jet yang memberi tenaga kepada baling-baling dan membantu baling-baling besar mengangkat pesawat.

Rotodyne dirancang untuk mampu membawa 40 penumpang.

Rotodyne dirancang beberapa tahun setelah pesawat jet beroperasi.

Waktu itu lahan yang dibutuhkan untuk membangun bandara sudah jadi masalah. Namun, seperti dijelaskan Mike O’Donoghue dari Masyarakat Aeronatika Inggris, ada hambatan teknologi besar yang tidak mungkin dipecahkan,

Para perancang Rotodyne, kata O’Donoghue, punya cara untuk membuat pesawat tetap terangkat ke udara. Rotodyne adalah gyrodyne atau VTOL –lepas landas dan mendarat secara vertikal- dengan kecepatan rendah.

Kemampuan lepas landas vertikalnya didorong oleh baling-baling yang mendapat udara panas dari mesin utama.

Begitu pesawat mulai menggalang kekuatan untuk maju ke depan, maka pasokan udara panas ke baling-baling berkurang dan Rotodyne terbang di udara dengan menggunakan mesin yang menghadap ke depan.

Pesawat yang mereka rancang itu bisa membawa 40 orang terbang dari pusat kota London ke helipad, atau tempat mendarat helikopter, di pinggiran kota Paris. Bagaimanapun ada masalah besar: suara yang memekakkan telinga.

“Suaranya tidak tertahankan. Begitulah katanya. Anda berjarak sekitar tiga kilometer dan tidak bisa mendengar pembicaraan karena suaranya,“ kata O’Donoghue.

“Kalau Anda punya mesin yang sangat-sangat ribut dan ingin membawanya ke pusat kota, itu jelas bukan rencana yang baik"

Teknologi tiltrotor

Tidak ada yang memesan Rotodyne dan proyek itu dihentikan. Namun gagasan sebuah pesawat terbang yang sebagian adalah helikopter dan sebagian lain lagi dalah pesawat jet tidak pernah benar-benar mati.

Image caption Teknologi tiltrotor merupakan baling-baling atau sayap yang bisa diputar menghadap ke depan atau ke atas. (Kredit foto Agusta-Westland)

Dengan semakin berkembangnya teknologi, maka mesin menjadi lebih hening dan lebih efisien.

Titik berat utama adalah teknologi tiltrotor –yaitu baling-baling atau sayap yang bisa diputar menghadap ke depan atau ke atas. Jika diputar ke atas maka bisa membawa pesawat lepas landas dan mendarat vertikal, sedang ketika diputar mengarah ke depan maka pesawat terbang lebih cepat di udara.

Memang salah satu hambatan besar bagi helikopter sebagai angkutan udara umum jarak pendek adalah kecepatannya yang terbatas.

Contoh paling terkenal dari teknologi ini adalah Boeing V-22, sebuah pesawat militer yang dioperasikan Korps Marinir dan Angkatan Laut Amerika Serikat dan sering pula digunakan Presiden Amerika Serikat.

Dominic Perry –redaktur majalah Flight International- mengatakan produsen helikopter AgustaWestland (sekarang menjadi Leonardo) sudah mengungkapkan rencana untuk mengembangkan tiltrotor baru untuk keperluan sipil lewat proyek yang disebut Generasi Mendatang Tilt Rotor Sipil atau NGCTR.

“Hal itu akan menjadi pesawat berkapasitas 20 orang yang bisa terbang di udara dengan kecepatan 480 km/jam dan diperkirakan akan terbang perdana pada tahun 2021,” jelas Perry.

Image caption Boeing V-22 dioperasikan oleh Korps Marinir dan Angkatan Laut Amerika Serikat (Kredit foto: US Navy/Wikipedia)

Proyek ini mendapat sebagian dana dari Komisi Eropa sebagai salah satu langkah menuju peswat yang diinginkan Rotodyne.

Rancangan lainnya, tambah Perry, adalah Karem Aerotrain, yang bentuknya mirip dengan pesawat berbaling-baling sebelum adanya pesawat jet. Bedanya baling-baling Aerotrain bisa diarahkan ke atas atau ke depan, seperti NGCTR.

“Aerotrain dalah tiltrotor berukuran pesawat 737, yang janjinya akan memberi penumpang pengalaman seperti pesawat jet dan kemampuan pesawat jet, namun tetap bisa lepas landas dan mendarat secara vertikal.”

Rancangan kukuh dan mungkin terlalu besar untuk diwujudkan, namun –menurut Perry- Karem punya catatan yang bagus dalam menciptakan pesawat terbang yang berbeda dari yang biasanya. Abraham Karem adalah yang perancang pesawat jet tanpa awak Predator, yang digunakan tentara Amerika Serikat.

Aerotrain pertama kali diumumkan tahun 2001 dan masih tetap belum bisa terbang.

Bagaimanapun, kata Perry, begitu teknologi berkembang cukup canggih untuk membuat Aerotrain bisa terbang seefisien pesawat jet, maka akan menjadi alternatif yang memungkinkan..

Semakin dekat

Ada satu masalah besar dengan tiltrotor. Keping baling-baling yang diperlukan untuk mengangkat pesawat ke udara harus amat besar. “Besarnya mendekati tubuh pesawat,” kata Perry.

O’Donoghue menambahkan salah satu hambatan untuk rancangan seperti itu adalah biayanya karena sayap atau baling-baling yang bisa diubah-ubah arahnya itu amat mahal dibanding pesawat biasa dengan ukuran yang sama.

“Faktor ekonomi sangat penting,” jelasnya. “Saya kira apa pun yang dicapai hanya akan mampu untuk rute jarak pendek dan menengah.”

”Upaya untuk membangun pesawat besar yang bisa membawa ratusan penumpang dan tetap bisa mendarat serta lepas landas seperti helikopter merupakan tugas yang amat berat."

Tapi hal itu tetap saja tidak menghentikan beberapa orang untuk mengembangkan konsep masa depan bagi pesawat VTOL yang lebih besar, dan salah satunya adalah Airbus A350H oleh Victor Uribe.

Image caption Karem Aerotrain berbentuk pesawat dengan baling-baling (Kredit foto: Karem Aircraft)

Konsep seperti pesawat ruang angkasa Airbus tidak menggunakan baling-baling namun terangkat dengan mesin yang berada di bawah pesawat.

Rancangan Uribe yang tajam, anggun –menurut O’Donoghue- ‘sesuai untuk trayek Gotham City (dalam film Batman)’.

Sayangnya belum ada mesin yang bisa mengangkat pesawat berat ke udara, paling tidak secara vertikal.

Sementara Boeing sudah bekerja sama dengan badan penelitian pertahanan Amerika Serikat, Darpa, untuk pengembangan sistem propulsi atau baling-baling yang disebut DiscRotor.

DiscRotor memiliki keping baling-baling di dalam sebuah cakram raksasa di atas pesawat terbang. Baling-baling akan berputar seperti dalam helikopter biasa pada saat lepas landas.

Namun begitu pesawat mulai memacu kecepatan, maka keping baling-baling masuk ke dalam cakram dan kemudian berhenti berputar.

Pesawat akan terbang seperti pesawat terbang yang biasa sampai tiba lagi waktunya untuk mendarat dan keping baling-baling ke luar lagi supaya bisa mendarat secara vertikal.

Keduanya jelas merupakan konsep yang ambisius.

Namun cara berpikir seperti itulah yang diperlukan untuk mewujudkan pesawat yang lepas landas dan mendarat secara vertikal bisa menjadi sebuah kenyataan.

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris Why helicopter airliners haven’t happened yet dan berbagai artikel sejenis di BBC Future.

Berita terkait